KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Episode 14 - Permohonan Maaf


__ADS_3

Haruhiro berusaha mendekati Vina dan Alice dengan topik pembicaraan biasa. ”Jadi, bagaimana pagi kalian? Apakah kalian punya kesulitan ketika bangun pagi? Sama seperti biasanya? Aku paham…"


Atau, "Jadi, kemarin malam kalian makan apa? Sama seperti biasanya? Aku paham…"


Atau, "Jadi, kami bertemu Hector tadi malam. Itu konyol. Tidak tertarik? Aku paham…"


Atau, "Jadi, apa yang kalian bawa untuk makan siang nanti? Roti? Aku paham…"


Atau, "Jadi, kau terlihat lelah ..."


Jadi ... jadi ... jadi ... Haruhiro mulai memaksakan kalimat pembukan dengan kata 'jadi'. Dia tidak benar-benar diabaikan, tapi dia mulai frustasi karena jawaban yang datang dari para gadis cukup minim. Lusi adalah seorang penyendiri beraura dingin, dan sulit sekali didekati. Itu membuat Haruhiro bertanya-tanya, apakah dia pernah sekali saja menemukan kegembiraan pada hidupnya. Haruhiro mengakui bahwa dirinya sendiri juga belum tentu pernah mendapatkan kebahagiaan, namun sepertinya dia tidak sesuram Lusi.


Mereka kembali dari Damroww, menuju ke pasar Atalante ketika malam tiba, dan menjual barang hasil jarahan. Pendapatan hari ini adalah 1 perak dan 15 perunggu untuk masing-masing anggota Party. Bagi Party kecil seperti mereka, hasil ini tidaklah buruk. Tapi itu juga tidak bisa dibilang baik.


Malam ini Haruhiro tidak minum-minum di kedai, dan dia langsung kembali ke pondok. Setelah ia selesai mandi, ia berjongkok di lorong sembari menunggu Vina sampai datang. Gadis itu pun keluar dari pemandiannya sendirian.


"Um, Vina?"


Vina berhenti, tapi dia tidak membalikkan badan untuk melihat asal suara tersebut. Kemudian dia kembali berjalan sembari menepuk kepalanya dengan sehelai kain. Vina selalu menata rambutnya dengan gaya kepang, namun sekarang dia uraikan rambut panjangnya begitu saja. Dengan penampilan seperti itu, dia sungguh tampak


berbeda.


Keheningan yang canggung meliputi atmosfer di antara mereka selama beberapa saat.


"Um, Alice tidak bersamamu?" akhirnya Haruhiro berhasil melantunkan pertanyaan.


"Dia di kamarnya."


"Aku paham. Umm ...”Haruhiro berdiri, sembari mengusap bagian belakang lehernya. ”Apa kamu marah?"


"Tidak."


"Sungguh? Tapi ... Sepertinya ...”


"Vina bilang, dia ndak marah. Apakah Haru punya pikiran gitu?”


"Aku ... mungkin."


"Mengapa?"


"Karena kami mengundang Lusi untuk bergabung dengan Party tanpa meminta persetujuanmu dan Alice. Aku pikir, Party kita tidak akan bisa bekerja tanpa adanya seorang Priest, tetapi mungkin aku memutuskan semuanya terlalu dini dan sewenang-wenang. Meskipun begitu, aku bukan satu-satunya orang yang membuat keputusan ini sih ...”


"Kalau bukan kau, lalu siapa?"


"Gori memperkenalkan Lusi kepada kami. Sehingga aku, Marco, dan Barto membuat keputusan begitu saja. Jadi, sepertinya kami bertiga yang salah.”


"Ndak kok."


"Hah?"


"Aku bilang ndak."


"Vina?"


"Kamu bego, Haru," Vina meremas-remas rambutnya dengan kain. "Ini sama sekali bukan salah kalian bertiga."


"Vina, tunggu ..." Haruhiro mengejarnya, namun Vina menahannya. ”Tunggu ... apa sih yang salah?"


"Kau ndak paham, kan? Itulah kenapa kau ndak ngerti Vina dan Alice jadi seperti ini.”


