KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Episode 16 - Untuk Mendekap Yang Tersayang


__ADS_3

Tidak peduli apakah Haruhiro bisa memimpin atau tidak. Selama dia masih hidup, waktu tidak akan berhenti untuknya. Ia pergi ke tempat tidur, kemudian pagi datang lagi seperti biasa, dan mereka pun pergi lagi ke Damroww.


Mereka menangkap dua Goblin lengah, dan segera melukai salah satu diantaranya dengan serangan mendadak. Marco dan Vina berhadapan dengan Goblin yang sudah terluka, sementara Barto dan Haruhiro menangani satunya lagi. Goblin yang masih belum terluka memperlengkapi dirinya dengan helm penyok, armor sederhana, dan pedang lusuh. Namun, dia masihlah merupakan lawan yang tangguh, meskipun dari segi kekuatan, Barto dan ukuran tubuhnya jelas memiliki keuntungan lebih besar.


Jika Barto bisa menjatuhkan dirinya di atas Goblin, maka dia bisa menang. Dia cukup menggunakan kekerasan untuk menghabisi lawannya, tapi dia tidak melakukan itu. Dia ragu-ragu. Tapi, mengapa? Apakah Barto takut? Tentu saja, gaya bertarung seperti Marco bukanlah pilihan, dia dengan ceroboh menyerang musuh, tanpa pikir panjang. Tapi mengapa hari ini Barto begitu berhati-hati?


Haruhiro menyaksikan Barto dan Goblin yang saling berhadapan. Dulu, jarang ditemui Goblin yang memakai


helm, tapi yang satu ini benar-benar memakainya. Saat itulah Haruhiro menyadari bahwa jika dilindungi oleh helm, hantaman langsung ke kepala tidak akan berdampak banyak. Tanpa helm, bahkan sayatan pisau mungkin akan memberikan luka serius. Siapa pun akan berpikir dua kali untuk melawan Goblin berhelm secara agresif.


Semalam Barto mengatakan bahwa ia ingin helm dan plat baja pelindung. Dia tidak pernah meminta benda


seperti pedang baru yang lebih tajam, atau semacamnya. Yang paling ia inginkan adalah pelindung armor. Haruhiro pun menduga bahwa jika ia memiliki pelindung tubuh penuh, maka dia bisa bertarung dengan lebih tegas dan percaya diri.


Adapun bagi Haruhiro, dia selalu menempatkan dirinya di belakang musuh, sehingga potensi cedera relatif kecil. Dia tidak memakai armor, sehingga dia sangat menghindari serangan langsung dari lawan. Satu sabetan pedang saja sudah cukup untuk mengakhiri nyawanya, sehingga ia sebisa mungkin menghindari serangan lawan secara


langsung.


Tapi Barto tidak bisa menghindarinya. Tugasnya adalah menyerang musuh secara langsung, dan jika ia mencoba melawan seperti Haruhiro dengan selalu menempatkan dirinya di belakang musuh, semua formasi tim akan berantakan.


Haruhiro tidak pernah menyadari ini karena apa yang dia pikirkan hanyalah posisi dan perannya sendiri


dalam pertarungan. Dia tidak pernah memikirkan peran orang lain. Bahkan tak pernah terpikirkan olehnya bahwa helm adalah salah satu pelindung wajib bagi seorang Warrior.


"Barto!" Haruhiro memanggilnya sembari menyabet Goblin dengan belatinya.


Ketika Goblin menoleh ke arahnya, seperti biasa, dia selalu Haruhiro mundur. Untuk sesaat, Goblin ragu-ragu memilih targetnya, namun kemudian monster itu berbalik menghadap Barto sekali lagi. Tapi Barto sudah bergerak, dan menyodorkan pedang raksasanya pada si Goblin sambil berteriak. Pedang itu menusuk dalam pada perut si Goblin.


