
Setelah dengan aman (atau mungkin tidak begitu aman) memperoleh teknik [WIDOW MAKER], Haruhiro dan yang lainnya kembali menjalani rutinitas sehari-hari mereka di Tambang Siren.
Marco telah belajar mantra Dark Knight disebut [DARK TEROR] yang menanamkan ketakutan Dewa Kegelapan Skulheill pada lawannya, sehingga pikiran lawannya menjadi kacau. Tergantung bagaimana cara itu bekerja, sepertinya teknik tersebut cukup berguna ... jika Marco cukup kompeten untuk menggunakannya dengan benar.
Barto kembali dengan teknik ganda [FORWARD THRUST] dan [REVERSE THRUST]. [FORWARD THRUST] adalah daya dorong satu tangan dengan jangkauan yang cukup panjang, sementara [REVERSE THRUST] adalah dorong yang digunakan sembari dia mundur. Kedua teknik ini adalah versi sederhana dari jurus umpan yang biasanya digunakan oleh Marco, dan ini adalah skill yang cukup membingungkan, yaitu [PROPEL LEAP] dan [JUKE STAB].
Alice belajar mantra [SHADOW BIND]. Sebuah elemental bayangan ditempatkan pada tanah, sihir ini akan melumpuhkan setiap musuh yang melangkah di atasnya. Namun mantra ini memiliki kekurangan, yaitu hanya satu elemental yang bisa ditempatkan pada satu waktu, sehingga musuh yang kuat bisa memaksakan diri untuk lolos dari ikatan sihir ini, dan sihir ini hanya berlangsung sampai dua puluh lima detik. Tapi seperti [PHANTOM SLEEP], skill pertempuran lawan mungkin tidak relevan pada dampaknya. Ini lebih mirip seperti sihir pendukung ketimbang skill serangan, tapi itu mantra yang cocok untuk kepribadian Alice.
Vina kembali dengan teknik [STAR PIERCE]. Dia telah banyak berlatih skill pisau lempar, dan dia juga mahir menggunakan berbagai senjata yang berbeda. Dia bahkan sudah membeli satu set kecil pisau lempar, ah tidak juga, menurut dia “Vina tidak tahu pisau mana yang harus dipilih, jadi Master Vina mengambilkan ini untuk Vina, yang ini juga, yang ini juga, dan yang ini juga. Master Vina membelikan ini untuk Vina, dan Vina sangaaaaat senang! Tentu saja, Vina juga membelinya dengan uang milik Vina sendiri ...”
Sepertinya Master Guild Hunter Vina mulai menyukainya, dan Haruhiro tidak bisa menyalahkannya.
Lusi kembali dengan mantra sihir cahaya [LIGHT OF JUDGEMENT], yaitu sebuah mantra serangan yang digunakan oleh Dewa Sihir Luminous, untuk menghukum musuh. Jangkauannya pendek dan kerusakannya rendah, tapi itu menyebabkan tubuh target menjadi mati rasa, dan memperlambat gerakan mereka untuk jangka waktu yang pendek. Lusi mungkin tidak berniat untuk bertarung langsung dengan teknik ini, melainkan hanya untuk memberikan dukungan pada Barto dan anggota Party garis depan lainnya.
Dengan skill baru yang dimiliki oleh semua anggota, kemampuan bertarung tim bisa dikatakan sudah cukup
meningkat. Kekuatan mantra baru Alice [SHADOW BIND] adalah tambahan yang cukup penting.
“Alice, itu luar biasa! Kau berhasil menghentikan seekor petua!” Haruhiro memujinya.
Mereka berada di tingkat ketiga Tambang Siren, dan terlibat pertarungan dengan sekelompok kobold yang dipimpin oleh salah satu bos tangguh yang lebih suka berdiri di belakang, dan memberikan perintah kepada para bawahannya di garis depan. Teknik Alice [SHADOW BIND] telah membuatnya tidak dapat melangkah maju. Walaupun gerakannya semakin terbatas, seharusnya si kobold bos tidak berhenti memberikan perintah pada para bawahannya, tapi sepertinya itu tidak terjadi karena dia begitu panik.
“Sekarang! Habisi para bawahannya!” Teriak Haruhiro.
Namun Marco tidak perlu diberitahu, atau dia mengabaikannya walaupun sudah diberitahu. Dia sudah menjulurkan senjatanya untuk menyerang si Bawahan A.
"Dark Knight datang! Demi Skulheill! Gemetarlah ketakutan, wahai orang-orang kafir! [DARK TERROR]!”
