KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 7 - Serahkan Itu Pada Master


__ADS_3

Sebuah jimat milik kobold petua berharga tinggi. Entah itu sebuah anting-anting, cincin hidung, atau terkadang sebuah kalung, semuanya dijamin bakal laku terjual dengan harga lima perak karena batu mulia yang terpasang padanya. Bahkan pada suatu hari, mereka pernah menjual satu batu yang dihargai di atas empat puluh perak.


Tingkat kedua adalah tempat tinggal para kobold pekerja rendahan, sementara tingkatan ketiga ditinggali oleh para kobold pekerja atasan. Kepala dari para pekerja biasa dipanggil “bos”. Si bos ini secara fisik sama seperti kobold pekerja yang dia pimpin di tingkatan kedua dan ketiga, akan tetapi, tidak seperti para pekerja, mereka dilengkapi dengan peralatan tempur yang baik.


Bos itu beserta para bawahannya adalah target utama kelompok Haruhiro. Tingkat kesulitan pertarungannya sangat bergantung pada seberapa kompeten si bos itu. Bukan hanya dilihat dari kekuatan bosnya saja, tapi juga kemampuannya untuk mengoordinasikan bawahannya. Sebaliknya, pertarungan di mana si bos lebih memilih untuk berdiri di depan sendirian dan melawan semua musuhnya sekaligus, sangatlah mudah untuk dimenangkan. Di lain sisi, saat mereka menemui bos yang tetap berlindung di belakang dan memerintah, membuat pertarungannya menjadi sulit.


Manusia juga sama. Pada dasarnya, manusia cenderung lebih fokus terhadap musuh yang ada di hadapannya terlebih dahulu, dan hal itu mudah untuk dimaklumi. Mengejar musuh berbeda sementara kau mengabaikan musuh yang tepat berdiri di depanmu adalah jalan menuju kematianmu. Tentu saja, tak ada orang yang sebodoh itu, jadi bicara secara pragmatis, prioritas utama dalam pertarungan adalah untuk melenyapkan ancaman dengan segera.


Tapi, terkadang prioritasnya berubah. Sebagai contoh, saat seorang rekan dalam masalah, kau mungkin akan mempertaruhkan dirimu sehingga kau lengah diserang demi menyelamatkannya.


Lalu ada juga waktu di mana prioritasnya adalah sebuah perintah, tak ada pilihan lain.


Haruhiro mungkin tidak akan pernah memaksa seseorang mengambil risiko seperti itu, tapi bos kobold berbeda. Mereka mungkin akan mengaum dan memberi bawahan mereka sinyal untuk mengabaikan Barto atau Marco, dan malahan menyerang Lusi atau Alice. Dan entah itu karena memang berani, patuh atau takut pada si bos, si bawahan akan menjalankan perintah tanpa ragu demi mempertahankan hidup mereka.


Jika mereka benar-benar bisa melewati Barto dan Marco, hal itu akan menjadi sebuah masalah besar bagi tim. Alice yang berkelas Mage tidak punya keahlian khusus untuk pertarungan jarak dekat, sehingga semuanya harus melindunginya. Formasi tempur mereka akan hancur dan hal tersebut akan menjadi sebuah musibah.


Di sisi lain, jika mereka bisa langsung mengalahkan si bos, para bawahannya bukanlah ancaman besar. Saat Haruhiro mengetahuinya, mereka mengerahkan seluruhnya dengan strategi mengalahkan si bos secepat yang mereka bisa, agar membuat sisanya jadi tak berguna.


Sampai sekarang, dalam pertarungan pasti ada satu bos dengan dua atau tiga bawahan. Dengan komposisi grup yang sudah diprediksi ini, mereka memiliki keuntungan, dan mereka juga menjadi mahir untuk memburunya. Kalau seperti ini, turun ke tingkatan keempat atau kelima kelihatannya bukanlah ide yang buruk, dan ketika tangga turunnya sudah di hadapan mereka, motivasi mereka pun naik.


Haruhiro berkunjung ke Master Barbara di Guild Thieves, dan membayar empat perak untuk mempelajari teknik Thief baru, [WIDOW MAKER].


