KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 2 - Para Eksekutif yang Tidak Layak


__ADS_3

“...Dan begitulah bagaimana hal itu terjadi!”


Haruhiro masih tidak mengerti apa yang telah terjadi meskipun ia sudah mendengar cerita dari teman-temannya. Marco, Barto, Alice, Vina, dan Lusi duduk di kursi belakang pojok kedai Sherry, tapi di sana tidak hanya ada mereka. Orang-orang yang sedang minum di dekat mereka juga ikut mendengarkan. Haruhiro menjadi sedikit malu karena perhatian tertuju padanya.


Dia membenarkan suaranya dan melanjutkan. “Lagipula, tim Hector sangat menakjubkan. Dan Hector adalah orang yang terlampau menakjubkan. Orc itu, IshhDogran juga terlihat sangat kuat, dan setengah ronde pertarungan, kupikir Hector bakal kalah. Tapi dia tidak kalah. Ya nggak gitu juga sih. Itu seperti dia membuat-buatnya, seperti dia telah menipu orc itu. Walaupun aku benar-benar yakin bahwa tangan kirinya sudah tidak bisa digunakan lagi.”


“Whoa!” Marco mengacak-acak dan menarik rambutnya yang sudah berantakan. “Jadi kau bilang bahwa  kerugiannya itu sebenarnya adalah kartu as-nya? Dan dia masih menyimpannya sampai dia mendapat kerugian yang lebih besar?! Gila! Dasar tukang pamer! Sialan! Aku juga bisa kayak gitu! Seratus persen, aku bisa melakukannya!”


Vina menatap tajam padanya. “Jadi kau gak apa sekarat pas kacau-kacaunya?”


“Aku nggak akan mengacau! Nggak mungkin aku bakalan mengacau! Itu sudah fakta.”


Alice yang akhirnya beli topi baru juga terlihat merendahkannya. “Apa yang membuatmu begitu yakin?”


“Apa? Um... Karena...” Marco terdiam sembari berpikir. Walau pada akhirnya, tidak kelihatan dia bakal  menjawabnya. Dia malah menjawab, “Bodoh! Aku tidak butuh alasan yang tak berguna! Aku cuma ngerti saja! PERCAYA DIRI! Ini semua cuma masalah percaya diri!”


Lusi hanya menghela nafas pelan sembari menarik cangkir keramik ke mulutnya. “Kurasa itu benar.”


“Lihat?! Lusi aja setuju sama aku! Kau semua hanyalah amatiran dan dia seorang veteran jadi dia benar dan kalian salah! Dasar matir!”


“Tapi terlalu percaya diri mungkin juga bisa mengakhiri hidupmu,” dia menambahkan dengan pelan, sembari  menatap Marco dengan penuh makna.


“Eh… “ Marco sepertinya nggak punya balasan untuknya.


Lusi sudah mengatakan kebenarannya. Dia tahu lebih banyak dari yang lain. Tiga dari teman Party-nya yang dulu mati karenanya. Karena keadaan terlihat baik-baik saja di mata mereka, mereka berakhir dengan memaksakan diri mereka, dan terjatuh ke dalam sebuah bencana.


“Ta-tapi tetap saja,” keluh Barto. Seperti biasa, helm kesayangannya berada di atas meja di sisinya. “Tim Hector benar-benar luar biasa. Kita semua tiba di sini pada waktu yang sama, tapi mereka berada jauh di atas kita...”


Saat Haruhiro mengakhiri ceritanya “Hector sang Legenda”, orang lain yang mendengarkan di sekeliling mejanya tertawa sangat-lepas dan menepuk pundak Haruhiro.


“Bekerja keras dan kejarlah mereka, wahai Pembasmi Goblin!” mereka mengejeknya, dan kembali lagi ke urusan mereka masing-masing.


Marco menjulurkan lidahnya keluar dan mendesis kepada mereka, “Sial. Jangan pikir kami ini pecundang!”


