
Meskipun begitu, banyak hal yang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Haruhiro menelan ludah dengan refleks. Dia telah bekerja keras dengan membulatkan tekad dan memandu
timnya untuk mencapai tempat tersebut, namun hanya kejutan yang mengakhiri perjuangannya.
"Tidak mungkin ..." bisiknya pada diri sendiri. Dia bahkan tak pernah membayangkan kemungkinan seperti ini terjadi. “Mereka semakin banyak ...”
Pada balkon bangunan bertingkat dua, terlihat Goblin berarmor sedang bermalas-malasan. Di lantai dasar terlihat Hobgoblin besar, yang masih dilengkapi dengan armor penuh dan helm. Haruhiro sudah menduga bahwa mereka berdua ada di sana, tapi ada dua Goblin lagi yang berkeliaran di sekitar bangunan. Mereka berdua mengenakan helm dan juga armor, dengan perisai pada salah satu tangan, dan tombak pada tangan lainnya. Bahkan ada pedang pendek di pinggang mereka.
Mereka pasti adalah para penjaga.
Goblin berarmor yang berada di lantai dua tidak hanya duduk dengan santai. Dia malah duduk pada kursi yang bagus, sembari menekuk salah satu kakinya. Dari mana dia mendapatkan kursi itu? Benda seperti itu tadinya tak ada.
Apakah Goblin berarmor itu berencana untuk mengumpulkan bawahan dan memperluas kekuasaannya? Haruhiro tak mungkin mengetahui jawabannya kecuali jika dia menanyai Goblin itu sendiri, namun tentu saja mereka tak bisa berkomunikasi. Yang jelas, ini bukanlah pertanda baik.
Haruhiro kembali ke teman-temannya dan melaporkan temuannya.
“Jadi ... ternyata bukan hanya dua, melainkan empat ekor. Dan itu hanyalah perkiraan, tapi aku pikir jumlah mereka akan terus meningkat.”
"Empat Goblin." Lusi memejamkan mata, alisnya menegang sembari dia berpikir keras.
"Hmm ..." Vina menggembungkan pipinya yang bundar, sementara Alice menunduk sambil menghela napas.
Barto mengetuk helm Barbute-nya.
"Ada apa dengan kalian?" Marco mengejek. “Jangan takut gitu. Biarlah jumlah mereka banyak, apa boleh buat. Berhenti berlagak payah, wahai pengikut Tuan Marco!”
"Sejak kapan kami menjadi pe…." Haruhiro mulai terpancing dengan kebodohan Marco, namun dia segera menyadari bahwa itu sia-sia saja. “Ah, sudah, lupakan.”
"Jangan berhenti di tengah jalan," Marco kembali memprovokasi. “Ayolah! Kenapa kau jadi melempem seperi ini, Haruhiro? Kita tidak bisa jadi saingan kalau begini! Tidak mungkin prajurit infanteri sepertimu dapat menyaingi Tuan Marco yang agung!”
Haruhiro mengabaikannya, lantas memandang Barto, Vina, Alice, dan Luci secara bergantian. “Jika kita beranggapan bahwa dugaanku benar, maka lebih banyak Goblin akan muncul, jadi kita perlu membuat keputusan sekarang. Tidak harus saat ini, kita bisa menunggu sedikit lebih lama lagi…. Tapi, haruskah kita meneruskannya, atau malah menyerah? Sepertinya aku masih belum ingin menyerah. Dengan kemampuan kita sekarang ini, aku yakin kita bisa menghabisi mereka berempat.”
Lusi menatap kaku pada mata Haruhiro, dan pandangan mereka saling bertemua. “Apa dasarmu berkata demikian?”
“Barto memiliki Equipment pertahanan yang jauh lebih baik, dan sekarang dia tidak perlu khawatir untuk melindungi dirinya sendiri, dan dia juga punya potensi untuk menyerang lebih baik. Alice selalu dapat menidurkan seekor Goblin bahkan sebelum pertarungan berlangsung, dan dengan busur Vina, kombinasi serangan jarak jauh mereka dapat diandalkan. Dengan skill [SWAT], bahkan aku bisa menikan seekor Goblin secara langsung. Dan kami juga memiliki kamu, Lusi.”
“Hei! Bagaimana dengan aku?” Marco protes. “Mengapa aku tidak dihitung? HAH?!”
"Kau tidak harus ..." Lusi memalingkan wajahnya dan memandang ke bawah. “Kau tidak harus tergantung padaku. Aku ... aku hanyalah seorang Priest yang membiarkan rekannya mati.”
“Dan kami adalah tim yang juga membiarkan Priest kami mati. Aku yakin kita semua di sini tak ingin hal tersebut terulang lagi. Tak pernah. Kau pun demikian, kan? Aku percaya padamu, Lusi.”
Lusi tidak menjawab. Dia menggigit bibirnya, seolah berusaha terus ... terus menahan sesuatu. Vina dan Alice menempatkan tangan mereka pada bahu Lusi.
"Aku akan mengatakan ini sekarang," kata Marco, sembari mendorongkan ibu jari pada dadanya. “Aku tidak akan mati walaupun aku terbunuh. Aku adalah seorang pria yang tak kenal mati, jadi jangan berbicara omong kosong tak berguna dengan mengkhawatirkan aku.”
Seketika Lusi mendongak, matanya menyipit begitu terkecil, dan sudut-sudut mulutnya bergetar sedikit. Benarkah dia sedang tersenyum?
Haruhiro tidak bisa mengatakan dengan pasti, itu adalah senyum yang begitu sederhana, tapi Haruhiro sangat ingin meyakini bahwa gadis itu benar-benar tersenyum. Senyuman itu menghilang secepat ketika datang, dan Haruhiro menyesal karena tidak melihatnya lebih lama.