Kabut berwarna keunguan menelan Bawahan A, dan kabut itu memasuki tubuhnya melalui hidung dan mulut. Kobold itu mengeluarkan lolongan pendek dan melompat dengan liar di depan Marco.
"Ap-" Marco segera menahan pisau kobold dengan pedang panjangnya, tapi kobold tidak berhenti di situ. Dia meluncurkan serangkaian serangan ngawur secara membabi-buta. “Apa-apaan itu! Sialan!” teriaknya, sembari membelokkan serangan lawannya. “Seharusnya bukan begini!”
“... Dia tampaknya telah kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan baik.” komentar Haruhiro.
Pada akhirnya, Marco tetaplah Marco. Haruhiro merasa bodoh karena telah mengharapkan hal yang baik darinya. Ada dua kobold bawahan lainnya, Barto menghadapi Bawahan B, sementara Vina menuju Bawahan C, tapi Lusi berada di depan mereka berdua.
"O cahaya, di bawah naungan Dewa Luminous ... [LIGHT OF JUDGEMENT]!”
Bawahan B, yang sedang menunggu Barto, bermandikan cahaya pada sekujur tubuhnya.
Seluruh tubuhnya mulai kejang dengan hebatnya.
Barto segera menghabisinya dengan teriakan [RAGE CLEAVE], “MAKASIH!!”
Bawahan B roboh, dan Barto segera beranjak untuk membantu Vina. Barto sungguh dapat diandalkan, dan dia tidak akan menggunakan jurus barunya jika tidak dibutuhkan.
“Aku kira, tidak ada pilihan lain.” Haruhiro bergumam dan mulai membantu Marco.
Dia menuju posisi belakang Bawahan A, kemudian sesuatu tiba-tiba terjadi padanya. [DARK TERROR] milik Marco bukanlah skill yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti targetnya, melainkan skill yang membuat lawannya menggila karena kebingungan, dan tentu saja lawannya akan melancarkan serangan membabi-buta tanpa ampun. Marco gagal menggunakan skill tersebut, tapi Haruhiro sebenarnya malah diuntungkan. Bawahan A begitu terfokus untuk membunuh Marco, sehingga dia sama sekali tidak melihat Haruhiro. Dia dengan mudah mengambil posisi di belakang si kobold…. dan… [BACKSTAB]? Tidak, mungkin dia akan mencoba jurus barunya, "[WIDOW
MAKER]!"
Haruhiro melekat pada Bawahan A dan mengunci kedua lengannya untuk saat ini. Dia sudah begitu mahir melakukan teknik penguncian seperti itu, tapi dia masih belum menguasai teknik mengunci kaki lawan. Namun, posisi lengan lawannya yang terkuci sudah cukup baik bagi Haruiro untuk menancapkan belatinya, dan kemungkinan berhasil cukup tinggi. Dia menghujamkan belatinya ke pangkal leher kobold itu, lantas dia menggorok tenggorokan, dan melompat untuk menjauhinya.
Bawahan A tidak mati seketika, meskipun demikian, berada di dekat lawan bukanlah pilihan yang baik karena ada resiko terkena serangan balasan. Tapi itu bukan satu-satunya alasan mengapa Haruhiro melompat untuk menjauhinya.
"MAKAAAAAAAAANN INI!" Teriak Marco, sembari melompat ke depan, dan menyodorkan pedangnya ke kobold yang sudah sekarat. Kemudian ia menghabisinya dengan menusuk lagi tepat pada jantung, menggunakan segenap kekuatannya.
“YESSSS! AKU DAPAT VICE-KU! DAPAT VICE!!” Marco menyatakannya dengan teriakan gembira.
“Itu sembrono! Tusukanmu juga bisa mengenaiku!”
Haruhiro berteriak.
“Jika kau mati, maka aku akan dapat VICE lagi! YESSSS!!!”
Dasar dungu. Tapi Haruhiro sudah tahu. Seorang yang bodoh tetap akan menjadi bodoh, lantas apa yang perlu disesalkan? Namun Haruhiro masih saja merasa kesal. Dia ingin sekali marah sembari berteriak “sialan!!”. Tapi, mungkin akan lebih baik jika dia menahannya.
"YAH!" Vina berteriak, sambil menggunakan [SWEEPING SLASH] dengan cepat diikuti dengan [CROSS CUT]. Serangan kombinasi tersebut membuat Bawahan C kewalahan.
