KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [2/2]


__ADS_3

"O cahaya, di bawah naungan Dewa Luminous," Lusi mulai mengaktifkan mantranya.


Dia mengacungkan salah satu jari tangannya, membentuk pentagon di dahinya, dan menekan jari tengah di antara alisnya untuk menyelesaikan simbol heksagon, yaitu simbol Dewa Luminous. Kemudian dia menekankan telapak tangannya pada Miki.


"[PURIFY]!"


Meskipun cahayanya begitu terang, namun itu terkesan sedih. Miki mulai roboh dalam pelukan Haruhiro. Itu sungguh luar biasa, tak tersisa apapun dari tubuhnya kecuali abu. Tapi, hal itu juga pernah terjadi pada Udin. Semua orang akan mengalaminya jika dia mati. Memang seperti itulah makna terakhir dari kematian.


Cahaya memudar, kemudian Haruhiro pun terjatuh lemas ke tanah. Dia tidak bisa mengatakan apapun, dia tidak bisa memikirkan apapun, tak satupun hal terlintas di kepalanya. Lusi duduk di depan sisa-sisa jasad Miki. Barto dan Marco masih sanggup berdiri, dan begitupun dengan Vina. Alice melepas topinya dengan satu tangan dengan terengah-engah.


"Selesai sudah," kata Marco dengan kalimat sederhana.


"Ya," Lusi meraup segenggam abu Miki dan memejamkan matanya. "Dengan ini, selesai sudah untuk selamanya. Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan aku berhasil melakukan ini semua berkat kalian. Terima kasih."


"Dia kuat, Miki." Barto mendesah. "Aku harus menjadi kuat juga. "


Alice mengangguk dengan tegas. "Aku ingin lebih banyak memiliki mantra serangan. Aku akan mempelajari mantra serangan ... aku harus. "


Marco mendengus dan menonjolkan dagunya, ekspresinya terkesan bijaksana. "Mungkin aku akan membuat teknik pembunuhan rahasia yang sempurna untuk diriku sendiri."


Lagi-lagi dia akan mengatakan hal-hal bodoh. Tapi biarkan saja.


"Vina menginginkan serigala pendamping," kata Vina. "Seekor anak serigala harganya 1 emas, tapi akan memerlukan waktu lama untuk membesarkannya ... "


"Kalau begitu, apa yang hendak kau lakukan?" Haruhiro mengajukan pertanyaan.


"Mmmm ..." Vina memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Serigala itu akan tinggal bersamaku, jika tidak kami tidak akan memiliki ikatan batin. Aku kira, aku bisa saja membawanya dengan kantongku."


"Apakah serigala itu bisa muat di sana?" Tanya Lusi.


Vina menepuk kantong bajunya. "Hmm, tak tahu ... mungkin ini terlalu kecil. Atau mungkin, aku akan membeli tas untuk anak anjing ... "


Marco, seperti biasa, merusak suasana dengan menyela, "Tas seperti itu cukup besar untuk kau bawa kemana-mana. "


"Vina sendiri yang akan membawanya, lantas napa Marco peduli?" Vina berkata. "Dan Vina tidak akan penah mengijinkan Marco menyentuhnya."


"Mengapa tidak?" Tanya Marco. "Mengelus-elus kepalanya tidak akan melukai serigala itu. Bahkan, itu pasti akan membuatnya semakin kuat! "


"Tidak, tidak akan!" Kata Vina.


"Ya, tentu saja bisa!"


"Tidak. Tidak bisa."


"Bisa saja!"


"Gak mungkin lah!"


"Mungkin saja, dasar bodoh!"


"Kau tahu…." Haruhiro memotong dengan senyum kecut. "Orang-orang bilang: Jangan menghitung ayam peliharaanmu sebelum telurnya menetas." Dia mendesah panjang dan meninggalkan mereka, "tapi… terserah lah."


Menjadi lebih kuat, ya? Lebih kuat. Apa artinya bagi dia? Tentu saja, dia memikirkan beberapa teknik yang ingin didapatkan, tapi dia tidak berpikir bahwa teknik-teknik itu bisa membuatnya lebih kuat secara signifikan. Mempertajam [BACKSTAB] dan [WIDOW MAKER] juga memiliki batas. Apapun itu, meningkatkan kemampuan tempur adalah hal penting demi dirinya sendiri, tetapi jika ia menjadi pemimpin yang lebih baik, itu akan meningkatkan kemampuan tim secara keseluruhan.


Dia memiliki perasaan bahwa terlalu dini baginya untuk mengharapkan pencapaian seperti itu. Tapi itu tidak masalah, bagaimanapun juga, Haruhiro adalah orang yang sangat cocok sebagai peran di balik layar.


"Lusi ..." Haruhiro memulai.


"Ya?" Jawab Lusi.


