KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 5 - Wadah


__ADS_3

Mereka kembali ke Atalante


sebelum matahari terbenam, lantas mereka menjual barang hasil jarahan hari ini


di sebuah toko dekat pasar. Beberapa jimat, yang dikumpulkan dari lima Kobolds


kecil dan tujuh Kobold pekerja berkasta rendah, semuanya dihargai 7 perak lebih


sedikit.


"Ini agak


menyedihkan," Vina mendesah dengan ekspresi tenang, sembari ia menatap


tujuh perak dan segenggam koin perunggu.


"Ini tidak


menyedihkan," kata Marco dengan mengerutkan kening dalam-dalam. “Tapi, ini


luar biasa menyedihkan! Serius, apa sih ini?!”


"Sepertinya, aku


juga mengharapkan lebih banyak," kata Barto, dengan memaksakan


"haha" keluar dari mulutnya.


"Ya ..." Alice


menundukkan kepalanya. “Ini bahkan lebih sedikit dari yang kita dapatkan ketika


berburu Goblin ...”


"Uh ..."


Haruhiro ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur semuanya, tapi ia tidak bisa


memikirkan sesuatu yang positif.


"Semua yang kita


lawan hanyalah Kobolds normal." Dengan suaranya yang dingin dan tenang, Lusi


segera menghibur teman-temannya karena sepertinya Haruhiro kehabisan kata-kata.


"Kita akan mendapatkan uang lebih banyak setelah mengalahkan petua."


Haruhiro, yang masih


kebingungan, mengangguk dengan penuh semangat. “Y-ya itu benar. Dan sepertinya


itu bukanlah pertempuran yang sulit. Pada mulanya kita sedikit canggung, tapi


kemudian kita bisa menghabisi Kobolds dengan mudah, dan tidak ada yang terluka


serius, aku pikir juga begitu. Bertarung melawan Kobolds tingkat rendah berarti


kita tidak mendapatkan barang berharga tinggi dari mereka, iya kan?”


"Lebih baik kau


pastikan," Marco mengejek. “Jika besok hasilnya tidak kunjung membaik, kau


harus tanggung jawab, Haruhiro!”


"Apa artinya itu?" Tanya Haruhiro.


“Itu artinya, jika besok


perkataanmu terbukti salah, maka kau harus memberiku sebagian uangmu sebagai


kompensasi ganti rugi.”


"Mengapa aku harus melakukan hal seperti itu?"


“Apa? Bukankah kau yang mengajak kami pergi ke Tambang Siren, kan?”


"Tapi kau setuju dengan itu, kan?"


“Itu bukan ideku. Yang


aku lakukan hanyalah memberikan persetujuan. Si bodoh keras kepala yang


mengusulkan ide itu adalah orang yang paling bertanggung jawab. Aturannya


memang seperti itu sejak trilyun tahun yang lalu!”


"Mengocehlah sesukamu," kata Haruhiro, menyerah.


"Dasar, memang sesukaku mau ngomong apa!" Marco membalasnya.


Apapun itu, Haruhiro


berada pada posisi yang layak disalahkan. Ketidakmampuan Haruhiro untuk


berdebat membalas Marco membuat dia sedih, meskipun sebenarnya dia tak perlu


melakukan hal seperti itu. Mungkin dia hanya lelah, tapi jika demikian, maka Marco


lah yang harus disalahkan karena terlalu menuntut.


Bahkan saat semuanya


makan malam bersama di sebuah kios (yang meskipun murah, tapi memiliki reputasi


baik), Marco memuntahkan kata-kata bodoh setiap kali ia membuka mulutnya.


Bahkan pada saat-saat seperti ini, Haruhiro tidak mood untuk berdebat dengan Marco,


namun si pria berambut berantakan masih saja memprovokasinya. Memang seperti


itulah Marco. Baiklah kalau begitu. Jika tabiatnya memang seperti itu, maka


Haruhiro hanya perlu mengabaikannya.


"Hei, Haruhiro," Marco mulai lagi.


"..."


"Oy, Haruhiro."


