
Mereka kembali ke Atalante
sebelum matahari terbenam, lantas mereka menjual barang hasil jarahan hari ini
di sebuah toko dekat pasar. Beberapa jimat, yang dikumpulkan dari lima Kobolds
kecil dan tujuh Kobold pekerja berkasta rendah, semuanya dihargai 7 perak lebih
sedikit.
"Ini agak
menyedihkan," Vina mendesah dengan ekspresi tenang, sembari ia menatap
tujuh perak dan segenggam koin perunggu.
"Ini tidak
menyedihkan," kata Marco dengan mengerutkan kening dalam-dalam. “Tapi, ini
luar biasa menyedihkan! Serius, apa sih ini?!”
"Sepertinya, aku
juga mengharapkan lebih banyak," kata Barto, dengan memaksakan
"haha" keluar dari mulutnya.
"Ya ..." Alice
menundukkan kepalanya. “Ini bahkan lebih sedikit dari yang kita dapatkan ketika
berburu Goblin ...”
"Uh ..."
Haruhiro ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur semuanya, tapi ia tidak bisa
memikirkan sesuatu yang positif.
"Semua yang kita
lawan hanyalah Kobolds normal." Dengan suaranya yang dingin dan tenang, Lusi
segera menghibur teman-temannya karena sepertinya Haruhiro kehabisan kata-kata.
"Kita akan mendapatkan uang lebih banyak setelah mengalahkan petua."
Haruhiro, yang masih
kebingungan, mengangguk dengan penuh semangat. “Y-ya itu benar. Dan sepertinya
itu bukanlah pertempuran yang sulit. Pada mulanya kita sedikit canggung, tapi
kemudian kita bisa menghabisi Kobolds dengan mudah, dan tidak ada yang terluka
serius, aku pikir juga begitu. Bertarung melawan Kobolds tingkat rendah berarti
kita tidak mendapatkan barang berharga tinggi dari mereka, iya kan?”
"Lebih baik kau
pastikan," Marco mengejek. “Jika besok hasilnya tidak kunjung membaik, kau
harus tanggung jawab, Haruhiro!”
"Apa artinya itu?" Tanya Haruhiro.
“Itu artinya, jika besok
perkataanmu terbukti salah, maka kau harus memberiku sebagian uangmu sebagai
kompensasi ganti rugi.”
"Mengapa aku harus melakukan hal seperti itu?"
“Apa? Bukankah kau yang mengajak kami pergi ke Tambang Siren, kan?”
"Tapi kau setuju dengan itu, kan?"
“Itu bukan ideku. Yang
aku lakukan hanyalah memberikan persetujuan. Si bodoh keras kepala yang
mengusulkan ide itu adalah orang yang paling bertanggung jawab. Aturannya
memang seperti itu sejak trilyun tahun yang lalu!”
"Mengocehlah sesukamu," kata Haruhiro, menyerah.
"Dasar, memang sesukaku mau ngomong apa!" Marco membalasnya.
Apapun itu, Haruhiro
berada pada posisi yang layak disalahkan. Ketidakmampuan Haruhiro untuk
berdebat membalas Marco membuat dia sedih, meskipun sebenarnya dia tak perlu
melakukan hal seperti itu. Mungkin dia hanya lelah, tapi jika demikian, maka Marco
lah yang harus disalahkan karena terlalu menuntut.
Bahkan saat semuanya
makan malam bersama di sebuah kios (yang meskipun murah, tapi memiliki reputasi
baik), Marco memuntahkan kata-kata bodoh setiap kali ia membuka mulutnya.
Bahkan pada saat-saat seperti ini, Haruhiro tidak mood untuk berdebat dengan Marco,
namun si pria berambut berantakan masih saja memprovokasinya. Memang seperti
itulah Marco. Baiklah kalau begitu. Jika tabiatnya memang seperti itu, maka
Haruhiro hanya perlu mengabaikannya.
"Hei, Haruhiro," Marco mulai lagi.
"..."
"Oy, Haruhiro."
"..."
