KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 17 - Dusta dan Kemarin, Hari Ini dan Esok


__ADS_3

“Heeeeey! Harucchi! Aku mendengarnya! Kau membunuh Deathspot! Kau sungguh MENAKJUBKAN! Aku sangaaaaaaat IRI! Aku supeeeeer IRI!”


Mereka sedang minum di Kedai Sherry lalu Gori menghampiri meja mereka, dia berisik dan menyombongkan diri seperti biasa. Itu semua karena kesalahan Marco yang telah menyombongkan dirinya. Beritanya tersebar dengan cepat, dan sekarang semuanya tahu bahwa Haruhiro dan kelompoknya adalah pihak yang telah membunuh Deathspot.


Walau itu tak masalah bagi Haruhiro. Dia tahu membunuh Deathspot hanyalah seratus persen keberuntungan, tapi kematian adalah kematian, dan hal ini sungguh lebih baik daripada di ejek dengan panggilan “Para Pembasmi Goblin” terus-terusan.


“Vina sangat bahagia.” Vina menempelkan wajahnya ke meja dengan sebuah desahan. “Vina sungguh pikir kita udah tamat...”


“Y-ya... aku juga,” Barto menyetujui, terlihat ngantuk. “Kemarin sungguh nyaris.”


Alice menatap dingin ke arah Haruhiro. “Dan seseorang hampir saja terbunuh...”


“Uh... itu... yah, kau tahu...” Haruhiro mengelus belakang lehernya dan mengeluarkan sedikit batuk. “Ya. Aku menyesali keputusanku. Aku minta maaf.”


“Oh...” Tatapan Alice jatuh ke lantai, dia tersipu malu. “A-aku hanya bercanda. Bukannya aku bermaksud itu adalah kesalahanmu atau semacamnya. Sungguh...”


“Mmm...” ucap Vina dengan ekspresi yang sedang berpikir keras. “Jika Haru tidak tinggal untuk mengalihkan perhatian Deathpots, mungkin kita semua akan terseka habis.”


“Vina, seharusnya kalimatnya ‘tersapu habis’,” Haruhiro, seperti biasa, membenarkan.


“Ho... begitukah?” tanya Vina.


“Dan itu bukanlah Deathpots, tapi Deathspot...”


“Itu semua terdengar sama bagiku,” Vina mengerutkan kening.


“T-tapi!” Barto menunjukkan pedang penjagal daging yang ia peluk dengan tangannya. “Semuanya jadi baik-baik saja pada akhirnya, seperti yang mereka katakan...”


“Kau benar, Barto,” Vina menyetujui. “Dan kau mendapatkan pedang barumu!”

__ADS_1


 Alice mengangguk. “Pedang raksasa lamamu juga sudah benar-benar rusak.”


“Ya, kau benar,” ucap Barto, menatap dengan senang. “Kalian pikir aku harus menamakannya apa? Aku telah mencoba memikirkan sesuatu, tapi tak kepikiran apa-apa...”


Usulan Vina adalah “Pedang Pembelah Daging #1” yang mana Alice dengan malu-malu, tapi segera, menyanggah. Tentu Barto ingin menamainya dengan nama yang keren dan menginspirasi. Lagian apa definisi “keren” di pandangannya? Sesuatu seperti, “Algojo Api Abadi” adalah apa yang muncul di pikiran Haruhiro, tapi dia menolak untuk mengusulkan nama tersebut. Itu terlihat buruk bahkan jika dia mendengarnya sendiri. Jadi... sebuah nama... nama...


Marco sedang bersama Gori, menceritakan kembali “Legenda Pejuang Heroik Pembasmi Deathspot” kepada  anggota Red MooN lainnya yang sedang berkumpul. Cara Gori menceritakannya, seperti dia berada di sana pada waktu itu, dan Haruhiro tidak yakin apakah hal itu menyenangkan atau menyebalkan.


Lusi tadi sudah bilang bahwa dia ingin berbicara dengan Haya, jadi dia pergi ke lantai kedua dengannya. Haruhiro berharap setelah ini, Lusi bisa menemukan sedikit ketenangan dalam dirinya.


Haruhiro menenggak lagi birnya dan mengerutkan keningnya karena rasa asamnya. Dia sangat senang tidak ada yang mati karena kejadian kemarin. Tapi meskipun dia lega semuanya bisa keluar dengan selamat, dia tak bisa benar-benar senang dengan hal itu, jauh di lubuk hatinya. Apakah dia sudah bertindak dengan benar? Apakah ada jalan lain yang lebih baik, bisakah kita menghasilkan keputusan yang lebih baik?