"Apakah itu tidak masalah? Maksudku, apakah kau tidak ingin mendapatkan suatu kenang-kenangan atau sejenisnya. "


"Ah" katanya, sembari berkedip dengan cepat, seolah-olah dia terlena oleh pertanyaan itu. "Aku tidak memikirkan hal seperti itu. Kamu benar. Aku pikir, aku ingin mendapatkannya. Ketika kembali ke Atalante, aku harus memberitahu Haya tentang berita ini... "


"Ya," Haruhiro mengangguk. "Benar juga. Aku yakin dia akan lega setelah mendengar berita ini. "


"Aku juga berharap begitu…"


Lusi mulai melihat sisa peralatan yang ditinggalkan Miki. Haruhiro ingin memintanya untuk menyembuhkan anggota Party yang terluka, tapi dia urung melakukan itu. Mungkin akan lebih baik jika dia tidak mengganggunya saat ini, karena Lusi sedang mencari sisa-sisa terakhir dari temannya yang berharga, yaitu: Miki, Ogi, dan Musi.


"Ini merupakan hari yang berat," bisik Alice.


"Setuju," kata Vina, sembari memutar bahunya perlahan.


"Kita belum pernah habis-habisan seperti ini," Haruhiro mengingatkan mereka, dan dia berhati-hati agar tidak membuatnya terdengar seperti celaan. "Lebih baik jangan lengah sampai kita kembali ke Atalante ... bukannya aku harap kita mendapat masalah lagi, sih. "


"Mungkin saja akan ada masalah," Marco mencibir dengan begitu menjengkelkan. "Siapa tahu..."


Haruhiro berharap bahwa Marco segera menghentikan itu, karena jika dia mengatakan demikian, maka masalah selalu saja akan datang menghampiri mereka. Sebuah hawa dingin tiba-tiba merambat pada tulang belakang Haruhiro. Dia berbalik untuk melihat apa yang ada di belakangnya.


"De-" Haruhiro memulai.


"Huh?" Marco berbalik juga. "Whoa ..."


"Gawat ..." kata Barto.


"Eh?" Vina tampak kaget.


Alice menghembuskan napas tipis.


"Tidak mungkin ..." bisik Lusi.


Kenapa harus sekarang? Kenapa harus sekarang? Kenapa makhluk itu harus keluar sekarang.


"L-lari!" hanya kata itu yang bisa terselip keluar dari mulut Haruhiro.


Ia datang. Dia ada di sini. Apa? Ayolah, kenapa harus sekarang. Apa-apaan ini ... Bulu berwarna hitam dengan titik-titik putih, wujudnya begitu besar sehingga sulit untuk percaya bahwa dia adalah seekor kobold, sungguh besar, dan dia menggenggam pedang besar tebal yang mirip alat penjagal daging ... Deathspot. Monster kobold itu menghirup napas berat sambil berlari, air liur mengalir dari dagunya layaknya sungai, dan mata merah darahnya bersinar ketika dia semakin mendekat.


Deathspot ditemani oleh beberapa ekor kobold petua, masing-masing dilengkapi dengan armor pelat baja, helm penuh, pedang dan perisai bulat. Tak mungkin mereka bisa menang melawan kawanan kobold ini. Tapi, apakah mereka punya kesempatan untuk melarikan diri? Tidak, jika mereka lari, mereka hanya akan ditebang satu per satu dari belakang.


Haruhiro tidak ingin melakukan ini, tapi ia tidak melihat adanya pilihan lain. Jika berdiri untuk melawan adalah satu-satunya pilihan, maka ia tidak bisa membiarkan mentalnya kalah sebelum pertempuran dimulai. Mereka harus menang, dan menang, mereka harus ...


"Barto, maaf, buat Deathspot sibuk! Yang lainnya, hadapi para kobold petua! "kata Haruhiro.


Dalam keadaan panik seperti ini, Haruhiro tidak mendengar jawaban mereka. Apa boleh buat. Itu tidak mengubah fakta bahwa mereka harus menghabisi para petua secepat mungkin. Setelah kobolds petua dikalahkan, pertarungan sesungguhnya akan dimulai.

__ADS_1


"Oom rel eckt nem das!" Alice melantunkan mantra [SHADOW BIND], sehingga menyegel pergerakan kobold petua.


Berkat itu, Haruhiro mampu sedikit menenangkan kepanikannya.


"Marco, hadapi seekor sendirian! Vina dan aku akan mengadapi lainnya! "kata Haruhiro.


Kedua meneriakkan kesepakatan mereka.


"Aku akan membantu juga!" Lusi mengangkat tongkatnya dalam posisi siap, dia memposisikan dirinya di belakang Haruhiro dan Vina.


Haruhiro hendak menghentikannya, tetapi dia urung melakukannya. Sampai para petua dikalahkan, mungkin akan lebih baik jika dia membiarkan Lusi ikut dalam pertarungan secara aktif. Setelah mereka mengurus para petua, dia bisa mundur lagi. Ya, itu adalah ide yang bagus.


