KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Episode 6 - Permulaan yang Lambat


__ADS_3

Pada bagian selatan Atalante terhampar serangkaian pegunungan terjal dan tinggi yang dikenal sebagai Gugusan Pegunungan Tenshun.Pegunungan Tenshun membelah benua Hormuz menjadi dua bagian. Bagian selatan adalah daratan, sementara wilayah utara, termasuk Atalante, dikenal sebagai perbatasan.


Atau setidaknya, "perbatasan" adalah nama yang diberikan oleh kaum manusia. Benua Utama, Atalante, wilayah perbatasan, bagian utara Pegunungan Tenshun, semua itu berada di dalam kawasan kerajaan manusia, Aravakia. Namun, sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu, daerah perbatasan sama sekali tidak layak disebut perbatasan. Di masa lalu, ada beberapa kerajaan manusia, dan manusia adalah ras dominan di Hormuz.


Namun, semuanya berubah setelah kedatangan Wright King, yaitu makhluk pemilik sihir setan yang menakutkan. Selain memiliki kekuatan militer dan sihir, dia jugalah seorang politikus yang cakap. Wright King melahirkan ras baru yang disebut Undead, kemudian para pemimpin Undead melakukan hal yang lebih kejam daripada sekedar penjajahan. Ia meyakinkan para pemimpin ras lain untuk mengakui otoritasnya, dan membentuk konfederasi raja


bersama dengan mereka. Lantas, mereka berperang melawan kerajaan manusia. Manusia dengan mudah dikalahkan dan terpaksa mengungsi ke bagian selatan Pegunungan Tenshun.


Setelah itu, Wright King dinominasikan oleh sesama raja untuk menjadi kaisar, dan dengan demikian Kekaisaran Undead pun lahir. Sampai kematian Wright King sekitar seratus tahun yang lalu, sebagian besar manusia tidak dapat menginjakkan kaki di wilayah utara Pegunungan Tenshun. Akan tetapi dengan hilangnya sang pemimpin yang mempersatukan mereka, Kekaisaran Undead pun berantakan. Dengan mengambil keuntungan dari kesempatan ini, Kerajaan Aravakia mendirikan Atalante sebagai kubu mereka yang terletak di utara. Dan kota ini pun bertahan sampai jaman ini.


Dan tentu saja, semua informasi ini telah diperoleh oleh Udin.


Tanah di seberang selatan Pegunungan Tenshun, Atalante, sebagian besar digunakan untuk pertanian atau memelihara ternak. Terdapat juga banyak desa yang menghiasi pemandangan. Di sebelah utara, terdapat tanah


terbuka dan hutan.


"Dan di sekitar sini," kata Vina sambil mengusapkan tangannya pada rumput, "ada rusa, rubah, dan hewan-hewan


lainnya. Dan karena saat ini adalah musim semi, maka beruang akan muncul. Lalu, ada makhluk kecil, berbulu, bermata bulat, dengan ekor panjang dan tipis… telinga, tangan, dan kakinya kecil. Dia melompat-lompat di sekitar. Dia imut, kan? Terus ada juga tikus lubang yang besarnya seperti kucing, dengan bulu super lembut.”


"Sungguh?" Marco bertanya sembari menyilangkan tangannya dan melihat-lihat ke sekitar. ”Aku sama sekali tidak


lihat hewan seperti itu di sini."


"Err .." Vina mengerutkan kening.”Tapi ketika Vina dan Master Guild pergi ke luar untuk berlatih, dia membuat suatu


permainan dengan menggunakan busur dan panahnya.”


"Mungkin mereka hanya sedang bersembunyi," kata Udin sambil menunjuk ke wilayah hutan di sebelah kanan mereka.”Di daerah hutan."


Haruhiro mengangguk.”Kamu mungkin benar. Jika aku adalah binatang liar, aku tidak merasa aman ketika berada di tempat terbuka, yang tidak ada satu pohon pun atau semak-semak untuk bersembunyi.”


