
Sebelum mereka bertemu dengan Lusi pada pukul 8 pagi, sebelum tidur di malam hari, Haruhiro dan yang lainnya memeras otak untuk memikirkan apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka katakan pada Lusi besok. Tapi tak seorang pun bisa memikirkan sesuatu. Kemudian, ketika mereka tiba di Kota Tua Damroww, mereka harus fokus pada pekerjaan, dan mereka tidak boleh mengkhawatirkan tentang hal lain.
Saat-saat penting tersebut berlalu begitu saja, dan tepat sebelum mereka kembali ke Atalante pada malam hari, Haruhiro akhirnya memberanikan dirinya untuk mendekati Lusi.
"Lusi, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu," Haruhiro mengatakannya dengan terus terang, sembari keluar dari toko di mana mereka menjual hasil barang jarahan hari ini.
"Aku paham," Lusi menjawab sembari menyilangkan tangan di depan dadanya. ”Kalau begitu, bilang saja….."
Karena tadi malam semuanya sudah mendengar cerita tentang masa lalu Lusi yang kelam, maka hari ini tak satu pun dari mereka sanggup bersikap normal di depan gadis itu. Mereka telah mendengar cerita tersebut dari Haya, dan seharusnya Lusi tak mengetahui akan hal itu, namun Lusi merasakan perubahan perilaku orang-orang di sekitarnya, sehingga dia pasti menduga bahwa ada sesuatu yang sudah terjadi pada mereka.
Dia mungkin berpikir bahwa mereka sudah memutuskan untuk mengeluarkannya dari Party ini. Mungkin saat ini Lusi sedang membayangkan bahwa Haruhiro akan mengatakan, "Maaf Lusi, tapi bolehkah aku memintamu untuk keluar dari Party ini?"
Karena tidak ingin membuat keributan, Lusi pun segera menjawab, "Baiklah," sembari bersiap-siap meninggalkan mereka.
Dia menguatkan dirinya untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Haruhiro. Nampaknya, Lusi sudah sering kali mengalami hal serupa pada beberapa Party sebelumnya. Sungguh menyedihkan ketika tahu bahwa seorang gadis sering kali mengalami hal yang tak menyenangkan seperti ini.
"Lusi ..." kata Haruhiro, sembari menyebutkan nama seorang gadis yang saat ini masih resmi menjadi anggota Party-nya.
Haruhiro menatap mata Lusi, seolah-olah dia hendak berkata “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Mata Lusi sedikit menyipit. Haruhiro tidak sendirian. Barto, Vina, Alice, dan Marco semua anggota Party juga menatap gadis itu. Lusi tahu bahwa semuanya sedang memperhatikan dirinya, sehingga dia mulai merasa tidak nyaman. Tidak, ini tidak
seperti yang kau pikirkan ... Lagi-lagi Haruhiro mengulangi kalimat itu di dalam pikirannya.
"Lusi," kali ini Haruhiro mengucapkannya dengan nada keras. “Party kami pernah memiliki seorang Priest sebelumnya. Namanya adalah Udin, dan dia sudah mati ... atau mungkin akan lebih tepat jika disebut, kami membiarkannya terbunuh. Kau boleh mengatakan bahwa dia adalah seorang perfeksionis, dan kami terlalu banyak mengandalkan dirinya. Ketika kami terluka selama pertarungan, dia tak segan-segan menyembuhkan kami walaupun lukanya hanyalah goresan kecil.”
"Udin adalah pemimpin kami," kata Haruhiro, “Dia adalah penyembuh kami yang terpercaya, dan ia bersama Barto selalu bertarung di lini depan, jadi dia bagaikan seorang Warrior. Rasanya seperti ada tiga peran dalam satu orang. Dia benar-benar orang yang mengagumkan, tetapi pada saat itu, kami tidak pernah menyadarinya. Di mata kami, dia hanyalah orang biasa. Aku yakin bahwa Udin menjalani masa-masa yang sulit pada saat itu, tapi dia tidak pernah sekalipun mengeluh, dan tak seorang pun dari kami membayangkan betapa berat beban yang ditanggung oleh Udin. Bahkan sampai sekarang, sepertinya aku tak sanggup membayangkan hal itu ... tapi dia sudah mati. Dia tidak lagi ada di dunia ini.”