“Bisa kita mulai sekarang, Kucing Tua?” Master Barbara menyeringai.


Area latihannya adalah sebuah ruangan di dalam Kamp Guild Thieves Nishima yang disebut “Ruangan Racun Pembunuh”. Itu adalah sebuah nama yang menyeramkan dan kelihatan buruk, tapi kebanyakan ruangan di dalam kamp ini punya pola yang sama. Ruangan Racun Pembunuh itu sendiri cukup lebar, tapi tidak ada jendela sama sekali. Sebuah lampu gantung yang berisi lilin yang bisa dinaikkan maupun diturunkan, tergantung di atap dan memberikan secercah cahaya, meskipun begitu orang yang rendah hati bahkan tak bisa menyebut ruangan ini memiliki pencahayaan yang baik.


Kalau bukan karena lilin itu, ruangan ini mungkin sudah gelap gulita bahkan di siang hari. Atmosfer ini membuat Haruhiro sedikit risih.


Master Barbara berpakaian terbuka seperti biasanya, hanya saja, hari ini muka bagian bawahnya tertutupi oleh selendang hitam. Rambut panjangnya menutupi hampir seluruh wajahnya, kecuali satu mata, membuatnya terlihat sangat menyeramkan.


“Er... ya, master,” Haruhiro menjawab dengan sopan.


“Kau sungguh bertambah kuat, kan? Atau kau hanya berlatih untuk menguatkan bagian bawahmu?”


“Tidak, master. Aku tidak mencoba untuk—“


Haruhiro tak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Master Barbara tiba-tiba bergerak ke belakangnya. Sebelum dia sempat menengok, Master Barbara sudah menahan dia dengan kuncian penuh Nelson... atau semacamnya. Dia mengunci kuat-kuat kedua tangannya, tapi dia juga membuat kaki kanannya membelit di sekitar salah satu kaki Haruhiro, membuatnya benar-benar tak berdaya. Dan pisaunya tepat berada di atas pembuluh darah di leher Haruhiro.


[Kuncian Nelson adalah salah satu jurus gulat, di mana satu lengan ditekankan terhadap lengan lawanmu dari belakang, dan satu tanganmu membelit leher si korban (ini disebut kuncian setengah Nelson), ataupun kedua tangan digunakan untuk membelit leher si korban (ini disebut kuncian Nelson penuh.]


“[WIDOW MAKER] adalah sebuah teknik di mana kau langsung mencengkam targetmu dari belakang, seperti ini, lalu membunuh mereka. Jika aku ingin, tenggorokanmu mungkin sudah kuiris. Jika kau tak punya belati, kau bisa menghancurkan leher mereka. Dan kalau kau cuma ingin mencengkam mereka, daripada membunuhnya...” Master Barbara mengarahkan ujung belatinya dari lehernya ke selangkangannya. “Kau bisa menusuk mereka di bagian ini. Cukup efektif untuk cowok.”


“Uhh... benar,” ucap Haruhiro. “Ya, master. Er... Apakah kau bisa... melepaskanku sekarang? Karena, kau tahu...”


“Hmm? Oh, ya... Kau belum pernah berhubungan dengan seorang wanita sebelumnya, kan? Tidak terbiasa dipeluk seperti ini?” Master Barbara sedikit tertawa.


“Errr...” Haruhiro mencoba melepaskan diri, tapi Master Barbara menahannya kuat-kuat. “Wah! B-bisakah kau b-berhenti memainkan telingaku?!”


“Memang kenapa? Aku hanya bernafas biasa,” jawabnya.


“H-hanya saja... itu, err, titik lemahku...”


“Jadi begitu. Kalau begitu...”


“Huh?” Haruhiro tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tiba-tiba dia terjungkir balik di udara sebelum akhirnya terjatuh keras dengan punggungnya, sehingga menyentakkan angin keluar dari paru-parunya. Master Barbara menatapnya dari atas.