"Makasih !!!" Barto melepaskan [RAGE CLEAVE] dengan segenap kekuatannya.


Deathspot, dia menggenggam pedang penjagal daging, sepertinya benda itu terbuat dari lembaran timah. Dia membelokkan serangan Barto dengan mudah, dan segera melancarkan serangan balasan. Kekuatan di balik pukulannya sungguh mengerikan. Deathspot kemudian melanjutkan dengan memberikan hujan pukulan, dan Barto hampir saja gagal menahan semuanya. Jika satu pukulan saja menembus pertahanannya, maka itu akan berakibat fatal bagi Barto, tidak peduli dia sedang mengenakan armor ataupun tidak.


Haruhiro sangatlah ketakutan bagaikan seorang pengecut, tapi Barto bahkan lebih ketakutan. Dia tidak boleh berpikir tentang Barto sekarang, meskipun demikian, ia harus menemukan cara untuk menghilangkan rasa takut Barto. Tapi, bukankah ada hal lain yang harus dilakukan? Tidak, itu bahkan tidak layak dinyatakan sebagai suatu pertanyaan. Dia memiliki pekerjaan lain sekarang ...


Dua kobold petua mengabaikan Deathspot dan Barto, perhatian mereka terfokus sepenuhnya pada Haruhiro dan anggota Party lainnya.


"[HATRED'S CUT]!" Marco melompat pada petua C, dan itu memaksanya mundur.


"Aku datang!" Kata Haruhiro, sembari bergegas melewati Vina untuk menyerang petua B secara langsung.


Namun, ia tidak benar-benar berniat untuk menyerangnya. Petua B mengayunkan pedang padanya berulang kali, dan Haruhiro menggunakan [SWAT] untuk menangkis, menangkis, dan menangkis lagi. Sementara petua B memusatkan perhatian pada Haruhiro, Vina dan Lusi mengapitnya dari kedua sisi, dan mereka menyerang secara bersamaan.


"[CROSS CUT]!"


"[SMASH]!"


Petua B memblokir serangan tersebut dengan menggunakan pedang dan perisainya, tapi keseimbangannya menjadi kacau. Sekarang! Haruhiro berpikir demikian. Dia dengan cekatan bermanuver untuk memposisikan dirinya di belakang petua B, lantas menggunakan [WIDOW MAKER]. Sembari menempel ke punggungnya, dia melepas  helm si kobold, menancapkan belatinya ke mata kanan petua tersebut, memelintir belatinya, dan kemudian menariknya kembali, sebelum akhirnya melompat untuk menjauh.


Tapi korbannya masih hidup, lantas Lusi memukul lagi dengan tongkat sementara Vina menendangnya hingga jatuh ke tanah. Dia tidak bangkit kembali. Masih tersisa 2 lagi. Pilihan mereka adalah menghabisi petua A, yang masih tersegel oleh skill [SHADOW BIND] milik Alice, atau membantu Marco yang tengah menghadapi petua C. Haruhiro tidak ragu-ragu untuk menuju ke arah petua A, Vina dan Lusi mengikuti langkahnya. Dia tidak bisa bergerak, sehingga pertarungan ini harusnya lebih mudah.


Vina dan Lusi bergerak tepat di belakangnya, ketika Haruhiro mengelilingi si petua A, lantas dia mengeksekusi skill [WIDOW MAKER]. Mereka bertiga membunuhnya dengan metode yang sama persis ketika mereka menghabisi nyawa petua B, maka sekarang yang tersisa hanyalah petua C.


Bagaimana dengan Barto? Dia mungkin sedang mengalami saat-saat tersulit jika dibandingkan rekan-rekan lainnya. Setiap hantaman pedang penjagal daging milik Deathspot membuat Barto semakin tertekan, sampai-sampai dia roboh dengan posisi satu lutut menyangga badannya. Dia, entah bagaimana caranya, berhasil berdiri kembali ketika terjadi jeda serangan, namun Haruhiro tahu bahwa ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi sendirian.


"Aku akan menyelesaikan yang ini sendirian!" Teriak Marco.


Haruhiro ragu sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Terima kasih!" Dia percaya pada teman-temannya. Ia juga percaya pada Marco. "Lusi, mundur!" Dia memerintahkan, sembari ia dan Vina bergerak untuk memposisikan diri pada sisi belakang dan samping Deathspot. Pertanyaannya adalah, bahkan dengan adanya bantuan dari mereka berdua, akankah Haruhiro sanggup untuk menahan serangan Deathspot? Mengapa ia merasa begitu terintimidasi? Sekarang Deathspot sedang membelakangi Haruhiro, bahkan monster itu tampaknya sama sekali tidak berniat untuk menoleh ke belakang. Meskipun begitu, Haruhiro sungguh tidak punya ide bagaimana harus memulai serangan. Dia merasa bahwa serangan apapun yang dia hujamkan pada monster besar itu tidak akan berdampak efektif.