"Aku mengerti," kata Lusi dengan anggukan. “Aku tidak akan membiarkan sahabatku mati lagi. Aku akan melindungi semua orang, jadi yakinlah padaku.”
"Baiklah kalau begitu." Ketika Haruhiro mengulurkan tangan kanannya, demikian juga dengan yang lainnya mereka menumpuk semua telapak tangannya, sembari meneriakkan 'Fight! Semua atau tidak sama sekali!' dan itu adalah ritual yang biasa mereka kerjakan sebelum memulai pertarungan.
Tepat setelahnya, Lusi, memiringkan kepalanya dan berkomentar, "Aku selalu berpikir bahwa ini agak aneh. Mengapa kalian mengatakan 'Fight. Semua atau tidak sama sekali?'"
Yang lainnya kembali menatap Lusi dengan senyuman, dan mereka mulai menguatkan diri untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Mereka pun membahas rencana sekali lagi. Ini dia. Ya, ini adalah hari dimana mereka mempersiapkan dan merencanakan segalanya.
[mungkin kalian lupa, tapi saya ingatkan sekali lagi bahwa lawan mereka kali ini adalah Goblin berarmor dan Hobgoblin yang sempat Haruhiro hadapi ketika Udin terbunuh.]
Karena jumlah musuh meningkat, maka mereka perlu membuat beberapa penyesuaian, namun tidak perlu membuat rencana baru mulai dari awal. Prioritas pertama mereka adalah menerobos penjaga, kemudian sampai pada Goblin ber-armor dan Hobgoblin. Dalam hal kekuatan, para penjaga hanyalah lalat kecil.
Jika memungkinkan, mereka akan melawan dan menyelesaikan dua penjaga itu secepat mungkin, kemudian kembali terfokus pada target utama. Mereka semua sudah lama membahas bagaimana cara mengalahkan Goblin ber-armor dan Hobgoblin, dan ini adalah puncak dari semua mereka pembahasan, dan perencanaan mereka.
Mereka bisa melakukannya. Mereka pasti akan menang.
Seperti biasa, Haruhiro bertugas sebagai pemandu jalan, dengan Vina dan Alice berada dekat di belakangnya, sementara Barto, Marco, dan Lusi mengikuti dari kejauhan. Kendala pertama adalah mendekati target agar masuk jangkauan skill [PHANTOM SLEEP] milik Alice, yaitu pada radius tidak lebih dari 65 kaki. Pada jarak sekitar 120
kaki dari targetnya, ada dinding yang bisa digunakan untuk bersembunyi, tapi setelah itu hanya ada tanah lapang dan bangunan tua itu sendiri.
Namun, setelah banyak melakukan simulasi di sekitar bangunan dan area yang lebih luas, mereka mengetahui bahwa jika mereka mengambil jalan tertentu di sekitar bangunan, mereka bisa mendekat sampai radius 30 kaki tanpa terlihat oleh musuh. Setelah mendekat, mereka pun berhenti seketika. Di balik tumpukan puing-puing inilah
mereka akan memulai serangan.
Ketika Haruhiro memberi sinyal, Vina menyiapkan busur dan mengaktifkan skill [SHARP SIGHT] sementara Alice
mengeratkan cengkeraman pada tongkatnya dan mengambil napas dalam-dalam.
Akhirnya. Goblin berarmor dan Hobgoblin itu akan menemui ajal mereka hari ini. Mereka adalah monster-monster yang membunuh Udin. Haruhiro dan yang lainnya melakukan yang terbaik untuk tidak memperlakukan mereka sebagai ajang pelampiasan atau balas dendam. Mereka melakukan itu karena kebencian hanya akan mengganggu pemikiran yang jernih. Kedua ekor Goblin tersebut bukanlah pusat pelampiasan rasa benci, melainkan hanya musuh biasa. Musuh yang kuat. Suatu penghalang yang harus mereka lampaui, dan mereka tak punya pilihan lain.
Haruhiro menjulurkan kepalanya dari balik puing-puing, dan….
Napasnya tercekat di tenggorokan. Karena panik, ia dengan cepat menarik kembali kepalanya.
Goblin berarmor telah melihat lurus ke arahnya.
"Kita sudah ketahuan ..." bisiknya.
Tapi bagaimana caranya? Entah bagaimana caranya, apakah si Goblin berarmor merasakan kehadiran mereka?
Mungkin mereka telah terlihat hanya karena kebetulan, mungkin si Goblin berarmor tanpa sengaja melihat ke arah Haruhiro ketika dia menjulurkan kepalanya keluar.
Dia tidak tahu, tapi itu tidak masalah. Haruhiro bertaruh dengan sekali lagi menjulurkan kepalanya dengan cepat kemudian menariknya lagi. Goblin berarmor menggenggam busur silang di tangannya, dan senjata itu dia tujukan secara langsung ke arah mereka.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kata Vina sembari menurunkan busurnya.
Wajah Alice sudah pucat ia semakin meringkuk di baling dinding.
Apakah Marco dan yang lainnya yang berada pada posisi agak jauh menyadari situasi mereka? Mungkin tidak. Mereka tersembunyi pada bayangan di dinding perimeter bangunan, dan kemungkinan besar mereka tidak bisa melihat kejadian ini dari posisi mereka.
Apa yang harus kami lakukan? Apa yang harus kami lakukan?
Kembali? Tidak, mereka tidak bisa melakukannya. Goblin berarmor meneriakkan sesuatu. Pesan. Dia pasti sedang menyampaikan pesan pada Hobgoblin dan para penjaga. Tak lama lagi, mereka akan menyerang. Mundur bukan lagi menjadi pilihan. Mereka harus terlibat dalam pertarungan, tapi masalahnya adalah busur silang itu. Jika salah satu dari mereka terkena tembakan panahnya, maka mereka hanya akan bernasib sama seperti Udin.