“Udah, ga usah marah,” seru Vina, menyandarkan dagu dengan kedua tangannya. “Vina pikir kita baik-baik aja sama kecevatan kita.”


“Maksudmu mungkin kecepatan kita, Vina.” Haruhiro agak membenarkan, mengangguk setuju. “Dan aku setuju. Maksudku, sekarang aku sudah melihat bagaimana Hector waktu beraksi, dia seperti terlahir dari darah yang berbeda. Kita gak bisa menirunya meskipun kita coba, dan jujur saja, aku merasa kita tidak akan mendapat apa-apa jika terus menaruh perhatian kita padanya...”


[Lahir dari darah yang berbeda berarti: dia layaknya seorang yang mempunyai kelebihan khusus yang tidak dimiliki orang normal lainnya.]


“Memaksakan diri kita...” Alice memulai, tapi langsung terdiam lagi.


Pandangannya jatuh ke lantai, sepertinya dia benar-benar mencoba untuk menahan apa yang ingin ia ungkapkan. Mungkin dia mengingat kembali teman berharganya, yang sudah tiada.


“Dan jika kita berakhir dengan keadaan dimana kita tidak bisa lari kemanapun, mungkin kita akan kehilangan semuanya,” seru Haruhiro.


“Kalian semua tidak berambisi!” Marco menunjuk Vina, Haruhiro, dan juga Alice. “Apa kalian tahu seberapa menyedihkannya kalian?! Tidak ada pengorbanan, tidak ada hasil! Tidak berani, ya tidak sukses! Tidak ambil risiko, ya tidak akan mendapat apapun! Kalau kalian ingin hasil yang besar, maka kalian harus berani dan ambil risiko!”


Haruhiro merasa kepalanya mendidih. “Kurasa akan lebih baik jika kita meminimalisir risiko dan memaksimalkan hasil sebisa kita. Faktanya, itulah apa yang kita lakukan sampai sekarang.”


“Sampai sekarang, huh.” Marco mencemooh penuh kesal. “Akan kukatakan sekarang dan saat ini juga, itulah mengapa kita ini terus tertinggal! Kau tidak memahaminya? Teman-teman, lihat di sekitarmu!”


“Memangnya ada apa di sekitar kita?” ucap Haruhiro skeptis, namun dia tetap saja melihat ke sekelilingnya.


Saat dia melihatnya, dia menyadari apa maksud Marco. Dari semua anggota Red MooN yang berkumpul di kedai Sherry, penampilan merekalah yang paling menyedihkan. Tapi Haruhiro merasa mereka tak bisa berbuat apapun tentang penampilan mereka. Kebanyakan armor dan senjata mereka barang bekas, dan karena mereka tinggal di gubuk bersama-sama tanpa kunci, mereka selalu membawa barang-barang berharga tanpa berani meninggalkannya di rumah.


Tidak peduli ke mana pun mereka pergi, entah saat berada di Damroww ataupun di kedai Sherry; mereka mengenakan pakaian yang sama. Benar saja, itu membuat penampilan mereka terlihat kumuh dan kotor.


“Apa kalian memikirkannya sebelumnya?” Marco berdalih dengan sabar, dan mengetuk meja dengan telunjuknya. “Jadi peduli apa jika Hector berada di level yang sangat berbeda? Dia memulai semuanya pada saat yang bersamaan dengan kita! Jangan bicara omong kosong seperti ‘tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu semua’. Sekarang kita berada di lingkungan yang berbeda!”


Barto menundukkan kepalanya, dan menatap Hector. “Apa yang kau maksud?”


Hector melanjutkan. “Dari apa yang kudengar, sebuah rombongan baru telah tiba. Kita bukanlah tamu yang baru lagi. Sebelum grup kita, ada tiga rombongan. Sebenarnya, mereka bahkan belum membeli kontrak dengan Red MooN, tapi mereka bisa dibilang kasus yang tidak lazim. Sekarang, grup kita ada dua belas orang, tapi grup kali ini lebih besar. Mereka masih berlatih dengan guild mereka sekarang, tapi itu akan segera berakhir. Mereka akan membentuk Party dan mungkin akan mulai berburu di Damroww.”