"Tapi ..." Haruhiro menundukkan tatapannya ke arah lantai.”Hanya saja ... Maksudku, kau dan Alice bahkan tidak pernah mencoba untuk berbicara denganku. Lantas, bagaimana aku bisa mengerti?”


"Vina ndak pandai mengungkapkan perasaannya. Sulit bagi Vina dan Alice untuk …”

__ADS_1


"Bukannya aku!" Haruhiro sadar bahwa suaranya semakin keras karena emosinya memuncak, sehingga dia cepat-cepat menahan dirinya.”... Bukannya aku juga pandai bicara. Dan pada saat itu ... semuanya terjadi secara mengejutkan.”


"Kalau gitu, maka sama saja denganku."


"Sama ... kami pun juga begitu. Aku kira itu benar.”


"Kalau gitu…….." Dan Vina pun mulai menangis .”Kalau gitu….. ini bukanlah kesalahan satu orang saja. Ini bukan hanya kesalahanmu, Haru, atau Marco, atau Barto. Ini juga merupakan kesalahan Vina dan Alice. Apakah Vina salah? Kita adalah rekan satu tim, kan? Termasuk Udin, kita berenam adalah sabat sejati. Apakah Vina salah?”


"Tidak, kau tidak salah."


Dia benar, pikir Haruhiro. Vina bukanlah orang yang salah.


Udin pernah sekali berkata bahwa kita sudah menjadi tim yang bagus. Maksudnya adalah dirinya, Haruhiro, Marco, Barto, Vina, dan Alice. Mereka berenam, bersama-sama, telah menjadi tim yang baik. Walaupun salah satu dari keenam orang ini sudah tiada, bukan berarti Udin mampu melakukan segalanya sendirian. Walaupun yang lainnya hanya berkontribusi dalam skala kecil, mereka berenam mampu mencapai sesuatu yang tidak bisa Udin lakukan sendirian.


Udin pasti telah mengerti ini, dan memahaminya dengan baik. Itulah sebabnya, meskipun Marco egois, Haruhiro tidak kompeten, Barto cukup dungu, Vina canggung, dan Alice pengecut, Udin tidak pernah mengungkapkan satu pun keluhan pada mereka.


Mereka berlima akan timpang bila salah satu rekannya hilang. Sehingga, Udin melengkapi formasi mereka, dan mengisi kesenjangan yang tersisa ketika mereka kesulitan. Seperti itulah mereka berenam membentuk tim.


Ketika hal-hal buruk terjadi, semuanya merasakan. Ketika hal-hal baik terjadi, semuanya juga merasakan. Ketika berbagai hal semakin sulit, semuanya juga kesulitan. Tak satu pun dari mereka cukup kuat untuk menanggung semuanya sendirian, tapi setidaknya mereka bisa berbagi kesulitan dan rasa sakit.


Namun, setelah kematian Udin, Haruhiro menanggung semuanya sendirian. Haruhiro, Marco, dan Barto, ketiga pria ini saling mengeluh tentang masalah yang dihadapi Party sambil minum-minum sampai larut malam tanpa berbagi apapun dengan para gadis. Bagaimana perasaan Vina dan Alice ketika diabaikan seperti itu? Tentu saja mereka berpikir bahwa mereka tidak lagi dibutuhkan, dan itulah yang membuat mereka merasa menderita dan kesepian.


"Vina, aku minta maaf…. "


Dan ketika kata-kata itu terselip keluar dari mulutnya, Haruhiro akhirnya mengerti mengapa Udin menghembuskan nafas terakhir sembari meminta maaf kepadanya.


Hari itu, Udin telah memuji semua orang kecuali Haruhiro. Udin tak memberikan pujian apapun pada Haruhiro, dan itulah yang membuat Haruhiro tertekan dan suram. Sehingga, Udin pasti berpikiran untuk meminta maaf padanya sampai ajalnya tiba.


“Udin.”