"Serahkan saja pada Vina" tiba-tiba Vina berkata.
"Apa ?!" Sebelum Haruhiro bisa menghentikannya, dia sudah membidikkan busurnya dan melompat keluar dari balik puing-puing. Goblin berarmor memberikan dia tembakan, tapi Vina berguling maju dengan kecepatan yang luar biasa.
Tikus lubang. Itu adalah gerakan tikus lubang yang bisa meluncur sekaligus bertahan pada waktu yang sama. Apakah Vina meniru gerakan tikus lubang untuk menghindari tembakan si Goblin? Sepertinya memang begitu.
Haruhiro menepuk bahu Alice. “Gunakan sihirmu!”
"B-Baik!" Alice muncul dari balik puing-puing, lantas melantunkan mantra sembari menggambar huruf dengan tongkatnya.”Oom rel eckt krom dasbor!”
Bola Elemental bayangan melonjak menuju Goblin berarmor. Hobgoblin di lantai bawah telah mengambil pentungnya, tapi dia masih belum beranjak. Dua Goblin penjaga lah yang mulai bergerak menuju Haruhiro dan yang lainnya. Itu bukanlah masalah besar. Jika mereka berhasil menidurkan peminpin mereka, maka ...
"Whoa!" Seru Haruhiro.
Goblin berarmor telah melompat dari lantai dua, menuju ke lantai pertama. Bola Elemental bayangan hanya menyenai udara kosong kemudian lenyap.
Rencana mereka kacau, sangat kacau. Ini gawat. Mereka telah gagal. Tidak! Kita masih bisa menyelesaikan ini. Mereka bisa kembali pulih, dan mendapatkan inisiatif lainnya. Jangan panik! Haruhiro menarik belatinya.
"Serang!" Teriaknya. “Alice, mundurlah ke posisi Lusi!”
"Baik!"
Marco dan Barto datang dari balik dinding perimeter, Vina menggunakan gerakan mirip tikus lubang lagi untuk menghindari tembakan busur silang. Goblin penjaga lainnya datang menuju Haruhiro.
Bagaimana dengan Goblin berarmor dan Hobgoblin itu? Sialan. Dia tidak punya waktu untuk mengkonfirmasi posisi mereka. Tombak! Tombak milik Goblin penjaga meluncur tepat ke arahnya, Haruhiro menangkisnya begitu saja dengan menggunakan belatinya.
Skill [SWAT] yang merupakan salah satu teknik pertempuran seorang Thief bukanlah serangan keras. Sebaliknya, skill itu membuat lawan kehilangan keseimbangan kemudian jatuh ke tanah, dan itu menimbulkan luka kritis. Namun, Goblin penjaga cukup kuat dan tidak peduli berapa kali Haruhiro menggunakan skill-nya pada Goblin penjaga, mereka terus datang padanya. Mereka bukanlah Goblin sembarangan, dan memiliki kemampuan di atas rata-rata.
"Aku akan menangani mereka berdua!" Teriak Barto.
Barto berniat untuk menghabisi Goblin berarmor dan Hobgoblin pada saat yang sama? Tidak mungkin. Itu mustahil. Namun hanyalah Barto yang sanggup membunuh salah satu dari kedua Goblin tersebut. Itu sebabnya rencana mereka adalah melumpuhkan Goblin berarmor terlebih dahulu. Namun, rencana itulah yang mengacaukan segalanya ketika tidak berhasil dieksekusi dengan baik.
Rencana A sudah gagal total. Bukankah akan lebih baik jika mereka mundur sekarang juga? Tapi sekarang sudah terlambat, dan tidak ada gunanya menyesal sekarang.
__ADS_1
"Itu……..!" Haruhiro menggunakan [SWAT] ketika dia mundur, dan terus bergerak ke belakang.
Tampaknya Marco dan Vina menghadapi Goblin penjaga lainnya. Alice telah melantunkan mantra [PHANTOM SLEEP] sekali lagi, tapi kali ini dia mengarahkannya pada Hobgoblin, bukannya Goblin berarmor. Sihir itu menghantam Hobgoblin dengan tepat, dan monster itu pun mulai tertidur. Tapi sebelum dia benar-benar tertidur, Goblin berarmor menampar pantat Hobgoblin dengan menggunakan telapak pedangnya, sehingga Hobgoblin
terbangun dari tidurnya.
Ia tahu tentang mantra kami, pikir Haruhiro. Rasanya seperti, Goblin berarmor bisa melihat semua kartu yang Haruhiro hendak mainkan.
"Vina!" Teriak Marco dengan marah. “Kita tak akan pernah membunuhnya kalau kau terus saja berputar-putar seperti itu! Hentikan itu dan bantu aku menghadapinya, bodoh!”
"Diam!" Teriaknya kembali. “Vina tidak ingin mendengar itu darimu!”
Vina mencoba mengelak dengan menggunakan gerakan tikus lubang lagi, tapi kali ini dia agak lambat. Atau mungkin Goblin penjaga sudah terbiasa melihat dia melakukan gerakan itu. Vina tersentak saat tombak musuhnya tertanam pada bahunya. Tampaknya tombak tersebut menusuk cukup dalam.
“Sial! Vina, apa-apaan itu!” Marco melompat, dan menyerang Goblin dengan sabetan diagonal. “[HATRED’S
CUT]!”