Marco mendengus dengan nada mengejek.”Lihat? Mereka semua tahu bahwa aku adalah orang yang perlu mereka takuti.”


"Jadi, jika kita tidak menemukan seekor pun hewan buruan, maka ini semua salahmu."


"Diam, Haruhiro! Ini semua BERKAT aku! Semuanya berhutang padaku!”


"Kau saja yang diam. Meskipun mereka benar-benar berada di sekitar sini, mereka pasti akan lari setelah mendengar teriakanmu.”


"DAN ITU SEMUA BERKAT DIRIKU."


"Tidak ada gunanya, anak itu sudah tak tertolong ..."


"Um." Ini adalah pertama kalinya Alice yang semula diam, kini mulai bersuara. ”Apakah kita akan ... membunuh hewan?”


Semuanya tiba-tiba berhenti seketika.


Kalau dipikir-pikir, pekerjaan pasukan cadangan adalah mempertahankan kota dari serangan ras lain dan juga para monster. Tidak ada yang mengatakan bahwa pekerjaan mereka adalah berburu hewan, menjual daging atau kulit.


"Master Guild Vina mengajarkan pentingnya berterimakasih pada hewan yang kita bunuh.” Vina mengerutkan kening.”Tapi Vina suka binatang dan tidak ingin membunuh mereka. Mereka sangat imut, dan Vina akan sedih jika mereka dibunuh ...”


Marco mengejek dengan jijik.”Simpan rasa kasih sayangmu terhadap sesama makhluk hidup, wahai Tuan Putri. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati, dan berada pada naungan Skulheill. Aku tak punya simpati pada makhluk yang harus aku bunuh agar diriku bisa terus bertahan hidup.”


"Nah, kalau begitu." Vina tiba-tiba menarik panah, dan membidikkan ujungnya langsung ke arah Marco.”Tidak akan masalah jika Vina membunuh Marco, sehingga Vina bisa terus bertahan hidup.”


Marco tergagap dan bergerak mundur.”B-B-bodoh! Jangan mengatakan hal-hal bodoh seperti itu, dasar cewek berdada papan cuci! Apakah kamu serius?! Sudah, hentikan! Apa yang akan kamu dapatkan dengan membunuhku?!”


"Vina akan merasa lega setelah membunuhmu. Lagipula, kau mengejek Vina dengan sebutan dada rata."


"K-Kau sendiri yang berkata begitu! Dada Vina benar-benar rata."


"Walaupun Vina berkata beitu, bukan berarti Vina mau mendengarkan kata-kata itu dari mulut orang lain. Terutama dari pria yang menyakiti perasaan Vina.”


"M-maaf! Maafkan aku!” Marco melompat ke depan dan bersujud di atas tanah.”Lihat, aku sedang minta maaf! Ini salahku! Mohon maafkan aku! Dada Vina tidak datar! Dadamu besar! Besar! Raksasa! POKOKNYA, LUAR BIASA!”


"Marco." Haruhiro melihat pria bodoh itu dengan ekspresi remeh. ”Kau tidak benar-benar menyesal, kan?"


"Bagaimana kau tahu ?! Bagaimana kau bisa tahu?! Apakah aku tidak terlihat seperti sedang minta maaf? Mana buktimu!”


Vina mendesah, lalu menurunkan busur dan menempatkan panahnya kembali ke sarung. ”Buang-buang panah saja."


Marco menarik napas lega dan berdiri, kemudian menyeka keringat dari alisnya. ”Lagian, kau pasti akan luput meskipun kau coba menembakkan panah padaku. Tapi aku minta maaf hanya untuk jaga-jaga, yah kau tau lah ... Hey! Vina, hentikan! Jangan menarik Kukri itu! Ini adalah lelucon! Terpotong oleh benda seperti itu sangatlah menyakitkan! Kau akan membunuhku! Aku sungguh akan mati!”