"MAKASIH!" [RAGE CLEAVE] dari Barto datang tanpa ragu-ragu, dan dia pun mengakhiri perlawanan kobold itu.
“Semuanya! Serang bosnya!” Haruhiro berteriak, tapi pekikan lantang itu membuatnya sedikit malu. Tapi teriakan pada timnya di saat-saat seperti ini juga memiliki efek untuk memotivasi, dan meningkatkan kerja sama tim. Dan ini bukanlah waktu untuk merasa malu. Bos kobold tidak lagi terikat oleh mantra, dan tim segera menyerbu ke arah bos kobold tersebut. Tentu saja, bos kobold akan memberikan perlawanan mati-matian untuk memberikan serangan balik. Apakah cara terbaik untuk berurusan dengan lawan seperti ini?
Haruhiro dan yang lainnya belajar mencari jawaban akan masalah mereka melalui pengalaman. Mereka berempat akan mengelilingi, bukannya menyerang secara acak, sehingga mereka menunggu monster itu untuk menyerang. Kemudian seseorang akan menyerang dan bertahan, sementara tiga lainnya melakukan serangan balasan. Mereka akan mengulangi proses ini sampai musuh roboh.
Akibatnya, mereka bisa menakhlukan kobold petua tanpa ada seorang pun pada tim yang cedera. Seperti biasanya, gerakan Marco sungguh aneh dan membingungkan, tapi Haruhiro memutuskan untuk membiarkannya, karena kemenangan sudah hampir pasti mereka raih.
__ADS_1
“Apakah kau sudah cukup bosan berada di tingkat ini?” Tanya Marco. “Musuh ini terlalu mudah. Sudah waktunya kita pindah, kita harus naik level. “
"Kita mulai lagi ..." Haruhiro mendesah.
Haruhiro masih belum sepenuhnya yakin setelah mereka mengalahkan seekor bos lainnya beserta 2 anak buahnya, tetapi ketika mereka menemukan sumur tenggelam yang menuju tingkat keempat, Haruhiro mulai mempertimbangkan bahwa turun ke bawah adalah pilihan yang layak untuk diambil. Semuanya bertarung sangat baik hari ini, dan ia ingin menjaga momentum ini. Di sisi lain, ia tidak ingin keberhasilan hari ini membuat mereka terlalu percayadiri. Di saat-saat seperti ini, mereka mudah sekali lengah.
“Hmm ...” Dengan sumur tenggelam yang berada tepat di hadapannya, Haruhiro pun mulai merenungkan sesuatu.
Dia pun 50-50, apakah mau turun ataukan tidak.
“Kapan kau akan menghentikan keraguanmu itu?!” Marco menuntut.
Dan Haruhiro harus mengakui bahwa saat ini, dan kali ini saja, Marco berkata dengan benar. Tampaknya kali ini Haruhiro menemukan kesulitan untuk bersikap tegas. Apa pendapat orang lain tentang pemimpin seperti ini? Ekspresi Alice dan Barto terlihat cemas. Vina menatap dengan tatapan kosong. Lusi juga tampaknya sedang merenungkan sesuatu. Marco adalah satu-satunya orang yang kesal.
Ini tidak baik. Ketika diperlukan suatu keputusan yang tegas, dia malah bimbang. Dan Haruhiro pun memutuskannya.
“Mari kita lanjutkan besok,” Haruhiro mengumumkan.
“APA!?” Marco langsung memprotes.
Haruhiro telah mengantisipasi protes keras dari Marco, tapi dia masih saja kesal.
“Tidak masalah jika kita kembali lagi besok, kan?” Dia menjawab. “Kita akan punya waktu untuk mempersiapkan mental terlebih dahulu menjadi lebih baik.”
“Aku sudah siap mental sekarang juga!!”
“Hanya dirimu! Bagaimana dengan yang lainnya?!”
“Jadi aku salah karena hanya aku yang sudah siap mental di sini!? Dan kalian hanya ayam-ayam pengecut!!” Marco meludah.
Wow. Sialan, perkataan itu cukup membuat Haruhiro kesal. Ia bisa saja meledak karena amarah. Haruhiro memejamkan mata dan memaksakan dirinya untuk mengambil nafas dalam-dalam. Marah tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Dia harus mengendalikan diri. Ya, pengendalian diri. Tapi kenapa? Mengapa ia harus berusaha sekeras ini untuk mengendalikan dirinya terhadap ocehan Marco?
Ini adalah kesalahan Marco. Ini semua salah Marco sialan.