"Heeey," kata Marco, sembari terus menyemburnya, "Haruhiro."
"..."
"Hey, hey, hey. Haruhiro.”
"..."
"BODOH IDIOT!"
Sembari masih memegang
ayam yang sudah setengah dimakan, Marco memulai tarian aneh di sekelilingnya.
”Hey hey hey! Oy oy oy! Heyyy heyyy, oyyy oyyy! Heeeey! Oyyyyyy! Hey hey hey!
Oy oy oy!”
Sialan. Marco
menendangkan kakinya dan mengayunkan pinggulnya seperti orang gila, tapi
bagaimana bisa dia melakukan tarian konyol itu dengan tubuh bagian atas yang
tidak bergerak? Itu sungguh menjijikkan, tapi anehnya itu juga terlihat lucu.
Haruhiro berpaling. Dia pikir, rekan-rekan lainnya juga mencoba untuk
memalingkan pandangan dari Marco, tapi kemudian ... suara tawa terdengar.
Suara itu cukup samar,
tapi Haruhiro masih bisa mendengar suara tawa yang lembut. Bukan hanya dari
satu orang, tetapi dari beberapa temannya. Mendadak, Vina pun tidak tahan, dan
dia tertawa lepas.
"Whahoo!" Marco tampak puas. “Hoi hoi hoi!”
Alice juga tak tahan, dan
dia pun tertawa. Marco semakin serius melakukan tarian konyolnya. “Hoi hoi hoi!
Ho ho ho hoi! Hoi hoi hoi!”
Barto juga tak tahan, dan
hanya Haruhiro dan Lusi yang masih belum menyerah. Haruhiro memandang ke arah Lusi,
dan melihat bahwa meskipun gadis itu melihat ke bawah, tapi bahunya agak
bergetar. Marco semakin mendekatinya, dan menari lebih gila dari sebelumnya.
Dengan kekuatan penuh, Marco melakukan Tarian Hoi Hoi.
Lusi! Jangan! Tapi
sepertinya Lusi sudah berada pada batasnya. Dengan wajah datar, Lusi
melemparkan tatapannya pada meja kasir, namun gerak-gerik tubuhnya mengatakan
pada Haruhiro bahwa dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi hoi! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii! Hoi hoi hoi! Hoi hoi! Hoi hoi hoiiiii!”
Lusi berjuang untuk menahan tawanya.
Bertahanlah, Lusi! Jangan
menyerah, lawan! Lawan dia! Kenapa bisa jadi seperti ini? Bahkan mengapa
Haruhiro serius dalam menanggapi ini?
Tiba-tiba, dorongan untuk
tertawa memudar, kemudian menghilang sepenuhnya. Haruhiro dengan cepat bergerak
ke belakang Marco, kemudian menyodokkan tumitnya pada belakang lutut Marco.
sehingga Marco pun memotong “hoi”-nya, kemudian dia menoleh ke arah Haruhiro.
Dia kembali ke sudut pada meja counter.
"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!" Seru Marco. “Aku hampir membuat dia tertawa!”
"Berhenti menyemburku, itu menjijikkan," jawab Haruhiro dengan tenang.
Marco menanggapinya dengan sengaja berbicara tergagap.
"Hei! Hentikan!"
"Kau yang hentikan, tolol!" ia terus menyembur Haruhiro.
Serangan ludah Marco tidak pandang bulu, dia menyembur segala sesuatu di hadapannya, bahkan ke
teman-teman dan makanan di meja. Mereka yang tadinya ingin tertawa, kini
menjadi marah, tindakan Marco sungguh tidak tepat. Karena itu, mood semuanya
menjadi buruk ketika mereka kembali ke pondok.
"Aaaaaalllright!"
Marco mengerang setelah mereka mencapai kamar. “Gadis-gadis mandi terlebih
dahulu, jadi kita bisa mengintip sepuasnya!”
Bagaimana bisa Marco
berpikir tentang hal itu pada saat seperti ini? Haruhiro hanya bisa mengagumi betapa
rendah kepekaan bocah ini. Karena tidak ingin menghabiskan lebih banyak energi,
Haruhiro pun menjatuhkan dirinya ke tempat tidur sembari menghadapkan
punggungnya pada Marco yang terlalu bersemangat.
