KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [1/2]


__ADS_3

Haruhiro melihat bagaimana berbagai hal semakin menenang. Telinganya, membisikkan sesuatu padanya, sedangkan matanya tak melihat.


Dia dan yang lainnya telah bersembunyi di dalam kandang yang tidak berisi ****-cacing maupun babi-tikus. Mereka berada cukup dekat dari tempat yang diduga Marco berada, tapi sebelumnya, suara gemuruh kobolds semakin meyakinkan bahwa Marco pasti berada di sana. Tapi kini kegaduhan itu sudah tiada.


Entah kobolds telah menangkap Marco, atau dia sudah pergi. Yang mana yang benar?


Jika kemungkinan yang kedua terjadi, ia mungkin sekarang sudah berada pada tingkat ketiga ... kemungkinan seperti itu sekarang terjadi juga untuk Haruhiro, dan fakta bahwa ia gagal untuk mempertimbangkannya, kini membuatnya teramat gelisah. Seseorang yang lebih cerdas akan mampu membayangkan beberapa skenario yang mungkin terjadi, kemudian memilih yang peluangnya paling besar. Sayangnya, Haruhiro tidak yakin bahwa dirinya diberkahi dengan kecerdasan seperti itu. Dia hanya bisa melakukan hal terbaik yang bisa dia lakukan dengan segenap upaya.


Ayo bergerak. Kita harus menemukan dia, pikirnya, dan dia hampir mengatakannya dengan lantang, tapi mulutnya tertutup rapat-rapat.


"Tidak apa-apa, Haru." Lusi meletakkan tangan di bahunya. "Kerjakan saja sesuatu dengan caramu sendiri."


"Itu benar!" Kata Vina, sembari menepuk-nepuk kepalanya. "Jadilah dirimu sendiri, karena kau adalah kau! "


Haruhiro tidak tahu apa yang dia katakan, tapi itu mungkin karena apa yang dikatakan oleh Vina tidak memiliki arti, tapi…. Wow, dia mendapatkan belaian di kepala, dan itu terasa memalukan namun cukup nyaman.


Dengan kasar, Barto bangkit. Alice pun menarik napas dalam-dalam. Mereka bergerak, menuju ke tempat yang menurut mereka Marco berada di sana. Haruhiro memang benar. Sekarang, hanya sedikit kobold yang berada di area itu… maksudnya, kini jumlahnya benar-benar nol. Bahkan tak satu ekor pun berada di sana. Itu sungguh terlalu tenang.


Saat mereka berpindah dari kandang ke kandang lainnya, Haruhiro mulai mendapatkan firasat yang benar-benar buruk tentang keadaan ini. Seharusnya tidak setenang ini, apa pun situasinya. Mungkin saja ... Marco telah tertangkap.


Marco! Haruhiro ingin mencoba memanggil namanya. Tapi dia tidak melakukannya. Itu hanya akan terasa aneh. Mungkin, mengatakan sesuatu dengan keras di area ini adalah suatu ide yang buruk. Ketika melihat ekspresi yang lainnya, Haruhiro mengetahui apa yang mungkin sedang mereka pikirkan. Tak seorang pun dari rekan-rekannya memiliki firasat baik, itu sudah pasti.


"Kita masih belum memastikannya." bisik Haruhiro, dan dia menyadari bahwa dia mengatakan itu tanpa sedikit pun kepercayaan diri.


Dia seharusnya mengatakan sesuatu seperti "Marco pasti baik-baik saja", bukannya sesuatu yang begitu rancu. Lakukan dengan caramu, mereka telah mengatakan itu kepadanya. Dia begitu senang karena rekan-rekannya sangat mendukung dirinya, namun ia juga tahu dia harus bekerja keras untuk menutupi kelemahannya. Dan pria sejati tidak akan goyah dengan perubahan situasi seperti ini.


Sebuah lolongan panjang memecah udara.


Lusi menghentikan langkahnya. "Apa itu ...?"


"Apakah kita sudah ketahuan?" Vina melirik sekelilingnya dengan buru-buru.


"Tidak," kata Alice dengan mata terbelalak dan dia sedikit menggelengkan kepalanya. "Bukan kita."


