KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 6 - Mengambil Jalan yang Panjang


__ADS_3

Manusia, adalah makhluk yang misterius.


Setelah terbangun dari tidur malam yang nyenyak, seakan-akan semua masalah, keraguan, dan keputusasaan yang pernah mereka rasakan tadi malam, kini lenyap begitu saja. Marco juga benar-benar terlihat normal, tidak berubah dari dirinya yang biasanya.


Semuanya sudah tahu bahwa mereka berencana untuk kembali ke Tambang Siren hari ini, dan telah diputuskan, mereka juga sadar akan kebutuhan untuk meningkatkan penghasilan sehari-hari. Mereka memasuki pegunungan, dan dengan mudah membereskan setiap tingkat yang berisi Kobold kecil dan Kobold pekerja yang mereka temui, dan terus turun ke tingkat kedua.


Mereka telah sampai sejauh ini kemarin, jadi tujuan hari ini adalah untuk mencapai tingkat ketiga. Haruhiro belum yakin bahwa semuanya sudah benar-benar terbiasa untuk bertarung melawan kobold, tapi tidak heran kalau sekarang mereka sudah bisa memprediksi dan mengikuti tiap gerakan musuh lebih baik daripada kemarin.


Mudah. Kita bisa melakukannya, tidak masalah, pikir Haruhiro. Tapi sikap optimis biasanya hanya di awalnya saja.


Sumur tenggelam yang mengarah ke tingkat bawah selanjutnya telah terlihat dari kejauhan. Di sampingnya ada...


“Apakah itu seekor kobold?” Haruhiro penasaran.


Seketika melihat sesosok musuh, semuanya menunggu, sementara Haruhiro memeriksanya sendirian. Saat dia mendekat, dia tak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Dia sangat besar. Apakah itu seekor Kobold petua? Kobold biasa hanya setinggi sekitar lima kaki, dan dia telah mendengar bahwa kobold petua tingginya berkisar antara setengah kaki lebih tinggi.


Hanya lima setengah kaki tingginya? Tidak lebih?


Kobold besar spesial itu punya tiga anak buah. Anak buahnya mengenakan pakaian yang syarat pertahanan, seperti: armor piringan, helm, tameng bundar dan pedang. Mereka terlihat lebih besar dari kobold biasa lain yang telah Haruhiro lihat sebelumnya, tapi walaupun begitu, kobold besar itu hanya sekali atau dua kali lebih besar dari yang biasa. Tapi bukan hanya tingginya yang tidak biasa...


“Hitam dan putih...” Haruhiro berbisik agak keras.


Dia memiliki bulu bercorak hitam dan putih. Corak... detak jantung Haruhiro bertambah cepat. Sial! Sepertinya mereka masih belum melihat Haruhiro, tapi kalau sampai ketahuan... Nggak lucu... itu mungkin sebuah lelucon, tapi tidak lucu sama sekali. Sial sial sial... pedangnya. Muke gile?! Panjang pedangnya mungkin sekitar empat kaki dengan lebar yang luar biasa... itu terlihat seperti pisau pemahat seukuran manusia.


Benda itu mungkin bisa membelah seseorang menjadi dua bagian, hanya dengan satu ayunan. Pedangnya pasti sangat-sangat berat, tapi kobold itu membawanya seakan-akan itu hanya seberat bulu. Dia pasti sangat-sangat kuat. Party Lusi yang sebelumnya melawan kobold itu? Itu benar-benar gila, Haruhiro tak bisa membayangkannya. Kita akan mati. Kita benar-benar akan mati.


Musuh terkuat yang pernah mereka hadapi sebelumnya adalah goblin berarmor piringan dan si hobgoblin, tapi yang ini benar-benar berada di level yang berbeda. Ia bahkan bukan lawan bagi mereka. Sial. Dia kuat. Bejibun kuatnya.


Haruhiro kembali ke kawan-kawannya. Meskipun ia tak bisa melihat mukanya sendiri, tapi ia yakin saat ini pasti ia terlihat pucat layaknya kertas putih.


“Itu Deathspot. Dia di sini,” kabar Haruhiro.


Alice tersentak, sedang Barto menghembuskan napas tajam. Mungkin Lusi telah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi, karena ia hanya mengerutkan alisnya dan memberikan sedikit anggukan.


“Deathboth...” bisik Vina.


“Deathspot,” Haruhiro secara otomatis membenarkannya, kebiasaan ini membuatnya agak tenang. Dia melirik ke arah Marco.


