KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Episode 21 - Persembahan Kami Untukmu


__ADS_3

Aku selalu bertanya-tanya


apa yang sebaiknya aku katakan ketika saatnya tiba ...


Entah kenapa, seolah-olah


mereka sudah akrab sejak lama, namun sebetulnya pertemanan mereka masih seumur


jagung. Bahkan seseorang mungkin akan mengatakan bahwa persahabatan mereka baru


saja dibentuk, dan pertemuan mereka sangatlah singkat.


Seolah-olah, aku merasa


seperti begitu memahami dirimu ... tapi sesungguhnya aku sama sekali tidak


mengenalmu.


Haruhiro pernah berpikir


bahwa Udin adalah orang yang baik, mudah untuk didekati, dan cerdas. Dia adalah


seseorang yang bisa melakukan apa saja dan seorang pemimpin yang cakap.


Mungkin, ia adalah seorang pria yang hampir sempurna. Tapi Haruhiro tidak


menyadari kelemahannya, atau mungkin karena ia terus menutup-nutupi kekurangannya.


Andaikan saja jika pertemanan mereka sedikit lebih lama, mungkin saja Haruhiro


bisa melihat sisi lain dari pria itu.


Dia ingin tahu. Haruhiro


ingin mengenal kepribadiannya yang sesungguhnya. Dia ingin menghabiskan lebih


banyak waktu bersamanya. Andaikan saja itu terjadi, maka Haruhiro akan


mendapatkan lebih banyak pengalaman bersamanya. Mungkin mereka akan saling


memarahi, mungkin mereka akan terhanyut dalam suatu pertarungan, mungkin mereka


akan saling membenci, atau mungkin persahabatan mereka akan semakin tumbuh.


Mungkin juga, suatu hari


nanti……. Alice akan mengungkapkan perasaannya padanya. Apa lagi ya?


Haruhiro tidak ingin


percaya pada fakta bahwa perasaan manusia yang masih hidup tidak mampu mencapai


mereka yang sudah mati. Dia tidak ingin percaya bahwa semua kata-katanya


sekarang tidak ada artinya. Tapi semakin dia berpikir tentang hal itu, rasa


sesak di dadanya semakin berat.


Ketika ia menutup


matanya, ia melihat suatu gambar tentang temannya itu di masa lalu. Itu adalah


suatu kehampaan dan semuanya lenyap dilahap oleh api tanpa ampun. Semuanya


lenyap, tak lebih dari abu dan tulang. Satu-satunya gambaran yang terlihat


nyata bagi Haruhiro saat ini adalah, Udin berbaring di bawah bayangan batu


nisan dan disinari oleh cahaya matahari terbenam.


"Kami sudah menjadi


anggota Red MooN," kata Haruhiro. Pada batu nisan di mana terukir simbol


bulan sabit, ia mengangkat lambang yang menyerupai koin perak.


Marco, Barto, Vina, dan Alice


juga, menunjukkan Emblem Red MooN milik mereka pada salah satu anggota Party


yang kini telah tiada. Lusi berdiri pada jarak agak jauh, sembari menundukkan


pandangan dan meletakkan tangannya di dada.


"Sebenarnya


mengumpulkan uang tidaklah harus selama ini," Haruhiro melanjutkan sembari


mengencangkan cengkeramannya pada emblem tersebut. “Tapi kita memiliki beberapa


urusan tambahan yang harus kami selesaikan terlebih dahulu.”


Marco mencaci. “Sebenarnya,

__ADS_1


aku tidak peduli. Kalian lah yang memutuskan demikian.”


"Marco bodoh,"


kata Vina sembari memegang erat tangannya. “Mengapa kau harus berlagak cok


pintar di saat-saat seperti ini? Itu membuat semuanya membencimu.”


“Karena aku memang


pintar. Aku adalah seorang Dark Knight, dan aku tidak peduli apa yang orang


lain pikirkan.”


"Um, Vina," Alice


dengan ringan menarik jubah Vina. “Sok pintar, bukannya cok pintar ... lagipula


kau tidak perlu menyebutnya begitu ...”


"Sungguh?"


Jawab Vina dengan bingung. “Vina selalu mendengar ‘cok pintar’ ...”


"E-err ..." Barto


menyela sembari menatap Alice. “Bukankah seharusnya kita melanjutkan ... ini?”


Alice melangkah menuju


batu nisan itu, kemudian berjongkok. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan


emblem yang berbentuk seperti koin. Dia sedikit ragu-ragu, kemudian dia


mendekati batu nisan berukirkan bulan sabit, seakan-akan dia hendak menjepitkan


koin itu padanya.


"Tunggu, Alice,


bukan di situ," kata Haruhiro dengan cepat.


Alice berbalik, dengan


wajah sedikit merah. “M-maaf! Um, aku bingung, di mana ya tempat paling baik


untuk meletakkannya, tapi ...”