"Aku yakin bahwa ini tidak berbeda dengan membunuh hewan liar," kata Udin dengan senyum kecut. ”Meskipun aku tidak tahu persisnya, aku mendengar bahwa kita tidak harus pergi terlalu jauh dari Atalante untuk menemukan Goblin, Ghoul, dan sejenisnya. Mereka adalah makhluk-makhluk yang mungkin bisa ditangani oleh kita, yang sejatinya masih anggota pelatihan.”


"Goblin dan Ghoul." Haruhiro memiringkan kepalanya ke satu sisi. Dia punya perasaan bahwa ia pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Mungkin itu hanya imajinasinya, tapi dia membayangkan mereka seperti semacam makhluk humanoid.


"Jadi, itu artinya ..." Alice mulai berbicara dengan suara yang cukup kuat. Ini jarang terjadi mengingat dia selalu berbicara dengan lembut. ”Kita akan mencari Goblin dan Gholu.”


"Goblin dan Ghoul." Haruhiro mengoreksi sedikit agar gadis itu mengucapkannya dengan benar.


Wajah Alice berubah menjadi merah cerah, dan dia mulai meringkuk lagi.


"Apa pun itu, tidak masalah bagiku." Marco langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.


"Itu lebih baik daripada membunuh hewan." kata Vina dengan gembira.


Barto mengangguk dengan keras.


"Kalau begitu, ayo kita pergi menuju ke hutan," kata Udin.


Udin adalah Priest sekaligus pemimpin, dia mengarahkan Haruhiro dan yang lainnya untuk menuju hutan terdekat.

__ADS_1


Itu adalah hutan belantara, penuh dengan makhluk liar, dan tak kenal ampun. Pohon berdaun lebar dan tebal menutupi jalan di bawah kaki mereka, sehingga mustahil untuk melacak suatu jejak. Tanah berkisar dari yang


keras seperti batu, sampai yang agak lembut dan benar-benar licin. Sulit untuk menemukan pijakan, sehingga mereka pun kesulitan berjalan.


Gemerisik daun terdengar ketika angin bertiup, dan nyanyian burung bergema di sekitar.


"Golin dan Goli," Vina bergumam dengan lirih.”Mungkin mereka keluar dari lubang berair yang berbentuk bulat.”


Haruhiro memenuhi perannya sebagai pengkoreksi. "Goblin dan Ghoul," lagi-lagi dia membetulkan pengucapan yang salah. ”Maksudmu seperti mata air atau sungai kecil? Atau mungkin daerah rawa?”


"Kalau begitu, ayo kita coba menemukan tempat seperti itu." kata Udin.


Udin langsung saja mengambil inisiatif, tetapi mengingat bahwa ini adalah hutan, seharusnya keahlian Vina lebih dibutuhkan. Dia seharusnya menjadi orang yang memimpin Party ini ketika berburu di hutan. Tapi, begini juga tidak apa-apa.


Masalahnya adalah, mereka tidak bisa menemukan tempat berair. Makhluk hidup yang mereka temui sampai sejauh ini hanyalah serangga. Suara burung mengelilingi mereka, tetapi tidak seekor pun terlihat.


Marco menelan ludah secara lebay. ”Ini seperti... Hutan Kematian.”


"Ini semua mesti salahnya Marco," Vina menggembungkan pipinya dan menatap Marco. Sepertinya, dia sekarang membenci Marco karena telah memanggilnya dada papan cucian.”Ini semua karena suara Marco terdengar begitu menyakitkan di telinga mereka, jadi mereka ndak ada yang menampakkan diri.”


"Aku sekarang sudah tenang! Aku tidak mengatakan sepatah kata pun sekarang!” Marco memprotesnya.


"Ndak perlu bersuara, kau ada di sini saja sudah merepotkan."


"Terima kasih atas pujianmu! Dan itu tak mengubah fakta bahwa dadamu tetap saja rata!”


Vina merengut dan marah.