“Emang ‘napa?” cetus Vina dengan cemberut. “Kalau mereka datang ya biarin ajalah. Kalau kita maruk dan ingin terus menjaga kawasan itu buat kita sendiri, apa yang bakal kita lakuin kalo kena masalah? Dan Vina berpikir kalau ada lebih banyak Party, kita bisa kerja sama dan mengalahkan grup Gobbie yang lebih besar.”


Haruhiro mengakui pendapat Vina, tapi Haruhiro merasa dirinya tidak bisa menyambut baik pendatang baru seperti yang Vina pikirkan. Tanpa Lusi, Party Haruhiro adalah yang terburuk di antara semua anggota Red MooN. Mereka tidak menyangkal bahwa mereka yang terlemah dan paling tidak efektif.


Tapi seperti yang baru saja Marco bilang. Haruhiro sadar bahwa mereka saat ini telah tertinggal, dan saat pemula yang terbaru datang, mungkin tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan tentangnya. Tapi keadaan mereka akan berubah secepatnya. Mereka bukan lagi pendatang baru.


Jika mereka terlalu meremehkannya, mereka mungkin akan terkejar oleh rombongan baru. Bukankah itu terlalu... terlalu menyedihkan?


“Kurasa bukanlah hal baik untuk terlalu terburu-buru,” ucap Lusi, layaknya ia telah menerawang ke dalam pikiran Haruhiro.


Mungkin dia benar. Meskipun mereka ingin terus maju, mereka hanya bisa melakukan beberapa hal. Mungkin beberapa orang bisa melewati anak-anak tangga atau terbang ke angkasa, tapi tidak dengan Haruhiro. Kalau gagal berarti mereka harus mengulangi semuanya dari nol, maka itu tidak masalah. Tapi faktanya, kegagalan berarti mereka akan benar-benar mati. Akan lebih baik untuk berjalan sedikit demi sedikit, dan meningkatkan kemampuan mereka secara konsisten.


Tapi... sebuah suara kecil dalam hati Haruhiro membisikinya. Apa kau yakin kau benar-benar berkembang? Apa kau yakin kau masih bisa menaiki tangga? Atau kau hanya terus berputar-putar di tempat?


“Bagaimana jika,” Haruhiro mengambil risiko, dia sengaja tetap menundukkan kepalanya menatap ke meja, sepertinya dia tidak cukup berani memandang mata teman-temannya, “Dan ini sungguh masih andai-andai... aku tidak berharap kalian mau menyetujui pendapatku ini….. tapi bagaimana jika kita mencoba tempat selain Damroww? Kita tidak bisa terus berburu goblin, kan? Kurasa bukanlah hal yang buruk jika kita pergi ke tempat lain, mungkin. Tentunya kita tidak harus pindah, tapi sepertinya kita akan mengakar jika terus-terusan berada di Damroww. Berburu pada tempat yang sama mungkin akan membuat kita bosan, dan setelah bosan mungkin kita bakal lengah atau seperti itu. Kurasa mungkin kita membutuhkan sesuatu yang baru dan menantang. Tapi kupikir, ini cuma sebuah usulan...”


“Haruhiroooo,” seru Marco, dengan membisingkan setiap telinga, “Kadang-kadang kau bisa mengucapkan ide yang bagus yah. Cuma kadang-kadang lho! Dan tentunya aku benar-benar setuju akan hal itu!”


“Kalau begitu,” Vina menjawab tanpa melewatkan sedetik pun, “Vina tolak.”


“Begitu juga denganku,” ucap Alice.


Sangat jelas bahwa penolakan Vina dan Alice berdasarkan ketidaksukaan mereka pada Marco. Barto tidak langsung menjawab, tapi dia kelihatan seperti sedang berpikir matang-matang. Bagaimana dengan Lusi? Bagaimana menurutnya? Haruhiro tidak bisa mengerti satu hal pun dari ekspresi maupun bahasa tubuhnya.