Goblin penjaga menahan serangan itu dengan menggunakan perisainya, sembari mendengus. Dia menggeserkan
cengkeramannya pada tombak, tersentak, dan melancarkan serangan balik dengan dorongan. Dia mendorong, menyabet, dan mendorong lagi. Goblin itu memberikan beberapa variasi serangan. Setelah Marco membelokkan aliran serangan lawannya, dia menguatkan kaki dan melesat ke depan. Inilah gaya bertarung Marco yang
mengandalkan serangan balik mematikan.
“[PROPEL LEAP]! Ke sinilah!” Marco berhenti. “Apa?! Mengapa dia tidak mengejar aku?!”
"Karena dia sudah tahu trikmu!" Haruhiro membentaknya, sembari terus menggunakan skill [SWAT].
Sementara itu, Lusi melantunkan suatu doa. “Oh cahaya, di bawah naungan Dewa Luminous ... [HEAL]!”
Seketika itu juga Vina diselimuti oleh cahaya hangat. Tidak seperti [CURE], [HEAL] tidak mengharuskan seorang Priest untuk mendekatkan tangan mereka pada cidera. Skill ini bisa digunakan untuk menyembuhkan orang yang terluka dari kejauhan, dan lebih efektif untuk luka pada bagian tubuh manapun. [HEAL] adalah mantra yang Udin
tidak dimiliki.
Tangan kanan Vina lebih dominan daripada tangan kirinya, dan cedera bahunya pastilah begitu serius, sehingga Lusi memutuskan untuk menyembuhkan tangan kanannya dari kejauhan. Dengan begini, Vina bisa bergabung kembali dalam pertarungan. Tapi sekarang Barto berada dalam kesulitan.
Entah bagaimana caranya, dia berhasil menghindari ayunan pentung milik Hobgoblin, tapi ia menerima pukulan demi pukulan dari pedang milik Goblin berarmor. Walaupun mereka hanyalah penjaga, Haruhiro harus cepat-cepat menghabisi mereka agar bisa membantu Barto. Apakah tidak ada cara? Apakah tidak ada metode lain?
Tentu saja, Haruhiro tidak bisa hanya duduk diam dan berpikir. Dia dipaksa melakukan [SWAT] lagi dan lagi untuk membelokkan serangan dari Goblin penjaga. Napasnya semakin terengah-engah dan tangannya mati rasa. Dia begitu kacau sekarang, dan semuanya akan berakhir ketika dia kalah. Dia begitu panik dan terjebak dalam situasi
yang tidak menguntungkan.
Jangan menyerah. Bertahanlah. Harus bertahan ... Walaupun dia meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-kata seperti itu, namun apa yang seharusnya dia lakukan sekarang?
"Haru!" Seseorang telah memanggil namanya. Bukan nama panjangnya, melainkan hanya setengah dari nama lengkapnya. Itu adalah seseorang yang belum pernah memanggilnya dengan sebutan demikian. Itu adalah Lusi. Suara itu milik Lusi.
Dia bahkan tidak menatap ke arahnya, tapi gadis itu benar-benar telah memanggil namanya. Haruhiro menduga bahwa mungkin Lusi ingin agar dirinya mendekat. Sehingga, sembari masih menggunakan skill [SWAT], dia secara bertahap mendekat pada Lusi dan Alice. Si Goblin penjaga pun terus mengikuti dirinya.
Ketika dia berpikir bahwa posisinya cukup dekat, dia pun berhenti.
Ketika Lusi berteriak "Berganti denganku!", Haruhiro melompat ke samping ketika Lusi melangkah. Dia menghentikan tombak milik Goblin penjaga dengan menggunakan tongkatnya….. tidak juga, dia tidak hanya menghentikan tombak itu. “ [COUNTER STRIKE]!”
Untuk sepersekian detik, tampak seolah-olah senjata mereka saling memantul satu sama lain, tapi kemudian Lusi menerima semua momentum pantulan, lantas menggunakan momentum tersebut untuk meluncurkan tongkatnya pada dada Goblin penjaga. Monster itu mendesah tajam dan mundur.
Sekarang! Sekarang atau tidak selamanya. Mengetahui bahwa Haruhiro hendak menyerang, Lusi terus menekankan serangan pada Goblin penjaga itu. Monster itu sekarang terpaksa bertahan, sehingga yang Lusi harus lakukan adalah terus menyerangnya sampai pertahanan tersebut jebol, namun tampaknya Lusi tak sanggup. Haruhiro sekarang berada pada posisi di belakang Goblin penjaga.
Ayo ayo! Munculah! Dia sangat berharap bahwa garis pembimbing yang berupa cahaya tak berwarna itu kembali muncul. Tapi cahaya itu tak kunjung keluar. Tak ada. Meskipun cahaya itu tidak muncul, masih ada harapan.
Haruhiro membantingkan belatinya ke punggung Goblin penjaga dengan segenap kekuatannya, tetapi karena Goblin itu memiliki armor, belatinya tidak menembus dalam. Goblin melolong, tapi Haruhiro segera mengulirkan lengannya untuk menancapkan belati di sekitar leher Goblin penjaga. Dia menarik belatinya keluar setengah, kemudian menancapkannya lagi. Lagi dan lagi, lagi dan lagi, ia menikam Goblin sampai monster itu menjerit dan memukul-mukul dengan gerakan liar.
Dia terus melakukan itu sampai Goblin tersebut kehabisan tenaga, kemudian roboh.
“Terimakasih, Lusi!” Haruhiro menghela napas, dan membuang tubuh Goblin penjaga yang tak lagi bergerak dan tak bernyawa ke tanah.
Dia memandang sekeliling, lantas melihat bahwa Vina dan Marco masih bertarung untuk menghabisi penjaga yang masih tersisa. Barto mendengus sekuat tenaga sembari dia menahan pentungan Hobgoblin dengan pedang raksasanya.
"Barto!" Haruhiro bergegas ke arahnya, tapi ia tidak berhasil sampai tepat waktu.