"..."


"Heeey," kata Marco, sembari terus menyemburnya, "Haruhiro."


"..."


"Hey, hey, hey. Haruhiro.”


"..."


"BODOH IDIOT!"


Sembari masih memegang


ayam yang sudah setengah dimakan, Marco memulai tarian aneh di sekelilingnya.


”Hey hey hey! Oy oy oy! Heyyy heyyy, oyyy oyyy! Heeeey! Oyyyyyy! Hey hey hey!


Oy oy oy!”


Sialan. Marco


menendangkan kakinya dan mengayunkan pinggulnya seperti orang gila, tapi


bagaimana bisa dia melakukan tarian konyol itu dengan tubuh bagian atas yang


tidak bergerak? Itu sungguh menjijikkan, tapi anehnya itu juga terlihat lucu.


Haruhiro berpaling. Dia pikir, rekan-rekan lainnya juga mencoba untuk


memalingkan pandangan dari Marco, tapi kemudian ... suara tawa terdengar.


Suara itu cukup samar,


tapi Haruhiro masih bisa mendengar suara tawa yang lembut. Bukan hanya dari


satu orang, tetapi dari beberapa temannya. Mendadak, Vina pun tidak tahan, dan


dia tertawa lepas.


"Whahoo!" Marco tampak puas. “Hoi hoi hoi!”


Alice juga tak tahan, dan


dia pun tertawa. Marco semakin serius melakukan tarian konyolnya. “Hoi hoi hoi!


Ho ho ho hoi! Hoi hoi hoi!”


Barto juga tak tahan, dan


hanya Haruhiro dan Lusi yang masih belum menyerah. Haruhiro memandang ke arah Lusi,


dan melihat bahwa meskipun gadis itu melihat ke bawah, tapi bahunya agak


bergetar. Marco semakin mendekatinya, dan menari lebih gila dari sebelumnya.


Dengan kekuatan penuh, Marco melakukan Tarian Hoi Hoi.


Lusi! Jangan! Tapi


sepertinya Lusi sudah berada pada batasnya. Dengan wajah datar, Lusi


melemparkan tatapannya pada meja kasir, namun gerak-gerik tubuhnya mengatakan


pada Haruhiro bahwa dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi hoi! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi hoi! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii!”


Lusi berjuang untuk menahan tawanya.


Bertahanlah, Lusi! Jangan


menyerah, lawan! Lawan dia! Kenapa bisa jadi seperti ini? Bahkan mengapa


Haruhiro serius dalam menanggapi ini?


Tiba-tiba, dorongan untuk


tertawa memudar, kemudian menghilang sepenuhnya. Haruhiro dengan cepat bergerak


ke belakang Marco, kemudian menyodokkan tumitnya pada belakang lutut Marco.


sehingga Marco pun memotong “hoi”-nya, kemudian dia menoleh ke arah Haruhiro.


Dia kembali ke sudut pada meja counter.


"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!" Seru Marco. “Aku hampir membuat dia tertawa!”


"Berhenti menyemburku, itu menjijikkan," jawab Haruhiro dengan tenang.


Marco menanggapinya dengan sengaja berbicara tergagap.


"Hei! Hentikan!"


"Kau yang hentikan, tolol!" ia terus menyembur Haruhiro.


Serangan ludah Marco tidak pandang bulu, dia menyembur segala sesuatu di hadapannya, bahkan ke


teman-teman dan makanan di meja. Mereka yang tadinya ingin tertawa, kini


menjadi marah, tindakan Marco sungguh tidak tepat. Karena itu, mood semuanya


menjadi buruk ketika mereka kembali ke pondok.


"Aaaaaalllright!"


Marco mengerang setelah mereka mencapai kamar. “Gadis-gadis mandi terlebih


dahulu, jadi kita bisa mengintip sepuasnya!”


Bagaimana bisa Marco


berpikir tentang hal itu pada saat seperti ini? Haruhiro hanya bisa mengagumi betapa


rendah kepekaan bocah ini. Karena tidak ingin menghabiskan lebih banyak energi,


Haruhiro pun menjatuhkan dirinya ke tempat tidur sembari menghadapkan


punggungnya pada Marco yang terlalu bersemangat.