Ketika Haruhiro membuka matanya, ia mengalihkan pandangannya dari Marco. Pengendalian dirinya akan menguap percuma jika ia terlalu sering melihat muka Marco.
“Kita akan mengakhiri perburuan di tingkat 3 hari ini, dan turun ke tingkat keempat besok. Marco tidak setuju denganku. Apakah ada orang lain yang juga tak setuju?”
Yang lainnya setuju dengan Haruhiro. Haruhiro sudah siap jika Marco terus menjejalinya dengan protes, tapi secara mengejutkan, Marco hanya mengangkat bahunya dan berbalik. Haruhiro masih tidak bisa memahami watak pria itu. Apa sih yang Marco pikirkan?
Pendapatan mereka relatif bagus hari ini. Setelah makan malam bersama-sama, mereka menuju ke Kedai Sherry
untuk minum.
Ketika Gori ikutan, percakapan semakin meriah. Gori dan Marco bagaikan dua ekor burung yang saling berkicau, mereka saling memeluk pundak dan menyebabkan kegaduhan bersama. Mereka punya kecocokan kepribadian, pikir Haruhiro. Dan semakin dia memikirkannya, semakin Haruhiro menyadari bahwa dia adalah salah seorang yang paling sering berselisih paham dengan Marco. Apakah karena ia tidak memiliki kepribadian yang cocok dengannya?
Haruhiro hendak pulang bersama rekan-rekannya yang lain, tapi kemudian ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, Haruhiro kembali ke kedai sendirian setelah memberikan beberapa alasan random pada teman-temannya. Di sana, dia melihat Lusi sedang duduk sendiri di ujung lantai pertama meja counter. Dia melihat Haruhiro mendekat, lantas gadis itu mengalihkan pandangan ke arahnya.
Untuk sesaat, ia bertanya-tanya dengan cemas, apa yang akan ia lakukan jika gadis itu menyuruhnya pergi ... Mungkin dia hanyalah seorang pengecut, seperti yang sudah dikatakan oleh Marco tadi siang. Dia sungguh tidak berani dan ragu-ragu. Untungnya, ketakutan itu tidaklah berdasar.
Lusi tersenyum sedikit dan bertanya, “Ada apa?”
“Ah, gak apa-apa, sungguh. Hanya saja ... apakah kau keberatan jika aku duduk sini?”
“Sama sekali tidak.”
Haruhiro duduk di sampingnya. Dia melihat gadis itu sedang menyeruput secangkir madu Mead lagi, sehingga Haruhiro pun memesan minuman yang sama dengannya. Belakangan ini, Haruhiro makan dan minum cukup banyak, sesuai yang dia inginkan. Dia tidak khawatir tentang uang, dan hati kecilnya mempertimbangkan untuk pindah dari pondok yang lusuh itu.
“Lusi, di mana kau tinggal? Emm” Dia panik, dan dia tidak bermaksud mengatakan hal itu. “Tidak! Tidak, maksudku ... aku tidak bermaksud ingin mengetahui di mana kau tinggal. Aku hanya berpikir kemungkinan untuk pindah dari pondok itu ... dan aku emm, bertanya di mana kau, kau tahu ... hanya bertanya ... untuk referensi…”
“Aku menyewa kamar di sebuah penginapan sederhana pada Jalan Kaen,” Lusi menjawab dengan santai. “Itu adalah tempat yang hanya digunakan oleh perempuan, dan aku sudah tinggal di sana sejak awal.”
“Oh. Aku mengerti ...” Haruhiro merasa bodoh karena menanyakan hal seperti itu. Andaikan saja ada lubang di dekatnya, dia pasti sudah masuk ke sana untuk menyembunyikan mukanya. Atau mungkin tidak. Dia merasa butir-butir keringat mulai mengalir di dahinya, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa, sehingga dia pun mengusapnya dengan satu tangan. “Hm. Pasti enak ya. Aku tahu bahwa kau akan merasa canggung jika ada cowok yang tinggal di sebelahmu.”
“Jika kau memutuskan untuk pindah dari pondok, aku mungkin bisa memperkenalkan Vina dan Alice kepada sang pemiliknya,” Lusi menawarkan.
“Ya, mereka mungkin akan sangat menghargai tawaran itu. Tapi, bukannya kami telah memutuskan untuk pindah rumah, atau sejenisnya. Kami bahkan belum berbicara tentang hal itu dengan serius. Semuanya masih nyaman-nyaman saja tinggal di sana, meskipun terkadang aku menginginkan tempat tinggal yang lebih layak. Kita semua sudah terbiasa hidup seperti itu.”
