KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 chapter 9 - Lepaskan Keirian


__ADS_3

Haruhiro bukanlah seorang yang diberkahi sifat kepemimpinan sejak lahir. Dia tidak memiliki karakter maupun kemampuan sebagai pemimpin, dan itu sangat sulit untuk diperbaiki. Tapi setelah berbicara dengan Lusi tadi malam, Haruhiro telah memperbarui tekadnya untuk melakukan yang terbaik sebagai salah seorang pemimpin. Dia meragukan bahwa dirinya sendiri akan sanggup menjadi pemimpin yang besar, tetapi meskipun begitu,dia sudah meneguhkan tujuannya.


Sekarang di sini, pada tingkat keempat Tambang Siren, seperti yang Haruhiro telah janjikan kemarin.


“Hei semuanya, lihat ke sini! Lihatlah! Lihatlah!” Vina mulai berisik, sembari dia bersandar pada pagar dan menunjuk beberapa hewan di luar. “Bukankah mereka terlihat imut?”


“Apa-apa’an….. tentu saja tidak!” Datanglah sanggahan dari Marco dengan cepat. Haruhiro pun harus menyetujuinya.


 Pada pandangan pertama, makhluk-makhluk yang terhuyung-huyung di luar pagar tampak seperti semacam babi, tapi jika dilihat lagi, juga mirip seperti tikus. Mereka terlihat seperti tikus seukuran ****. Tak seorang pun tahu bagaimana para kobolds menyebut mereka, tapi pasukan cadangan menyebut mereka dengan panggilan


"****-tikus". Dan nama itu sangatlah sesuai, Haruhiro pun setuju.


Terdapat area yang dipagari agar jumlah ****-tikus di dalamnya meningkat, tapi bukan cuma itu alasannya.


“Vina pikir, mereka benar-benar manis. Yang di atas sana juga manis!” kata Vina, sembari menuju ke  kandang lainnya. “Atau mungkin tidak. Lupakan. Itu tidak manis sama sekali ...”


“Apa itu?” bukannya mendekati pagar, Alice malah membungkuk ke depan untuk melihat, tetapi dia segera mundur karena ketakutan. “Eww, menjijikkan. Menjijikkan…”


Barto mengangguk dan mendengus pertanda setuju.


“Mereka adalah ...” Haruhiro melirik sebentar pada makhluk yang berada pada kandang yang bukan untuk babi-tikus, dan dia pun menyesalinya. “Benar-benar mengerikan. Aku pikir, makhluk sejelek ini memang tidak untuk dilihat.”


Sudut mulut Lusi berkedut sedikit. “Aku pikir…. Aku paham betul apa maksudmu.”


Makhluk-makhluk itu tidak memiliki lengan, kaki, atau ekor. Tubuh mereka tidak kecil, mereka begitu gemuk, dan panjang. Mereka seperti ****, tapi tidak memiliki ekor dan organ gerak, kemudian tubuhnya memanjang. Rupanya, mereka adalah makhluk yang disebut "****-cacing", dan itulah nama yang diberikan kepada mereka oleh pasukan cadangan. Tampilan mereka cukup menakutkan.


“Hmm ...” Marco menjangkau makhluk itu dengan pedangnya, dan mencoba untuk menyodoknya.


“Hei,” Haruhiro menghentikannya. “Marco, jangan.”


“Apa? Diam, Haruhiro. Aku hanya mencoba untuk melihat apa yang akan terjadi. Bukannya aku sedang menyiksanya.”


“Apanya yang ‘tidak menyiksa’??” Haruhiro menuntut, lantas dia menyesali perkataannya barusan. Yang dia harus lakukan hanyalah membiarkan semuanya berlalu begitu saja, namun lagi-lagi dia menanggapi Marco dengan terlalu serius.


“Sudahlah, tidak akan ada masalah,” Marco membalas.


“Oh. Baik.”


“Sungguh-sungguh-yakin-tidak-akan-ada-masalah. Mengerti?!”


“Ya, ya, aku paham,” ungkap Haruhiro.


“Ulangi sekali lagi! Aku ingin mendengarkannya.” Marco menuntut.


“Sungguh-sungguh-yakin-tidak-akan-ada-masalah,” Haruhiro mengulanginya.


“Jangan ulangi persis seperti yang telah aku katakan!”


Haruhiro mengabaikan Marco yang mengamuk, dan dia malah melihat kawanan ****-cacing. Cara mereka mengerutkan tubuh dan merayap di tanah, sungguh mengerikan dan menjijikkan.


“Jangan bilang bahwa hewan-hewan ini adalah makanan para kobold ...” Haruhiro bergumam.