“Aku sendiri juga tidak yakin,” ucap Haruhiro, sembari mengelus belakang kepalanya. “Itu cuma pengandaian saja. Sesuatu yang tiba-tiba kupikirkan. Tapi kita sudah menjelajahi Kota Tua Damroww dari ujung ke ujung, dan kurasa mungkin ide bagus kalau kita memikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”


“Selanjutnya?” Vina memintal rambut kepang-duanya, menariknya ke kiri dan ke kanan. “Jika hasil hari ini bagus, bukankah itu cukup? Apa yang salah dengan melakukan hal yang sama setiap hari? Kita gak kesusahan pas bertarung akhir-akhir ini, dan kita juga mulai menabung uang cukup banyak. Vina gak masalah sama itu.”


“Itu karena kau tak punya keinginan untuk mengubah hidupmu!” Marco menjulurkan lidahnya keluar ke arah Vina. “Mungkin kau bukan manusia, karena kalau kau manusia, kau harusnya tumbuh. Kau kayak **** di kandang!”


“Bayi **** itu lucu!” celetus Vina. “Tapi pas bayi babi itu jadi **** tua gede, dia gak lucu lagi, jadi Vina pikir lebih baik bayi babi gak tumbuh sama sekali!”

__ADS_1


“Apa?” seru Marco. “Kenapa tiba-tiba kita malah ngomongin bayi ****? Apa hubungannya bayi **** sama kita? Aku gak mengerti apa yang salah denganmu!”


“Itu karena Marco bodoh. Bukan salah Vina,” Vina menjawab ketus.


“Berhenti menyalahkan orang lain terus! Dan aku nggak bodoh, kau yang bodoh!”


“Idiot! Lemot! *****!”


“Sialan!”


“Bisakah kalian berdua hentikan itu?” seru Barto, tapi suaranya terlalu lembut dan tidak berdampak apa-apa.


Haruhiro meneguk es limun dari cawan kayunya. Apakah dia terlalu terburu-buru ingin berkembang? Dia tidak bisa benar-benar menolak perasaannya untuk meningkatkan laju perkembangan mereka, tapi juga tidak terlalu memikirkan untuk mengejar Tim Hector. Sungguh, mereka benar-benar berada di level yang berbeda. Walau demikian, apa tak masalah bertahan dengan keadaan seperti ini?


Dia bisa mengerti bagaimana yang dimaksud Vina, tapi bagaimana jika mereka benar-benar terlampaui oleh rombongan berikutnya? Haruhiro sungguh tak bisa menerimanya. Mungkin dia akan sedikit malu jika itu terjadi. Atau mungkin... benar-benar malu.


Sebenarnya apa tujuan mereka? Dari sudut pandang mana pun, tujuannya hanyalah bertahan hidup, paling tidak untuk saat ini. Untuk hidup dari hari ke hari, dan untuk menjaga standar kebutuhan hidup minimal.


Sekarang mereka mempunyai kontrak keanggotaan Red MooN, jadi mereka bisa tinggal di pondok dengan gratis. Pondoknya kumuh, tapi masih bisa menahan angin dan hujan. Dan karena tempat tinggal hanya berguna untuk tidur, uang yang seharusnya mereka tabung untuk membeli rumah, kini bisa terkumpul sedikit demi sedikit. Makanan murah juga bisa didapat kalau mereka tahu tempatnya, jadi pengeluaran untuk makanan bisa diminimalisir.


Tapi bertahan di pondok kumuh dan menawar makanan untuk hidup adalah ciri-ciri kehidupan melarat. Akan lebih baik jika mereka bisa menyewa sebuah ruangan dengan fasilitas pintu berkunci untuk sebulan, atau mungkin paling tidak seminggu, atau begitulah. Akan lebih banyak keinginan pribadi seterusnya, jadi mereka akan terus membawa banyak barang-barang ke mana pun mereka pergi.