“Ayo! Tidak ada pilihan selain mengalahkannya,” Marco sedikit tertawa. Mungkin dia mencoba untuk terlihat seperti preman dengan cengiran di wajahnya, tapi semua yang dia perbuat benar-benar idiot.


Yah, Haruhiro sudah mengira dia akan seperti itu.


“Oke Marco,” balas Haruhiro. “Kau yang maju. Kami akan menunggu di sini. Semoga beruntung!”


“Jadi sekarang kamu gitu ya, huh?” ucap Marco. “Dasar pengecut sialan.”


“Tentu,” Haruhiro menyetujuinya tanpa masalah. “Jadi. Kau mau maju atau tidak? Apa yang akan kau lakukan? Cepat putuskan.”


“Sepertinya tidak ada pilihan lain,” Marco menggaruk dagu dengan menggunakan jari telunjuknya “selain mengalahkannya di lain waktu. Beruntungnya Deathspot, dia bisa hidup lebih lama...”


“Ya, ya, sangat beruntung untuknya.”


“Pergi dan katakan itu padanya, Haruhiro. Dia bisa saja mati di tanganku andaikan aku tidak bisa mengendalikan emosiku saat ini,” Marco memerintahnya.


“Pergi dan katakan padanya sendiri. Aku punya hal yang lebih baik untuk dikerjakan dengan waktuku.”


Tidak ada seorangpun selain Haruhiro yang ikut campur berdebat dengan Marco. Bahkan Vina, yang biasanya selalu mencemoohnya dengan cepat, tetap terdiam melihat perdebatan ini. Mungkin itu untuk menunjukkan betapa lelahnya dia. Haruhiro lalu menyadarinya, menjadi satu-satunya orang yang bercanda dengan Marco saat yang lainnya tetap terdiam membuat mereka terlihat seperti teman yang akrab. Pikiran itu membuatnya jijik.


Di sini ada lima sumur yang terhubung dari tingkat kedua ke tingkat ketiga, jadi tidak memakan waktu lama untuk menemukan yang lain. Tidak ada tanda-tanda kehadiran kobold atau semacamnya di sekitar sumur, dan tidak ada apapun yang terlihat di bawahnya saat mereka mengintip ke dalam. Meskipun begitu, pandangan mereka dari atas


agak terbatas.

__ADS_1


“Aku akan turun duluan,” ucap Haruhiro. “Jika di sana aman, maka aku akan memberi tahu kalian, sehingga kalian bisa mengikutiku.”


“Bagaimana kalau kau kenapa-napa?” tanya Vina, berkedip.


“Um, Aku akan berteriak, jadi datang dan selamatkanlah aku.”


Vina tersenyum lebar. “Siap.”


Merasa semangatnya sedikit terangkat, Haruhiro membalas senyumnya dan berkata, “Aku pergi.”


Tali sumur yang tergantung di atas terlihat rapuh dan sering dipakai, tapi itu tetap menahan berat Haruhiro saat ia mulai turun. Menjadi seorang Thief, menjaga keseimbangannya saat ia turun adalah hal yang mudah, dan dia telah sampai di bawah dengan cepat. Saat dia menengok ke sekitarnya, para kobold telah menantinya.


“Eh... selamat siang,” dia menyapa mereka tanpa perlawanan. Para kobold itu mengaum padanya. “Tidak ada waktu untuk berbasa-basi, huh?”


Haruhiro segera menyingkir saat salah satu dari kobold itu melompat ke arahnya. Dia besar tapi tak sebesar Deathspot, tapi masih terbilang besar. Seekor petua? Jadi inikah seekor kobold petua... mereka mengenakan armor dan sebilah pedang bermata-satu. Dua anak buah menemaninya, bersenjatakan yang sama.


“Teman-teman! Di bawah! Musuh! Gawat! Cepat! Tolong!” Semua yang Haruhiro bisa katakan hanyalah sepatah-patah kata.


Haruhiro mengitari si kobold petua dan anak buahnya, mencoba menjaga jarak antara dia dengan mereka. Akan tetapi, dia tak bisa berlari terlalu jauh dari sumurnya juga... tidak sampai semuanya turun kemari. Dia dibatasi oleh wilayah ini, tapi dengan adanya tiga dari mereka... jika saja hanya ada satu, dia mungkin bisa menghindari serangan musuhnya, tapi dengan adanya tiga dari mereka, ini sungguh mustahil.


Ketika dia mencoba berlari lurus, di depannya ada seekor kobold. Saat dia berbalik, kobold. Di sampingnya, kobold. Kobold, kobold, kobold. Sungguh kobold sialan.