“Haruhiro, apa masalahmu?
Kau mau ikutan apa nggak?” Marco bertanya. “Percuma saja kalau kau khawatir
tentang apa yang akan terjadi pada kita jika ketahuan, kita tidak akan
mendapatkan masalah, jadi hentikan pikiran bodoh itu! Hei, Barto! Kamu mau
ikutan nggak?”
"T-tidak, terima kasih," Barto menjawab setelah ragu-ragu sejenak.
"Apa?!" Marco
mengamuk. “Ayolah! Aku tidak dapat menggunakanmu sebagai tumpuan jika kau tidak
ikutan!”
"Aku ... bukan tumpuan," jawab Barto.
"Kalau begitu siapa lagi!!? Hanya kau yang bisa menjadi tumpuan besar!”
"Aku tidak ingin menjadi tumpuan besar ..."
“Tidak ada hubungannya
dengan itu! Lakukan saja seperti apa yang aku katakan! Percayalah kepadaku! Aku
tidak akan membuatmu berada dalam kesulitan, oke ?!”
"A-aku di sini saja."
Bagi Barto, itu adalah
__ADS_1
penolakan yang sudah cukup keras. Marco pun sedikit mundur setelah mendengar
penolakan dari Barto.
"Baik! Kalau begitu,
aku akan mengambil tanggung jawab besar ini sendirian. Jangan datang dengan
menangis kepadaku jika kau menyesal nanti, karena aku tidak akan memberikan
simpati apapun! Mengerti?!"
"Oke," kata Barto.
“Sungguh?! Apakah itu
sungguh tidak masalah bagimu?! Sungguh sungguh sungguh sungguh?!” Marco masih
saja bersikeras.
"Aku bilang, oke," Barto masih teguh pada pendiriannya.
“Bukan oke! Barto! Jika
kau tidak mau menjadi tumpuanku, maka semua strategiku akan gagal, semuanya
akan menjadi sia-sia! Jadi, IKUTAN DONG! Aku tidak peduli apa yang kau katakan,
aku akan membawamu bersamaku!” Marco berupaya menyeret Barto, tapi si raksasa
tidak berpindah satu inchi pun. “Kau terlalu berat! Ayo, mengapa kau tidak
mengalah saja! Sial, berapa sih bobotmu, dasar gendut?!”
"Ya, aku kira aku memang cukup gendut ..." Barto pun mengakuinya.
"Kau tidak gendut," Haruhiro menyela tanpa berpikir.
"Kau tidak gendut, Barto,"
ulangnya. “Bukannya perutmu buncit, atau sejenisnya. Hanya saja, kau punya otot
yang besar.”
"Ah, aku
mengerti." Marco membanting tangannya di tempat tidur Haruhiro. “Akhirnya
kau ingin ikutan, kan? Apa yang akan aku lakukan denganmu, hah? Apapun itu, ayo
kita pergi. Ayolah, cepat bangun!”
Bagaimana bisa Marco
menafsirkan bahwa Haruhiro ingin ikut dengannya, padahal Haruhiro hanya berniat
menghibur Barto. Haruhiro sama sekali tidak bisa memahami pemikiran bocah itu.
Tidak adakah seorang pun di dunia ini yang sanggup menjauhkan Marco dari
hidupnya? Dan Haruhiro tidak bercanda tentang hal itu.
Setelah mereka
menyelesaikan gilirannya mandi, para pria kembali ke kamar. Haruhiro memadamkan
lampu, menuju tempat tidur, dan dalam kegelapan malam, dirinya terjaga untuk
berpikir.
Intinya adalah pertanyaan
ini, mereka harus tetap ‘memelihara’ Marco dalam Party, atau menendangnya
keluar?