Goblin berarmor melompat ke arahnya, dan bukannya menyabet tubuh Barto, dia malah menghantam kepala Barto dengan menggunakan pedangnya. Percikan api beterbangan ketika pedang itu berbentrokan dengan helm barbute. Tidak peduli seberapa keras helmnya, tak seorang pun bisa tahan terhadap dampak tumbukan sekuat itu. Barto terhuyung, tapi ia mengayunkan pedangnya dengan liar, sehingga memaksa kedua Goblin itu untuk mundur.
Napas Barto terengah-engah. Tampaknya dia tidak mengalami pendarahan, tapi Haruhiro yakin jika dia melepas armor pelindung Barto, maka tubuhnya pasti dipenuhi oleh luka memar. Haruhiro yakin bahwa Barto adalah anggota Party yang menjalani pertarungan paling sulit. Namun demikian, ia masih saja mengayunkan pedang
"Aku baik-baik saja!" Teriaknya dengan nada tegar, sembari terus mengayunkan pedang. “Ini bukan apa-apa!”
Tampaknya ada sesuatu yang berubah pada dirinya.
Namun, ini masihlah buruk. Tidak peduli apapun yang dinyatakan oleh Barto, tak mungkin dia bisa menghadapi keduanya sendirian. Haruskah Haruhiro membantu? Dia hanya dipersenjatai dengan belati. Itu tidak akan mudah, bahkan itu adalah sesuatu yang mustahil. Tidak mungkin baginya untuk menembus armor Goblin sekeras itu, dan tidak mungkin baginya memberikan luka fatal pada tubuh Hobgoblin sebesar itu.
"Marco, pergilah untuk membantu Barto!" Haruhiro berteriak. “Aku akan menggantikan posisimu!"
“Ha! Aktor utama akhirnya datang!” Marco menyindir, dan dia melangkah tiga kali untuk mendekat pada Goblin berarmor. “[ANGER THRUST]!”
Goblin berarmor menangkis serangan Marco dengan mudah, tapi setidaknya, Marco telah berhasil mengalihkan perhatian monster tersebut dari Barto.
“Hei! Apa yang……!” lantas Goblin itu menghujani Marci dengan serangan beruntun, sehingga dia terpaksa bertahan tanpa melancarkan satu pun serangan balik.
Bertahanlah di sana, Marco dan jangan mati ... Dengan bantuan Marco, tekanan pada Barto semakin berkurang, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa, jika mereka tidak segera menghabisi Goblin penjaga, maka keadaan akan semakin gawat.
Goblin penjaga masih memegang perisai kecil dengan erat, dan semua titik vitalnya dilindungi oleh armor. Vina bukanlah seorang Warrior, sehingga tidak mudah bagi Haruhiro untuk mendapatkan posisi di belakang lawannya. Tapi ketika Haruhiro mempertimbangkan pilihan-pilihannya, Goblin penjaga melaju ke arahnya dan mengangkat tombaknya untuk dilempar.
Dia menargetkan aku?! Tidak mungkin!
Haruhiro berputar untuk menghindarinya, tetapi dia tidak cukup cepat. Tombak menyerempet tulang rusuknya, kemudian dia terpelanting ke tanah. Suatu erangan rasa sakit keluar dari bibir Haruhiro, dan itu membuatnya ingin meringkuk di tanah. Ketika ia meletakkan tangannya pada luka, rasanya basah karena ada rembesan darah. Itu sakit sekali, tapi bukanlah cedera serius.
"Haru!" Lusi memanggil namanya dengan khawatir.
Haruhiro berpikir bahwa Lusi mengkhawatirkan dirinya. Walaupun itu adalah pemikiran yang konyol, namun itu sudah cukup untuk membuat hatinya merasa senang.
"Aku baik-baik saja!" Ia menjawab seruan Lusi. “Kita harus menghabisi Goblin penjaga itu!”
"Aku ikut!" Kata Alice, sembari bergegas menuju Goblin penjaga.
Tunggu, apa sih yang dilakukannya?! pikir Haruhiro.
Rupanya, Lusi memikirkan hal yang sama. “Apa yang kau….!” Dia berteriak, namun seruannya putus di tengah jalan.
Goblin penjaga menghunuskan pedang dari sarung di pinggangnya, dan dia memperhatikan Alice yang mendekat sembari menggambar huruf elemental di udara.
"Oom rel eckt vel dasbor!" Serunya.
Voash! Bola hitam bergelombang ditembakkan keluar dari ujung tongkatnya. Tapi pada saat itu, Haruhiro menyadari sesuatu. Meskipun Elemental [SHADOW ECHO] tidak bergerak lambat seperti skill [PHANTOM SLEEP], tembakan itu tidak cukup cepat, sehingga lawan masih bisa menghindarinya. Dengan serangan yang lambat, seorang Mage harus mendekat agar jarak antara dia dan lawannya tidak terlampau jauh, sehingga waktu tempuh serangannya menjadi lebih singkat.
Dengan kata lain, Alice mengambil risiko dengan mendekati Goblin penjaga untuk memastikan serangan sihirnya mengenai target. Dan perjudian gadis itu tampaknya membuahkan hasil. Goblin penjaga membuat suara seperti orang tercekik ketika Elemental bayangan memukul tepat di wajahnya, dan seluruh tubuhnya mulai gemetar tak terkendali.
Vina melangkah maju, dengan Kukri yang siap menebas lawannya. “[CROSS CUT]!”
[CROSS CUT] setengah potongan. Serangan itu melucuti perisai pada lengan kiri Goblin penjaga, dan memberikan luka yang cukup dalam. Bahkan setelah Goblin penjaga pulih dari [SHADOW ECHO], dia tidak mampu menggenggam pedangnya dengan tepat.