“Haruhiro, apa masalahmu?


Kau mau ikutan apa nggak?” Marco bertanya. “Percuma saja kalau kau khawatir


tentang apa yang akan terjadi pada kita jika ketahuan, kita tidak akan


mendapatkan masalah, jadi hentikan pikiran bodoh itu! Hei, Barto! Kamu mau


ikutan nggak?”


"T-tidak, terima kasih," Barto menjawab setelah ragu-ragu sejenak.


"Apa?!" Marco


mengamuk. “Ayolah! Aku tidak dapat menggunakanmu sebagai tumpuan jika kau tidak


ikutan!”


"Aku ... bukan tumpuan," jawab Barto.


"Kalau begitu siapa lagi!!? Hanya kau yang bisa menjadi tumpuan besar!”


"Aku tidak ingin menjadi tumpuan besar ..."


“Tidak ada hubungannya


dengan itu! Lakukan saja seperti apa yang aku katakan! Percayalah kepadaku! Aku


tidak akan membuatmu berada dalam kesulitan, oke ?!”


"A-aku di sini saja."


Bagi Barto, itu adalah

__ADS_1


penolakan yang sudah cukup keras. Marco pun sedikit mundur setelah mendengar


penolakan dari Barto.


"Baik! Kalau begitu,


aku akan mengambil tanggung jawab besar ini sendirian. Jangan datang dengan


menangis kepadaku jika kau menyesal nanti, karena aku tidak akan memberikan


simpati apapun! Mengerti?!"


"Oke," kata Barto.


“Sungguh?! Apakah itu


sungguh tidak masalah bagimu?! Sungguh sungguh sungguh sungguh?!” Marco masih


saja bersikeras.


"Aku bilang, oke," Barto masih teguh pada pendiriannya.


“Bukan oke! Barto! Jika


kau tidak mau menjadi tumpuanku, maka semua strategiku akan gagal, semuanya


akan menjadi sia-sia! Jadi, IKUTAN DONG! Aku tidak peduli apa yang kau katakan,


aku akan membawamu bersamaku!” Marco berupaya menyeret Barto, tapi si raksasa


tidak berpindah satu inchi pun. “Kau terlalu berat! Ayo, mengapa kau tidak


mengalah saja! Sial, berapa sih bobotmu, dasar gendut?!”


"Ya, aku kira aku memang cukup gendut ..." Barto pun mengakuinya.


"Kau tidak gendut," Haruhiro menyela tanpa berpikir.


"Kau tidak gendut, Barto,"


ulangnya. “Bukannya perutmu buncit, atau sejenisnya. Hanya saja, kau punya otot


yang besar.”


"Ah, aku


mengerti." Marco membanting tangannya di tempat tidur Haruhiro. “Akhirnya


kau ingin ikutan, kan? Apa yang akan aku lakukan denganmu, hah? Apapun itu, ayo


kita pergi. Ayolah, cepat bangun!”


Bagaimana bisa Marco


menafsirkan bahwa Haruhiro ingin ikut dengannya, padahal Haruhiro hanya berniat


menghibur Barto. Haruhiro sama sekali tidak bisa memahami pemikiran bocah itu.


Tidak adakah seorang pun di dunia ini yang sanggup menjauhkan Marco dari


hidupnya? Dan Haruhiro tidak bercanda tentang hal itu.


Setelah mereka


menyelesaikan gilirannya mandi, para pria kembali ke kamar. Haruhiro memadamkan


lampu, menuju tempat tidur, dan dalam kegelapan malam, dirinya terjaga untuk


berpikir.


Intinya adalah pertanyaan


ini, mereka harus tetap ‘memelihara’ Marco dalam Party, atau menendangnya


keluar?