Sejauh Haruhiro tahu, dia
mengakui bahwa beberapa kali dirinya pernah berkeinginan untuk tidak melihat Marco
lagi seumur hidup. Dia akan sangat lega jika Marco pergi entah kemana dan tidak
pernah kembali lagi. Tapi, bukan hanya Haruhiro. Dia tidak yakin tentang
pikiran Barto dan Lusi, tapi Marco selalu meludahkan ‘asam belerang’-nya pada Vina
dan Alice. Kedua gadis itu bukan tipe orang yang suka menjelek-jelekkan orang
lain, tetapi meskipun demikian, mereka setidaknya juga pernah membenci Marco.
Bocah itu sungguh jenius membuat orang lain jengkel.
Meskipun begitu, Haruhiro
tidak bisa membuat keputusan berdasarkan emosi semata. Dia harus
mempertimbangkan faktor-faktor praktik juga, dengan kata lain, dia juga harus
mempertimbangkan kemampuan bertarung Marco. Jika mereka menendang Marco dari
Party, apakah itu mempengaruhi tim saat bertarung?
Apakah memikirkan hal seperti ini adalah pekerjaan seorang pemimpin? Dia bertanya-tanya.
Saat ini, Marco
difungsikan sebagai perisai kedua setelah Barto. Armor-nya cukup baik,
dilengkapi dengan baju zirah di bawah pakaian kulit, dan juga helm di
kepalanya. Tapi gaya bertarung Dark Knight tidak didasarkan pada pertempuran
jarak dekat. Dia lebih baik dalam pertempuran jarak menengah, di mana si
petarung bisa keluar-masuk jangkauan serangnya. Marco melakukan apapun yang dia
bisa untuk menghindari penguncian serangan jarak dekat.
Bukannya melibatkan
serangan langsung, teknik mereka malah membuat pertarungan seperti permainan
kucing dan tikus.
Intinya, Dark Knights
seharusnya digunakan sebagai penyerang, bukannya perisai. Dan jika
mempertimbangkan kepribadian Marco, mungkin gaya Dark Knight lebih cocok
dengannya daripada Warrior.
Meminta Vina untuk
menjadi perisai dengan mengenakan armor ringan bukanlah pilihan yang bijak, dan
Haruhiro juga tidak cocok memainkan peran tersebut. Lusi dan Alice juga bukan
pilihan karena mereka adalah Priest dan Mage. Yang tersisa hanyalah Marco. Jika
memiliki siapa pun untuk menggantikan dia. Dengan kata lain, kestabilan tim
akan terganggu.
Kemampuan bertarung
mereka akan berkurang jika mereka menendang Marco keluar tanpa ada yang
mengambil posisi sebagai perisai kedua. Jika demikian, maka masalahnya adalah
menemukan seseorang untuk menggantikan dia. Tidak seperti penyembuh, jumlah
pejuang sungguh berlimpah. Haruhiro memiliki perasaan bahwa mereka tidak akan
kesulitan menemukan pengganti Marco. Jika mereka bertanya pada Gori dengan
baik-baik, maka dia mungkin bisa membantu menemukan seseorang yang cocok
sebagai pengganti Marco. Bagaimanapun juga, dengan cara seperti inilah mereka
merekrut Lusi. Memang, awalnya bekerja sama dengan gadis itu cukup sulit, tapi
mereka perlahan-lahan semakin baik dalam pemahaman satu sama lain.
Gori yang tak pernah
susah berteman baik dengan semua orang, dan ia mungkin adalah orang yang bisa
menilai kepribadian orang lain dengan sangat baik, itulah kenapa banyak orang
menghargainya. Haruhiro menginginkan adanya beberapa Warrior yang lebih baik
daripada Marco. Mungkin. Mungkin saja. Itu pasti pilihan yang layak untuk
dipertimbangkan.
Barto mendengkur keras,
ketika dia sudah tertidur pulas. Biasanya Marco adalah orang pertama yang
melakukannya, tetapi tidak peduli seberapa kuat Haruhiro menajamkan telinganya,
ia tidak bisa mendengar dengkuran dari Marco.
"Marco," Haruhiro memanggilnya dengan ragu-ragu, dan Marco pun menjawab,
"Ya?"