Bagaimanapun juga, makhluk hidup tidak mati dengan begitu mudah. Goblin melepaskan jeritan bernada tinggi, dan mencoba untuk mengayunkan pedangnya pada Barto. Haruhiro tidak berniat untuk membiarkan hal itu terjadi. Dengan berposisi tepat di belakang si monster, dia bergegas mendekatinya dan membidik tangan Goblin yang membawa pedang. [HIT]


Serangan itu tidak cukup untuk memotong pergelangan tangan Goblin, tapi belatinya berhasil memangkas tulang lawannya. Goblin pun menjatuhkan pedangnya. Barto meneruskan serangan berantai tersebut dengan mengayunkan pedang raksasanya, dan Goblin hanya bisa mengerang sembari memukul-mukulkan lengannya pada Barto. Haruhiro meraih helm Goblin, menariknya ke belakang dengan sekuat tenaga, seolah-olah dia ingin


melepaskan helm itu dari kepala si Goblin. Sebagai penutup, ia menikamkan belati pada tenggorokan lawannya.


Bahkan setelah itu, masih butuh beberapa saat bagi Goblin untuk berhenti bergerak. Udin pernah berkata bahwa lawan-lawan mereka juga ingin terus bertahan hidup, sama seperti mereka. Tapi ini adalah pertarungan sampai mati, sehingga lawannya tidak akan memberikan nyawa begitu saja. Pertarungan ini begitu muram, dan tak pernah


mudah. Haruhiro dan yang lainnya membunuh untuk mengambil barang-barang berharga lawan mereka, dan mereka melakukan itu untuk membayar makanan dan terus bertahan hidup.


Vina dan Marco bertarung melawan Goblin yang tersisa, dengan dukungan dari Alice. Setelah Alice melemahkannya dengan mantra, Marco melancarkan serangan penutup.


Ketika Haruhiro mengumpulkan kantong Goblin setelah perkelahian itu usai, Lusi menempatkan jari-jari tangan kanannya pada dahi, dan jari tengahnya berada di antara alis. Dia melakukannya dengan begitu cepat, sampai-sampai Haruhiro hampir tidak melihatnya.


Itu adalah simbol heksagonal yang biasa Udin bentuk setelah membunuh lawan-lawannya, namun Haruhiro tidak menduga bahwa Lusi juga diwajibkan melakukan ritual serupa. Sepertinya, gadis itu tidak mau repot-repot untuk melakukan ritual ketika lawannya tewas, tapi kemudian, Haruhiro menyadari bahwa dirinya salah. Dia tidak tahu apa-apa tentang Priest. Dan selama ini, dia tak pernah berusaha untuk mengatahuinya.


Selama istirahat makan siang, Haruhiro mencoba mendekati Barto.


"Aku akan membelikan helm untukmu," kata Haruhiro. "Walaupun aku hanya bisa beli yang murah, aku juga akan membelikan plat armor untukmu. Jadi, ayo kita cari satu set perlengkapan yang cocok untukmu. Jika kita tidak dapat menemukan yang cocok dengan badanmu, maka kita harus cari cara untuk menyesuaikan ukurannya.”


"Tapi itu ... Tapi ... Bukankah kau tidak punya uang untuk dibagi denganku ... Aku memang orang yang menyusahkan," kata Barto dengan gelisah.


"Jangan khawatir tentang hal itu. Selama aku punya ini, aku baik-baik saja untuk saat ini, " Haruhiro bersikeras sembari menunjukkan belatinya. “Tapi jika kau tidak memiliki pelindung yang tepat, maka kinerja semua tim juga terpengaruh, jadi ini semua juga demi diriku sendiri. Armor logam super mahal, jadi tanpa menghasilkan banyak uang, kita tidak akan mungkin memperoleh benda seperti itu.”


"Sekarang Vina baru sadar, dan Vina setuju dengan Haru," kata Vina sembari tersenyum sedikit. “Vina juga akan membantu membayar armor Barto. Mari kita semua pergi belanja untuk beli helm yang imut!”