“Pondok Pasukan Cadangan ...” Lusi menutup matanya dan menyeruput minumannya lagi. “Aku jadi teringat masa-masa itu…...”
Haruhiro yakin bahwa Lusi masih tinggal bersama sahabat lamanya pada saat itu. Mereka adalah sahabat yang tidak lagi bersamanya sekarang.
“Tapi pondok semakin ramai baru-baru ini,” Haruhiro berkata sambil tertawa. Dia tidak bermaksud untuk tertawa, dan dia tidak tahu mengapa dia melakukannya. “Para pendatang baru juga ada, lagian kamar kami terpisah cukup jauh, jadi aku jarang menyapa mereka.”
“Orang macam apa mereka?” Tanya Lusi.
“Tidak ada yang seperti Hector,” jawab Haruhiro. “Tapi juga tidak ada yang menyedihkan seperti kita.”
__ADS_1
“Menurutku, kau tidak pantas memandang dirimu sendiri serendah itu.”
“Oh. Seperti itukah kesannya?”
“Sedikit.”
“Ya. Aku kira memang begitu.” Haruhiro merasa ingin mencekik leher dengan tangannya sendiri, namun dia malah melampiaskan rasa malunya dengan mengacak-ngacak rambut.
“Itu tidak baik. Aku berharap aku bisa memproyeksikan diriku agar menjadi lebih percaya diri, tapi ... kurasa aku bukan tipe orang seperti itu.”
“Seorang Haru yang percaya diri dan terlalu yakin?” Ekspresi Lusi melunak. “Kamu benar. Itu sama sekali tidak mirip seperti kepribadianmu.”
“Ya, aku sendiri juga tidak yakin. Tapi, akan terdengar baik jika aku mengatakan bahwa itu masih mungkin terjadi.”
“Apakah kau yakin bahwa dirimu tidak terlalu banyak memikirkannya? Apakah kau harus menanggapi ini dengan begitu serius?”
“Terlalu serius? Berfikir berlebihan? Aku? Tidak mungkin,” Haruhiro membantah.
“Sama halnya dengan Marco, kau menanggapinya terlalu serius dan itulah mengapa kau selalu saja berselisih padam dengannya,” Lusi menjelaskan.
“Ahh ... aku paham. Mungkin itu benar, ya. Aku harus mencari tahu cara untuk mengikhlaskannya, setiap kali dia mengatakan sesuatu.”
“Itu terjadi karena kau ingin mencari solusi sempurna, sehingga membuat semuanya jadi makin rumit. Aku pikir, akan lebih baik jika kau mengabaikannya begitu saja. Simpan keseriusanmu, dan gunakan itu ketika kau benar-benar membutuhkannya.”
“Abaikan saja, ya...”
Haruhiro tidak berpikir bahwa dirinya adalah tipe orang yang menanggapi berbagai hal dengan serius, tapi ketika menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan Party, ia menyadari bahwa dirinya selalu saja sensitif dan berpikir keras untuk menentukan pilihan terbaik bagi tim. Memang benar bahwa ia hanya melakukan terbaik yang dia bisa untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan serius, tapi itu mungkin terjadi karena dia bukanlah seseorang yang memiliki sifat bawaan sebagai seorang pemimpin.
Jika ia cocok untuk peran ini, jika ia memiliki apa yang diperlukan untuk memimpin, maka ia tidak akan berpikir tentang berbagai hal dengan begitu dalam. Dan kesimpulan yang dia dapatkan setelah berpikir berulang-ulang tetaplah sama, yaitu Jika ada seseorang di sekitarnya yang bisa memimpin dengan lebih baik, maka dia akan menyerahkan posisinya dengan senang hati.
Bahkan selama percakapan bersama Lusi, ia merasa bahwa gadis itu sangat cocok untuk memimpin Party ini daripada dirinya sendiri, dan dia tergoda untuk meminta Lusi menggantikan posisinya. Tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak bisa membiarkan dirinya melakukan hal yang begitu menyedihkan.
“Lusi, aku sudah lama ingin menanyakan sesuatu ...”
“Apa itu?”
“Tentang Tambang Siren.”
“Maksudmu ...” Lusi tampaknya memiliki banyak hal yang ingin diungkapkan, tapi tiba-tiba dia membungkam bibirnya.
Mulai besok, mereka akan turun ke tingkat keempat, kemudian akhirnya turun ke tingkat kelima, yaitu tingkat yang pernah dilewati oleh Party Lusi sebelumnya.