Pastinya, Lusi melihat kesamaan antara dirinya dan Udin. Bahkan, mungkin dia sudah mengerti bahwa Haruhiro menceritakan ini semua karena dia sudah tahu tentang kisah masa lalunya.
Haruhiro pun sempat ragu. Namun, setelah mendengar cerita Haya, ia cukup mengerti tentang apa yang telah terjadi pada Lusi, dan Haruhiro pun mengerti mengapa Lusi jadi seperti ini. Akan tetapi, haruskah ia memberitahu Lusi bahwa dia tahu akan semua hal itu?
__ADS_1
Haruhiro pun merasa bahwa ini bukanlah hal yang bisa diterima dengan mudah.
Hal "A" telah terjadi, kemudian terjadilah hal "B." Haruhiro mengerti bahwa manusia bukanlah makhluk yang sederhana ataupun mudah menyatakan apa yang ada di dalam benaknya, dan dia tidak ingin menjadi orang yang sok pandai membaca isi hati Lusi. Jika ada orang yang mengklaim bahwa dirinya mampu mengetahui segala isi hati
seseorang, maka dia adalah orang yang kurang. Jadi, satu-satunya hal yang bisa Haruhiro sampaikan pada Lusi adalah perasaannya sendiri.
"Sejujurnya, dengan perginya Udin, aku berpikir bahwa semuanya telah usai," Haruhiro memulai. “Aku berpikir bahwa tidak mungkin bagi kami meneruskan perjuangan ini tanpa adanya dirinya. Tetapi walaupun ia sudah mati, kami masih hidup. Kami harus terus hidup, dan kami tidak bisa terus hidup jika hanya duduk dan berpangku
tangan. Kami masih berstatus sebagai anggota pelatihan Red MooN, sehingga kami harus berjuang untuk membeli makan dengan usaha sendiri. Kemudian, kami mengundangmu untuk bergabung dengan Party. Suatu Party harus memiliki Priest itulah sebabnya kami mengajakmu. Tidak ada alasan lain. Sekarang, aku sendiri, Marco, Vina, dan Alice, kami hanyalah kumpulan orang tak berguna sejak awal. Namun Barto sedikit berbeda. Ia direkrut oleh Ragil, tetapi kemudian dia dibuang begitu saja setelah mereka mengambil semua uangnya. Udin adalah orang yang mengajaknya bergabung dengan kami. Walaupun kami hanyalah sampah, namun kami berhasil membentuk tim, dan juga berhasil menjalin persahabatan. Seperti itulah permulaannya. Namun sejak saat itu, kami benar-benar menjadi tim yang utuh. Terkadang berbagai hal tidak berjalan dengan baik, terkadang kami saling memarahi satu sama lain, terkadang kami berkelahi satu sama lain, tetapi pada akhirnya, kami masih menganggap semua anggota Party sebagai teman. Tidak peduli keadaan macam apa yang kami hadapi, yang terpenting adalah, kami semua masih berada di sini untuk berjuang melanjutkan hidup. Bagiku, semuanya teman dan rekan kerja yang sangatlah berharga. Termasuk dirimu………. Lusi.”
Lusi tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia menatap Haruhiro dengan pandangan tajam, lama, dan tanpa gerakan, namun dia masih berkedip sesekali.
"Aku juga." Alice diam-diam mengangkat tangannya.”Aku juga menganggapmu sebagai teman.”
"Setuju," Vina tersenyum lebar. “Lusi memang super imut!”
Marco mendengus. “Aku ... aku ... yah, kau tahu. Aku memang berisik ketika aku terluka. Tapi, aku memang begitu kalau sedang bertarung ... mungkin. Tapi, uhhh ... yeah, kurasa. Bukankah kita teman?”
"Sepertinya besok akan hujan," kata Haruhiro sembari menatap langit tak berawan di atasnya. “Marco, mengakui bahwa dia sendiri tidaklah sempurna. Pasti besok akan terjadi hujan yang sangat lebat.”