Jika mereka terus berburu di Damroww, mereka mungkin bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik... sehari. Mereka tidak harus mengambil risiko apapun, dan mereka tidak perlu terlalu memaksakan diri. Bagaimana jika mereka akhirnya menjalani tantangan baru dan berakhir dengan sebuah musibah?


Mungkin mereka akan mati. Bukannya tidak mungkin. Terkena musibah berarti mereka akan benar-benar mati, tidak ada hal lain. Seperti Udin. Haruhiro tidak ingin kematian siapa pun terulang lagi. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi, jadi hal itu sekarang memberikan tekanan yang sangat berat.


Yang menjadi pertanyaan jika nyawa mereka taruhannya, lalu apa yang salah dengan hanya melakukan apa yang mereka biasa saat ini? Lagi pula, saat Haruhiro memikirkannya, dia sadar bahwa setelah mereka membeli kontrak keanggotaan Red MooN, mereka kembali ke Damroww bukan untuk mencari uang, mempelajari skill baru, atau sihir, atau membeli senjata dan armor. Tidak lagi. Sebenarnya, tujuan mereka saat ini tidaklah jelas.


Antusiasme semua orang akan lebih besar jika mereka bergerak untuk mengejar satu tujuan yang jelas. Ada suatu rasa kesigapan, sebuah kebutuhan untuk mendorong mereka menjadi lebih baik. Semuanya tahu bahwa tanpa menjadi lebih kuat, mereka takkan pernah berhasil untuk membalaskan dendam Udin.


Tapi hari itu telah berlalu. Sebuah kerja bagus, misinya telah berhasil. Dan Goblin pembunuh Udin pun sudah dikirimkan ke neraka.


Atau begitulah yang Haruhiro rasakan. Apakah dia bisa mengatakannya antara sekarang atau nanti, bukankah semuanya menjadi lalai? Bukankah semuanya menjadi merasa nyaman dan puas akan diri mereka sendiri?


Bukan berarti, meneruskan apa yang mereka biasa lakukan itu buruk. Itu artinya kesederhanaan dan hidup sederhana. Tapi haruhiro tidak bisa apa-apa, itu mungkin akan berdampak buruk juga bagi mereka.


Ketika tak ada satupun yang mengajukan usul, pembicaraan ini berakhir dengan kesimpulan yang tidak jelas.


Alice dengan polos menyarankan, “Um, apa bisa kita cukupkan pembicaraan sampai di sini saja?”


Haruhiro beserta yang lainnya berdiri, mengucapkan salam perpisahan kepada Lusi di pintu keluar, dan berjalan kembali ke pondok mereka. Di tengah jalan, Haruhiro berhenti.


“Kalian duluan saja,” dia menyuruh yang lain. “Aku ingin ke, uh...”


“Kau ingin pergi?” Vina berkedip. “Mau ngapain? Apa ada yang salah?”


“Err... toilet! Ya, ke toilet! Kurasa aku tidak bisa menahannya lagi, jadi...”


Marco mendengus pelan. “Keluarin aja di balik semak atau apalah. Ada banyak di sekitar sini. Kami akan menunggumu.”


“Tidak mungkin aku kencing di tempat umum,” jawab Haruhiro. “Aku akan pergi ke toko atau sesuatu dan menggunakan toiletnya.”


“Tentu, Tuan Sok High Class,” ejek Marco. “Terserah.”


Haruhiro membiarkan Marco yang menyebalkan berbalik darinya bersama teman-teman yang tak menyebalkannya, lantas ia kembali lagi ke kedai Sherry. Dia sepertinya melihat Lusi kembali ke kedai sesaat setelah mereka pulang, dan dia langsung melihat sekeliling setelah memasuki kedai.


Lusi duduk sendirian di bangku bar paling terakhir. Dia mendatanginya dan bermaksud duduk di sampingnya. “Lusi. Boleh aku duduk?”