Haruhiro menghindari serangan yang datang dari kobold petua, dan dia menggerutu saat pedang kobold itu menyayat pipinya. Dia hampir tidak merasakan sakit, tapi terkena sayatan membuatnya panik. Dia kehilangan pergerakan musuhnya, dan dia tak tahu apakah temannya akan datang ataukah tidak. Panik dan tak tertolong, dia hanya lari ke sisi lain saat ada kobold datang mendekatinya.


Tetap berada di sekitar sumur bukanlah hal yang bagus. Dia tak punya keuntungan, tidak mungkin dia akan mendapatkan keuntungan pada kondisi seperti ini.


Dia mendengar sorakan Marco, dan bertanya-tanya apakah dia pernah berpikir bahwa Marco sungguh bisa  diandalkan sekarang. Tidak. Tidak pernah. Bahkan sekalipun. Marco langsung menuruni tali dan segera berhadapan dengan si kobold petua, walaupun sesungguhnya akan lebih baik jika dia membantu Haruhiro terlebih dahulu.


Tapi Marco tak pernah berpikir sebelum bertindak. Dengan mudah, dia hanya melawan musuh terdekat dan terbesar yang ada dihadapannya, aksinya sungguh kurang peduli dengan temannya yang membutuhkan pertolongan, atau membantu rekannya yang sedang kesusahan. Tapi karena dia tak pernah terlalu memikirkan sesuatu, dia punya suatu kemampuan untuk langsung menyerang tanpa ragu-ragu. Mungkin itu adalah suatu hal yang bagus sekaligus buruk tercampur jadi satu.


Haruhiro mendengar auman Barto, lalu Vina berteriak, “Haru!”


“Oom rel ecktveldash!” Alice juga sudah datang.


Semuanya telah menuruni tali dan dengan dia di sini. Sedikit demi sedikit, dia merasa ketenangan kembali menyelimutinya. Marco telah berhadapan dengan kobold petua sebelumnya, tapi karena suatu alasan dia telah berganti dengan Barto. Sekarang, dia dan Vina masing-masing menghadapi satu, Kobold A dan Kobold B, dengan hormat.


“Haru, bagaimana dengan lukamu?!” tanya Lusi.


Haruhiro dengan hati-hati menyentuh pipinya, dan walaupun terasa sakit, tidak akan masalah jika dia membiarkannya.


“Aku tak apa! Obati aku setelah ini!” dia menjawab sembari pergi untuk membantu Vina. Dia bergerak memutari Kobold B, mengincar punggungnya sembari menganalisa situasi di sekitarnya.


Aku tak punya kemampuan ataupun kecakapan, tapi untuk saat ini, akulah pemimpinnya.


Semua hal telah dipertimbangkan, Marco baik-baik saja. Dia menggunakan [PROPEL LEAP] dan [JUKE STAB] untuk menjaga jarak dengan musuhnya sembari menunggu kesempatannya untuk menyerang, lalu dia menyerang dengan [HATRED’S CUT] atau [ANGER THRUST]. Seperti biasa, Haruhiro berpikir semua pergerakan itu sungguh tak berguna dan tidak efisien, tapi mungkin itu lebih ke gaya bertarungnya seorang Dark Knight daripada Marco. Masih saja, faktanya bahwa Dark Knight itu adalah Marco yang selalu saja membuatnya jengkel.


Barto dan musuhnya terlihat sebanding. Dia masih belum bisa melesatkan serangan mematikan ke kobold petua, dan sesekali si kobold petua bisa melesatkan satu atau dua serangan ke arahnya. Tunggu, tidak, itu tidak benar... Barto membiarkan pertahanannya terbuka terhadap si kobold petua.


Dia mengenakan armor tebal, jadi sebuah goresan di sini atau di sana hanya menyisakan sedikit bekas di armornya, tidak benar-benar melukainya. Barto menahan serangan mematikan dengan pedang raksasanya walaupun membiarkan armor tebalnya menyerap semua hantaman.


“Hobgoblin lebih kuat!” seru Barto, tiba-tiba melangkah agresif dan beradu pedang dengan musuhnya. Dia meneruskannya dengan memutarkan pedang raksasa ke sekitar pedang kobold itu, dan menarik pedangnya kembali. Dengan sebuah teriakkan, dia melesatkan [SPIRAL SLASH] tepat ke arah wajah kobold itu.