Tidak masalah. Efektif atau tidak, ia harus mencoba. Hanya itu yang dia miliki sekarang. Mereka berkomitmen untuk melakukan ini.


Dia mencoba [BACKSTAB] terlebih dahulu ... setidaknya, seperti itulah niat Haruhiro. Namun, hal berikutnya yang dia sadari, dia sudah tergeletak di tanah. Hah? Apakah ia sudah ditendang oleh Deathspot saat dia mendekat untuk menyerang? Dia mengingat hal itu secara samar-samar, tapi ia tidak benar-benar yakin.


Apakah dia terluka? Dia mencoba bangun. Tubuhnya sakit seluruhnya, dan kepalanya masih sedikit berputar-putar, namun secara keseluruhan, dia masih merasa baik-baik saja. Mungkin saja dia tidak terluka serius. Dia tidak benar-benar tahu.


"Rasakan ini, dan ini, dan ini, dan ini!" Marco menyerang rentetan sabetan secepat kilat, sehingga pedang dan perisai petua C terlontar. Dengan teriakan, ia menabrak monster itu dengan menggunakan bahunya, sehingga lawannya terjerembab ke tanah.


Itu hanyalah sebuah pemandangan penuh aksi brutal, tapi itu bekerja dengan baik. Marco menggunakan pedangnya untuk mementalkan helm petua C, kemudian dia menancapkan pedangnya pada tenggorokan petua C sedalam-dalamnya.


"Ha ha! Vice lagi untukku! "Katanya.


"Sekarang hanya tersisa Deathspot!" Haruhiro berteriak sekeras yang dia bisa, mencoba untuk meningkatkan semangat timnya.


Tapi hati kecilnya mengatakan bahwa itu adalah usaha yang sia-sia belaka. Haruhiro mendengar teriakan parau dari Deathspot, Wro-ga-Huah! Wro-ga-Huah! Wro-ga-Huah! dan pada saat itu, Barto benar-benar kewalahan.


Tentu saja Haruhiro, Vina, dan Marco ingin segera membantu Barto, tapi ada sesuatu yang menahan mereka. Aura intimidasi ... atau sesuatu seperti itu. Ketidakyakinan apa yang mereka rasakan ini?


Tidak. Cara Deathspot bergerak begitu dinamis dan cepat. Dia menerjang dan memantul, seakan-akan dia memiliki pegas yang terpasang pada kakinya, sementara itu dia dengan cekatan menggenggam pedang penjagal daging miliknya. Dan dia tidak pernah berhenti bergerak, sehingga sulit untuk menemukan celah.


Pasti ada semacam pola atau keselarasan yang bisa mereka amati. Haruhiro dan lainnya hanya harus menemukan pola bertarung Deathspot. Tapi tak seorang pun memiliki waktu untuk menganalisis hal tersebut secara hati-hati.


"Oom rel eckt vel das!" [SHADOW ECHO] dari Alice pun datang pada waktu yang tepat, tapi itu tidak cukup.


Deathspot mengayunkan pedangnya dengan suara gemuruh, kemudian dia mengiris elemental bayangan berbentuk rumput laut hitam itu menjadi dua bagian, lantas sihir itu pun menghilang. Sekarang ada celah sempit pada pertahanan Deathspot, tampaknya mustahil jika mereka melancarkan serangan saat ini, tapi itulah yang Barto lakukan. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia balik menyerang.


Dia benar-benar telah kehabisan napas, dan seluruh tubuhnya babak belur, tetapi Barto tahu bahwa dirinya pasti akan ditebang bagaikan pohon kering jika dia terus bertahan tanpa memberikan satupun serangan balik. Dia tidak punya pilihan selain mengambil kesempatan ini, dan dia pun mempertaruhkan segalanya pada serangan ini. Barto telah membuat keputusan yang terencana, dan Haruhiro pikir itu tidaklah masalah. Memang itulah kesimpulannya. Tetapi pada saat itu juga...


Gro-Huah! Deathspot berteriak dan menahan pedang raksasa Barto hanya dengan menggunakan lengan kirinya.


Apa-apan itu! Mungkinkah hal seperti itu terjadi?! pikir Haruhiro. Dia amat-sangat terkejut, Barto mungkin bahkan lebih terkejut daripada dirinya. Namun, terkejut atau tidak, itu tidak akan mengubah apa yang terjadi selanjutnya.


Deathspot mengayunkan pedangnya dengan kejam ke arah bahu kiri Barto. Pedang itu merobek armor besi bagaikan gunting yang memotong kertas, lalu pedang itu terus menembus ke bawah, bawah, bawah, dan bawah.


"BARTOOO!" Marco langsung saja menerjang Deathspot tanpa pikir panjang.