Sejauh Haruhiro tahu, dia


mengakui bahwa beberapa kali dirinya pernah berkeinginan untuk tidak melihat Marco


lagi seumur hidup. Dia akan sangat lega jika Marco pergi entah kemana dan tidak


pernah kembali lagi. Tapi, bukan hanya Haruhiro. Dia tidak yakin tentang


pikiran Barto dan Lusi, tapi Marco selalu meludahkan ‘asam belerang’-nya pada Vina


dan Alice. Kedua gadis itu bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekkan orang


lain, tetapi meskipun demikian, mereka setidaknya juga pernah membenci Marco.


Bocah itu sungguh jenius membuat orang lain jengkel.


Meskipun begitu, Haruhiro


tidak bisa membuat keputusan berdasarkan emosi semata. Dia harus


mempertimbangkan faktor-faktor praktik juga, dengan kata lain, dia juga harus


mempertimbangkan kemampuan bertarung Marco. Jika mereka menendang Marco dari


Party, apakah itu mempengaruhi tim saat bertarung?


Apakah memikirkan hal seperti ini adalah pekerjaan seorang pemimpin? Dia bertanya-tanya.


Saat ini, Marco


difungsikan sebagai perisai kedua setelah Barto. Armor-nya cukup baik,


dilengkapi dengan baju zirah di bawah pakaian kulit, dan juga helm di


kepalanya. Tapi gaya bertarung Dark Knight tidak didasarkan pada pertempuran


jarak dekat. Dia lebih baik dalam pertempuran jarak menengah, di mana si


petarung bisa keluar-masuk jangkauan serangnya. Marco melakukan apapun yang dia


bisa untuk menghindari penguncian serangan jarak dekat.


Bukannya melibatkan


serangan langsung, teknik mereka malah membuat pertarungan seperti permainan


kucing dan tikus.


Intinya, Dark Knights


seharusnya digunakan sebagai penyerang, bukannya perisai. Dan jika


mempertimbangkan kepribadian Marco, mungkin gaya Dark Knight lebih cocok


dengannya daripada Warrior.


Meminta Vina untuk


menjadi perisai dengan mengenakan armor ringan bukanlah pilihan yang bijak, dan


Haruhiro juga tidak cocok memainkan peran tersebut. Lusi dan Alice juga bukan


pilihan karena mereka adalah Priest dan Mage. Yang tersisa hanyalah Marco. Jika


memiliki siapa pun untuk menggantikan dia. Dengan kata lain, kestabilan tim


akan terganggu.


Kemampuan bertarung


mereka akan berkurang jika mereka menendang Marco keluar tanpa ada yang


mengambil posisi sebagai perisai kedua. Jika demikian, maka masalahnya adalah


menemukan seseorang untuk menggantikan dia. Tidak seperti penyembuh, jumlah


pejuang sungguh berlimpah. Haruhiro memiliki perasaan bahwa mereka tidak akan


kesulitan menemukan pengganti Marco. Jika mereka bertanya pada Gori dengan


baik-baik, maka dia mungkin bisa membantu menemukan seseorang yang cocok


sebagai pengganti Marco. Bagaimanapun juga, dengan cara seperti inilah mereka


merekrut Lusi. Memang, awalnya bekerja sama dengan gadis itu cukup sulit, tapi


mereka perlahan-lahan semakin baik dalam pemahaman satu sama lain.


Gori yang tak pernah


susah berteman baik dengan semua orang, dan ia mungkin adalah orang yang bisa


menilai kepribadian orang lain dengan sangat baik, itulah kenapa banyak orang


menghargainya. Haruhiro menginginkan adanya beberapa Warrior yang lebih baik


daripada Marco. Mungkin. Mungkin saja. Itu pasti pilihan yang layak untuk


dipertimbangkan.


Barto mendengkur keras,


ketika dia sudah tertidur pulas. Biasanya Marco adalah orang pertama yang


melakukannya, tetapi tidak peduli seberapa kuat Haruhiro menajamkan telinganya,


ia tidak bisa mendengar dengkuran dari Marco.


"Marco," Haruhiro memanggilnya dengan ragu-ragu, dan Marco pun menjawab,


"Ya?"