"Eh, maaf. Itu tadi salahku. Aku hanya tidak sengaja mengucapkan fakta yang menyakitkan. Aku…" Marco tiba-tiba melompat ke udara.”Apa! Apa apaan ini!"


Haruhiro berkedip beberapa kali. Marco mengangkat kakinya ke atas dan ke bawah seperti sedang menari. Ada sesuatu yang menempel di kakinya, dan makhluk itu menggaruk dan merobek-robek sepatunya. Makhluk itu sebesar kucing, dan sekujur tubuhnya ditutupi oleh bulu yang berduri.


"Seekor tikus lubang," kata Vina. Dia mulai melirik area di sekitarnya. "Mereka biasanya menyerang dalam kawanan. Mungkin dia membawa teman-temannya."


Alice menjerit dan mencoba berbalik untuk lari, namun dia terbentur pada tubuh besar Barto.


"Cepat!" Udin menarik tongkat pendeknya.”Masih ada lagi!"


"Apa ?!" Marco bergerak mundur.”Bantu aku, teman-teman! Prioritas kalian adalah menyelamatkan aku! Bantu aku! Siapapun… tolong aku!”


"Bertarunglah, Dark Knight!" Haruhiro menarik belatinya.


Tikus lubang berkerumun di sekitar tempat mereka dengan kecepatan yang luar biasa. Haruhiro tidak tahu berapa banyak jumlah mereka. Teknik bertarung yang ia pelajari dari Guild Thieves dimaksudkan untuk melawan manusia atau humanoid. Dia bahkan tidak bisa menebak apa yang harus dilakukan dalam kasus seperti ini, jadi dia membidik dan menusuk mereka dengan belati secara sporadis.


Haruhiro terus mencari tikus tersebut, namun dia sama sekali tidak menemukannya. Ternyata memang, ”Mereka terlalu cepat!"


Barto mencengkeram pedang raksasanya dengan kedua tangan, mengangkatnya di atas kepala, kemudian mengayunkannya ke bawah sembari mengerang ... pedangnya meluncur tepat di samping Marco. Marco melompat sembari menjerit, kemudian pedang Barto membentur tanah tepat di mana Marco baru saja berdiri. Pedang raksasa itu menghamburkan tanah di saat menghantamnya, dan membuat celah besar di tanah.


"Barto mencoba menyelamatkanmu! Kau harus berterima kasih padanya!” tampaknya belati Haruhiro tidak banyak membantu, sehingga ia mencoba untuk menendang tikus lubang dengan usahanya sendiri. Mereka menghindari serangannya dengan mudah.


"Dia tidak menyelamatkanku sama sekali!" Marco mengayunkan pedangnya dengan berteriak.”


[HATRED'S CUT]! Inilah skill Dark Knightku! Tapi aku tidak bisa mengenai mereka sama sekali!"


"Berhenti membuang-buang teknikmu'!" Haruhiro memilih salah satu tikus lubang dan terfokus padanya. Hewan itu


berlari dan menghilang di balik pohon.”Argh!" Dia mendengus dengan nada frustrasi.


"Malik em paluk ..." Alice menggambar suatu huruf elemental yang terbang di udara dengan menggunakan ujung tongkatnya sembari dia mengucapkan mantra.


Itu adalah mantra [MAGIC MISSILE]. Suatu bola cahaya seukuran kepalan tangan meledak dari ujung tongkatnya ... dan memukul Marco tepat di belakang kepala.


"GAH!"


"Huh?" Alice membuka matanya. Sepertinya gadis itu meluncurkan mantranya dengan mata tertutup, maka jelas saja dia salah sasaran. "M-maaf! A-Aku………"


"SIALAN! Aku akan membunuhmu nanti!!” Marco menggosok bagian belakang kepalanya, dan ia mulai mengejar Alice.


Tanpa ragu-ragu, Udin menusukkan tongkatnya pada kaki Marco. Marco tersandung dan ia jatuh dengan keras.


"Apa yang kau lakukan!?" Udin berteriak dan memarahi Marco, sembari menusuk salah satu tikus lubang.