Sial! Orang seperti Marco belum siap untuk melawan musuh seperti Deathspot. Kobold besar itu mengayunkan pedangnya pada Marco dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan dia sampai lumat, ataupun membelah dia jadi dua. Entah bagaimana caranya, ternyata Marco masih sanggup merunduk pada waktu yang tepat untuk menghindari sabetan tersebut. Gerakan yang bagus. Dan berkat gangguan dari Marco, Barto mampu menggelinding menjauh, dan memperlebar jarak antara dirinya dan Deathspot.


Namun, lukanya tampak mengerikan dan terjadi pendarahan parah.


"Lusi, sembuhkan Barto!" Haruhiro tidak perlu mengatakan itu karena Lusi dengan sigap langsung merawat Barto.


Dia merapalkan mantra penyembuhan padanya secara langsung, tapi tentu saja efek penyembuhan tidak akan bekerja secara instan. Mereka harus menunda beberapa waktu sampai Barto sembuh total. Vina telah menarik busur, dan sekarang dia hendak melepaskan panah tersebut tepat ke arah Deathspot. Pada jarak sedekat ini, panah tersebut tidak mungkin luput. Dan panah itu pun berhasil mengenai si bos monster, menancap dalam di sisinya. Deathspot meraung dan berbalik ke arah Vina.


"Kau tidak punya waktu untuk menoleh!" Teriak Marco, sembari menyerang lagi.


Deathspot memblokit sabetan pedang panjang milik Marco dengan mudah, kemudian dia melesat ke arah Vina. Tentu saja, Vina berlari sekencang-kencangnya untuk menghindar.


"Wah! Menakutkan, menakutkan, menakutkan ...!" Vina berteriak, membuang busurnya, dan menggunakan skill berguling tikus lubang untuk menjauh.


Haruhiro mengejar Deathspot, tapi dia tidak bisa menjangkaunya. Ini tidak hanya terjadi saat ini saja, sejak awal Haruhiro memang tidak pernah bisa memposisikan diri di dekatnya.


"Sial!" Haruhiro menggerutu.


"O kegelapan, O Dewa Kecurangan ..." Ini mungkin sangatlah jarang terjadi, namun Marco benar-benar merapalkan suatu mantra. "[DARK INVITATION]!"


Suatu tubuh berwarna hitam-ungu tanpa kepala muncul entah dari mana. Makhluk itu memiliki dua mata seperti lubang, dan mulutnya robek. Itu adalah setan. Itu adalah Zodiak.


"Kejar dia! Zodiak!" Perintah Marco.


{Aku tidak ingin melakukannya! Tidak mau! Tidak mau! Tidak mau! Keehehehehe ... Heehehehe!}


"Aku tahu ini akan terjadi ..." Marco mendesah.

__ADS_1


Haruhiro bahkan tidak bisa mengungkapkan betapa dia merasa jijik. Setan itu begitu konyol, dan malas ... ia bahkan tidak mengungkapkan apapun setelah melihat makhluk itu. Vina menjerit ketika Deathspot menendangnya. Tendangan itu begitu keras, sehingga membuatnya terpental.


"Setan Bodoh! Sini kau! " Marco menangkap Zodiak dengan lengannya, dan menariknya agar mendekat.


Haruhiro bahkan tidak tahu bahwa setan bisa ditekuk seperti itu. Marco membidik Deathspot, lantas melemparkan Zodiak padanya dengan segenap kekuatan.


{Sialan! Sialan! Sialan! SIALAAAAAAAAAAN KAUUUUUUUU} , Teriak setan itu.


Kemudian dia menghantam Deathspot tepat di wajah. Sebenarnya “menghantam” bukanlah kata yang begitu tepat, akan lebih baik jika didefinisikan sebagai “nyungsep”. Deathspot segera melepaskan setan itu, dan melemparkannya, tapi ketika monster itu sibuk dengan Zodiak, berarti Marco memiliki kesempatan untuk mendekat dan melancarkan serangan [ANGER THRUST].


Serangan itu ditujukan langsung pada tenggorokan bos kobold, tapi Deathspot masih bisa berkelit, dan itu sudah cukup untuk menghindari pedang panjang milik Marco. Pedangnya hanya memangkas beberapa inci bulu kobold di sisi leher, dan juga sedikit menggores kulitnya. Walaupun darahnya tidak menyemprot keluar, sang Deathspot masihlah mengalami pendarahan.


Bagus! Pikir Haruhiro. Mereka akhirnya mengenai monster itu. Deathspot bukannya tidak terkalahkan, dan ternyata pertarungan ini tidaklah percuma. Mereka bisa melakukan ini. Deathspot adalah lawan yang bisa mereka kalahkan jika mereka sanggup melawannya dengan benar. Haruhiro memiliki perasaan bahwa mungkin mereka bisa menang. Namun, perasaan itu lenyap bagai debu sesaat setelahnya.


Deathspot menjerit dengan suara mengerikan. Warna matanya telah berubah, entah kenapa, beberapa saat yang lalu cahaya yang bersinar dari matanya terkesan berbeda. Tiba-tiba, dalam waktu kurang dari sepersekian detik, Marco roboh ke tanah, dan tidak lagi bergerak.