Alice mengangkat tangannya dengan takut. “Dan aku. Aku tidak memiliki banyak uang cadangan, tapi aku akan membantu.”


“Aku akan mengatakannya di sini, sekarang juga, bahwa aku tidak bisa patungan 1 perunggu pun!” Marco menyatakan itu.


"Baiklah. Toh, tidak ada yang mengharapkan kontribusi darimu," Haruhiro berkata, dan melirik singkat ke arah Lusi.


Gadis itu memalingkan pandangannya pada kejauhan, seolah-olah percakapan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Tapi entah kenapa, Haruhiro punya perasaan bahwa dia sedikit kesepian. Mungkin itu hanya imajinasinya.


Lain kali ketika bertarung, ia memutuskan akan mengamati Lusi. Semuanya berpikir bahwa hal yang Lusi lakukan hanyalah menonton dari kejauhan sambil bersandar pada tongkatnya. Dia tidak melakukan pekerjaannya dengan benar, dan tidak juga menyembuhkan mereka. Dia tidak pernah punya niat untuk melaksanakan tugasnya. Itulah anggapan mereka terhadap Lusi, tapi apakah benar demikian?


Setelah makan siang, kelompok Goblin pertama yang mereka temui terdiri dari 3 ekor, dan Haruhiro tidak mendapatkan kesempatan untuk mengamati Lusi ketika pertarungan berlangsung. Setelah itu, mereka tidak menemui Goblin yang sendirian. Malahan, mereka mendapati Goblin yang berpasangan.


Ketika mereka baru saja hendak meninggalkan Kota Tua Damroww, secara tidak terduga, mereka berbentrokan dengan sepasang Goblin tersebut.


Karena terkejut, pertarungan berlangsung dengan kacau. Alice dan Lusi tidak memiliki kesempatan untuk menjauh pada jarak yang cukup aman, dan seekor Goblin langsung saja menerkam Lusi.


"Gadis tak berguna!" Marco berteriak pada Lusi sembari dia meluncur untuk menjegal Goblin yang menyerang Lusi. “Berhenti melamun!”


"Apakah kau berbicara padaku?" balas Lusi.


Ketika Goblin yang tersisa melompat ke arah Alice, Lusi dengan cepat memutarkan tongkatnya, kemudian menusuknya dengan segenap kekuatan. Itu adalah skill Priest untuk membela dirinya sendiri, [SMASH]. Haruhiro pernah melihatnya karena Udin juga belajar teknik itu tempo hari. Ternyata, Lusi juga memperhatikan keselamatan


rekannya.


Hanya ada dua Goblin, sehingga pertarungan berjalan dengan lancar. Ketika Haruhiro berusaha untuk


memposisikan dirinya di belakang targetnya, ia sesekali memperhatikan tindakan Lusi. Kami telah salah, Haruhiro menyadari akan hal itu. Tongkat itu bukan hanya sekedar aseksoris. Bagaimanapun juga, dia telah belajar skill [SMASH], sehingga dia bisa menggunakan tongkatnya sebagai senjata. Mungkin dia memang tidak bersedia bertarung di lini depan, tapi ketika situasi memaksanya untuk bertindak, dia pun tidak segan-segan menolong Alice.


Terlebih lagi, matanya tidak pernah berpaling dari Barto sampai Goblin yang dia lawan mati. Ketika Barto menyundul dagu Goblin dengan keras, pada saat itu juga, ekspresi Lusi menjadi serius sembari dia terus mengawasi rekannya itu. Tak lama setelah itu, dia menggeleng sebentar. Gadis itu pun memutuskan bahwa cidera yang dialami Barto cukup ringan, sehingga tidak harus diberikan penyembuhan segera.


Lusi hanya "berdiri tanpa melakukan apapun". Dia tidak punya "niat untuk melakukan pekerjaannya"? Tidak, mereka salah tentang itu. Dari kejauhan, Lusi dengan hati-hati mengamati pertarungan, dan setiap kali salah satu rekannya terkena serangan, dia membuat suatu keputusan untuk menyembuhkannya ataukah tidak. Dan ia bisa bertarung dengan menggunakan tongkatnya bila diperlukan.