Sejauh yang Haruhiro tahu, Udin memiliki tongkat pendek yang bisa mengeluarkan cukup banyak skill, tapi tongkat itu tidak layak digunakan untuk serangan langsung.


"Sedikit lagi!" Vina mengayunkan Kukri ke segala arah dengan liar. Mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa mendekat pada tikus lubang dan mendapatkan mangsanya. ”Master Guild Vina mengatakan bahwa mereka hanyalah hewan, sehingga kita hanya perlu sedikit menekan mereka, lantas mereka akan segera pergi! Semuanya, bertahanlah!"


Barto mengayunkan pedang raksasa, dan benda itu menghantam batang pohon. Kekuatan pukulan menyebabkan daun dan serangga menghujani kepalanya secara langsung. Barto, yang sekarang tertutup oleh serangga dan daun, hanya bisa melolong.


"Kalau begini terus ..." Haruhiro mengumpulkan tekad dan berjongkok rendah dengan menumpukan satu lutut di tanah.


Tanpa berjalan, dan tanpa bergerak, ia menunggu pada salah satu lubang agar para tikus mendekatinya. Di sana! Langsung di depannya. Seekor tikus lubang mendekat. Tikus itu sedang menuju ke arahnya. Haruhiro mengulurkan lengan kirinya. Datanglah! Gigitlah aku. Aku tantang kau! Dengan tubuh sebesar itu, mungkin dia seperti seekor kucing yang takut pada tikus. Tikus lubang memang benar-benar mengerikan. Mereka cepat. Ini sungguh buruk.


Tapi dia menunggu, dengan sangat sabar.


Nyeri yang melumpuhkan tiba-tiba merambat pada kakinya, dan itu membuatnya menjerit.


Tikus lubang lainnya telah mendekat dari belakang dan menggigit betis kanan dengan dalam. Dia baru saja hendak mencoba untuk menusuk tikus tersebut, namun secepat itu juga tikus lainnya menancapkan taringnya pada lengan kiri.”Ahh!"


"Haruhiro! Jangan bergerak!” Udin berlari ke sisinya. Ia mengayunkan tongkat dengan suatu gerakan yang cepat.


Ada suara dentuman pelan, dan Haruhiro segera merasakan bahwa tekanan pada kaki kanan dan lengan kirinya terlepas. Sepertinya Udin berhasil menghalau tikus-tikus itu, dan mereka segera kabur dengan kecepatan tinggi. Dan bahkan saat Haruhiro melongo melihat tikus lainnya, tikus lubang yang sebelumnya Udin pukul, kini sudah lenyap.


"Apakah kamu baik-baik saja, Haruhiro?" Udin berlutut pada sisi Haruhiro, dan memeriksa luka-lukanya.

__ADS_1


"Ya. Aku baik-baik saja ...” Setelah dia menggulung celana dan bajunya, terlihat beberapa lubang kecil pada dagingnya. Ada juga bekas gigitan pada kulitnya, dan darah mengalir keluar dari lubang itu. Cederanya tidaklah serius, tetapi tentu saja masih terasa sakit.


"Biarkan aku menyembuhkanmu." Udin menempatkan tangan kanannya di atas dahi Haruhiro, dengan jari tengah berada di antara alisnya. Jarinya membentuk pentagram.”Oh cahaya, di bawah kasih karunia Dewa Luminous ... [CURE].”


Suatu cahaya hangat tercurah dari telapak Udin. Ketika cahaya itu berkedip-kedip, luka Haruhiro pun mulai menutup. Tiga detik diperlukan untuk menyembuhkan kaki kanannya, tiga detik pula diperlukan untuk menyembuhkan lengan kirinya.


"Wow." Haruhiro menyentuh daerah di mana baru saja terdapat lubang akibat gigitan tikus. Darah masih merembes, akan tetapi tidak ada lagi luka ataupun rasa gatal di sana. Bahkan, tidak ada sedikit pun bekas luka di sana. ”Terima kasih, Udin. Kau jugalah orang yang mengusir mereka dariku ...”