Apa yang baru saja terjadi? Haruhiro tidak melihatnya. Yang dilihatnya hanyalah tubuh Marco tergeletak di tanah dalam genangan darah, dan Deathspot mengangkat pedangnya tinggi-tinggi di atas kepalanya untuk melepaskan sabetan terakhir. Namun, sesuatu menempel pada lengan pedangnya ... itu adalah makhluk berwarna ungu-hitam. Haruhiro tidak bisa percaya apa yang tengah dilihatnya.


"Zodiak ?!" Haruhiro bergumam.


{Keehehehe ... Eehehehe ... Heehehehehehe!} kata setan itu sambil mencibir.


Deathspot setengah mendengus, setengah menyeringai, seolah mengatakan "kau mengganggu saja," lantas dia meraih setan itu bagaikan seekor rajawali yang hendak merobek mangsanya, dan membanting ke tanah. Dengan suara mendesis, setan itu menguap kemudian lenyap. Berkat gangguan dari Zodiak, nyawa Marco terselamatkan.


Ketika perhatian Deathspot kembali tertuju pada Marco, dan dia mengangkat pedangnya sekali lagi untuk menghabisinya, Barto melompat dan menahan pedang penjagal daging milik monster itu. Itu terjadi tepat pada saat Deathspot mengayunkan pedangnya ke bawah. Apa yang akan terjadi seandainya Zodiak tidak menghalangi tebasan Deathspot? Kemungkinan besar Barto tidak akan sanggup menahannya tepat waktu. Zodiak baru saja menyelamatkan hidup Marco.


Alice sedang membantu Vina. Salah satu tangan Vina terlihat menekan perutnya, pasti dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Barto, bahkan saat ia hampir dikalahkan oleh Deathspot, dia masih saja sanggup memastikan untuk menjauhkan kobold besar itu dari Marco.


"Deathspot semakin kuat saat lukanya semakin parah!" Lusi berkata, sembari dia berlari menuju Marco. "Haru! Sihirku hampir habis! Aku hanya bisa melantunkan dua mantra lagi, atau mungkin tiga jika aku memaksakannya. Tapi hanya itu yang tersisa!"


Haruhiro menahan napas, dengan rahang terkatup rapat. Meskipun Lusi menyembuhkan luka-lukanya, dia tidak bisa mengembalikan stamina, dan Barto pun sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Deathspot. Semakin dia terluka, semakin dia kuat? Itu berarti jika mereka semakin banyak memberikan luka padanya, maka pertarungan ini justru akan semakin sulit. Musuh macam apa itu? Bagaimana bisa mereka melawan makhluk seperti itu? Mereka tidak akan sanggup.


Mereka harus lari. Itu adalah satu-satunya pilihan mereka saat ini. Tapi apakah mereka benar-benar sanggup melarikan diri pada saat seperti ini? Padahal, seharusnya mereka sudah lari sejak awal dan jangan pernah mencoba melawan makhluk seperti ini. Tidak, Deathspot membawa beberapa anak buah. Keadaannya berbeda. Sekarang, hanya Deathspot yang tersisa. Pertanyaannya adalah, apakah mereka bisa meloloskan diri dengan aman saat ini?


Deathspot begitu cepat. Jika sang bos kobold tersebut memutuskan untuk mengejar mereka, maka mereka tak akan pernah bisa lolos. Jika mereka diserang dari belakang saat berlari, maka semuanya akan tamat. Mereka akan ditebang dalam sepersekian detik. Dua tebasan = dua nyawa melayang, tiga tebasan = tiga nyawa ... Ah, Haruhiro tak mau membayangkannya lebih lanjut. Dia berharap semuanya bisa melarikan diri bersama-sama, tetapi kenyataannya tidak akan semudah itu.


Jika mereka semua berlari, maka pasti akan banyak korban jiwa. Jika mereka beruntung, mungkin beberapa dari mereka bisa keluar dari tambang ini. Jika mereka sial, maka mereka semua akan mati.


Satu orang. Setidaknya, harus ada satu orang yang tertinggal di belakang sebagai mangsa, sedangkan yang lainnya pergi. Salah satu dari mereka harus tetap menyibukkan Deathspot. Ini akan menjadi suatu pertarungan kematian. Siapa pun yang tinggal di belakang akan mati. Itulah pilihannya, keenam-enamnya mati, atau salah satu mati dan kelimanya hidup.


Itu satu-satunya pilihan mereka sekarang. Haruhiro mengerti itu. Bahkan saat ia berdebat dengan dirinya sendiri, Deathspot mungkin sudah membunuh Barto. Jika Barto tumbang, maka Party ini akan berakhir. Jika Barto mati, semuanya akan mengikutinya ke akherat. Itu adalah hasil terburuk yang mungkin terjadi. Mereka harus menghindarinya apapun resikonya.