Serangan Barto menyayat pipi kobold itu seperti ketika kobold itu menyayat pipi Haruhiro, membuatnya melompat mundur dan panik. Barto maju, memperpendek jarak mereka sekali lagi. Melihat aksi Barto, membuat bulu kuduk Haruhiro merinding. Aura dari stabilitas yang Barto perlihatkan saat ia bertarung sungguh menakjubkan... tapi apakah itu juga karena Marco bisa membuat satu kobold lainnya hanya tertuju padanya?


Dan juga, Marco terlihat lebih kalem sekarang dibandingkan pertarungannya kemarin. Apakah semua itu karena pengalaman? Kemarin Marco benar-benar melawan kobold terakhir dengan membabi buta. Mungkin karena dia telah memaksakan dirinya di atas kemampuannya, dia menyadari cara terbaik untuk melawan kobold sendirian.


Kita tidak akan tahu kecuali kita coba sendiri... Apakah seperti itu?


Menghadapi segala suatu hal dengan hati-hati, tidak melakukan apa yang melebihi kemampuan mereka, dan menerapkan mental keselamatan adalah yang utama. Bahkan jika mereka mengalami kemajuan, lajunya akan sangat lamban. Tanpa ada satunpun yang membangkang perintah Haruhiro, itu mungkin akan menjadi suatu kemajuan yang butuh penuh perjuangan.


Apakah kita benar-benar membutuhkan Marco? Haruhiro tidak yakin dan mungkin dia tak ingin dirinya yakin. Tetapi Udin mengetahui keadaan Marco, walaupun dia masih tak menyukai Marco secara pribadi. Jadi sebuah keputusan tidak seharusnya berdasarkan suka atau tidak suka terhadap seseorang? Tapi Marco tak pernah bermasalah dengan Udin seperti yang dia lakukan pada Haruhiro. Ketika Udin terbunuh, Marco, dalam pribadinya, juga sama putus asanya dengan yang lain.

__ADS_1


Apa perbedaan antara aku dan Udin? Haruhiro penasaran.


Sesungguhnya, ada banyak sekali perbedaan. Dalam kemampuan bertarung dan kebijaksanaan, Udin sungguh mengalahkannya. Tapi Udin bisa akrab dengan Marco, sedangkan Haruhiro masih tak bisa akrab dengannya. Apa perbedaannya? Mungkin tak apa-apa kalau menyalahkan kemampuan dan kebijaksanaannya, lantas membiarkannya begitu saja.


Sebuah garis muncul, sangat tak terduga dan tanpa diinginkan. Garis cahaya yang kabur itu, bersinar lemah dan samar-samar, menghubungkan antara belati Haruhiro ke suatu titik di punggung kobold. Garis itu tidaklah lurus tapi tidak juga terlalu berliku-liku, lebih seperti jejak angin.


Haruhiro tahu apa yang harus ia lakuka, mengikuti jalur yang tersedia. Dia berharap dia bisa melihat garis itu setiap saat, tapi itu hanyalah suatu harapan. Hal ini terjadi kurang dari satu dari seribu kali, bahkan lebih banyak.


Saat Haruhiro berhadapan dengan musuh, satu hal yang pasti ia lakukan adalah berada di belakang mereka. Lalu dia bermanuver untuk tetap berada di belakang mereka sembari melihat tiap detik atau mungkin lebih sering mencari kesempatan untuknya menyerang. Dia telah mengulang proses ini lebih dari ribuan kali sampai saat ini, karena ia tak tahu cara yang lain.


Dia tak bisa berhadap-hadapan dengan musuh. Pertarungan pertamanya melawan tikus lubang dan goblin lumur telah tertanam dalam di dirinya, bahwa dia tak punya kemampuan untuk menang melawan musuh secara adil, pukulan demi pukulan. Jadi apabila ia bisa bersembunyi dan punya keuntungan, dia akan menyerang dari belakang di mana musuhnya kurang waspada.


Dia mengaku bahwa dirinya menyedihkan karena menggunakan metode semacam itu, tapi ia tak menganggapnya buruk. Pertarungan adalah antara hidup dan mati, kedua sisi bertarung dengan segenap hati dan tekad. Tidak ada yang lain selain tekad, tidak ada yang lebih serius, karena hal ini tidaklah sederhana atau mudah, tidak ada cara yang dilarang...


Atau begitulah yang Udin katakan dulu.


Saat Haruhiro melihat garisnya, dia menahan napasnya tetap tenang. Saat ia menjadi tergesa-gesa dan tak waspada, garis yang muncul di hadapannya akan menghilang. Itu akan menghilang jika ia mencoba menekuk lututnya untuk berlutut, atau jika ia melemaskan pinggang, siku, atau pundaknya. Dia juga tak punya waktu untuk melewatkan kesempatan ini. Dia harus segera bergerak. Tidak, itu bukanlah hal yang benar untuk melakukannya...