Untuk saat ini, dia percaya, bahwa dia telah memilih keputusan yang terbaik. Jika mereka berada di situasi yang sama sekali lagi, Haruhiro merasa mungkin dia akan membuat keputusan yang sama. Tapi apakah itu sungguh hal terbaik yang harus dilakukan? Mungkin ada sesuatu yang bisa ia lakukan sebelum mereka akhirnya terpojokkan dengan tak ada jalan keluar. Sesuatu seperti mencegah terjadinya situasi seperti itu terjadi kepada kelompok?


Mengkritik diri sendiri yang mengelabui pikirannya telah membayangi kebahagiaan yang ia rasakan dari semuanya yang selamat. Tapi itu bukanlah masalah untuk orang manapun. Mengapa? Mengapa hanya dia yang tak merasa bahagia?


Karena dia adalah pemimpinnya.


Tiba-tiba Haruhiro merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Lusi.


Lusi sangat dekat, itu hampir membuat Haruhiro melompat terkejut.


“Ah...” Haruhiro terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kau sudah selesai berbincang dengan Haya?”


“Ya. Baru saja,” jawab Lusi. “Apa ada yang salah?”


“U-uhh... Mengapa kau bertanya seperti itu?” ucap Haruhiro.

__ADS_1


“Kau sedikit terlihat pucat,” jelas Lusi.


“Sungguh? Em, t-tidak, aku tak apa. Bukan apa-apa, sungguh,” Haruhiro meyakinkannya.


Lusi sedikit tersenyum. “Kau pembohong yang buruk, Haru.”


“Kurasa...” ucap Haruhiro, menggeser kursinya ke samping memberikan ruang untuk Lusi.


Vina, Alice, dan Barto masih berdebat panas membicarakan nama untuk pedang. Sejujurnya, Haruhiro sangat ingin membuka rahasianya kepada Lusi tentang keraguannya. Dan baru beberapa hari yang lalu, dia sudah melakukannya. Tapi tidak sekarang. Tidak lagi. Dia lebih berhati-hati sekarang daripada kemarin.


“Sungguh, aku tak apa,” ucap Haruhiro, kali ini dengan sebuah senyuman. “Itu adalah sebuah kebohongan, namun sekaligus sebuah kebenaran.”


Lusi menepuk pelan di pundaknya sekali lagi. Dia melepas pegangannya sedikit cepat, tapi untuk Haruhiro itu sudah cukup berharga. Mungkin itu hanya sebuah hadiah simpel, menyedihkan, tapi dia tak mengkritik dirinya sendiri untuk merasa seperti itu. Tak apa untuk menikmati hal-hal yang yang seharusnya dinikmati, karena tak ada yang tahu kapan waktu bahagia ini akan berakhir. Mungkin cepat, atau lambat, tak ada yang tahu.


“Oy! Haruhiro!”


Marco dan Gori, menggandengkan tangan, berjalan menghampiri Haruhiro. “Kalian semua juga! Ayo ke sini! Kemuri dari Daybreakers ada di sini malam ini dan dia ingin mentraktir para pembasmi Deathspot minum!”


“Kalian tidak akan pernah mendapat KESEMPATAN-SUPER seperti ini lagi, Harucchi!” seru Gori. “SUPE-SUPE-KESEMPATAN!”


“Apa itu ‘supe-supe’?” Haruhiro mengeluh, mengangkat bahunya. Kemudian dia berkedip beberapa kali saat informasi tersebut ia dengar. “Tunggu, maksudmu Daybreaker-nya Souma?”


“Wahh...” mata Vina melebar.


“Itu menakjubkan...” ucap Alice, mencoba membuat dirinya terlihat sekecil mungkin.


Barto berdiri dan duduk lagi beberapa kali, tak bisa memutuskan mana yang benar. “A-a-apa yang harus kita lakukan...”


“Ini adalah kesempatan yang langka,” ucap Lusi, keren dan tenang seperti biasa. “Kita harus menerimanya.”

__ADS_1


Haruhiro segera mengangguk, dirinya juga agak terkejut. Jika dia adalah Haruhiro yang sama dengan kemarin, dia mungkin akan ragu-ragu. Hari ini, dia bukan lagi Haruhiro yang dulu. Hal ini membuatnya penasaran perubahan seperti apa yang terjadi di toko ini besok untuknya. Tidak mati hari ini berarti dia bisa melihat seperti apa dia akan berubah di keesokan harinya. Dan siapa tahu, itu mungkin akan menjadi hal yang menakjubkan.


“Ayo pergi, semuanya.”


__ADS_2