Vina melakukan apa yang paling mereka butuhkan sekarang dan dia menekan lawannya dengan serangan tanpa berhenti untuk menarik napas, dia terus melancarkan serangan pada penjaga tersebut. Ini mempermudah Haruhiro untuk masuk pada posisi belakang lawan. Garis cahaya masih juga tidak muncul, sehingga ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Goblin penjaga meratap ketika Haruhiro membanting dan memutarkan belati ke punggung lawannya. Haruhiro membungkuskan lengannya yang satunya pada sekitar bawah dagu monster itu, kemudian mencabut belatinya keluar. Dia menusuk-nusuk dan mencabik-cabik korbannya beberapa kali.
Ketika lawannya berhenti meronta, Haruhiro tidak merasakan sesuatu yang khusus. Tapi kali ini, sesuatu yang menyesakkan mulai terasa pada dadanya, dan perutnya terasa mual. Membunuh seperti ini adalah perbuatan yang kejam, dan brutal. Meskipun mual, ia tidak berhenti.
Andaikan aku berada pada posisimu, mungkin kau juga akan membunuhku dengan cara brutal seperti ini. Maaf, tapi ini sama saja.
Ketika Goblin penjaga kedua telah terdiam, Haruhiro merasa sangat kelelahan, dan lukanya sakit. Tapi sekarang bukan waktu untuk mengeluh tentang hal-hal seperti itu. Akhirnya. Waktunya telah datang. Dia mengumpulkan kekuatan di ulu perutnya dan menyerukan sesuatu pada rekan-rekannya.
"Sedikit lagi!" Teriaknya, dengan segala kekuatan yang dimilikinya. “Aku akan membuktikan kepada kalian bahwa tidak percuma kita bertarung sampai sejauh ini!”
Tapi meskipun setelah mengatakan itu, Haruhiro tidak tahu persis apa makna kalimat tersebut. Mereka ingin membuktikan diri pada siapa? Bagaimanapun juga, Udin tidak lagi bersama mereka. “Sampai sejauh ini?” Apakah perjuangan mereka benar-benar sudah jauh, atau apakah itu hanyalah sesuatu yang ingin mereka percayai?
Dia berharap bahwa dia bisa mengatakan sesuatu yang lebih keren,dan lebih inspirasional. Ia ingin menjadi seseorang yang mengatakan hal yang keren dan inspiratif. Dia tidak ingin semuanya berakhir di sini. Dia juga tidak melakukan ini semua demi Crimson Moon, tapi dia ingin agar esok hari masih ada harapan. Ia ingin terus
bertahan hidup.
Dia tidak ingin mati. Paling tidak, dia tidak ingin ada yang mati.
Udin, bukankah kau juga begitu? Kau juga belum puas dengan apa yang selama ini kau raih. Kau pasti juga ingin melakukan lebih dan mendapatkan lebih. Haruhiro dan yang lainnya, mereka beruntung karena sudah bertahan sampai sejauh ini.
__ADS_1
Kami tidak akan mati. Kami akan hidup, dan terus bergerak maju. Kami akan merebut hari esok dengan tangan kami sendiri.
Demi hari esok, mereka harus menang di sini. Mereka harus membunuh kedua Goblin itu.
"Fokus pada Hobgoblin itu!" Haruhiro berteriak sembari berlari di belakangnya.
Vina menyerang dari samping sementara Barto memberikan dua pukulan liar secara berturut-turut di atas kepala Goblin itu, sembari mendengus. Hobgoblin membelokkan serangan pertama dengan pentungnya, tetapi serangan kedua merobek bahu kirinya. Meskipun pedang Barto tidak dapat menembus armor, kekuatan pukulan tersebut masih membuat Hobgoblin kesakitan. Monster itu menggenggam pentungnya dengan baik, tapi sekarang, pegangannya melemah.
"Teruslah menyerang!" kata Haruhiro, tapi ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, Goblin berarmor menerobos Marco dan mendekat pada Barto.
Dia memijakkan kaki dengan kuda-kuda yang mantab, kemudian menebaskan pedangnya dengan ayunan diagonal. Tidak mungkin ... pikir Haruhiro. Gerakan itu hampir persis seperti skill Barto, yaitu [RAGE CLEAVE], namun Goblin lah yang melakukannya. Barto menahan itu dengan pedang raksasa, dan mengunci gerakan mata pedangnya. Goblin berarmor berhasil melanjutkan serangannya, namun posisi Barto lebih
menguntungkan untuk memberikan serangan balik.
Dengan ayunan pedang, Barto memutar si Goblin berarmor, dan itu adalah serangan skill [SPIRAL SLASH]. Goblin berarmor segera melompat mundur, namun dia langsung menggunakan momentum itu untuk menyerang Marco di belakangnya.
Marco, yang benar-benar terkejut, menerima pukulan lawan dengan helm embernya, sehingga dia pun terhuyung-huyung. Dengan gerakan lebih cepat daripada lesatan panah, Goblin berarmor itu mendorong, serta mengayunkan pedangnya ke atas dan ke bawah. Dia melancarkan tiga serangan beruntun dengan menggunakan pedangnya pada Marco.
Marco mendengking. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mundur. Rentetan serangan datang begitu cepat, ia bahkan tidak bisa menggunakan [PROPEL LEAP]. Ini gawat. Marco pun kewalahan.
"Oom rel eckt vel dasbor!"
Alice lah yang menyelamatkan dia dengan menggunakan [SHADOW ECHO], bola Elemental bayangan menghantam Goblin berarmor pada bahunya. Selama beberapa saat Goblin itu bergetar tanpa kontrol, tapi itu sudah cukup bagi Marco untuk mundur dan menarik napas.