Jika mereka terus menuju ke sana, maka pasti suatu hari mereka akan mencapai tempat di mana sahabat Lusi pernah mati. Lusi harus menginjakkan kakinya di tempat itu sekali lagi.
Haruhiro tahu, pengalaman pribadi, betapa sulitnya itu bagi Lusi. Itu sungguh pahit dan memilukan hati.
Kemarahan mengisi perutnya setiap kali Haruhiro kembali ke tempat di mana seekor goblin ber-armor pernah membunuh Udin. Itu adalah kesedihan dan kemarahan luar biasa yang ingin dia tahan sekuat tenaga. Namun mereka pernah kembali ke tempat di mana Udin terbunuh, dan mereka berhasil membalaskan dendamnya. Jika dia bisa, ia akan melupakan keberadaannya.
“Aku hanya ingin tahu, apakah tidak masalah bagimu, jika kami terus melanjutkan perburuan di tambang tersebut. Kau tidak memaksakan diri, kan? Aku tidak bermaksud begitu sih, tapi ...”
“Ini tidak ... mudah,” kata Lusi dengan gigi tertutup. “Masuk lebih dalam ke tambang itu sama sekali tidak memberikan firasat baik padaku. Tidak sekarang, mungkin tidak pernah.”
“Aku kira juga begitu ...”
“Tapi ... itu adalah sesuatu yang harus aku lakukan,” katanya, sembari menggelengkan kepala. “Tidak, lebih tepatnya, itu adalah sesuatu yang ingin aku lakukan. Jika aku tidak melakukannya, maka aku tidak akan pernah bisa beranjak dari semua ini. Aku tidak pernah bisa melakukannya sendiri, dan kalau perlu, aku rela meminjam kekuatan orang lain untuk melakukannya ... maka aku ingin meminjam kekuatanmu. Kau dan yang lainnya. Karena kau dan yang lainnya telah menganggapku sebagai rekan dan teman.”
Entah kenapa, Haruhiro sangat tersentuh oleh kata-kata tersebut. Tidak, sebenarnya dia cukup memahami alasannya, itu karena dia sangat senang. Lusi sebenarnya tergantung pada mereka. Lusi menganggap bahwa Haruhiro yang lainnya sebagai teman, dan dia percaya pada mereka untuk bersama-sama melalui ini. Dan Lusi benar-benar mengatakannya dengan lantang pada Haruhiro, sehingga membuat Haruhiro begitu senang dan lega.
“Aku minta maaf karena telah menempatkan beban ini pada kalian semua,” tambah Lusi.
Kata-kata itu terucap dari mulutnya dengan begitu manis, sehingga Haruhiro ingin memberinya pelukan… tidak, tidak boleh, dia tidak akan berani melakukan hal segila itu. Dia tidak bisa melakukannya, dan ia tidak berpikir bahwa Lusi menginginkan hal semacam itu. Tapi pada saat ini, Lusi terlihat begitu imut, sehingga Haruhiro bersumpah akan melindunginya lebih dari apapun di dunia ini ... walaupun kemampuannya untuk melindungi seseorang masihlah diragukan.
“Ini bukanlah beban,” Haruhiro meyakinkannya dengan senyuman.
Haruhiro ingin menunjukkan bahwa memberikan kepercayaan pada dirinya adalah hal yang begitu bernilai, tapi Haruhiro sendiri tidak yakin apakah dirinya bisa mengemban tanggungan ini. Tapi setidaknya, Haruhiro ingin agar beban pikiran Lusi berkurang dengan membagi masalahnya bersama tim.
Haruhiro melanjutkan, “Ini sama sekali bukan beban. Kami akan meminjamkan semua kekuatan yang kami miliki.
Nah, kami akan melakukan segala yang kami bisa, dan jika kami tidak sanggup melakukannya, ya sudah…. Tapi, aku tidak terlihat sok keren, kan?”
“Aku tidak mempermasalahkan dirimu yang seperti ini, Haru.”
“Sungguh? Kamu berpikir seperti itu?”
Kemudian, dengan suara bisikan yang hampir tidak bisa terdengar oleh telinga normal, Lusi pun berkata, “Terima kasih.”
Whoa. Dan pada saat itu, Haruhiro merasa seolah-olah ia akan jatuh cinta padanya. Ah, tidak juga. Bagaimanapun juga, Haruhiro bukanlah tipe pria yang disukai oleh Lusi.
__ADS_1