Ketika pertarungan usai, Alice pergi ke Lusi dan berkata, “Terimakasih untuk yang tadi.”


Lusi berpaling.”Aku tidak paham apa yang sedang kau bicarakan."


Apakah dia harus menjawab seperti itu? Pikir Haruhiro. Andaikan dia menanggapinya dengan senyuman normal,


dan berkata “Sama-sama”, Haruhiro merasa bahwa Lusi akan sangat disukai oleh cewek dan juga cowok. Bukannya itu sulit atau semacamnya. Lagipula, bertindak seperti itu akan mempermudah Lusi di kemudian hari. Mengapa dia harus repot-repot menunjukkan bahwa dia membenci orang lain?


Setelah mereka kembali ke Atalante dan menjual barang jarahan hari ini, Lusi tanpa kata mengambil bagiannya. Lantas, Haruhiro memberanikan diri untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Lusi, tunggu sebentar."


Lusi berbalik sambil menyisir rambutnya, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal. ”Urusan apa yang kau miliki denganku sekarang?"


Haruhiro memanggilnya hanya untuk formalitas. Itulah sebabnya, dan Haruhiro selalu ketakutan setiap kali berkomunikasi dengan gadis itu. Kadang-kadang, karena tidak ada alasan yang lebih baik, Haruhiro berpikir bahwa Lusi memang lebih suka dibenci oleh orang lain. Tapi saat ini dia adalah rekan mereka, kan? Bukankah akan lebih


baik jika Lusi menjadi pribadi yang disukai oleh teman-teman setimnya? Andaikan saja Haruhiro memiliki lebih banyak keberanian, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk menunjukkan keberanian tersebut.


Tapi tidak mungkin dia bisa mengatakan sesuatu seperti itu. Tidak pada saat ini, dan tidak juga pada  suatu saat nanti. Yang dihadapinya sekarang adalah seorang gadis bernama Lusi, biasanya dia hanya akan berpaling tanpa menghiraukan lawan bicaranya. Dia akan mengatakan, "Cukup sudah. Selamat tinggal" lantas dia pergi begitu


saja.


"Sebetulnya, aku tidak punya urusan denganmu, sih…" kata Haruhiro, "tetapi apakah kau ingin makan malam bersama kami? Lalu pergi ke Kedai Sherry setelahnya?”


"Aku menolak dengan hormat."


"Mengapa menolak dengan hormat?"


Tatapan Lusi tertuju ke tanah dan alisnya menyempit sedikit. Dia tampak marah, tetapi Haruhiro merasakan bahwa gadis itu sedang malu.


"Tidak ada alasan khusus," jawabnya.


"Ah, aku paham. Maaf, karena sudah mengajukan pertanyaan aneh padamu.”


"Tidak apa-apa." Cemberut Lusi memudar, tapi dia masih saja tidak melihat ke atas. Dia menggeleng dan mulai berkata, "Aku akan ..."


Haruhiro menduga bahwa dia bermaksud mengatakan "Aku akan bertemu lagi denganmu besok". Sejujurnya, Haruhiro tak pernah menyangka bisa mendengar ucapan seperti itu muncul dari mulut Lusi, yang biasanya meninggalkan mereka begitu saja tanpa banyak omong. Meskipun begitu, pada akhirnya dia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.


Dengan memotong kalimat "Aku akan", ia pun berbalik dan berjalan pergi dengan cepat. Ada sesuatu yang aneh dengan langkahnya, hampir seolah-olah ia pergi dengan panik.


Marco mengejek. “Gadis yang mengerikan. Serius.”


"Benarkah?" Barto mengelus dagunya yang padat. Jenggotnya cukup gelap. “Aku merasakan sesuatu yang berbeda padanya hari ini.”