Biarkan Deathspot membunuh salah seorang di antara mereka, sehingga yang lainnya tetap hidup. Lalu siapa yang bersedia jadi mangsa? Siapa yang akan tertinggal di belakang? Dan apakah Haruhiro menawarkan peran na’as ini pada teman-temannya? Apakah dia harus mengatakan kepada salah satu temannya, terus sibukkan Deathspot, sehingga kami bisa melarikan diri? Apakah dia harus meminta salah seorang temannya mati untuk menjamin keselamatan tim? Mungkin orang yang cocok mengemban peran itu adalah orang seperti ... seperti ... seperti ... seperti ... seperti ... seperti ... Barto.


Marco, sudah disembuhkan oleh Lusi, dan dia duduk dengan lemas.


Haruhiro menutup matanya. "Semuanya, aku minta maaf ..."


Aku minta maaf karena telah menjadi pemimpin yang begitu menyedihkan ... Tapi, tak peduli sekeras apapun Haruhiro mencoba, hal yang mustahil tetaplah mustahil. Haruhiro melompat pada punggung Deathspot ketika monster itu hendak menyematkan Barto ke tanah. Manuver ini sama sekali tidak mengganggu Deathspot, namun anehnya dia bisa melakukan ini dengan begitu mudah. Keputusan tersebut telah dibuat, ia tidak lagi takut. Seperti inilah rasanya… Namun, ini terasa begitu…. begitu….


Deathspot berputar, dan mencoba untuk melepaskan Haruhiro dari punggungnya. Aku tidak akan membiarkanmu! Tidak mungkin dia mau melepaskan punggung kobold itu. Haruhiro  menempel pada punggung Deathspot dengan segenap tenaganya yang tersisa, dan dengan ujung gagang belatinya, dia memukul kepala Deathspot lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi.


Sambil terus memukul kobold, dia berteriak, "Barto, Marco, Lusi, Vina, Alice ...! Sekarang, larilah sementara aku menahannya ...! LARI!"


"T-tapi!" Haruhiro menduga bahwa Barto lah yang mengatakan itu, namun dia tidak tahu persis.


"Aku akan baik-baik saja!" kata Haruhiro, tapi semua konsentrasinya sudah tertuju pada belatinya.


Pukul, pukul, pukul, pukul terus. Deathspot adalah kobold, namun tubuhnya tersusun tidak seperti manusia pada umumnya. Seekor kobold bisa menggapai bagian punggung yang biasanya tidak bisa diraih oleh manusia, dan Deathspot menggunakan keuntungan itu untuk menghantam Haruhiro. Walaupun si monster tidak bisa menebas bagian punggungnya dengan pedang, namun Deathspot masih bisa mendaratkan pukulan pada punggung dan kepala Haruhiro dengan menggunakan sikunya.


Sial. Haruhiro ingin merengek kesakitan, tetapi dia tidak mau menghabis-habiskan energinya untuk melakukan yang tidak akan mengubah keadaan seperti itu. Tapi, kekuatan tidak meninggalkan dirinya.


"Jangan membuatku mengorbankan nyawa dengan sia-sia!" Haruhiro malah berteriak padanya. "Aku sudah babak belur seperti ini! Jadi, tidak ada gunanya menyelamatkanku sekarang! Aku sudah tamat, jadi kalian LARILAH! Ayo, lari! KUMOHON!"


"Ayo kita pergi!" Marco berteriak.


Ah, Marco. Bagus. Itu bagus. Memang seperti itulah Marco. Mereka membutuhkan seseorang seperti dia, jika tidak, tim akan berada dalam kesulitan sesungguhnya. Dia bisa membujuk yang lainnya untuk pergi. Hanya Marco yang bisa melakukannya. Aku mengandalkanmu, Marco ... Di sudut matanya, Haruhiro melihat Vina memutar kepala untuk menengok ke arahnya, namun tubuhnya menghadap ke arah lain. Dia juga bersedia pergi, dan itu sedikit membuatnya lega.


Jika Vina pergi, maka Alice juga akan pergi. Vina. Dia ingat betapa nyaman saat Vina menepuk-nepuk kepalanya. Alice ... Haruhiro berharap bahwa gadis itu bisa move on dari Udin.


"Haru!" Lusi memanggilnya.


Pergilah. Sudah, pergi saja ... Haruhiro mulai sedikit menyukai Lusi, jadi hati kecilnya menginginkan untuk tetap hidup agar keesokan harinya dia masih bisa berjumpa dengan gadis itu. Maka pergilah, keluar dari di sini ... Dia bisa mendengar teriakan Barto dari jarak jauh. Ya, aku akan baik-baik saja, pikir Haruhiro. Pergilah, Barto.Kau adalah pria yang kuat dan akan terus bertambah kuat. Jadilah lebih kuat ... Barto adalah tim inti. Kami tidak bisa apa-apa tanpa dia.


