KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Episode 13 - Koin Perak adalah Emas


__ADS_3

"AKU TIDAK TAHAN LAGI!"


Marco membanting gelas gerabahnya ke meja.


"Marco ..." Barto bergumam.”Kau bisa memecahkannya."


"Diam! Aku tidak membantingnya dengan keras!” Teriak Marco. ”Bagaimana denganmu, hah?! Tidakkah dia membuatmu jengkel?!”


Barto menggumamkan sesuatu dengan nada datar.


"Akui saja! Gadis itu membuatmu jengkel!” Marco masih menyentak dengan suara keras. ”Apa-apaan dengan sikap seperti itu?! Sudah dua hari semenjak dia bergabung, tapi dia bahkan tidak mencoba untuk bergaul dengan kita! Haruhiro!”


"Apa?" Jawab Haruhiro.


"Kau juga berpikir sama denganku, kan! Jangan berbohong! Hei! Aku berbicara padamu! Katakan padaku apa yang kau pikirkan sejujurnya!”


"Aku sudah bilang beberapa kali." Haruhiro minum bir di gelasnya.”Aku berusaha menerima ini semua tanpa mengeluh. Tapi aku tidak tidak setuju denganmu.”


"Berhenti menggunakan kalimat yang bertele-tele! Kamu membela gadis itu hanya karena dia sedikit berparas cantik!”


"Tidak ada hubungannya dengan itu."


"Kau terlalu lembut padanya! Kau lembut pada semua gadis! Terlalu lembut!”


"Aku tidak melakukannya dengan sengaja. Tapi akui saja bahwa kau juga tidak sanggup menentang dia. Kau berani mencercanya ketika dia tidak ada di sini, tapi kau tak mengatakan sepatah katapun di depan wajahnya.”


"Bagaimana bisa aku melakukannya!" Marco menjatuhkan diri ke depan, dan menundukkan wajahnya pada meja. ”Dia begitu menakutkan! Mata itu, suara itu, SIALAN, itu sungguh menakutkan! Itu membuatku ingin menangis! ... Apakah tidak masalah jika aku menangis?”


Barto menepuk bahunya dengan lembut.”Jangan menangis, Marco ..."


"Hentikan!" Marco menampar tangan Barto agar pergi.”Jangan coba menghibur seorang pria! Seorang pria tidak ingin dihibur! Ini terlalu menyedihkan! Aku adalah seorang laki-laki sejati! Aku adalah seorang pria jantan! Aku ... adalah ...”


Haruhiro mendesah.”Biarkan saja dia, Barto. Dia memang seperti itu. Kau tak perlu repot-repot menenagkannya, karena memang seperti itulah Marco."


Sejak Lusi bergabung dengan Party, Marco, Barto, dan Haruhiro membuat suatu rutinitas baru, yaitu mengunjungi Kedai Sherry setelah mereka kembali dari Kota Tua Damroww. Bukannya mereka kecanduan minum atau apa, tapi tanpa “pelampiasan” di pengunjung hari, mereka tidak akan tidur dengan nyenyak, dan keesokan harinya mereka tidak akan berburu dengan semangat.


Anggota Red MooN mendapatkan diskon bir seharga 3 perunggu setiap gelasnya, tetapi jika masih menjadi anggota pelatihan, diskon tidak diberikan dan mereka harus membayar dengan harga penuh, yaitu 4 perunggu. Meskipun Haruhiro hanya minum satu gelas per hari (paling banyak 2 gelas), dia pun menyadari bahwa kebiasaan barunya cukup menguras uang.


Penghasilan mereka hanya setengah (sebenarnya hanya sepertiga) dari apa yang biasa mereka dapatkan ketika Udin masih hidup. Sekarang, mereka jarang membawa pulang 1 perak untuk setiap anggota Party. Haruhiro tahu bahwa ia harus menabung uangnya. Dia tahu betul akan hal itu, tapi ...


Jika dihitung-hitung jumlah seluruh tabungan yang tersimpan pada Bank Yoru, semua harta Haruhiro lebih dari 17 perak. Biaya penandatanganan kontrak dengan Red MooN adalah 20 perak, sehingga dia butuh sedikit uang lagi untuk menjadi anggota penuh. Tentu saja, walaupun hartanya sudah genap berjumlah 20 perak, dia tidak bisa


menggunakan semuanya karena dia masih harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tanpa memiliki setidaknya 30 perak di tabungan, menghabiskan 20 perak untuk biaya pendaftaran bukanlah hal yang bijaksana. Andaikan Komandan Bro memperbolehkan mereka membayar secara angsuran, itu pasti akan menyenangkan.


"Red MooN. Pasukan cadangan ...” Haruhiro bergumam sembari melihat sekeliling kedai.