Vina mengangguk dengan penuh semangat sembari menyetujuinya. “Lusi berbeda hari ini. Vina merasa bahwa dia sedikit lebih imut hari ini.”


Marco melirik ke samping pada Vina. “Berhenti menggunakan kata ‘imut’ untuk mendefinisikan segala hal. Definisi imut begitu luas, sehingga aku tak paham apa yang coba kau katakan.”


"Tidak apa-apa jika Marco tidak memahaminya. Toh, Vina tidak peduli.”


"Apanya yang imut?!"


Setelah mereka menenangkan Vina dan Marco, mereka pun pergi ke pasar untuk mencari helm buat Barto.


Mereka menemukan berbagai jenis logam bekas yang dipajang pada suatu toko armor, dan membeli jenis "Barbute" dengan harga murah. Helm Barbute berharga murah karena ditempa dari satu lembar logam, sehingga proses pengerjaannya relatif lebih sederhana.


Helm itu berbentuk seperti ibu jari kaki seseorang yang besar, dengan bukaan berbentuk “T” pada bagian mata, hidung, dan mulut. Sekilas, helm itu tampak longgar dan mudah selip, tapi dinding helm bagian dalam yang dilapisi oleh kulit sepertinya cukup kesat.


Helm itu pas sekali dengan kapala Barto yang besar, tapi helmnya sudah tergores dan penyok, sehingga Marco menawarnya dengan gigih. Itu tak sia-sia, mereka akhirnya bisa menurunkan harga helm itu dari 42 perak, menjadi hanya 18 perak. Haruhiro membayar empat perak, Vina dan Alice masing-masing patungan 3 perak, dan Barto


memenuhi 8 perak sisanya.


helm itu turun menjadi hanya 18 perak. Jadi, berterimakasihlah padaku!”


Vina dan juga Alice menyipitkan mata mereka padanya, dan Haruhiro sedikit terkejut dengan bualan Marco,


tapi ia harus mengakui bahwa itu mungkin benar. Jika Marco tidak menawarnya dengan gigih, mereka tidak mungkin mendapatkan harga semurah itu. Perbedaan harga sebesar 24 perak sangatlah besar bagi mereka, namun berkat Marco, mereka bisa menghemat lebih dari 20 perak.


“Terimakasih, Marco.” kata Haruhiro dengan ekspresi serius yang disengaja.


Mata Marco melebar karena terkejut, dan dia memalingkan muka ke tanah. “A-Asalkan kalian menyadarinya.


Kemampuanku spesialku adalah me….. me ….. menawar harga? Atau, menurunkan harga? Ah, terserah. Kalian terus meremehkan kemampuanku, jadi lain kali kalian harus lebih menghormatiku, oke? Serius. Aku meminta bantuan di sini. Bukan berarti aku benar-benar mengharapkan sesuatu ...”


Mereka berencana untuk mencari toko-toko yang menjual pelat baja setelah makan malam. Tapi setelah makan malam, sepertinya tokonya sudah tutup, jadi akhirnya mereka pergi langsung ke Kedai Sherry. Lusi tak terlihat di sana, dan Haruhiro bertanya-tanya apakah Lusi sengaja menghindar datang malam ini karena ia sudah mengundangnya sebelumnya.


"Serius, gadis itu memang sungguh manis. Sama halnya seperti Vina," kata Marco. Tampaknya ia kecewa karena Lusi tidak berterima kasih kepadanya setelah ia menyelamatkannya pada pertarungan terakhir. “Dia tidak mengatakan hallo, dia tidak mengucapkan terima kasih, dan dia tidak minta maaf. Ampun deh. Gadis itu hanya manis penampilan luarnya saja, tapi hatinya busuk. Dia memang sungguh seksi. Meskipun tidak se-seksi Elf di Party-nya Souma, sih ...”


"T-tapi ..." Barto masih saja tidak melepaskan helm barunya. Sepertinya dia sungguh menyukainya. Pasti sulit untuk minum dengan kondisi seperti itu. “Terakhir kali Lusi menyembuhkan aku, dia mengatakan maaf kepadaku.”