“Kalau kau bisa menggabungkan [WIDOW MAKER] dengan teknik lain, ada banyak cara untuk memanipulasi musuhmu,” dia melanjutkan. “Tapi pertama, kau terlebih dulu harus sudah terbiasa dengan efek teknik ini... dan kita akan terus melanjutkan sampai kau muntah darah.”


“...Um, aku tidak akan mati, kan? Master.”


“Tidak ada gunanya mengkhawatirkan hal itu, kan? Kau bahkan takkan sadar kalau kau sudah mati. Tapi kalau itu benar-benar terjadi, akan kupastikan kau dikremasi, jadi Kutukan si Wright King tidak akan membuatmu menjadi zombie.”


Apa yang akan dia lakukan jika dia mati? Yang lain tidak akan mengetahuinya, tapi semenjak pertemuan pertama dengannya, Master Barbara sudah seperti ini. Walaupun, dalam mata ujiannya, dia selalu berhenti saat hampir membunuhnya dan akhirnya Haruhiro bisa cukup mahir menggunakan teknik yang dia ajarkan. Mungkin dia hanya butuh mempercayainya dan menyerahkan latihannya padanya. Mungkin. Barangkali. Apakah ini benar-benar aman? Sungguh?


Untuk tiga jam ke depan, Master Barbara melancarkan [WIDOW MAKER] dengan semua variasinya kepada Haruhiro, terus-terusan sampai dia jatuh dan tak bisa bangkit lagi.


“Kenapa? Sekarang bukan waktunya untuk malas-malasan, Kucing Tua.”


“Maaf, master”


“Kalau kau tak bisa berdiri, kalau begitu kurasa kita harus istirahat,” ucap Master Barbara dan duduk tepat di perut Haruhiro. Haruhiro setengah tercekik. “Tahan itu. Latihanmu takkan berhenti bahkan saat kau istirahat. Kuatkan otot perutmu itu. Dan mungkin kita juga bisa melakukan sesuatu dengan otot pahamu, Hamm?”

__ADS_1


“Aku akan mati, sudah pasti aku akan mati...”


“Tapi ini bisa di toleransi, kan? Tidak banyak kok, orang yang mati karena latihanku.”


“Mereka benar-benar mati?”


“Aku bercanda. Mengapa aku mau membunuh sumber penghasilanku sendiri? Sekarang, naik level.”


“Urghhhh...” Haruhiro menggerutu saat dia menarik salah satu kakinya, sehingga menambah beratnya. Dia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menguatkan otot perut. Jika tidak, tidak mungkin dia masih bisa menahan beban tersebut.


“Dan dua kali lipat,” Ucapnya sembari menarik kaki satunya.


Sekarang seluruh berat tubuhnya membebani perut Haruhiro. Apakah perutku akan hancur? Jika ini adalah idenya


untuk melawak, itu tidaklah lucu.


“Mari berbincang sebentar,” Master Barbara menawarkan dengan sopan.


“Ti-tidak bisa,” Haruhiro mendesah.


“Bocah bodoh. Jangan tolak ucapanku.”


Dia menawarkan hal yang mustahil. Seperti biasa. Apabila Haruhiro tidak mematuhinya, konsekuensinya akan lebih buruk.


“U-uhh... bicara... tentang apa, master?” dia pasrah.


“Kau bisa ceritakan padaku sebuah kisah.”


“Aku sungguh... tidak punya sebuah, kisah. Master.”


“Ku-kurasa... begitu.”


“Kau punya cewek di kelompokmu, kan? Berapa banyak?”


“Ti-tiga,” Haruhiro mendesah.


“Paling tidak kau harus dapatkan satu. Tentu saja, kalau kau dapatkan ketiganya akan lebih baik.”


“Apa drama semacam itu dalam anggota kelompok terlalu merepotkan?” Master Barbara menebak.


“A-aku... tidak tahu, master. Aku tidak... punya pengalaman tentang hal seperti itu...”


“Bahkan walaupun hal seperti itu cukup merepotkan, kau tetap membutuhkannya. Itu mengingatkanku pada waktu aku masih seperti dirimu... Melakukannya secara diam-diam dengan ketua Party, sekaligus bermain-main dengan Mage laki-laki kami, dan juga sambil bermain-main dengan ketua dari Party lainnya. Yah, Party kami akhirnya bubar dengan cepat setelah hal itu terjadi, dan kejadian lain menimpa kami...”