Dikatakan bahwa tingkat keempat Tambang Siren adalah sektor pertanian. Namun, lingkungan di sekitar mereka lebih mirip sektor peternakan daripada pertanian, tapi jamur-hitam dan pakis-ogre… bahkan ada bunga yang bisa menghasilkan cahaya sendiri, dan semua tanaman itu tidak memerlukan sinar matahari untuk ditanam di sini.


Kobolds adalah makhluk hidup. Jika mereka tidak makan, mereka akan mati. Dengan pengecualian kobolds kecil, mereka jarang berkelana ke luar gunung, sehingga mereka harus mempertahankan diri sendiri di sini, entah bagaimana caranya. Hasilnya adalah, setelah semua bijih mineral di sini habis, tingkat keempat yang luas akan dikonversi menjadi lahan pertanian.


“Tiarap!” Lusi tiba-tiba berkata, sembari membungkuk ke tanah.


Haruhiro, Alice, Barto, dan Marco segera menuruti perkataannya, tapi Vina masih berdiri.


"Hm? Ada ap- "


“Lakukan saja!” Haruhiro meraih lengannya, dan berniat untuk memaksanya tiarap, tetapi itu malah membuat Vina jatuh ke belakang.


“Ow!” Vina mendengking.

__ADS_1


“M-maaf! Tapi…. tunggu, shh!” Haruhiro mengangkat jari telunjuk pada mulutnya, untuk menyuruh diam.


Haruhiro tidak lagi mengatakan sesuatu, tetapi Vina mengangguk, rupanya dia sudah memahami apa maksudnya. Haruhiro dan lainnya berjongkok di depan pagar, kemudian mereka diam tanpa gerak selama tiga menit penuh, sampai akhirnya Marco berkata.


“Sudah berlalu ... aku pikir begitu,” lapornya.


“Iya kah?” Haruhiro perlahan menjulurkan setengah kepalanya di atas pagar, dan melihat sekitarnya secara menyeluruh. Ada seekor kobold petua di kejauhan, tapi makhluk itu membelakangi mereka dan bergerak menjauh. “Dia masih di sini. Mari kita menunggu sedikit lebih lama.”


Ketika Haruhiro melihat lagi semenit kemudian, seorang petua yang berbeda telah muncul, dan monster itu mendekat ke arah mereka. "Bahaya!" Desisnya.


“Oy oy oy,” Marco mendesah. “Berapa lama kita harus bersembunyi seperti ini? Ayo hadapi dia saja!”


Haruhiro berpikir sejenak, tapi kemudian dia memandang Lusi dan bertukar tatapan. Lusi menggeleng. “Jangan,” sarannya. “Ini tidak seperti tingkat atas. Jika kita gagal membunuhnya, maka kegaduhan pertarungan hanya akan mengundang lebih banyak kobold datang kemari.”


Marco mengejek. “Baik. Kalau begitu, ayo kita kalahkan dia dengan satu kali pukulan.”


“Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” Haruhiro membentaknya dengan benar-benar kesal.


“Mungkin ... itu mungkin saja terjadi,” tiba-tiba Alice berkata. “Dengan sihirku, itu mungkin saja terjadi.”


“Ah,” mata Haruhiro melebar. “Betul. [PHANTOM SLEEP].”


“Ya,” kata Alice. “Tapi ... kita akan berada dalam kesulitan jika aku meleset. Mungkin lebih baik tidak mengambil risiko itu ...”


“Dasar kalian,” lagi-lagi Marco memasang ekspresi yang bisa membuat dewa pun jengkel. “Selalu berpikir tentang hal-hal negatif seperti takut minum air karena mungkin beracun, atau semacamnya. Apakah kalian mengerti apa yang aku maksud? Ya?”


Haruhiro berharap bahwa jika Marco mencoba untuk membuat perumpamaan, maka setidaknya buatlah perumpamaan yang sesuai dengan situasi ini. Haruhiro tetap diam, namun dia sungguh tidak menyetujuinya, Haruhiro dengan tenang membiarkan saat-saat ini berlalu. Sebagai pemimpin Party, dia harus punya skill ‘biarkan saja berlalu’.


“Alice,” kata Haruhiro. “Jika kau tidak percaya diri, maka kita tidak perlu melakukannya. Tapi karena kau sudah memikirkan ide seperti itu, maka aku pikir kita layak mencobanya, itupun jika kau sudah membulatkan tekadmu.”


Jarang sekali si Alice yang pemalu berbicara, dan Haruhiro ingin mendorong keberanian ini, sehingga dia pun memberikan dukungannya. Tatapan Alice tetap mengarah ke bawah selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya dan berkata, “... Aku ingin mencobanya.”