Lusi terlihat agak terkejut, tapi mengangguk. “Tentu. Bukankah kalian sudah pulang?”


“Aku berpikir sama denganmu,” Haruhiro menjawab dengan sedikit senyum saat dia duduk di bangku di  sampingnya. “Ternyata kau suka minum sesuatu yang beralkohol?”


Agak tersipu malu, Lusi menurunkan tatapannya dan menarik cawan keramiknya lebih dekat. “Aku lagi pengen minum segelas Mead.”


[Mead adalah minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi madu dan air.]


“Mead itu minuman keras dengan madu kan? Kurasa aku juga ingin pesan satu.”


Alasan sebenarnya Haruhiro kembali ke sini adalah untuk bertanya kepada Lusi tentang beberapa hal, tapi dia bingung memulai dari mana. Mungkin ini hal yang agak sulit untuk dibicarakan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, namun jika semuanya telah pergi, ini semakin runyam.


Pelayannya kembali dengan secangkir Mead. Warnanya tidak seperti madu, tapi agak kemerah-merahan. Bahan lainnya pasti sudah tercampur di dalamnya. Haruhiro mengambil satu tegukan dan merasakan manis dengan sedikit rasa asam.


“Itu dibumbui dengan sedikit sirup raspberry,” Lusi memberitahukannya.


“Ah, paham. Sepertinya ini agak berasa buah. Ini enak.”


“Apa ada yang salah?”


“Emm...”


Menyedihkan, Haruhiro memarahi dirinya sendiri. Ketidakmampuannya untuk memulai pembicaraan sungguh buruk. Aku payah. Aku benar-benar payah.


“Lusi, kau sudah bergabung dengan banyak Party, kan? Aku cuma ingin menanyakan...”


Haruhiro pikir dia mungkin melihat sedikit perbedaan dalam ekspresi Lusi, dan dia langsung tahu bahwa dia keliru. Sekarang Lusi adalah seorang anggota Party yang dipercaya, tapi bukan berarti dia bisa melupakan masa lalunya, dan dia tidak mungkin kembali menjadi seriang dulu. Cukup dimengerti, Haruhiro seharusnya tidak membawa kembali ingatan masa lalu Lusi, dan Haruhiro menyesalinya.


Tapi Lusi memberinya sedikit gelengan dan berkata, “Tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu.”


“Sungguh? Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman karena … yah, aku tidak ingin, uh, kau tahu, maksudku, akulah orang yang menanyakannya.“ Haruhiro mengoceh gak jelas dan grogi.


“Apa yang ingin kau tanyakan?”


Mungkin dia mencoba membacanya terlalu sering, tapi ekspresi Lusi terlihat membatu. Lagipula, jika berhenti sekarang, semuanya akan semakin buruk.


“Aku hanya penasaran,” Haruhiro meneruskan perlahan, “Menurutmu bagaimana dengan Party kita. Seberapa baik kita. Tunggu, sebenarnya, bukan ‘kita’. Aku saja.”

__ADS_1


“Seberapa baik kau dalam hal apa, Haru?”


“Emm... agak aneh membicarakan tentang diriku seperti ini, tapi aku, kau tahu, mungkin sebagai ketua?”


“Mungkin sebagai ketua? Bukankah kau memang ketuanya?”


“Um, mungkin? Aku bertindak seperti itu dan melakukan pekerjaan untuk memimpin, tapi...”


Lusi memejamkan matanya, berpikir tentangnya untuk beberapa saat, dan lalu dia pun berkata, “Berdasarkan pengalamanku, pemimpin umumnya bisa dibagi menjadi dua tipe.”


“Tipe?”


“Seorang Diktator dan Eksekutif. Aku baru menamainya, jadi jangan anggap terlalu serius.”


Haruhiro mengangguk. “Si Diktator itu seorang yang kuat, kan? Seseorang yang memimpin mereka dengan paksa? Atau semacamnya?”