"Berhenti berbohong, barto," jawab Marco. “Dia bukan orang seperti itu.”


“Aku tidak berbohong. Ketika aku terluka di bagian kepala saat itu, dia menyentuh lukaku dan bilang bahwa dia menyesal jikalau dia menyakiti aku.”


"Itu benar, dia ..." Haruhiro ingat sekarang. Dia tidak begitu mendengarnya, tetapi Lusi pasti mengatakan sesuatu kepada Barto. “Jadi, itukah yang dia katakana pada saat itu. Dia meminta maaf ...”


"Dia melindungi aku selama pertarungan terakhir," Alice mengangguk. "Dia tidak ramah, tapi menurutku, dia bukanlah orang berhati dingin, atau orang yang buruk."


"Lusi super imut!" Vina menyatakannya.


"Aku sengaja mengamati Lusi hari ini, dan-" Haruhiro menjelaskan segala sesuatu yang ia lihat selama pertarungan terkahir pada semua anggota Party.


Dengan caranya sendiri, tampaknya Lusi mengerjakan pekerjaannya secara menyeluruh dan tuntas. Hanya saja, dia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang apa yang dia pikirkan, dan dia juga sering berbicara dengan ketus. Dia memiliki masalah dalam sikapnya, dan itulah yang mengundang kesalahpahaman.


"Aku pikir jika kita berupaya untuk memahami mengapa dia melakukan segala sesuatu seperti itu,"


Haruhiro melanjutkan, "kita pasti bisa bekerja sama dengannya. Tapi pertanyaannya adalah, apakah itu cukup?"


"Kenapa kau repot-repot ingin memahami dirinya?" Marco mengejek, dan meneguk birnya. “Selama wanita sialan itu melakukan pekerjaannya, bukankah itu sudah cukup? Dan aku tidak yakin bahwa sejak awal dia sanggup melaksanakan pekerjaannya dengan benar!”


"Cara berpikirmu lah yang salah," jawab Haruhiro.


"Masalah buatmu? Abaikan saja pendapatku.”


"Jangan egois."

__ADS_1


“Aku tidak egois, hanya saja, aku bilang bahwa wanita sialan itu adalah orang luar, dan akupun demikian.”


Apakah Marco benar-benar merasa seperti itu? Haruhiro tidak pernah menyadarinya. Tidak hanya Lusi, ternyata Haruhiro juga tidak pernah berusaha untuk memahami Marco dengan baik. Sekarang dia baru sadar bahwa Marco seperti anak kecil. Jika dia tidak menyukai diabaikan oleh orang lain, maka dia harus lebih berhati-hati tentang apa yang dia katakan kepada orang lain. Perlakuan yang diterima seseorang sesuai dengan perlakuan orang tersebut pada orang lain.


Namun, mengatakan kepada Marco untuk memperbaiki sikapnya sama saja dengan mengatakan kepada dirinya untuk memperbaiki kepribadiannya sendiri. Itu adalah hal yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Baik – buruknya perilaku Marco juga tergantung pada perilaku Haruhiro padanya. Bagaimanapun juga, setiap orang memiliki sisi baik dan buruk yang harus diterima apa adanya.


"Maafkan aku, Marco," Haruhiro meminta maaf. “Ini salahku. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang.”


"I-Itu benar! K-kau lebih baik berhati-hati mulai sekarang, dasar idiot!”


"Kau tidak perlu memanggilku idiot."


“Tidak ada yang salah dengan memanggilmu idiot, idiot, idiooooooot!”


"Marco ..." Haruhiro mengusap bagian belakang lehernya.


Dia bahkan tidak lagi merasakan amarah. Marco hanyalah seorang bocah. Seorang bocah nakal, yang sangat nakal. Daripada menanggapinya, lebih baik membiarkannya dan meninggalkan dia begitu saja. Dan Haruhiro ingat bahwa Udin pernah melakukan hal yang sama.