"Um ..." Haruhiro ragu-ragu.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Marcp dengan tidak sabar.
"Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu."
"Apa?"
"Tidak disini. Aku tidak ingin membangunkan Barto. Bagaimana kalau pergi di luar?"
"Baiklah."
Saat mereka keluar
pondok, Haruhiro bertanya-tanya mengapa ia melakukan hal seperti ini. Apakah
dia memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Marco? Dia sungguh tidak
ingin berbicara dengan orang itu, tapi entah kenapa dia merasakan semacam
kewajiban untuk mengungkapkan pemikirannya.
Apapun keputusannya, satu
hal yang pasti adalah hal yang mengerikan bila Haruhiro merencanakan pengganti Marco
tanpa sepengetahuannya, jadi…. ungkapkan saja padanya, tanpa peringatan
terlebih dahulu, beritahu dia bahwa tugasnya telah berakhir dan Party tidak
lagi membutuhkan dirinya. Haruhiro tidak merasa bahwa Marco bisa menghargai
keputusan seperti itu, tidak peduli seberapa buruk Haruhiro memikirkan tentang
dirinya. Atau mungkin Haruhiro hanya tidak ingin dirinya menjadi pengkhianat
ataupun pengecut.
Tidak, lupakan saja.
Tentu saja dia tidak ingin dikeluarkan seperti itu. Itu keterlaluan ... Tapi
kenapa? Mengapa ia harus memikirkan rencana seperti ini, dan mengapa dia harus
terang-terangan membuang Marco?
"Marco ..."
Haruhiro berjongkok di sisi bangunan, dan menyandarkan punggungnya pada dinding. Marco mengikuti.
"Ya?"
"Um ... bagaimana menurutmu? Tentang Party kita," tanya Haruhiro.
“Party ini,” Marco menjawab dengan datar. “Semua ada untuk itu.”
“Maksudmu? Apa yang kau maksud dengan semua ada untuk itu?”
“Begini, apakah kau
memiliki masalah denganku? Aku pikir kau tahu bahwa aku sudah melakukan
pekerjaanku dengan benar.”
"Kok bisa?"
“Lantas, apakah aku belum
mengerjakan pekerjaanku dengan benar? Aku berurusan dengan seekor Kobold
sendirian hari ini, kan? Itu sudah terbukti.”
"Jika semuanya telah
mengepung monster itu, maka kita bisa menghabisinya lebih cepat daripada ketika
kau melawannya sendirian, " Haruhiro menunjukkannya.
"Apakah kalian
selalu bisa melakukan hal seperti itu?" Ranta membalas. “Tentu saja tidak.
Jika aku dapat membuat musuh sibuk ketika kau melakukan ... apa namanya?
Fleksibilitas atau apalah? Taktik pertempuran? Ah, terserahlah, tapi yang
penting itu berguna bagimu.”
__ADS_1
Jadi, meskipun Marco
adalah Marco, ia masih memikirkan hal-hal seperti itu ketika bertarung. Tapi
itu tidak mengubah apa pun.
Haruhiro menekankan telapak
tangan ke wajahnya. “Bagaimana aku bisa tahu apa yang kau pikirkan di
tengah-tengah pertarungan jika kau tidak mengatakannya padaku?”
“Jadi maksudmu, kau ingin
agar aku menjelaskan setiap niatanku dengan gamblang, kemudian meminta
pendapatmu sebelum aku melakukannya?”
"Aku tidak pernah
mengatakan hal seperti itu. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa tersampaikan
jika kau tidak mengutarakannya, dan itulah yang ingin kubicarakan denganmu saat
ini. Kau mudah salah paham, dan ini hanya akan membuat tim semakin buruk."
“Sebenarnya kau tidak
berpikir bahwa kesalahpahaman adalah inti permasalahannya, kan?” Marco
mengambil kerikil di dekatnya, kemudian membuangnya. “Kalian hanya menilai dan
membuat asumsi tentang apa yang aku pikirkan berdasarkan penampilan luarku.”