"Yah, maksudku, di


sungguh berbeda ...”


“Ah, B-benar. Kau benar.


M-maaf. Aku tidak hanya gemuk, tapi terkadang aku juga kikuk. B-Bagaimana kalau


di sini?” Alice menempatkan emblem pada tanah, di sebelah batu nisan.


"... Udin,"


kata Alice, “ini adalah emblem kontrakmu. Kami membelinya dengan menggunakan


uang telah kau tinggalkan, dan semuanya berpatungan untuk menutupi


kekurangannya, bahkan Lusi juga menyumbang. Mohon ... ambil ini.”


Andaikan Udin bisa


mendengar, mungkin dia sudah tertawa dan berkata, "Kalian tidak perlu


melakukan ini, lho." Mungkin juga dia akan mengatakan, “Ini hanya


buang-buang uang, dan kalian lebih baik menggunakannya untuk membeli armor atau


senjata. Uang tidak digunakan pada duniaku sekarang, tapi justru dunia kalian


lah yang membutuhkannya.” Mungkin itu akan terdengar keren, seperti yang biasa


dia katakan sebelumnya.


Tapi, tak peduli apapun


yang dia katakan pada mereka, mereka tidak akan mendengarkan.


Bagaimanapun juga, kami


bahkan tidak bisa mendengarmu sekarang, Udin. Jika kau ingin agar kami


mendengarkan kata-katamu, maka katakan sesuatu yang sanggup kami dengar ...


Biarkan kami mendengarkan kata-katamu lagi.


Tapi Haruhiro tahu bahwa

__ADS_1


itu tidak mungkin terjadi. Dan jika mereka mati, apa yang akan terjadi pada


mereka? Apakah mereka akan pergi ke tempat semacam surga? Apakah mereka akan


bertemu Udin di sana? Dia tidak tahu. Tidak mungkin dia bisa tahu. Jika mereka


mati ... tapi Haruhiro tidak mau mati hanya karena ingin bercakap-cakap lagi


dengan Udin.


Perbedaan antara hidup


dan mati sangatlah luas dan dalam, bagaikan dipisahkan oleh ngarai dan sungai


yang mengalir deras. Ketika sungai itu dilintasi, tidak peduli apa yang terjadi


setelah itu, tidak mungkin mereka bisa kembali lagi. Ini suatu perjalanan searah


tanpa bisa berputar balik.


Tidak ada lagi air mata.


Namun Haruhiro sungguh merasa ingin berlama-lama di sini, sehingga ia duduk di


rumput, lantas menarik salah satu lutut pada dadanya. Alice meletakkan


tangannya di batu nisan dengan bahu gemetar. Vina berjongkok di samping Alice,


merangkulnya, dan dengan lembut membelai kepala gadis itu.


Marco menatap ke angkasa


sembari menempatkan kedua tangan di pinggul. Barto menarik napas dalam dan


perlahan mengembuskannya. Lusi membiarkan rambutnya dibelai oleh angin, dan dia


menatap pada kejauhan.


"Kami benar-benar


sudah menjadi tim yang bagus," bisik Haruhiro dia berbisik kepada teman


yang tidak akan pernah kembali lagi pada mereka, dia berbisik sambil


mengarahkan matanya pada kota. Lonceng yang berdentang malam itu menunjukkan


pukul enam petang.


Benda yang melayang


sedikit di atas cakrawala itu adalah setengah bulan berwarna merah. Benar juga


... mengapa di sini bulannya merah?


"Sini"?


Dia berbalik menuju ke


arah menara. Menara yang menjulang tinggi ke angkasa itu seolah-olah melihat ke


bawah pada mereka. Menara itu. Ada sesuatu yang aneh padanya.


Haruhiro merasa


seolah-olah dia telah melupakan sesuatu. Mereka semua datang ke sini dan


bergabung dengan Red MooN, tapi apakah yang terjadi sebelum semua ini bermula?


Berasal dari manakah mereka, dan apa yang mereka lakukan sebelumnya? Dia tidak


tahu. Dia tidak ingat. Dan bukan hanya Haruhiro hal yang sama juga berlaku pada


mereka semua.


Sebelum mereka menyadari


itu, mereka berada di sini. Tempat apakah ini? Dia hanya ingat kegelapan.


Kegelapan? Tapi, dia tidak bisa memastikan. Dimanakah ini?


Menara. Menara itu. Pasti


ada sesuatu yang terkait dengan menara itu. Tapi apa? Dia tidak tahu. Semakin


dia memikirkannya, maka dia akan semakin bingung. Setiap kali dia hampir


mengingatnya, semuanya lenyap begitu saja.


Udin ... Apa yang sedang


kami lakukan di sini? Untuk tujuan apa?


Semuanya dipenuhi dengan

__ADS_1


keraguan. Bahkan sampai sekarang, sepertinya jawabannya tidak kunjung datang.


__ADS_2