Haruhiro mendesah dan melihat sekeliling kedai. Dia memperhatikan seseorang mengenakan jubah dengan simbol Orion. Itu adalah Gugus. Ia menaiki tangga ke lantai dua.


"Eh, aku akan pergi untuk menyapa Gugus."


"Apaaaaa?!" Marco protes. “Kau berencana untuk bergabung dengan Orion sendirian, kan?! Aku tidak akan membiarkanmu! Aku juga akan melakukannya!”


"Aku tidak berencana untuk melakukan hal seperti itu. Tapi aku kira, jika kau ingin menemaniku…"


"Kalau begitu, aku juga ikut." kata Barto.


"Vina mau ikutan juga!" Vina menyatakannya.


"Umm ... kalau begitu, aku juga," kata Alice. “Di sini sendirian agaknya ...”


Hati kecil Haruhiro bertanya-tanya apakah tidak masalah jika mereka beramai-ramai menyapa pria itu, namun akhirnya, mereka berlima memenuhi tangga untuk naik ke lantai dua. Gugs melihat dia datang sebelum Haruhiro punya kesempatan untuk mengatakan sesuatu, lantas dia berdiri dari tempat duduknya.


"Yah, lama tak jumpa, Haruhiro. Apakah mereka adalah rekan-rekanmu?”


Wow. Mereka hanya bertemu sekali, tapi ternyata Gugus masih mengingat namanya dengan benar. Haruhiro pun


terkesan. Dia juga menyadari bahwa di sekitar mereka berdiri anggota Klan Orion lainnya. Pasti ada dua puluh, tidak, lebih dari tiga puluh yang hadir di tempat ini. Lebih banyak laki-laki, tapi sekitar sepertiganya adalah perempuan. Semuanya mengenakan jubah putih Orion.


"S-Selamat malam," Haruhiro tergagap.”Umm ..."


"Ayo, ayo, ke sini," Gugus mengundangnya. “Haya, bisakah kau mengambilkan kursi untuk mereka?”


"Tentu." Yang disebut Haya adalah pria berambut pendek, dengan sedikit belahan pada matanya, dan ia membawa beberapa kursi dari tempat dia duduk sebelumnya. “Ini.”


Gugus kembali duduk, kemudian mengundang Haruhiro dan yang lainnya untuk mengambil kursi juga. Haruhiro melihat anggota Klan Orion lainnya, dan mereka sangat santun. Bukannya memelototi pendatang baru dengan pandangan penuh curiga, anggota Orion lainnya hanya berceloteh dengan tenang dan bercanda dengan sesama rekannya. Meskipun Haruhiro dan yang lainnya tidak memesan apa-apa, tiba-tiba satu set minuman diantarkan ke meja mereka.


Barto, Vina, Alice, dan bahkan Marco. Semuanya hanya bisa terhenyak tanpa kata, dan mereka terpesona pada anggota Orion lainnya.


"Jadi, bagaimana kabarmu selama ini, Haruhiro?" Tanya Gugus. "Aku melihat kau belum membeli kontrak pada Red MooN, tapi paling tidak, kau pasti sudah terbiasa hidup di sini, kan?”


"Ya, tapi bagaimana kau tahu bahwa aku belum membeli kontraku?"


"Semua orang tertarik pada apa yang dilakukan oleh para pemula. Kau bekerja di daerah Kota Tua Damroww, kan? Tampaknya tanpa sepengetahuan kalian, ada beberapa orang yang mengejek Party kalian dengan sebutan Pembasmi Goblin.”


"Ah. Yah, kami memang tidak memburu apapun selain Goblin ...”


Gugus terdiam beberapa saat, kemudian dia membenarkan posisi duduknya. “Aku turut berduka pada salah seorang rekan kalian.”


"Terima kasih." Tatapan Haruhiro turun ke meja, dan dia menggenggam tangannya dengan erat.