Tiba-tiba, pandangannya memburam. Itu karena air mata yang membanjiri kelopak matanya dengan begitu cepat dan deras. Ketenangan yang dari tadi dia jaga, kini sudah lebur dalam sekejap. Lutut Haruhiro lemas dan tidak lagi mampu menahan tubuhnya.


Dasar Udin bodoh. Mengapa kau meminta maaf? Mengapa? Kau tak perlu melakukan itu, dan aku pun tak ingin menerima maafmu ...


Udin telah berkata kepada Haruhiro ‘Sepertinya aku bukanlah jenis orang yang memiliki banyak teman.’ Tapi dia benar-benar salah tentang itu. Benar-benar, benar-benar salah.


Mengapa? Mengapa dia mati? Mengapa ia harus mati?


"Haru ..." Vina berjongkok dan memeluknya. Dia juga menangis.


Sembari menangis, Vina dengan lembut membelai punggung, bahu, dan kepala Haruhiro. Pipi mereka yang dibasahi oleh air mata saling bersentuhan, dan Haruhiro bisa mendengar napas serak di dekat telinganya. Haruhiro tidak tahu berapa lama lagi dia harus menempel pada Vina untuk menghabiskan air matanya.


Ketika ia akhirnya kembali tenang, ia merasa hampa, seolah-olah dia menguras semua air mata yang tersimpan di matanya. Vina lebih dahulu berhenti menangis, tetapi meskipun demikian, mereka masih saling berpelukan. Ini sangatlah aneh ... seolah-olah mereka tidak bisa menemukan alasan untuk melepaskan pelukan. Mereka saling berpelukan untuk memberikan dukungan pada jiwa yang rapuh.


Tapi ini terasa nikmat. Tubuh Vina begitu lembut dan hangat ...


Tidak tidak tidak tidak. Dia tidak bisa membiarkan pikirannya menjadi semakin liar. Adegan dramatis ini akan segera berubah menjadi adegan penuh kecanggungan, dan semakin memalukan. Namun, Vina tidak memikirkan sesuatu seperti itu. Tentu saja Haruhiro juga tidak berpikiran kotor. Mereka adalah rekan satu tim. Teman. Hanya teman.


"Haru."


"Y-y-ya?" Karena mendengar namanya dipanggil dengan tak terduga, dia pun menjadi bingung dan nyaris memberikan jawaban dengan pekikan. Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengenyahkan kepanikannya.


"Vina ..." lanjutnya.


"Ya?"


"Vina akan mencoba yang terbaik," katanya sambil memeluk Haruhiro bahkan lebih erat.


Walaupun Haruhiro mengakui bahwa pelukan Vina begitu nikmat, pada saat yang sama Haruhiro berharap agar Vina tidak mempererat dekapannya. Tunggu. Apa maksudnya "mencoba yang terbaik"?


"Mencoba apa?" Tanyanya.


"Mencoba bergaul dengan Lusi. Vina tidak tahu apakah ini akan berhasil, tapi Vina akan mencoba yang terbaik untuk bisa bergaul dengan Lusi.”

__ADS_1


"Ah, ya. Benar juga. Jika kau dapat melakukan itu, semuanya akan jauh lebih mudah ... aku pikir juga begitu."


"Vina tidak tahu apakah dia akan berhasil. Bahkan, Vina sedikit cemas. Vina berpikir bahwa Lusi mungkin benar-benar membencinya.”


"Sungguh? Aku sih tidak berpikir dia membenci kamu...”


"Sesekali, Vina dan Lusi saling bertatapan, dan tatapan matanya terasa begitu dingin. Ekspresi wajahnya juga sama dingin dengan sorotan matanya.”


"Bukan hanya kau yang merasakan itu. Semuanya juga merasakan hal yang sama.”


"Sungguh? Kalau begitu, tidak apa-apa. Vina memiliki perasaan bahwa ini tidak akan mudah.”


"Ya. Kamu mungkin benar."


"Bisakah Vina melakukan hal ini? Vina akan berusaha keras, tapi Haru, bisakah Vina meminta suatu hal?”


"Hal? Dariku? Hal apa?"