Tidak ada yang menentangnya. Makhluk itu semakin mendekat, dan jarak mereka hanya terpisah sejauh enam puluh lima kaki, dan itu merupakan jarang yang ideal untuk menggunakan [PHANTOM SLEEP]. Sebelum Alice memunculkan kepala dan tongkatnya di atas pagar, dia pun melantunkan mantra, "Oom rel eckt krom lari!"


Elemental bayangan ditembakkan dari ujung tongkatnya, dan itu tidak secepat elemental [SHADOW ECHO], tapi itu lebih tenang. Sihir itu terbang tanpa suara, dan memukul tepat pada wajah petua itu. Elemental tersebut meresap ke dalam tubuh petua melalui hidung, telinga, dan mulut. Kobold petua mulai bergoyang, dan roboh dalam waktu


“Bagus!” Haruhiro memberi sinyal, lantas semuanya menyerang si kobold petua yang terkena efek sihir. Tidak ada waktu untuk berpikir tentang taktik mereka yang kotor, dan mereka harus menyelesaikannya secepat mungkin. Satu seorang yang melakukannya adalah Marco. Mengapa Marco adalah orang yang bertindak tercepat dalam situasi seperti ini?


“Vice yang gampang!,” Marco tertawa dengan girang. “Semuanya, bergegaslah dan jarah setiap barang berharga miliknya!”


“Sejak kapan kau menjadi orang yang memberikan perintah?”


Haruhiro membalasnya tanpa berpikir. Ini tidak baik. Biarkan saja. Haruhiro harus membiarkan dia tanpa banyak peduli.


Berbeda dengan petua yang menempati tingkat ketiga, petua pada tingkat keempat dilengkapi dengan armor besi dan cambuk berujung besi yang digantung dan dilingkarkan pada pinggang mereka. Jimat yang dibawa oleh petua itu berupa anting-anting perak yang ujungnya berwarna biru, dan tampaknya harganya cukup mahal.


“Kita akan dapat kemenangan yang mudah, tapi Vina merasa agak kasihan pada petua ini. Apapun itu, kerja baik, Alice,” Vina memuji. “Kau sungguh mem pew-pew nya dengan sihirmu. “


“S-setuju,” tambah Barto. “Alice pantas menerima penghargaan atas kerja keras ini.”


“A-Aku ... err ...” karena malu akan pujian, Alice pun kembali meringkuk.


“Mereka benar,” kata Haruhiro, berikan jempol kalian pada Alice. Kau sungguh sempurna. Sungguh. Sekarang kita tahu bahwa kita bisa menggunakan metode ini untuk menghabisi musuh, jika kita berhasil menyelinap dan mendekatinya. "


“Jangan lupa bahwa akulah yang akan membunuh monster itu,” Marco menyela.


Benar, pikir Haruhiro. Biarkan saja.


“Tubuhnya,” kata Lusi sembari ia membuat gestur segi enam Priest. “Kita tidak boleh meninggalkannya dalam keadaan terbuka seperti itu.”


“Iya,” kata Haruhiro, sembari melihat kandang di sekitar mereka. “Ayo kita berpindah ke kandang lainnya.”


Setelah merampas semua barang berharga milik si kobold petua, Haruhiro dan Barto membawanya ke kandang


****-tikus. Haruhiro ingin Marco untuk membantu juga, tapi dia ragu Marco bersedia melakukannya.

__ADS_1


Pada saat itulah sesuatu yang benar-benar mengerikan terjadi.


"Apa yang-" Haruhiro memulai.


Beberapa ekor ****-tikus mengelilingi mayat si kobold, dan membuat suara: boo-hee boo-hee yang memekik, kemudian ... Tidak mungkin ... Mereka tidak akan memakan mayat kobold itu, kan?


Salah. Mereka menyantap itu dengan lahap, masing-masing dari mereka menghabiskan bangkai itu tanpa sisa


.


“Aku rasa itulah yang kita sebut dengan 'rantai makanan',” bisik Vina.


Tapi, bukan itu masalahnya. Haruhiro memiliki perasaan bahwa dia tidak mampu memahami inti dari masalah ini.


Alice berjongkok, memegang tongkatnya untuk menopang tubuh, dan melihat pemandangan itu dengan lemas. Lusi meletakkan satu tangan di atas mulutnya, seolah-olah dia berusaha sekeras mungkin agar tidak muntah. Ekspresi Barto hanya tercengang.


“Yah, yah. Efektif sekali,” Marco berkata, sembari memasang seringai aneh di wajahnya ketika melihat pemandangan mengerikan tersebut. “Kami bisa membunuh, bunuh, bunuh semua kobold yang kita inginkan, kemudian membuang bangkainya pada ****-tikus agar dibersihkan. Ini agak kotor sih, tapi ini adalah balasan yang setimpal karena pada suatu saat kobold-kobold itulah yang memakan ****-tikus, tapi bukannya kita kanibal, atau sejenisnya. Meskipun begitu, aku tahu ini akan terjadi.” Marco mengakhiri ocehannya dengan tertawa lemah.