"Um ..." Haruhiro ragu-ragu.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Marcp dengan tidak sabar.


"Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu."


"Apa?"


"Tidak disini. Aku tidak ingin membangunkan Barto. Bagaimana kalau pergi di luar?"


"Baiklah."


Saat mereka keluar


pondok, Haruhiro bertanya-tanya mengapa ia melakukan hal seperti ini. Apakah


dia memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Marco? Dia sungguh tidak


ingin berbicara dengan orang itu, tapi entah kenapa dia merasakan semacam


kewajiban untuk mengungkapkan pemikirannya.


Apapun keputusannya, satu


hal yang pasti adalah hal yang mengerikan bila Haruhiro merencanakan pengganti Marco


tanpa sepengetahuannya, jadi…. ungkapkan saja padanya, tanpa peringatan


terlebih dahulu, beritahu dia bahwa tugasnya telah berakhir dan Party tidak


lagi membutuhkan dirinya. Haruhiro tidak merasa bahwa Marco bisa menghargai


keputusan seperti itu, tidak peduli seberapa buruk Haruhiro memikirkan tentang


dirinya. Atau mungkin Haruhiro hanya tidak ingin dirinya menjadi pengkhianat


ataupun pengecut.


Tidak, lupakan saja.


Tentu saja dia tidak ingin dikeluarkan seperti itu. Itu keterlaluan ... Tapi


kenapa? Mengapa ia harus memikirkan rencana seperti ini, dan mengapa dia harus


terang-terangan membuang Marco?


"Marco ..."


Haruhiro berjongkok di sisi bangunan, dan menyandarkan punggungnya pada dinding. Marco mengikuti.


"Ya?"


"Um ... bagaimana menurutmu? Tentang Party kita," tanya Haruhiro.


“Party ini,” Marco menjawab dengan datar. “Semua ada untuk itu.”


“Maksudmu? Apa yang kau maksud dengan semua ada untuk itu?”


“Begini, apakah kau


memiliki masalah denganku? Aku pikir kau tahu bahwa aku sudah melakukan


pekerjaanku dengan benar.”


"Kok bisa?"


“Lantas, apakah aku belum


mengerjakan pekerjaanku dengan benar? Aku berurusan dengan seekor Kobold


sendirian hari ini, kan? Itu sudah terbukti.”


"Jika semuanya telah


mengepung monster itu, maka kita bisa menghabisinya lebih cepat daripada ketika


kau melawannya sendirian, " Haruhiro menunjukkannya.


"Apakah kalian


selalu bisa melakukan hal seperti itu?" Ranta membalas. “Tentu saja tidak.


Jika aku dapat membuat musuh sibuk ketika kau melakukan ... apa namanya?


Fleksibilitas atau apalah? Taktik pertempuran? Ah, terserahlah, tapi yang


penting itu berguna bagimu.”

__ADS_1


Jadi, meskipun Marco


adalah Marco, ia masih memikirkan hal-hal seperti itu ketika bertarung. Tapi


itu tidak mengubah apa pun.


Haruhiro menekankan telapak


tangan ke wajahnya. “Bagaimana aku bisa tahu apa yang kau pikirkan di


tengah-tengah pertarungan jika kau tidak mengatakannya padaku?”


“Jadi maksudmu, kau ingin


agar aku menjelaskan setiap niatanku dengan gamblang, kemudian meminta


pendapatmu sebelum aku melakukannya?”


"Aku tidak pernah


mengatakan hal seperti itu. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa tersampaikan


jika kau tidak mengutarakannya, dan itulah yang ingin kubicarakan denganmu saat


ini. Kau mudah salah paham, dan ini hanya akan membuat tim semakin buruk."


“Sebenarnya kau tidak


berpikir bahwa kesalahpahaman adalah inti permasalahannya, kan?” Marco


mengambil kerikil di dekatnya, kemudian membuangnya. “Kalian hanya menilai dan


membuat asumsi tentang apa yang aku pikirkan berdasarkan penampilan luarku.”