Semua orang di ruangan itu dilengkapi dengan Equipment yang lebih baik daripada mereka. Haruhiro yakin bahwa sebagian besar dari mereka mengenakan armor, bahkan ketika minum bir di kedai, karena mereka tak ingin armor-nya dicuri orang lain di saat sedang mabuk. Beberapa orang juga terlihat memiliki tali pedang yang sepertinya sangat mahal. Belum lagi pakaian mewah yang dibalut armor itu. Perbedaan antara mereka dan kelompok Haruhiro sangatlah jelas.


"Aku tahu." Marco membungkuk ke depan dengan canggung, sampai dagunya menempel pada meja.”Tidak perlu memberitahuku, Haruhiro. Kau sedang pusing masalah kontrak, kan? Kau sedang berpikir ‘tujuan kami bukan lagi menjadi anggota penuh Red MooN, tak peduli menjadi anggota penuh ataukan tidak, aku tidak mempermasalahkannya lagi … Iya, kan?.”


"Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan," kata Haruhiro, "aku pun tak tahu apa yang harus aku katakana padamu.”


"Tak sopan. Mau berantem, ya?”


"Aku minta maaf."


"Jangan hanya meminta maaf seperti itu. Orang lain tak akan mempedulikan argumenmu jika kau bersikap seperti itu. Cobalah untuk sedikit lebih memaksa, dasar bodoh.”

__ADS_1


"Dasar orang menyebalkan."


"T-tapi ..." Barto menghela napas dalam-dalam.”Aku mendapatkan perasaan bahwa kita telah kehilangan arah tujuan. Sebelumnya, kita tidak seperti ini.”


"Mungkin saja," kata Marco. Dia memiringkan kepalanya ke samping sampai salah satu sisi pipinya menyentuh permukaan meja. ”Semunya telah melenceng begitu jauh hanya karena Udin mati.”


Tiba-tiba emosi Haruhiro memuncak. Karena tak nyaman dengan perkataan Marco, dia pun membentaknya,


"Berhenti mengatakan 'hanya karena', seolah-olah ini bukanlah masalah besar. Ini adalah masalah yang besar, kau tahu."


“Ya.” Marco mengangguk ke samping. ”Itu salahku.”


“Kau tidak perlu meminta maaf begitu, Marco”


" Dasar orang menyebalkan."


Haruhiro ingin sekali menjotosnya, namun dia akhirnya sadar bahwa memukul orang seperti Marco hanya akan membuang-buang tenaga saja. Orang seperti dia tidak layak dipukul.


"Tujuan, hah." Haruhiro melihat sekeliling kedai sekali lagi. Matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang, dan dadanya tiba-tiba terasa sesak. “Hector ...”


Sementara Haruhiro dan lainnya duduk di meja terletak pada sudut lantai satu yang remang-remang, Tim Hector duduk pada meja bagus terletak di dekat meja counter yang terang-benderang. Meja yang ditempati Haruhiro dan yang lainnya memang tidak bagus, namun masalahnya adalah, mereka tidak mampu menempati meja yang posisinya lebih mencolok. Inilah bukti nyata kesenjangan kualitas, ranking, kepentingan, dan tingkatan sosial...


"Whoa." Marco akhirnya juga melihat Party Hector. “Dasar si Hector tukang pamer sialan.”


Barto pun menjulurkan lehernya dan melihat ke arah Hector.”Wow."


Namun, Marco dan Barto tidak mengakuinya. Seolah-olah si rambut perak itu tidak menarik perhatian, padahal Hector mengenakan mantel kulit mewah yang membalut armor-nya. Pedang raksasa milik Hector yang bersandar pada meja juga mengesankan, dan itu membuat Haruhiro bertanya-tanya bagaimana bisa Hector memperoleh benda se-mewah itu. Apakah ia membelinya? Ia harus membayar cukup banyak koin untuk mendapatkan benda seperti itu. Dan jika dia tidak membelinya, Haruhiro bertanya-tanya darimana dia menemukan benda seperti itu.


Bukan hanya Hector yang memiliki Equipment mewah. Si pria berambut cepak yang duduk di sampingnya (namanya kalau tidak salah adalah Ron) mengenakan armor yang megah. Pria berkacamata bernama Putra mengenakan jubah hitam panjang yang begitu mencolok. Si gadis bernama Sasa berpakaian dengan style yang mengingatkan Haruhiro pada Master Barbara, sehingga dia mengira bahwa Sasa juga berprofesi sebagai Thief. Sasa, yang sejak awal memang sudah berparas cantik, kini bertambah seksi.