Saat garisnya muncul, Haruhiro merasa tubuhnya bergerak dengan sendirinya tanpa ia pikirkan. Mungkin mustahil untuk melesatkan serangannya jika tak seperti itu.


Serangannya mengenai sasaran dengan baik saat ini. Tubuh Haruhiro mengikuti, selembut mentega, dan pisau belatinya menancap ke punggung kobold tanpa perlawanan. Mungkin kurang tepat jika disebut bahwa Haruhiro tanpa sadar mengikuti arah yang garis sediakan, karena sejak awal dia telah dituntun, dan ia menyadarinya.


Kobold itu mengeluarkan suara mendeguk, lalu jatuh ke tanah setelah menghembuskan nafas terakhirnya.


“Whoo?!” Vina berkedip beberapa kali, terkejut.


“Vina, menujulah yang satunya!” Haruhiro berteriak.


Vina mengangguk beberapa kali. “Maaf! Vina baru saja terkejut, itu saja!”


“Oom rel ecktveldash!” Alice merapalkan mantra, menggunakan [SHADOW ECHO]. Wush! Bayangan elemental yang seperti-rumput laut terbang ke arah kobold petua. Ia menyadarinya dan mencoba menghindar, tetapi tak cukup cepat. Sihir itu mengenai pundak kanannya, dan, saat armor-nya mencegah sihir itu melukainya, [SHADOW ECHO] tak bekerja layaknya api atau sengatan listrik. Sihir itu menyebabkan kejang-kejang, bukan menyebabkan luka.


Pundak kanan kobold petua itu mulai bergetar, mencegahnya bergerak untuk beberapa detik.


“MAKASIH!” datanglah [RAGE CLEAVE] Barto. Si kobold petua menahannya dengan pedangnya, tapi kuda-kudanya patah. Barto menekannya menggunakan pedang raksasanya, memaksa senjata kobold petua itu ke samping, lalu membalikkan ayunannya dan menusukkan pedangnya ke sisi kepala kobold petua.


Kobold petua itu akan membalas serangannya, tapi sebelum hal itu terjadi, Barto menendangnya ke belakang dan melesatkan pedangnya lurus ke bawah, menghancurkan tengkoraknya.


“YES!” Haruhiro mengepalkan tangannya.


Satu kobold pekerja lagi. Marco masih mencoba menggunakan [PROPEL LEAP] untuk mundur dan mencoba untuk menarik kobold itu ke arahnya, tapi seperti yang diduga, kobold itu tak terpancing. Ia tak melangkah maju jadi Marco kembali melangkah maju, melesatkan [HATRED’S CUT] kepadanya. Lagi, kobold itu membaca gerakannya seperti buku yang terbuka dan dengan mudah menghindar ke kanan.


Dengan Marco yang bertumpu sebelah kaki, kobold itu mengambil keuntungan dari posisi sempurnanya untuk membalas serangan. Ia mengayun ke arah Marco, memaksanya untuk menjatuhkan dirinya ke tanah dengan sebuah erangan. Serangan kobold itu nyaris kena.


“Marco!” Haruhiro mulai berlari ke arahnya untuk membantunya.


“Menjauhlah!” Marco berteriak, mencoba berdiri dengan bertumpu satu kaki sembari menangkis serangan kobold itu. “Aku masih bisa melakukannya! Aku akan membunuh yang satu ini sendirian! Aku akan benar-benar membunuhnya dan memperoleh Vice-ku!”


“Bagaimana jadinya jika fleksibel?” Haruhiro membalasnya.


“Satu batu, dua burung! [PROPEL LEAP]!” Marco melangkah mundur, masih berlutut dengan satu kaki. “Wah! Ini adalah [PROPEL LEAP] yang baru! Aku baru saja membuat skill originalku yang keren abis!”


“Itu tidak terlihat berbeda dari skillnya yang lama...” Vina berkata dengan dingin.


“Ya,” Alice setuju.


“Benar.” Bahkan Lusi juga.


Barto melepaskan tawa yang keras namun terlihat terpaksa.


“Dasae belatung sialan!” Marco mengutuk kobold itu terus dan terus, sembari ia menyerang dengan membabi buta.

__ADS_1


Biarkan saja dia begitu, Haruhiro memutuskan. Atau paling tidak sampai dia nyaris terbunuh.


__ADS_2