“...M-Master Barbara... saat kau bilang ‘bubar’... m-maksud anda, andalah orang yang merusaknya, kan?”


“Ah, indahnya masa muda. Bukankah kau juga merasakannya?”


“Itu... lebih terdengar seperti... nafsu buta, master,” ucap Haruhiro.


“Jangan katakan hal seperti itu,” Master Barbara menghukumnya.


Haruhiro mendesah, tak bisa menahannya lebih lama lagi saat dia mengangkat kedua kakinya dan menggesekkan bokong ke dalam pusarnya. Tapi kalau dia mencoba untuk melawan dan melemparkannya, Haruhiro tak tahu apa yang akan dia lakukan padanya, jadi dia tak punya pilihan lain selain tetap diam dan pasrah. Meskipun, dia mengakui, keseimbangan Master Barbara sungguh menakjubkan.


“Tidak ada waktu lagi selain sekarang,” dia melanjutkan. “Berapa umurmu? Enam belas? Dan selama umur enam belas tahunmu itu banyak terdapat cewek dan cowok. Apa kau akan tenggelam atau berenang. Seiring berjalannya waktu, kau takkan bisa memutarnya kembali. Takkan pernah bisa. Jika kau tidak bergerak sekarang, gadis yang kau sukai mungkin akan diambil oleh orang lain. Biasanya, ada cowok lain yang ingin melakukannya dengan gadis yang kau suka juga, dan gadis itu akan hilang. Dan ketika kau melihat mereka melakukannya di lingkungan publik, kau sudah terlambat.”


“T-Tapi, master... tidak ada gadis yang aku sukai,” jawab Haruhiro.


“Sungguh? Apa kau serius?”


“Huh?”


“Kucing Tua. Sepertinya kau punya tekad untuk selalu bermain aman. Kau cuma menahannya karena kau tak mau menimbulkan masalah apapun di antara anggota Party-mu, kan?”


“I-itu... uhh...”


“Berdasarkan pengalamanku, laki-laki suka jatuh cinta pada gadis yang ada di dekatnya. Laki-laki memang sudah terlahir seperti itu untuk jatuh cinta pada gadis di sekitar mereka.”


Gadis di sekitar mereka. Vina, Alice, dan Lusi. Dia tidak membenci satupun dari mereka. Dia cuma berpikir bahwa keceriaan Vina membuatnya terlihat sangat imut, dan mereka pernah berpelukan sekali. Hal itu terjadi karena keadaan yang unik, tentu, tapi rasanya masih membekas. Atau mungkin, dia masih tak bisa melupakan hal itu. Tapi kalau ditanya apakah dia punya “perasaan” terhadapnya, Haruhiro tak berpikir demikian. Mungkin.


Alice... yah, dadanya sangatlah besar. Apa. Mengapa hal tersebut yang pertama hinggap di pikirannya? Apa dia seorang barbar? Seorang makhluk gua primitif? Dialah yang terburuk. Sungguh terburuk. Dan juga ada hal itu...

__ADS_1


Alice menyukai Udin. Atau seperti itulah kelihatannya. Tidak, hapus “seperti”nya. Tidak diragukan lagi. Tidak mungkin dia... tidak, tidak. Tak usah ditanyakan lagi.


Kalau begitu, Lusi? Lusi itu... Stylish dan cantik. Haruhiro, orang yang benar-benar sederhana, tidak mungkin punya sedikitpun harapan untuk bisa mendekatinya. Dia adalah rekannya, jadi itulah mengapa dia bisa mendekatinya, tetapi di luar hal itu, Haruhiro berpikir tidak ada apa-apa di antara mereka.