Orang yang duduk di kaki Hector adalah Chibi. Dia mengenakan jubah, dan tidak salah lagi bahwa dia adalah


"Mereka juga pemula .... kan?” Marco tampak tercengang. ”Mereka tiba pada saat yang sama seperti kita, dan bergabung dengan Red MooN pada saat yang sama pula. Lantas kenapa ada perbedaan yang sangat besar di antara kita?”


Tampaknya, tidak peduli apakah seseorang adalah anggota penuh Red MooN atau anggota pelatihan, semuanya


yang baru saja bergabung dengan Red MooN dianggap sebagai "pemula." Tapi dengan kondisi seperti ini, tak seorang pun memandang Tim Hector sebagai pemula. Jikalau ada orang yang menganggap mereka sebagai professional, maka dia akan terkejut setengah mati.


Hampir mustahil bagi mereka untuk menyamai Tim Hector, dan Haruhiro pun mengakui hal tersebut. Kesenjangan di antara mereka hanya akan semakin membesar dan menjauh. Party Haruhiro akan tetap berada di tingkatan paling dasar. Mereka adalah Party kecil bagaikan lalat yang tak berguna. Sementara itu, posisi Party Hector akan


semakin naik menjulang ke langit. Tak lama lagi, semua orang akan mengakui Tim Hector sebagai Party yang terbaik, dan jika mereka kebetulan bertemu dengan tim Haruhiro di suatu tempat, Hector tidak akan mengenali mereka. Haruhiro dan yang lainnya akan dilupakan karena semua perhatian tertuju pada Tim Hector.


Andaikan saja Udin tidak mati, apakah akan berbeda hasilnya? "Kita sudah benar-benar menjadi tim yang baik," Udin pernah mengatakan hal itu. Udin sering datang ke Kedai Sherry, jadi dia pasti tahu seberapa baik pencapaian yang telah diperoleh Tim Hector. Pernahkan Udin merasa inferior? Kecewa? Frustrasi? Mungkin Udin pernah berpikir ‘Hector melaju lebih jauh dan semakin jauh. Apa sih yang selama ini aku lakukan? Kalau saja aku punya rekan yang lebih baik ... ‘ bagaimanapun juga, Udin hanyalah manusia biasa, sehingga dia pasti pernah memiliki kedengkian seperti itu. Walaupun itu hanya sekelumit dari hati kecilnya.


Mengapa tidak Hector mengundang Udin untuk bergabung dengannya sejak awal? Udin memiliki kemampuan


kontribusi lebih baik. Kalau saja Udin bergabung bersama Tim Hector, mereka pasti akan semakin tangguh. Kalau saja Udin bergabung bersama Tim Hector, maka pasti ........ pasti……. pastilah dia masih hidup sekarang.


“Hei! Hey!” Marco itu mengangkat lengannya.


Haruhiro bahkan tidak menyadari bahwa pandangannya terpusat pada lantai. Ketika ia mengangkat kepalanya, seorang pria berambut perak melirik ke arahnya. Dia hampir mendengking dengan kaget.


"Aku mendengar bahwa Udin sudah tiada." Suara serak Hector bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan.


"M…." Haruhiro mulai berbicara, tapi kemudian berhenti. Dia sendiri tidak yakin apa yang ingin dia katakan. Apa? Apa? Apa? Apa? Akhirnya, dia berhasil mengucapkan "Memangnya kenapa?"


Dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, Hector mengulurkan tangan yang terkepal dan, membentangkan jari-jarinya, kemudian menjatuhkan sesuatu. Haruhiro menangkap benda itu tanpa berpikir panjang. Ketika ia melihat, ia menyadari bahwa itu adalah koin.

__ADS_1


Barto menghirup udara dengan keras, sampai-sampai dia hendak jatuh ke balakang. Mata Marco terbelalak, seakan-akan bola matanya mau lepas. Tampaknya, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia kehilangan kata-kata. Tangan kanan Haruhiro yang menerima sekeping koin, mulai gemetaran.


Tentu saja, itu bukanlah benda palsu. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka melihat kepingan yang sepertinya tak akan mungkin mereka dapatkan.


"Sekeping emas?"


"Ini adalah tanda belasungkawa dariku. Ambillah." kata Hector dengan tak acuh, kemudian dia berbalik begitu saja untuk pergi.


"J-J-Jangannn m-m-main…. m-main ..." Haruhiro berdiri tiba-tiba, dan ia merasakan emosi yang memuncak pada kepalanya.


Haruhiro ingin mengejar Hector, dan menghantamnya sekeras tenaga. Tapi dia tidak melakukannya. Tidak mungkin


dia bisa melakukan itu pada monster seperti Hector. Pada akhirnya, ketika ia berhasil mengejarnya, Haruhiro mengatakan, "H -Hector! Tunggu! Tunggu sebentar!"