“Sial! Tak seorang pun meminta bantuanmu!” Marco menyemprot Alice dengan marah.
"Kartu as kita!" Haruhiro menekankan tangannya ke luka pada sisi tubuhnya.
Dia mengalami kesulitan mengabaikan rasa sakit pada sisi tubuhnya, dan kepanikan hanya akan menyebabkan kesulitan untuk berpikir dengan jernih. Dia melirik Alice dan melihat betapa pucat wajah gadis itu. Dia pasti telah kehabisan kekuatan sihir. Dia menggunakan energi secara besar-besaran setelah melepaskan [PHANTOM SLEEP] dua kali di awal pertarungan, dan sekarang dia juga telah menggunakan [SHADOW ECHO]
dua kali. Berapa banyak energi yang telah dia habiskan?
[PHANTOM SLEEP] bukanlah mantra efektif untuk digunakan pada musuh yang tengah berada dalam kondisi waspada penuh, dan [SHADOW ECHO] tampaknya tidak cukup efektif untuk menjadi faktor penentu kemenangan dalam pertarungan ini. Itu berarti mereka hanya punya satu hal yang tersisa. Dan ini adalah kartu as mereka ketika terdesak.
Mereka harus menyelesaikan semuanya sekarang juga. Sebelum pertarungan semakin melebar, mereka harus menghabisi Hobgoblin itu terlebih dahulu.
Haruhiro berteriak, "Barto, gunakan itu!"
Barto mendengus sebagai isyarat bahwa dia memahami apa yang Haruhiro maksudkan. Dia memasang kuda-kuda
yang mantab, dan mengeluarkan lolongan yang membuat seluruh rambut pada kulit Haruhiro berdiri. Itu merupakan skill Warrior [WAR CRY]. Skill ini bisa merusak semangat juang musuh yang sedang lengah. Skill ini tidak mengejutkan lawan, melainkan memberikan rasa takut.
Dan itulah yang terjadi pada Hobgoblin tersebut. Seluruh tubuhnya menjadi kaku, seakan lumpuh oleh ketakutan. Kelima panca indranya akan segera pulih, tapi jeda waktu sedetik pun sungguh berarti bagi Haruhiro dan yang lainnya.
Vina menyabetkan Kukri-nya dengan keras pada pinggang Hobgoblin itu. "[SWEEPING SLASH]!"
Barto mengambil langkah mundur. “TERIMA ...” ia mulai, kemudian melangkah ke depan, tapi kali ini dia melontarkan semua berat tubuhnya sembari melepaskan serangan mengerikan. “...KASIIIIIIIIIIHHHHHHHH!”
Dengan suara retak yang memekakkan telinga, pedang raksasa Barto tertanam dalam pada bahu Hobgoblin. Mungkin tulang selangkanya sudah hancur. Monster itu menjerit, mengerang, mendesah, lantas jatuh dalam posisi berlutut. Namun, hebatnya dia masih berusaha untuk bangkit.
Haruhiro tidak ingin ceroboh. Selama lawannya masih hidup, dia sama sekali tidak boleh ceroboh.
"Terima ini!" Teriaknya sambil memberikan tendangan ke bawah. Kakinya menghantam keras bagian belakang kepala Hobgoblin.
Hobgoblin pun lagi-lagi terhuyung, lantas Barto mendaratkan pukulan demi pukulan.
Itu tidak sederhana, tidak mudah. Ketika waktunya datang, kematian datang begitu mudah, begitu enteng, namun mencabut nyawa bukanlah hal mudah.
Itu adalah proses yang lambat, mengerikan, dan memang Haruhiro adalah salah seorang yang mengerjakannya. Jadi dia tidak punya hak memalingkan pandangannya, walaupun itu adalah pemandangan yang brutal dan berdarah.
Ketika Hobgoblin akhirnya berhenti bergerak, Barto tersungkur, dan armornya tampak naik-turun ketika dia bernapas berat. Pasti tidak hanya kelelahan yang menyiksa tubuhnya mungkin seluruh tubuhnya juga memar.
"C-Cepatlah!" Teriak Marco. “Cepatlah bantu aku!”
Haruhiro menoleh ke arah Marco dan melihat bahwa dia mengalami kesulitan menjaga keseimbangan, ketika dia
menangkis serangan dari Goblin berarmor. Marco sudah mencapai batas, atau mungkin sudah melewatinya.
“Kerja bagus, Marco! Kau menakjubkan!” Seru Haruhiro.
"Yoshaaaaa!" Marco menyetujuinya. “Kau baru menyadari kehebatanku sekarang?!”
Haruhiro dan Vina mengambil posisi di sebelah kiri dan kanan Goblin berarmor, dan mereka berniat menyerang dengan formasi mengapit. Namun Goblin berarmor mengayunkan pedangnya pada Marco sekali lagi, tampaknya dia mencari cara untuk meloloskan diri. Dia berlari, berlari, dan terus berlari. Apakah dia benar-benar berniat untuk
melarikan diri?
Tidak, bukan itu. Arah yang dia tuju adalah posisi Alice.
Alice sedikit terengah, matanya membelalak sembari ia mengaungkan tongkat di hadapannya. Tidak mungkin ... tidak mungkin bagi Alice yang mudah terintimidasi bisa memberikan perlawanan. Namun dia memang tak perlu melawannya.
"Mundur!" Lusi memerintahnya sembari melangkah di depannya.
Dia memiringkan badannya sambil mengacungkan tongkatnya pada posisi bertahan. Itu adalah skill defensif Priest [GUARD STANCE]. Goblin berarmor mengayunkan pedang padanya, dan Lusi tampak hendak mengelak ataupun menahan serangan tersebut.