“Hei! Aku mengakui semua keburukanku, dan aku akan terus memperbaikinya! Bakat perbaikan diri milikku di atas rata-rata! Kau sudah kenal aku begitu lama, dan kau masih saja tidak menyadarinya?!”
"Kalau kau berkata demikian, ya okelah."
"Oi! Haruhiro! Jangan hanya berhenti di situ! Kau membuatku sedih!"
"Aku pikir, akan lebih baik jika kita menetapkan tujuan lebih lebih cepat, daripada terus menundanya," lanjut Haruhiro. “Walaupun itu hanyalah tujuan jangka pendek
...”
__ADS_1
Dia melirik Lusi. Gadis itu tampak tidak terpengaruh sejauh ini, dan dia masih menatap tajam ke arah Haruhiro. Haruhiro berharap bahwa Lusi tidak berniat untuk menolak tawaran mereka untuk bersahabat. Ini akan menjadi awal yang baik baginya.
"... Semuanya menjadi kacau akhir-akhir ini," kata Haruhiro. “Aku bahkan tidak yakin sanggup membeli kontrak Red MooN walaupun bekerja sangat keras. Kami hanya akan melalui hari demi hari tanpa adanya tujuan yang nyata. Mari kita hentikan itu, dan mari kita temukan arah yang hendak kita tuju.”
"Tujuan kami adalah menjadi MILIADER! Kemudian MENDOMINASI DUNIA!!!"
Haruhiro mengabaikan Marco sepenuhnya, dan mengungkapkan pikirannya pada semuanya…. semuanya, kecuali Marco yang sangat menjengkelkan, dan Lusi yang terdiam seribu bahasa pun akhirnya menyetujuinya.
"Aku tidak peduli tentang apa pun selain uang dan kekuasaan," Marco menyatakannya. “Aku kira, aku juga pengen jadi populer di mata para gadis. Tapi jika pengen punya banyak gadis, kau juga membutuhkan uang dan kekuasaan ...” Dia berhenti sejenak. “Sepertinya, idemu untuk menentukan tujuan jangka pendek adalah awal yang baik untuk mencapai dominasi dunia ... sepertinya ...” katanya dengan enggan.
Vina menghela napas berat. “Bicara pada Marco akan membutuhkan waktu yang lebih lama daripada mengantre di bank, dan lebih membosankan daripada mendengarkan pelajaran matematika.”
Mereka mulai lagi deh, pikir Haruhiro, dan dia berbalik pada Lusi. “Lusi, lantas apa yang kamu pikirkan?”
Lusi menghindari tatapannya, tampaknya dia memberikan anggukan yang begitu pelan dan samar. Haruhiro menganggap itu sebagai tanda persetujuan dari gadis tersebut.
"Apakah kau ingin makan malam bersama kami malam ini?" Tanyanya.
"Tidak, terima kasih." Kemudian dia menambahkan dengan suara yang begitu tenang, “... tidak untuk saat ini.”
"Baiklah."
Apa sih yang kau harapkan? Haruhiro mengatakan pada dirinya sendiri. Semuanya tidak akan membaik jika kau hanya bertindak seperti itu. Tapi, tentu saja Haruhiro tidak sabar. Tak seorang pun tahu kapan mereka akan berpisah. Haruhiro dan yang lainnya sudah membakar salah satu temannya yang paling berharga sampai menjadi abu, namun itu adalah salah satu langkah untuk terus maju menyongsong masa depan. Dan tak ada seorang pun yang tahu bahwa ajal mereka semakin mendekat.
Namun, apapun itu, perubahan akan terjadi walaupun hanya satu langkah kedepan. Bagi Haruhiro dan teman-teman lainnya yang sama sekali tidak punya kelebihan apapun, satu langkah kecil adalah satu-satunya cara mereka meraih masa depan.
Dan jika dia tidak salah dengar, sebelum Lusi berbalik untuk pergi, dia sempat berbisik, "Sampai jumpa besok."
Memang. Walaupun kita berhenti untuk sementara waktu, hari esok pun akan datang.
__ADS_1