“Ini semua karena kau menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan,"jawab Udin.


"Aku hanya berniat untuk menggunakan lenganku. Aku pikir, ku bisa mengatasinya sendirian…"


"Semuanya sudah membaik. Tidaklah penting siapa yang melakukannya.”


"Semuanya sudah membaik!?" Marco duduk di tanah sembari membanting-bantingkan kakinya, mirip seperti anak yang manja. ”Apanya yang sudah membaik? Kita tiba-tiba diserang oleh beberapa makhluk aneh! Walaupun kita mengusir mereka, kita tidak mendapatkan sepeser perunggu pun. Dan lihat! Aku juga terluka! Sembuhkan aku sekarang juga!”


"Ah, maaf." kata Udin, sembari bergegas menuju ke sisi Marco.


"Mengapa dia harus meminta maaf kepada Marco?" Haruhiro bergumam dengan pelan, sambil melihat sekeliling.


Barto juga sedang duduk di tanah, mungkin dia lelah setelah berkali-kali mengayunkan pedang raksasanya. Alice berusaha yang terbaik dengan menyembunyikan dirinya sendiri di balik pohon besar. Mungkin, dia merasa malu karena telah salah sasaran ketika menembakkan mantra. Vina adalah satu-satunya anggota Party yang masih memiliki semangat tinggi, dan dia melirik ke sana-sini. Haruhiro melihatnya, dan Vina membalas tatapan itu dengan sedikit senyum menyeringai.


Haruhiro juga membalasnya dengan senyuman, meskipun begitu, ini bukanlah saat yang tepat untuk saling membalas senyuman. Atau mungkin, mereka harus selalu tersenyum selagi sempat, karena tak ada seorang pun tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Marco benar bahwa kita tidak mendapatkan perunggu sama sekali, walaupun kita sudah berhasil mengenyahkan mereka, " Haruhiro mendesah. ”Mungkin kita masih belum cukup terampil untuk berkeliaran di hutan ini.”


"Baik! Aku siap untuk pergi lagi!” Setelah sembuh, Marco melompat dan mengayunkan lengannya.”Baik! semuanya, ikuti aku!”


Barto berkedip.”P-pergi? K-Ke mana?”


"Bodoh! Kalian semua berkata bahwa kita akan mencari Goblin, kan? Kalian pasti bercanda jika berhenti hanya karena serangan tikus-tikus lubang itu! Kami tidak akan mundur hanya karena hal seperti itu!"


"Dia benar," Udin mengangguk, sembari sedikit merenung.”Persis seperti yang dikatakan oleh Marco. Ini memang berisiko, tapi tikus lubang pasti adalah makhluk karnivora, ‘kan?"


"Aku rasa mereka adalah omnivora," jawab Vina.”Tapi ketika mereka menyerang dalam kawanan seperti tadi, mereka lebih dikenal sebagai penyerang manusia.”


"Yah, itu benar, mereka menyerang kita," kata Haruhiro. "Jadi, tikus-tikus itu makan hampir apa saja yang ada di


hadapan mereka," mata Udin menyipit sembari dia mengusap dagunya.”Jika ada hewan seperti itu di sini, maka di sekitar sini juga ada perburuan lainnya.”


"Tentu saja ada," Marco mengejeknya. ”Apa kau baru tahu sekarang? Aku sudah tahu itu dari tadi. Jika ada hewan yang bisa diburu di sini, maka pemburu lainnya juga berada di dekat sini."


Haruhiro melirik Marco.”Kau hanya mengulangi apa yang Udin katakan.”


"Diam, dasar mata ngantuk! Pergilah tidur siang jika kau mengantuk, dasar cebol!”


"Aku sudah bilang sebelumnya! Aku terlahir seperti ini! Bukan berarti aku selalu ngantuk!"