Tapi dia tidak memiliki kesempatan untuk melakukan keduanya. Goblin berarmor mengayunkan pedangnya dengan cukup rendah sampai menghantam tanah, tetapi dengan kekuatan ayunan yang cukup keras, pedang itu terus melaju dan mencongkel tanah di bawahnya. Lusi memejamkan matanya agar tidak kemasukan percikan tanah.
Itu terjadi sepersekian detik. Dalam sepersekian detik, Goblin berarmor melompat mundur dan melemparkan sesuatu dengan menggunakan tangan lainnya. Suatu pisau. Dia sudah melempar pisau.
Lusi terhuyung, sembari memegangi perutnya dengan satu tangan. Dia terkena. Pisau itu tertanam dalam di perutnya.
"Lusi!" Teriak Haruhiro.
Tidak mungkin ... Tidak mungkin ini bisa terjadi. Udin. Lusi akan mati seperti Udin. Tidak mungkin. Tanpa berpikir, Haruhiro langsung saja menyerang Goblin itu. Dia tidak tahu apa yang yang harus dilakukan, dia tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Sebelum menyadari apa yang tengah dilakukannya, tiba-tiba dia berada pada jarak yang
cukup dekat dengan Goblin itu.
Pedang itu datang tepat ke arahnya dari sebelah kiri atas. Monster itu sengaja mengayunkannya secara diagonal sehingga Haruhiro tidak bisa menghindar ke sisi. Apa yang akan dia lakukan? Terus maju. Hentikan dia sebelum dia bisa mengayunkan pedangnya lebih jauh.
Mungkin aku akan mati, pikirnya. Tapi itu tidak terjadi. Haruhiro menjegal musuhnya dengan kecepatan penuh dari muka. Dia belum mati. Wajahnya terbentur pada kepala Goblin yang mengenakan helm, tapi Haruhiro tidak peduli. Ia bergumul ke tanah. Goblin berarmor mengatakan sesuatu, tapi itu bukanlah bahasa manusia, jadi Haruhiro
tak mungkin memahaminya.
Pedangnya. Dia harus fokus pada senjatanya. Haruhiro sebisa mungkin menahan lengan kanan Goblin dengan tangan kirinya. Monster itu meninjunya tepat pada rahang dengan menggunakan tangannya yang masih bebas, bukan hanya sekali, tapi lagi dan lagi. Kepala Haruhiro berputar-putar, dan rasanya seperti kesadarannya akan segera lenyap.
Jangan pingsan! Jangan pingsan! Jangan pingsan, kau bukanlah orang lemah! Dia terus mengatakan itu pada dirinya sendiri.
Haruhiro membalik cengkeraman pada belatinya.
Goblin berarmor tampaknya meneriakkan sesuatu yang terdengar seperti "Hentikan! Hentikan!"
Ya, benar ... enak saja memohon padaku untuk menghentikannya. Kata Haruhiro dalam hati.
Helm Goblin itu menutupi hampir keseluruhan kepalanya, kecuali celah mata. Itulah titik yang ditargetkan oleh Haruhiro, dia berniat menghujamkan belatinya ke sana. Akan tetapi Goblin itu meraih belati Haruhiro dengan tangannya yang bebas.
Kedua tangan mereka saling menahan belati sambil gemetaran. Sedikit lagi… Sedikit lagi belatinya akan mencapai celah itu. Tapi dalam situasi seperti ini, jarak sedekat apapun akan terasa jauh.
"Sialan! Sialan, sialan, sialan! Kenapa kau begitu kuat!!??" Haruhiro mengutuknya berulang kali.
"Haruhiro!" Suara itu adalah milik Barto, yang diikuti oleh derap langkah kaki.
Barto berlari ke arahnya. Tanpa melihat untuk memastikan, Haruhiro melompat mundur dari Goblin berarmor. Barto meneriakkan amarahnya, dan ia mengangkat pedang raksasa begitu tinggi di atas kepalanya, sampai tubuhnya membungkuk ke belakang. Kemudian dia mengayunkan pedangnya ke bawah dengan segenap tenaga bagaikan pegas yang mental setelah lama ditekan.
Terdengar suara bentrokan keras sampai-sampai perut Haruhiro bergejolak, dan dia tak habis pikir betapa hebat kekuatan temannya itu. Pedang raksasa itu telah memangkas kepala Goblin sampai bahunya. Tentu saja, makhluk itu sudah tidak lagi bernapas.
"Kita ... berhasil melakukannya?" Marco berbisik dengan lemah.
Vina menjatuhkan dirinya ke tanah. “Sepertinya begitu…”
"Aku tidak percaya ini." kata Alice.
Barto mengangkat pedangnya lagi, dan teriakan kemenangannya menggema sampai langit. Tapi ia juga tidak percaya bahwa mereka telah menyelesaikan pertarungan yang melelahkan ini, jadi dia berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan kepuasan.
"Maaf mengganggu," kata Lusi sembari mengangkat tangannya, “tapi bisakah aku menyembuhkan diri sendiri sekarang? Ini terasa….. eh…. sakit.”
"Kenapa kau meminta maaf?" Haruhiro meringis sembari menekankan tangannya pada luka. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak merintih kesakitan.
Mungkin akan lebih baik jika dia tidak menyentuh luka itu, tapi bahkan ketika dia melemaskan tangannya, rasa sakit itu masihlah berdenyut-denyut dan terus menyiksanya. Sangat sulit untuk berdiri, sehingga ia akhirnya meringkuk di tanah.
"Lusi ..." ia memulai. “Tidak harus sekarang sih, tapi ... ini sangatlah menyakitkan seperti siksaan neraka. Maaf, tapi bisakah kau menyembuhkan aku juga?”
__ADS_1