Beberapa waktu yang lalu, saat mereka berbincang tentang tipe mereka, Lusi berkata bahwa tipenya adalah orang seperti Barto. Bukankah itu berarti dia tidak melihat orang dari tampangnya? Tapi kalau orang itu adalah Barto, maka Haruhiro tidak punya kesempatan, kan? Layaknya sebuah bola salju di neraka. Tapi itu tidak terlihat seperti Haruhiro punya perasaan terhadap Lusi. Mungkin.


Dia hanya... berharap bisa membuat Lusi tersenyum kembali.


Hal tersebut akan sangat menyentuhnya jika dia bisa melihat seseorang secantik Lusi bisa tersenyum dari lubuk hatinya. Itu akan lebih dari menakjubkan. Tapi dia tidak tertarik dengan hal yang berbau romantis, pikirnya.


“Err... Master Barbara?”


“Ya, Kucing Tua?”


“Aku boleh tanya sesuatu?”


“Tentu saja, tentang cewek, kan?”


“Tidak juga...”


“Bocah menyedihkan. Mencoba menggantik topiknya, huh?”


“Tidak, master. Aku tidak bermaksud. Aku bahkan tak pernah berpikir seperti itu. Bukan itu. Sungguh.”


Haruhiro menceritakan padanya tentang garis yang muncul di hadapannya ketika pertarungan. Setengah muka Master Barbara tertutup oleh sebuah selendang, jadi agak sulit untuk membaca ekspresinya, tapi Haruhiro merasa dia mendengarkannya dengan seksama. Dia juga kembali menapakkan kakinya di lantai saat dia berbicara, dan


melepaskan bebannya dari Haruhiro.


“Aku mengerti,” dia mengucapkannya dengan nada panjang. “Itu bukanlah pertanda buruk.”


“Pertanda?”


“Tapi jangan salah paham. Itu bukanlah hal yang spesial.”


“Salah paham? Aku bahkan tak tahu apa itu.”


“Kau lamban, kan? Seekor kucing tua dengan seluruh inderanya.”


“Lamban? Aku tidak berpikir diriku ini lamban, master...”


“Tidak, kau lamban. Tapi. Untuk seorang cerdas yang membosankan, instingmu tidaklah buruk. Garis yang kau lihat dan kau rasakan, mungkin disebut begitu lebih baik muncul sekali atau dua kali pada seseorang yang sudah cukup berpengalaman.”


“Tapi itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, master. Tidak bisa kukatakan aku melihatnya setiap saat, bahkan tidak sekali dalam sehari, tapi...”


“Ya, di situlah letak masalahnya. Perbedaannya cukup besar tergantung pada orangnya.”


“Bagaimana denganmu, Master Barbara?”


Dia mengangkat bahunya. “Terkadang itu muncul, terkadang tidak. Kelihatannya kita tak bisa mengharapkannya untuk muncul dengan berkonsentrasi keras atau semacamnya.”


“Tapi ketika kau juga melihatnya, bukankah kau juga bisa melancarkan [BACKSTAB] dengan sempurna?”


“Walau begitu, itu bukanlah hal yang bisa kau andalkan, kan?”


“...tentu saja. Itu benar-benar tak menentu. Hampir seperti sangat acak.”


“Tepat sekali. Berlatihlah untuk menyempurnakan teknik bertarungmu. Dan menguatkan otot-ototmu.”


Haruhiro mendesah sekali lagi saat Master Barbara mengangkat kakinya lagi. Dia tak bisa melihat ekspresinya, tapi kemungkinan saat ini dia sedang menyeringai layaknya wanita gila dibalik selendang itu.


“Jalanmu masih panjang. Kau harus membangun stamina dan kekuatan kalau kau mau melakukannya dengan seorang gadis setelah membunuh lima, atau enam orc. Karena kau bukanlah kucing tua yang sebenarnya.”


“A-aku tak masalah menjadi kucing tua, master...”


“Gak usah kurang aja, sialan!”


“ARGH...”


Master Barbara memukulnya di sekitar selangkangannya, membuatnya hampir pingsan.


“Uuuups. Aku sedikit berlebihan tadi.”

__ADS_1


Kalau dia tetap berlatih di sini, Haruhiro merasa cepat atau lambat, dia akan jadi mandul.


__ADS_2