"Haruhiro," Udin menyela dengan senyum tipis di wajahnya. ”Hal yang terbaik bagimu adalah mengabaikan apa yang Marco katakan.”


"Hei!" Marco balik menyela Udin.”Jangan mengatakan hal seperti itu! Apakah selama ini kau hanya berlagak sok baik, dasar pengkhianat!?”


"Mungkin saja?" Udin menjawab dengan mendesah, dan dia tidak termakan umpan Marco. ”Kalau begitu, jika kalian


bersedia, mengapa kita tidak menjelajahi daerah ini lebih jauh?”


Tampaknya semuanya setuju. Sembari terus berhati-hati terhadap serangan tikus lubang lainnya, mereka pun memutuskan untuk menjelajahi hutan itu lebih dalam. Mereka terus menjelajah hutan itu sampai senja, namun


hanya seekor rusa yang mereka temukan. Vina berusaha untuk memanahnya, tapi hewan itu lari ketika dia luput.


Mereka juga menemui kawanan burung dan serangan tikus lubang lainnya. Seperti itulah yang mereka jalani.


Melanjutkan penjelajahan setelah matahari terbenam bukanlah pilihan, maka Haruhiro dan yang lainnya meninggalkan hutan dengan langkah berat.


"Apa yang akan kita lakukan?" Marco mengerang. Kali ini, dia benar-benar kehilangan semangatnya untuk mengacau.


"Kami tidak akan melakukan apa-apa," Haruhiro memberikan desahan untuk membalasnya. Namun, ia juga mulai merasa putus asa. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang dirampas .”Kita akan kembali ke Atalante.”


"Ini seperti kisah Petualangan Anak Pekerja yang Menjemukkan" bisik Vina.


Lagi-lagi Haruhiro berusaha meluruskan apa yang dikatakan rekannya, "Siapa itu?" Dia punya perasaan bahwa ‘Anak Pekerja’ itu adalah tokoh yang nasibnya sama seperti mereka.


"T-tapi," Alice mulai berkata sembari menundukkan kepalanya. Seakan-akan, semua energinya sudah lenyap.”Lupakan. Tidak ada apa-apa."


Perut seseorang bergemuruh. Dan Barto berkata”Aku lapar…"


"Ketika kita kembali," kata Udin sembari melihat semua rekan-rekannya secara bergantian "ayo mampir ke pasar dan mendapatkan makan malam. Setelah itu, aku tahu tempat yang murah di mana kita bisa bermalam. Di dekat Nishima, ada penginapan untuk para pasukan cadangan. Prajurit resmi bisa menunjukkan kontrak Red MooN untuk tinggal dengan gratis, tapi anggota pelatihan masih harus membayar. Meskipun begitu, harganya termasuk murah. Satu kamar untuk pria dan satu ruangan untuk wanita hanya dihargai dua puluh perunggu.”


Marco mengejek.”Kita tidak mendapatkan sekeping pun perunggu hari ini. Kita hanya harus berkemah di alam terbuka.”


"Tidak, itu adalah pilihan terakhir," kata Udin dengan jelas. "Mereka berbagi fasilitas, tapi penginapan ini juga


menyediakan kamar mandi dan bak mandi. Itu jauh lebih baik daripada tidak memiliki tempat menginap ... terutama untuk wanita.”


Alice menggenggam tongkatnya lebih erat, dan mengangguk beberapa kali.


"Itu benar." Vina juga setuju.


"Bak mandi dan toilet bukanlah segalanya." Marco bergumam. Namun, Haruhiro punya perasaan bahwa Marco akan banyak mengeluh jika dia tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti itu.


"Aku setuju dengan Udin" kata Haruhiro sambil mengangkat tangannya. Alice, Vina, dan kemudian Barto juga mengangkat tangan.


Marco mendecakkan lidahnya, ck-ck, tapi dia menghentikan protesnya. Dan dengan demikian, hari pertama bekerja sebagai pasukan cadangan berakhir tanpa membuahkan hasil apapun.

__ADS_1


__ADS_2