Bahkan Gugus tahu tentang itu. Tapi mungkin, berita tentang kematian seseorang bisa menyebar dengan cepat. Pada awalnya, Atalante terkesan seperti kota raksasa yang luas, tetapi kenyataannya, ini hanyalah suatu kota dengan segala sesuatu yang berdesakan, bahkan tidak banyak tersedia tanah kosong di kota ini. Itu berarti, dunia Red MooN hanyalah sesuatu yang kecil bagaikan kepingan logam.


Tampaknya Haruhiro harus berasumsi seperti itu, karena berbagai macam informasi tidak bisa disembunyikan, dan akan menyebar dengan sekejap.


Haruhiro melanjutkan, “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, dan aku hanya bisa bersedih. Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang sangat baik.”


"Mungkin aku terkesan seperti orang yang suka pamer," kata Gugus, “tapi aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan teman. Sebelumnya, aku juga pernah kehilangan sahabat.”


"Apakah begitu? Aku tidak tahu."


"Aku tak akan pernah melupakan perasaan itu." Gugus berbicara dengan nada yang tenang, tetapi di matanya terlukis kesedihan yang mendalam. Dia pun memandang Haruhiro dan yang lainnya secara bergiliran. “Meskipun kau beranjak dari kesedihan, mengukuhkan hatimu, dan kau mendekap sahabatmu yang kini masih hidup untuk terus melindungi mereka…. Rasa sakit itu masih saja membekas. Dekaplah sahabatmu dengan erat, dan habiskan waktumu yang berharga bersama mereka, karena sekali mereka pergi, kau tidak akan pernah bisa  mendapatkannya kembali. Selalu ada penyesalan, namun berusahalah dengan keras agar tidak meninggalkan mereka ...”


Tangan Haruhiro dan yang lainnya menepuk dada mereka masing-masing, sembari terus mendengarkan kata-kata


Gugus. Dekaplah sahabat yang saat ini masih bersama kalian ... Andaikan saja mereka memperlakukan Udin lebih baik, andaikan saja mereka memahaminya lebih baik dikala dia masih hidup . Andaikan saja mereka mencoba mengerti kepribadian Udin ... namun apalah artinya memikirkan hal itu sekarang.


Tapi karena hal itu, mereka harus benar-benar menjaga sahabat yang saat ini masih bersama dengan mereka, agar suatu hari nanti tidak berujung dengan penyesalan.


Haruhiro tidak tahu kapan ia akan mati. Begitupun dengan Barto, Marco, Vina, dan Alice. Dan Lusi juga. Haruhiro ingin memberikan usahanya yang terbaik untuk melindungi teman-temannya, jika andaikata pada suatu saat nanti ada sahabatnya yang mati, dia tidak menyesal. Dan dia juga tidak ingin teman-temannya yang lain merasakan


penyesalan yang sama.


"Gugus, bisakah aku menanyakan sesuatu padamu?" Kata Haruhiro.


"Tentu, jika aku bisa menjawabnya, maka tanya saja."


“Ini tentang Lusi. Aku melihat kau berbicara dengannya kemarin, dan pastinya kau juga tahu bahwa dia menjadi bagian dari Party kami sekarang.”


“Ya. Ada apa dengan Lusi?”


“Bisakah kau memberitahu kami segala sesuatu tentang dirinya? Mungkin aku bertanya pada orang yang salah, tapi walaupun aku mencoba bertanya pada Lusi, aku ragu dia mau berbicara kepadaku.”


Gugus mengetuk jarinya di atas meja. “Aku yakin bahwa ... Haya lebih pantas memberikan jawabannya pada kalian. Dia dan Lusi pernah berada pada Party yang sama sebelumnya.”

__ADS_1


"Benarkah?" Haruhiro mengalihkan pandangannya ke meja sebelahnya, di mana Haya meneguk minuman dari gelasnya.


Tatapan mata mereka bertemu. Haya memandang Haruhiro dan mengangguk.


__ADS_2