Hector akhirnya berhenti, dan berbalik menganggap Haruhiro dengan ekspresi yang tidak bersahabat.”Apa?"


"Ini ... Ini ..." Haruhiro menelan ludahnya. Hector sangat menakutkan. Seseorang yang tidak merasa terintimidasi di depan Hector bukanlah orang normal. ”Hanya saja ... Aku rasa, aku tidak sanggup menerima ini ... ini terasa ... tidak benar.”


"Aku paham." Hector mengulurkan tangan dan membuka kepalan tangannya.


Itu saja? Haruhiro berpikir bahwa Hector akan mengatakan hal lainnya. Tapi dia tidak mengatakan sepatah katapun. Mungkin lebih baik seperti itu. Haruhiro menarik napas panjang dengan lega. Dia menempatkan koin emas kembali pada tangan Hector.


Beberapa saat kemudian, dia pun menyesalinya. Walaupun itu hanyalah rasa menyesal yang kecil, namun dia


sungguh menyayangkannya. Bagaimanapun juga, bena yang dikembalikannya adalah sekeping emas. Itu setara dengan seratus perak.


Hector pergi setelah itu, dan dia menutup mulutnya rapat-rapat setelah mengambil kembali koin yang hendak diberikan. Ketika Haruhiro kembali ke meja, Marco segera menyerangnya.


"HARUHIRO, SEBERAPA IDIOT SIH DIRIMU INI?!" Marco menghujatnya. ”Kenapa kau mengembalikannya?


Akan lebih baik jika kita menyimpannya! Kita bisa merahasiakannya dan membagi rata 33 keping perak per orang. Kau dan Barto dapat 33 perak dan aku dapat 34 perak! KAMU **** ATAU APA?!"


"Kenapa kau bisa begitu santai ketika merahasiakan uang dari orang lain?" Haruhiro balik mencercanya.


"Karena memang seperti inilah aku! Itu sungguh mubazir! Kita bisa menandatangani kontrak dengan Red MooN, dan masih banyak uang tersisa!”


"Tapi itu ..." alis Barto merapat, dan mulutnya tampak cemberut. ”Aku tidak berpikir bahwa itu adalah tindakan yang baik. Jika kita membeli kontrak dengan menggunakan uang Hector, aku tidak berpikir bahwa itu akan membuat Udin bangga pada kita.”


"KOK KAMU BISA TAHU!" Marco menyemburnya.”Dia tidak lagi ada di dunia ini! Sekarang kita harus mengurusi kehidupan kita sendiri! SIALAN. Itu tadi benar-benar EMAS. Dan Hector menyerahkannya begitu saja seolah-olah benda itu tak berharga baginya. Seberapa kaya sih dia? Aku hanya memiliki tiga perak tersisa!”


"Apa? Hanya tiga?” Haruhiro menatap tajam pada Marco yang berambut berantakan. ”Tidak mungkin ... Mengapa uangmu begitu sedikit? Uangmu sudah kau gunakan untuk apa?”


"Diam! Aku sudah menggunakannya untuk ini dan itu… ini dan itu! Aku boleh menggunakan uangku pada apapun yang aku inginkan!”


"Kau tidak akan bisa menabung untuk membeli kontrakmu dengan Red MooN."


"Kau tidak memiliki hak untuk mengatakan omong kosong padaku! Kau telah menghancurkan kesempatan terbaik untuk membeli kontrak!”


"Tidak ..." Haruhiro menempatkan kedua sikunya di atas meja, dan menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.”Kita tidak bisa terus seperti ini. Ini tidak ada hubungannya dengan Udin. Ini adalah masalah kita sendiri. Perkataan Marco ada benarnya. Udin sudah tidak ada lagi di dunia ini.”


Marco mengejek.”Aku sudah memikirkan itu sejak lama."


"Kau hanya memikirkannya tanpa melakukan suatu hal pun," kata Barto dengan sedikit memaksa. Jarang-jarang Barto berkata seperti itu. ”Kau tidak bisa melakukan apapun jika hanya berpikir. Kau harus mengambil tindakan nyata untuk mewujudkannya.”


"Kita berantakan." Haruhiro menggigit bibir bawahnya. ”Dan bukan hanya persoalan Lusi. Vina dan Alice juga sudah berhenti berbicara kepada kita. Semuanya tidak lagi seperti kemarin.”


Marco menempatkan pipi di tangannya, dan memandang ke samping. "Mencoba untuk memperbaiki hubungan

__ADS_1


kita dengan mereka? Itu tidak akan berguna. Semuanya sudah terlambat sekarang.”


Haruhiro tidak tahu apakah rencananya akan gagal ataukah berhasil. Namun dia tahu suatu hal bahwa dia harus mencobanya.


__ADS_2