Dia tidak berhak mengatakan “kami” lagi, karena beberapa saat kemudian, dia tidak lagi menjadi bagian dari Party ini. Dia akan pergi…. Pergi ke tempat yang jauh. Semuanya kini tak ada gunanya. Dia telah membuat keputusan ini karena tidak ada cara lain.


Dia tidak sanggup meminta salah satu dari mereka mengorbankan nyawa untuk tim. Dia akan mati sendirian, dan baginya itu lebih baik daripada meminta orang lain memainkan perannya.


Meskipun ada orang yang bersedia menggantikan posisinya, itu sama saja, karena Haruhiro tidak akan hidup dengan tenang setelah membiarkan salah satu rekannya mati, oleh karena itu, satu-satunya orang yang tepat untuk memainkan peran ini adalah dirinya sendiri. Dia tidak ingin mereka berpikir seperti itu, tapi mungkin teman-temannya akan menyesal seumur hidup. Namun Haruhiro berharap bahwa suatu hari nanti, mereka bisa mengikhlaskan semua ini. Jika mereka tidak bisa, maka melakukan hal gila seperti ini akan sia-sia saja.


Miki. Ogi. Musi ... Jika dia meninggal di sini, akankah Haruhiro berubah menjadi seperti mereka? Jika demikian, ia berharap bahwa Lusi akan kembali lagi dan menggunakan skill [PURIFY] padanya. Tolong, ubah aku menjadi abu ... Pada saat itu datang, sudahkah tim ini menemukan pengganti posisinya? Pemikiran-pemikiran itu membuat Haruhiro semakin merasa putus asa, kesepian, dan tertekan.


Lebih baik dia tidak memikirkannya lebih lanjut, karena ia sudah berada pada batasnya. Dia merasa seolah-olah bisa mengapung dan keluar dari raganya setiap saat. Sial. Dia sudah terlempar. Deathspot akhirnya melemparkannya bagaikan kertas.


Haruhiro menyentuh tanah dan Deathspot berbalik untuk mengejar teman-temannya. Dia tidak membunuh Haruhiro? Deathspot hanya membiarkan Haruhiro begitu saja, dan malah memangsa teman-temannya yang hendak melarikan diri? Tidak, tidak, tidak, tidak, TIDAK AKAN KUBIARKAN!


Berapa lama waktu yang sudah berhasil ditunda oleh Haruhiro? Seberapa jauh teman-temannya telah pergi? Dia merasa bahwa waktu yang cukup lama telah berlalu, tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Mungkin tidak banyak waktu telah berlalu. Dia tidak pernah tahu


"Hei! Di sini!" Teriak Haruhiro.


Haruhiro bangkit berdiri, namun Deathspot tidak melihat ke arahnya. Tidak boleh membiarkannya pergi, tidak boleh membiarkannya pergi! Pada saat itu, benar-benar pada saat itu, garis tersebut muncul lagi. Kali ini garisnya tidak kabur, kali ini garisnya cukup jelas, dan Haruhiro jarang melihat garis dalam bentuk seperti ini. Garis ini begitu tajam, nyata, dan bersinar. Haruhiro merasa bahwa dirinya sanggup bergerak.


Begitu lambat, pikirnya. Mengapa aku bergerak begitu lambat? Tapi bukan hanya gerakannya sendiri yang melambat. Deathspot juga bergerak dengan lambat seolah-olah udara semakin kental. Mungkin ini adalah hal yang baik. Mudah baginya untuk mendekati monster itu. Dia sekarang sudah dekat. Di sana!


Haruhiro melompat menuju Deathspot. ada di sana, ada titik pada punggung kobold itu, dan itu merupakan organ vital atau sejenisnya. belati Haruhiro tergelincir dengan lancar tanpa hambatan sama sekali untuk menusuk titik vital tersebut.


Haruhiro tidak memiliki sedikitpun keraguan. Sudah berakhir. Deathspot bergerak maju, kemudian jatuh tergeletak di tanah. Untuk sesaat, kepala Haruhiro terbenam pada bulu kotor kobold, itu karena mereka jatuh ke depan bersama-sama, tapi ia dengan cepat meluncur ke samping. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar dari


tenggorokannya hanyalah suara seperti dengkuran yang keras.


Dia masih bisa merasakan kepala dan lehernya utuh, namun dia menyadari bahwa dirinya bermandikan darah. Dia terluka di sekujur tubuh. Suatu pikiran tiba-tiba terlintas. Bagaimana jika aku tertinggal di sini sendirian? Sial, gawat nih. Tapi ia tidak berpikir bahwa ia bisa bergerak sekarang.


"H-hei! Teman-teman! Semuanya, kembali!" Ia akhirnya berhasil memanggil teman-temannya, tanpa diragukan lagi, mereka akan datang kembali untuk menjemputnya.


Dan mereka melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2