“Walaupun itu benar, kami


hanya bisa menilaimu dari apa yang kau lakukan dan apa yang kau ucapkan.”


"Jadi, kau


mengatakan bahwa ini semua adalah kesalahanku."


“Jika bukan kau, lantas


siapa? Aku? Vina? Alice? Barto? Lusi?” Haruhiro merasa emosinya meningkat.


Harus tetap tenang. Harus menjaga kepala agar tetap dingin. Dia tidak ingin


mengubah ini menjadi perkelahian. Dia mendesah dan berkata, “Kita semua bekerja


sebagai sebuah tim. Perlu ada tingkat ... kerjasama tertentu antara semua


orang.”


“Terus? Maksudmu, aku


tidak bisa diajak kerjasama?” Marco menantang.


"Menurutmu sendiri?


Apakah kau adalah orang yang bisa diajak kerjasama?"


"Tidak."


"Yah, kau memang


tidak kooperatif."


“Lihatlah Haruhiro,


setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, aku pun


juga memiliki kekurangan, tapi bagaimana dengan kalian? Apakah semua orang


sempurna, kecuali aku? Aku adalah orang berdosa sialan, dan kalian adalah


orang-orang suci, iya kan?”


"...Aku tidak pernah


mengatakan itu."


“Jadi, apakah semua ini


salahku? Apakah kau pikir aku egois?”


“Ya. Kau egois dan sangat


menjengkelkan.”


"Bodoh amat."


"Dan mulutmu juga


busuk. Dan kau juga cukup cepat menyalahkan orang lain."


“Apa!? Kok bisa semuanya


salahku? Bertanggung jawablah secara kolektif, dasar bodoh! Tanggung jawab


kolektif. Itulah sebabnya disebut 'tim'.”


“Itu adalah sesuatu yang


biasa dikatakan anak berusia enam tahun. Itu bahkan bukan argumen yang logis.”


"Apa sih yang TIDAK


logis? Ini sungguh logis. Sungguh-sungguh-sangat logis," Marco


berpendapat.


"Aku tidak ingin


mempermasalahkan hal lain denganmu."


“Oke. Tapi, bagaimana dengan


dirimu sendiri, wahai Tuan Haruhiro Yang Maha Sempurna? Aku bersedia tutup


mulut sekarang, tapi kau beberkan semua kesalahanmu.”


"Aku?" Mulut


Haruhiro tertutup rapat-rapat. Kesalahan. Kekurangan. Apa itu? Bukannya dia


tidak pernah salah’ Haruhiro malah seorang pria yang memiliki jutaan kesalahan.


Tapi, "Mengapa aku harus menyebutkan itu semua padamu?"


"Oh. Aku mengerti


sekarang. Kau dengan mudahnya bilang bahwa Marco adalah si sialan sejati, tapi


di saat kau harus menyebutkan kesalahan yang telah kau perbuat, mendadak kau


amnesia. Aku suuuuuuudah mengerti sekarang."


"Mengerti apa? Apa sih yang sedang kamu bicarakan?"


“Kau tahu betul apa yang


sedang aku bicarakan! Sangat mudah bagi kalian untuk melimpahkan SEMUA


kesalahan padaku, sehingga kau hanya mengerti kesalahanku tanpa memahami


kesalahan yang kalian perbuat sendiri. Dan apa? Apakah itu membuat kau merasa


lebih baik? Apakah ini benar-benar terlihat seperti tim yang sejati? Seperti


itukah solidaritas menurut pemikiranmu?”


"Tunggu, kita-"


"Kau mau bilang bahwa itu TIDAK benar, bukan? Dasar pembohong sialan.”


"... Bukannya kami berkonspirasi di belakangmu, dan menyalahkan dirimu akan segala sesuatu," kata Haruhiro.


"Mengapa? Mengapa


begitu? Kau tak perlu mengatakan hal seperti itu karena kalian semua sudah


sepakat. Kalian sudah memutuskan bahwa aku adalah orang yang paling pantas


menjadi kambing hitam."


"Kau hanya mengada-ada."