“Tepat sekali. Kebanyakan mereka sangat kejam, kepribadiannya buruk, dan mereka mempunyai kemampuan untuk memaksa orang lain tunduk. Orang lain di Party-nya bergerak sesuai kehendaknya, berserta keinginan mereka dan jika mereka tidak patuh, maka mereka akan dihukum atau dikeluarkan dari Party. Anggota yang tidak senang dengan kepemimpinan orang itu tidak akan bertahan lama.”


Hector adalah pemimpin tipe itu, Haruhiro memahaminya. Tidak ada yang berani membangkang perkataannya.


“Dan Si Eksekutif adalah kebalikannya?” tanya Haruhiro. “Lebih toleransi?”


“Itu benar. Mereka karismatik dan pandai berbicara, sangat baik dalam mendengarkan pendapat orang lain. Mereka tidak harus benar-benar kuat atau mahir dalam bertarung, dan faktanya mereka mungkin sangat tidak berguna saat bertarung. Pada pandangan pertama, tampaknya aneh jika jabatan pemimpin diberikan pada orang seperti itu, tapi merekalah orang yang bisa menghilangkan perbedaan dan menyatukan semua anggota tim.”


"Benar. Si Diktator dan Si Eksekutif. Aku mengerti. Dan... aku termasuk yang mana?"


Dia tentu bukanlah tipe si Diktator, Haruhiro sendiri sangat memahami akan hal ini. Dengan kata lain, dia adalah Si Eksekutif? Tapi dia tidak benar-benar menawan, ataupun pandai berbicara. Dia tidak menganggap dirinya karismatik, dan bahkan jika dia memiliki beberapa keinginan, hal itu tidak cukup untuk membuat orang lain mempercayainya.


Tapi meskipun Haruhiro tahu bahwa dia punya banyak kekurangan, dia tahu bahwa dia bisa saja menjadi Si Eksekutif.


Lantas, tipe yang manakah Udin? Tidak peduli apa yang ia pikirkan tentangnya, tentu saja Udin adalah yang terkuat di dalam Party. Akan tetapi, dia tidak merangkul semuanya secara alami. Semuanya hanya mematuhi dan mengikuti perintahnya.


“Apakah ada suatu tipe di antara Diktator dan Eksekutif?” tanya Haruhiro.


“Tentu saja,” jawab Lusi. “Itu baru secara umum. Sebenarnya tidak ada garis yang jelas untuk membedakan keduanya. Ada yang dasarnya memang Diktator, tapi ada juga pemimpin yang memiliki kombinasi dari sifat Diktator dan Eksekutif. Kadang, semua itu bergantung pada situasi juga.”


“Dengan kata lain, semuanya berbeda-beda. Dan kau bisa saja berada di pihak manapun.”


“Ya. Maaf, aku tahu jawabanku tidak begitu membantumu,” Lusi menambahkan.


“Tidak, itu cukup membantu,” Haruhiro meyakinkannya. “Jika aku harus memilih satu, kurasa aku adalah tipe si Eksekutif. Benar?”


“Ya, kurasa juga begitu.”


“Hmm,” Haruhiro mengalihkan pandangannya ke plafon di atasnya. “Kurasa sebagai seorang Eksekutif, mungkin aku harus lebih meyakinkan. Dan mengatakan ‘aku ingin melakukan ini, aku ingin melakukan itu, akan lebih baik jika kita seperti ini,’ atau semacamnya. Di dalam tim, di antara semuanya, bukankah Marco adalah orang yang paling sering mengungkapkan perasaannya? Sisanya, termasuk aku atau kita hanya mengikuti arusnya secara pasif.”


“Kau merasa agak kecewa?”


“Yah, bukannya aku merasa agak kecewa,“ Haruhiro memotong sejenak. “Ah, kau tahu? Aku hanya tidak pernah konsisten.”