“Walaupun itu benar, kami
hanya bisa menilaimu dari apa yang kau lakukan dan apa yang kau ucapkan.”
"Jadi, kau
mengatakan bahwa ini semua adalah kesalahanku."
“Jika bukan kau, lantas
siapa? Aku? Vina? Alice? Barto? Lusi?” Haruhiro merasa emosinya meningkat.
Harus tetap tenang. Harus menjaga kepala agar tetap dingin. Dia tidak ingin
mengubah ini menjadi perkelahian. Dia mendesah dan berkata, “Kita semua bekerja
sebagai sebuah tim. Perlu ada tingkat ... kerjasama tertentu antara semua
orang.”
“Terus? Maksudmu, aku
tidak bisa diajak kerjasama?” Marco menantang.
"Menurutmu sendiri?
Apakah kau adalah orang yang bisa diajak kerjasama?"
"Tidak."
"Yah, kau memang
tidak kooperatif."
“Lihatlah Haruhiro,
setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, aku pun
juga memiliki kekurangan, tapi bagaimana dengan kalian? Apakah semua orang
sempurna, kecuali aku? Aku adalah orang berdosa sialan, dan kalian adalah
orang-orang suci, iya kan?”
"...Aku tidak pernah
mengatakan itu."
“Jadi, apakah semua ini
salahku? Apakah kau pikir aku egois?”
“Ya. Kau egois dan sangat
menjengkelkan.”
"Bodoh amat."
"Dan mulutmu juga
busuk. Dan kau juga cukup cepat menyalahkan orang lain."
“Apa!? Kok bisa semuanya
salahku? Bertanggung jawablah secara kolektif, dasar bodoh! Tanggung jawab
kolektif. Itulah sebabnya disebut 'tim'.”
“Itu adalah sesuatu yang
biasa dikatakan anak berusia enam tahun. Itu bahkan bukan argumen yang logis.”
"Apa sih yang TIDAK
logis? Ini sungguh logis. Sungguh-sungguh-sangat logis," Marco
berpendapat.
"Aku tidak ingin
mempermasalahkan hal lain denganmu."
“Oke. Tapi, bagaimana dengan
dirimu sendiri, wahai Tuan Haruhiro Yang Maha Sempurna? Aku bersedia tutup
mulut sekarang, tapi kau beberkan semua kesalahanmu.”
"Aku?" Mulut
Haruhiro tertutup rapat-rapat. Kesalahan. Kekurangan. Apa itu? Bukannya dia
tidak pernah salah’ Haruhiro malah seorang pria yang memiliki jutaan kesalahan.
Tapi, "Mengapa aku harus menyebutkan itu semua padamu?"
"Oh. Aku mengerti
sekarang. Kau dengan mudahnya bilang bahwa Marco adalah si sialan sejati, tapi
di saat kau harus menyebutkan kesalahan yang telah kau perbuat, mendadak kau
amnesia. Aku suuuuuuudah mengerti sekarang."
"Mengerti apa? Apa sih yang sedang kamu bicarakan?"
“Kau tahu betul apa yang
sedang aku bicarakan! Sangat mudah bagi kalian untuk melimpahkan SEMUA
kesalahan padaku, sehingga kau hanya mengerti kesalahanku tanpa memahami
kesalahan yang kalian perbuat sendiri. Dan apa? Apakah itu membuat kau merasa
lebih baik? Apakah ini benar-benar terlihat seperti tim yang sejati? Seperti
itukah solidaritas menurut pemikiranmu?”
"Tunggu, kita-"
"Kau mau bilang bahwa itu TIDAK benar, bukan? Dasar pembohong sialan.”
"... Bukannya kami berkonspirasi di belakangmu, dan menyalahkan dirimu akan segala sesuatu," kata Haruhiro.
"Mengapa? Mengapa
begitu? Kau tak perlu mengatakan hal seperti itu karena kalian semua sudah
sepakat. Kalian sudah memutuskan bahwa aku adalah orang yang paling pantas
menjadi kambing hitam."
"Kau hanya mengada-ada."