“Lalu, mengapa kakimu gemetar?” Haruhiro bertanya, lantas Marco menjawab dengan, “A-a-a-apa ?!” dengan sikap mengancam. Tapi wajah Marco begitu pucat, sehingga Haruhiro tidak sedikit pun terintimidasi.


Marco melanjutkan, “K-kakiku tidak gemetar! A-aku sama sekali tidak gemetaran! I-itu karena kaulah yang gemetar, sehingga kelihatan aku juga gemetaran, okyye!!?”


“Apa itu ‘okyye’?” Tanya Haruhiro dengan suara lembut.


“Diam! 'Okkye'... berarti ya 'okkye' ... Uhh ... Itu artinya, aku akan membunuhmu!”


“Tidak perlu memaksakan diri jika kau merasa mual, Marco,” saran Haruhiro.


“I-iiidiot! Aku baik-baik saja! Ini bukan apa-apa! Bahkan, pemandangan seperti ini adalah favoritku! Karena Dark Knight suka hal-hal aneh dan erotis!”


“Tidak masalah jika kau suka terhadap hal-hal yang aneh. Tapi, erotis tampaknya tidak relevan dengan


hal ini.”


“Tapi aku menginginkannya! Karena aku adalah seorang pria jantan!”


Sebelum mereka punya lebih banyak waktu untuk memikirkan tentang hal ini, tiba-tiba terdengar suara yang disebabkan oleh ****-tikus. Tak lama berselang, empat ekor kobold petua datang ke TKP. Haruhiro dan yang lainnya terpaksa bersembunyi lagi, tapi kali ini, bahaya sedang menunggu mereka di sini. Mereka harus pergi dari sini.


Pagar pembatas ****-tikus dan ****-cacing cukuplah tinggi, sehingga dari kejauhan orang-orang bisa melihatnya sehingga berhati-hati tidak mendekat. Namun, beberapa kobold petua terus berdatangan di sekitar pagar tersebut. Jamur-hitam, pakis-ogre, dan bunga cahaya terbuka dengan lebar. Mereka terlihat jelas oleh para kobold berkasta


rendah dan kobold pekerja.


Haruhiro dan yang lainnya terpaksa meninggalkan tingkat keempat dengan terburu-buru, kemudian mereka kembali ke pusat, di mana mereka akhirnya bersembunyi pada sudut kandang yang kosong.


“Apakah kamu berpikir bahwa tingkat ini terlalu sulit bagi kita?” kata Haruhiro, sembari bersandar pada dinding pagar, dia bertanya pada Lusi.


Lusi tampak berpikir sebelum menjawab, "Kondisi di sini tidak begitu baik. Timku dulu juga- " Dia memotong perkataannya sendiri dengan ekspresi galau.


Karena khawatir menyebabkan suasana menjadi canggung, Lusi tidak bermaksud mengatakan "timku" atau menyebut mantan sahabatnya di hadapan Haruhiro dan yang lainnya. Haruhiro hendak memberitahu bahwa Lusi tidak perlu khawatir tentang hal itu, tapi ia urung mengatakannya.


“Terserah. Kau tidak perlu selalu mengkhawatirkan hal itu.” justru Marco yang memberanikan diri untuk mengatakannya, “Apakah kami terlihat seremeh itu? Kalau aku sih tidak. Aku sih orang yang berhati besar. Besar, luas, dan juga liar. Jadi, jangan ragu untuk jatuh cinta padaku.”


“Um, tidak, terima kasih,” jawab Lusi dengan segera.


Marco langsung lesu setelah mendengar penolakan Lusi yang begitu cepat, paling tidak, kekonyolannya benar-benar membuat Lusi tersenyum sedikit. Haruhiro tiba-tiba merasa dadanya sesak dengan rasa jengkel. Apa? Mungkinkah aku sekarang merasa kecemburuan pada Marco? Cemburu pada orang serendah Marco ? Tidak mungkin…


Haruhiro berdeham, untuk meneguhkan dirinya sendiri. “Kalau begitu, bagaimana dengan keadaan di tingkat


kelima?”


“Dibandingkan dengan di sini? Lebih baik, mungkin ...” Lusi menjawab dengan hati-hati.


“Ah ...” Vina mengangguk.


“Kalau itu masalahnya, maka ...” Alice menawarkan sesuatu dengan gugup. “Haruskah kita turun ke tingkat lima?”

__ADS_1


Barto mengangguk dengan tegas.


Marco menyeringai lebar. “Kalau begitu, kita sudah sepakat.”


__ADS_2