Ujung bibir Lusi terlihat agak melengkung, sepertinya dia tersenyum. Tiba-tiba, Haruhiro tersadar akan betapa cantiknya Lusi. Dan di sana hanya ada mereka berdua, mereka sendirian... tidak, jika ia memikirkan hal seperti itu, dia akan mengacaukan dirinya dan semuanya akan berubah jadi canggung.


Apakah tidak masalah berada di sini sekarang? Dia tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun kelihatannya, Lusi tidak nyaman dengan adanya dia di sini.


“...Apa kau merasa bahwa kau dibenci?” Lusi menanyainya.


“Emm, apa aku bilang begitu?”


“Kupikir kau mengatakan sesuatu seperti itu tadi. Atau mungkin cuma perasaanku,” ucap Lusi.


Haruhiro memaksakan dirinya tersenyum. Tanpa sadar. Dia mengigau keras dan Lusi hampir saja mendengarnya. Aku perlu menenangkan diriku, pikirnya. Aku tidak bisa terus mengacau. Dia adalah pemimpin Party ini, jadi dia harus lebih mendalami perannya.


Tapi bukan berarti dia adalah pemimpin karena dia ingin mendapatkannya. Dia memimpin karena dia tak punya pilihan lain.


“Tentang pembicaraan tadi...” Lusi memulai.


Haruhiro lalu tersadar. Lusi sungguh mulai perhatian padanya. Dia membuat Lusi merasa prihatin padanya.


“Be-benar,” Haruhiro memaksakan dirinya berekspresi datar lagi. “Tadi? Apa yang kau maksud?”


“Tentang berburu di suatu tempat selain Damroww.”


 “Oh. Vina dan Alice menolaknya karena itu adalah keinginan Marco, jadi pembicaraannya berhenti sampai di situ. Marco bodoh.”


“Jika kau tidak mengusulkannya dengan terburu-buru, maka kupikir itu adalah pilihan yang bisa di perbincangkan,” ucap Lusi.


Sebenarnya, Haruhiro mengakui bahwa mungkin sebagian dirinya agak terlalu terburu-buru ingin berkembang. Dia ingin jujur kepada Lusi, tapi dia juga tidak ingin terlihat begitu memalukan, khususnya di pandangannya. Tapi mungkin sudah terlambat baginya.


“Aku mengerti. Tapi kalau kita ingin pergi ke tempat lain, lantas ke mana?”


Seakan-akan jawabannya sudah ia siapkan dari tadi.


“Tambang Siren,” jawab Lusi singkat, tanpa keraguan. Ekspresinya benar-benar kosong.


“Tapi itu tempat di mana...” Haruhiro memulai. Tapi dia langsung terdiam. Bukankah Tambang Siren adalah tempat di mana teman-teman Lusi yang sebelumnya meninggal? Di sana dia bertarung dengan Deathspot dan bawahan Kobold-nya, kemudian dia kehilangan tiga orang temannya. Mereka adalah Miki si Warrior, Ogi si Thief, dan Musi si Mage.


Apa yang terjadi dengan mereka? Membawa pulang tubuh mereka adalah hal yang mustahil. Dan karena tubuh mereka tidak dikubur, mereka mungkin saja terkena Kutukan dari si Wright King. Bukankah akan lebih baik


untuk menghidari tempat seperti itu? Atau mungkin secara logika itu adalah tempat yang tepat untuk dituju selanjutnya? Haruhiro kebingungan dari mana harus memulai.


Pada akhirnya dia malah bertanya pada Lusi banyak pertanyaan tentang Kobold sebelum mereka sudahi malam itu, kemudian pulang.


Aku sungguh...buruk dengan hal semacam itu, Haruhiro berbicara pada dirinya sendiri.


Dalam berbagai hal, itu bukanlah suatu keputusan yang harus langsung ditetapkan, jadi dia memutuskan untuk memikirkannya lebih matang saat pikirannya sudah tenang. Itulah rencananya, tapi tidak seperti itu yang terjadi.

__ADS_1


Keesokan harinya mereka kembali ke Kota Tua Damroww.


__ADS_2