"Apakah kau


benar-benar berpikir seperti itu?" Nada bicara Marco penuh dengan cacian.


“Baik. Terserah. Berkat diriku, kalian bisa mengabaikan kesalahan yang kalian


perbuat. Tapi biarkan aku bertanya. Apakah aku PERNAH…. Apakah aku PERNAH


sekali saja menolak untuk menjadi kambing hitam kalian? Aku hanya mengatakan


itu sekarang karena kau lah yang pertama kali membahasnya, Haruhiro. Jika kau


tidak menyeret aku di sini, aku tidak akan merengek tentang hal ini. Aku tidak


peduli tentang permainan bayi seperti yang anak-anak lakukan bersama-sama di


kelas. Jika kau ingin membenciku, maka bencilah aku sepuasnya, aku rela menjadi


orang jahat atau sejenisnya. Sungguh. Aku tidak masalah. Tapi kita adalah


sebuah 'tim', dan aku akan melakukan pekerjaanku. Karena itulah yang kau sebut


dengan 'kerja tim'."


Haruhiro membuka mulut


untuk menjawab, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan kata-kata. Dia


membawa Marco ke sini dengan maksud meminta dia untuk meninggalkan Party ini.


Alasannya adalah untuk kepentingan terbaik tim. Jujur, dia sendiri tidak


percaya diri sanggup menendang Marco keluar secara langsung, tapi setidaknya


dia ingin memaparkan pokok permasalahannya. Berikan Marco kesempatan untuk


memperbaiki perilakunya, dan biarkan dia tahu bahwa keutuhan tim akan terganggu


jika dia terus bersikap seperti itu.


Seperti itulah rencana awal Haruhiro, namun.


Mungkin alasannya terlalu


sepihak. Apakah ia beserta yang lainnya benar-benar menggunakan Marco sebagai


kambing hitam? Dia kesulitan mempercayai hal tersebut. Marco juga berbagi


tanggung jawab, lantas mengapa semua orang selalu menyalahkannya. Haruhiro


hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena semua orang menekankan kekurangan


Marco.


Di sini bukan kami yang salah. Namun, Marco lah yang sepenuhnya salah.


Jika itu benar, maka akan


lebih baik untuk menyingkirkan Marco sekarang, daripada menunda waktu lebih


lama. Secara pribadi, Haruhiro akan merasa lega, seakan-akan beban berat


terlepas dari pundaknya. Dia bisa menjelaskan kepada semuanya setelah ini


berlalu, dan mereka juga akan mengerti, kan? Masalahnya adalah, Haruhiro


sendiri tak yakin apakah suatu saat nanti dia akan menelan penyesalah setelah


menendang Marco keluar dari tim.


Dan jika memang dia akan


menyesal, maka itu akan menjadi suatu pukulan telak bagi Haruhiro. Dia adalah


pemimpinnya, ia adalah orang yang memiliki hak menilai sesuatu, dan dia juga


satu-satunya orang yang memiliki hak penuh untuk mengeluarkan Marco. Pada


akhirnya, tanggung jawab adalah beban terberat dalam dirinya sendiri.


Mengapa? Mengapa harus aku yang berurusan dengan semua ini?


"Aku akan kembali


tidur," Marco menyatakan itu, sambil bangkit dari tempat dia duduk, lantas


kembali ke kamar.


Haruhiro tetap berada di sana tanpa gerak. isi perutnya terasa berat dan sakit.


Aku tidak ingin melakukan


ini lagi, pikirnya. Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Cukup cukup. Aku tidak


cocok untuk menjadi pemimpin. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa


mengambil tanggung jawab. Udin ... bantu aku...


Dia tahu bahwa Udin telah pergi, tapi dia tidak bisa menahannya.


Tidak ada orang lain yang bisa dia tanyai.


"Apakah menjadi seorang pemimpin terasa begitu kesepian ...?"


Jiwa seorang pemimpin


tidak terdapat dalam dirinya. Itu seperti mencoba untuk mengisi air pada suatu

__ADS_1


wadah penuh lubang.


__ADS_2