"Vina baru sadar bahwa saling peluk seperti ini sungguh membuat Vina tenang. Maka, peluklah Vina lebih erat dan katakan padanya bahwa dia bisa melakukan yang terbaik.”


"Apakah ……tidak masalah bagimu?" Tanyanya dengan ragu. Ini hanyalah pelukan untuk memberikan semangat, tidak lebih. Bukannya dia menginginkan sesuatu yang lebih. Haruhiro pun sekali lagi mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa ini hanyalah pelukan pemberi semangat. ”Jika kau menginginkannya ..."


Haruhiro menariknya lebih dekat, dan memeluknya dengan segenap kekuatan, sampai-sampai Vina mendesah ringan. Haruhiro ingin menegur Vina agar tidak mendesah seperti itu, karena ini hanyalah pelukan pemberi semangat. Karena jika Vina mendesah seperti itu, entah kenapa ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh Haruhiro. Itu sangatlah panas, seakan-akan dia akan meledak.


Jangan menyerah! Jangan kalah! Pikirnya. Namun, apakah artinya kalah? Apakah dia menginginkan kemenangan? Ia tidak tahu. Dia hanya memiliki perasaan bahwa jika ia kalah di sini, itu akan menjadi sangat buruk. Sangat buruk.


Haruhiro menutup matanya.”Lakukan hal terbaik yang kau bisa, Vina."


Vina tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi dia hanya mengangguk.


Haruhiro membuka matanya dan langsung membeku karena dia melihat Alice yang sedang berdiri di ujung lorong.


"Eh."


"Hm?" Vina juga melihat ke arah Alice.”Ah…"


"Uhh .... umm ... uh ...” Alice mulai gelisah dan tampak panik.


Hal yang sama juga terjadi pada Haruhiro dan Vina. Berapa lama Alice berdiri di sana? Mengapa tak seorang pun memperhatikan kedatangannya?


Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Walaupun Haruhiro menjelaskan seperti itu, nampaknya percuma saja. Tidak peduli apa yang dia katakan sekarang, semuanya sudah terlambat. Mereka telah terjebak dalam posisi yang tidak senonoh. Yang bisa mereka lakukan hanyalah memohon agar Alice yakin bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Dia harus mengklarifikasi, dan memperjelas semuanya.


Haruhiro dan Vina langsung melepaskan pelukannya dan saling menjauh.


"Ini tidak seperti apa yang kau………" mereka berdua mengatakannya dengan serempak sembari saling menatap satu sama lain.


"Maafkan aku! Aku……. " Alice mulai mundur.”Aku tidak tahu! Aku payah dalam hal seperti ini, jadi aku tidak pernah menyadarinya! A-aku benar-benar minta maaf!”


"Tidak, bukan itu yang aku maksud, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Kata Haruhiro.


"Haru benar! Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Vina hanya meminta Haru untuk memeluknya erat-erat, itu saja!” tambah Vina.


"Vina, sepertinya penjelasanmu percuma saja!" Bentaknya.


"Oh? Bagaimana bisa?"


"Maafkan aku…. aku akan pergi sekarang!" Alice mengatakannya, kemudian lari secepat mungkin.


Vina mengerang dan menempatkan telapak tangan pada pipinya. ”Alice dan Vina tinggal pada kamar yang sama, maka Vina akan menjelaskan padanya nanti. Semuanya akan baik-baik saja."


"Aku akan ... menyerahkannya padamu," Haruhiro mendesah, sembari menggosok bagian belakang lehernya.


Dia melirik lagi ke arah Vina untuk sesaat, dan entah kenapa, dia merasa begitu malu. Seharusnya, seorang pria tidak boleh memeluk gadis tanpa memiliki perasaan yang spesial pada gadis tersebut. Namun, apapun itu, Haruhiro telah melakukannya. Dan setelah semuanya berlalu, apakah perasaan spesial itu mulai tumbuh di dalam hatinya?

__ADS_1


Ah, tak mungkin lah hal itu terjadi. Haruhiro meyakinkan itu pada dirinya sendiri.


__ADS_2