"Apakah kau
benar-benar berpikir seperti itu?" Nada bicara Marco penuh dengan cacian.
“Baik. Terserah. Berkat diriku, kalian bisa mengabaikan kesalahan yang kalian
perbuat. Tapi biarkan aku bertanya. Apakah aku PERNAH…. Apakah aku PERNAH
sekali saja menolak untuk menjadi kambing hitam kalian? Aku hanya mengatakan
itu sekarang karena kau lah yang pertama kali membahasnya, Haruhiro. Jika kau
tidak menyeret aku di sini, aku tidak akan merengek tentang hal ini. Aku tidak
peduli tentang permainan bayi seperti yang anak-anak lakukan bersama-sama di
kelas. Jika kau ingin membenciku, maka bencilah aku sepuasnya, aku rela menjadi
orang jahat atau sejenisnya. Sungguh. Aku tidak masalah. Tapi kita adalah
sebuah 'tim', dan aku akan melakukan pekerjaanku. Karena itulah yang kau sebut
dengan 'kerja tim'."
Haruhiro membuka mulut
untuk menjawab, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan kata-kata. Dia
membawa Marco ke sini dengan maksud meminta dia untuk meninggalkan Party ini.
Alasannya adalah untuk kepentingan terbaik tim. Jujur, dia sendiri tidak
percaya diri sanggup menendang Marco keluar secara langsung, tapi setidaknya
dia ingin memaparkan pokok permasalahannya. Berikan Marco kesempatan untuk
memperbaiki perilakunya, dan biarkan dia tahu bahwa keutuhan tim akan terganggu
jika dia terus bersikap seperti itu.
Seperti itulah rencana awal Haruhiro, namun.
Mungkin alasannya terlalu
sepihak. Apakah ia beserta yang lainnya benar-benar menggunakan Marco sebagai
kambing hitam? Dia kesulitan mempercayai hal tersebut. Marco juga berbagi
tanggung jawab, lantas mengapa semua orang selalu menyalahkannya. Haruhiro
hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena semua orang menekankan kekurangan
Marco.
Di sini bukan kami yang salah. Namun, Marco lah yang sepenuhnya salah.
Jika itu benar, maka akan
lebih baik untuk menyingkirkan Marco sekarang, daripada menunda waktu lebih
lama. Secara pribadi, Haruhiro akan merasa lega, seakan-akan beban berat
terlepas dari pundaknya. Dia bisa menjelaskan kepada semuanya setelah ini
berlalu, dan mereka juga akan mengerti, kan? Masalahnya adalah, Haruhiro
sendiri tak yakin apakah suatu saat nanti dia akan menelan penyesalah setelah
menendang Marco keluar dari tim.
Dan jika memang dia akan
menyesal, maka itu akan menjadi suatu pukulan telak bagi Haruhiro. Dia adalah
pemimpinnya, ia adalah orang yang memiliki hak menilai sesuatu, dan dia juga
satu-satunya orang yang memiliki hak penuh untuk mengeluarkan Marco. Pada
akhirnya, tanggung jawab adalah beban terberat dalam dirinya sendiri.
Mengapa? Mengapa harus aku yang berurusan dengan semua ini?
"Aku akan kembali
tidur," Marco menyatakan itu, sambil bangkit dari tempat dia duduk, lantas
kembali ke kamar.
Haruhiro tetap berada di sana tanpa gerak. isi perutnya terasa berat dan sakit.
Aku tidak ingin melakukan
ini lagi, pikirnya. Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Cukup cukup. Aku tidak
cocok untuk menjadi pemimpin. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa
mengambil tanggung jawab. Udin ... bantu aku...
Dia tahu bahwa Udin telah pergi, tapi dia tidak bisa menahannya.
Tidak ada orang lain yang bisa dia tanyai.
"Apakah menjadi seorang pemimpin terasa begitu kesepian ...?"
Jiwa seorang pemimpin
tidak terdapat dalam dirinya. Itu seperti mencoba untuk mengisi air pada suatu
__ADS_1
wadah penuh lubang.