"Kalau begitu ... Marco lah yang sudah ketahuan?" Barto menghunus pedangnya dan bersiap-siap untuk bertahan.


Tetapi dimana? Kobold yang awalnya melolong, kini sudah terdiam, tapi lolongan lain menyambungnya dari arah itu. Meskipun begitu, jumlah mereka tampaknya tidaklah terlalu banyak. Atau paling tidak, seperti itulah yang diduga oleh Haruhiro. Suara itu jauh lebih tenang daripada sebelumnya.


Apa yang harus dilakukan?


"Ayo kita pergi!" Haruhiro mulai berlari.


Apakah ini keputusan yang tepat? Dia mungkin memimpin mereka semua ke dalam situasi yang benar-benar berbahaya ... Bagaimana jika tebakannya salah? Jika itu tampak buruk, maka mereka hanya bisa kembali. Benar. Tentu saja. Bukankah masih ada titik kembali? Seperti itulah yang diyakini oleh Haruhiro. Tapi, kenapa dia selalu memikirkan jalan kembali? Ketidaktegasan itu membuat dirinya sendiri jengkel. Dia ingin menjadi pemimpin yang selalu percaya diri, tapi mungkin hal seperti itu tidak ada pada kepribadiannya.


Jika dia benar-benar tidak bisa melakukan itu, maka apa yang bisa ia lakukan? Lantas, bagaimana dia bisa mendapatkan citra sebagai seorang pemimpin yang selalu percaya diri. Ah, kalau begitu, berpura-pura sajalah. Jika dia berpenampilan keren dan jantan, maka orang lain pasti akan segan padanya.


Ada tiga atau empat…. tidak, semuanya ada lima kobolds pekerja, dan seekor petua yang mengejar manusia sendirian. Jumlah mereka tidaklah banyak, tetapi mereka sudah berhasil mengepung targetnya. Manusia itu mengenakan armor dan mengayunkan pedang panjangnya lebar-lebar dengan tangan kanannya, dan dia berupaya agar para kobold tidak mendekatinya. Namun, dia tidak berhasil. Manusia itu melompat langsung ke belakang untuk memperlebar jarak, namun para kobold kembali mendekat seketika.


"Marco!" Teriak Haruhiro.


Ketika Marco melihat, ekspresi wajahnya seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.


Itulah yang harus aku katakan, pikir Haruhiro, namun itu adalah frase yang salah, karena Marco belum mengatakan apapun. Lantas, ekspresi apa yang barusan dia tampakkan? Tunggu, tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk mempermasalahkan itu.


Sembari terkejut karena kemunculan rekan-rekannya, Marco pun menghentikan langkahnya, namun seekor kobold pekerja melompat ke arahnya.


"Argh!" Marco mendengus ketika kobold itu menyematkannya ke tanah.


"Kami datang!" Teriak Haruhiro.


Empat kobolds lainnya tetap fokus pada Marco, dan sisanya menangani Haruhiro beserta yang lainnya. Ini akan sangat merepotkan.


"Semuanya, serang secara bersamaan!" Haruhiro memerintahkan, dan ketika kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, garis itu muncul.


Garis cahaya kabur dan buram muncul dari ujung belati Haruhiro, menuju pada ke salah satu punggung kobold pekerja, kemudian melengkung dan berakhir pada punggung kobold petua. Whoa, itu cukup panjang ... Haruhiro merenung dalam hati.


Dia tidak harus berpikir, tubuhnya bergerak sendiri, seolah-olah tubuhnya sedang dikendalikan oleh sesuatu yang tak terlihat. Pertama, ia menikamkan belatinya ke punggung kobold pekerja, dan selanjutnya si petua. Haruhiro tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya ketika belati menembus kedua kobolds tersebut di titik fatal. Dadanya terasa sedikit sesak, namun seketika dia menyadari bahwa kedua kobold itu telah tewas.


Pada saat yang sama, target Haruhiro tumbang, kemudian Barto juga sudah menghabisi lawannya dengan jurus  andalan [RAGE CLEAVE]. Lusi memukul seorang kobold pekerja dengan tongkatnya, sedangkan Alice melanjutkan dengan [SHADOW ECHO]. Vina menekankan serangan dengan [SWEEPING SLASH] dan [CROSS CUT] secara bergantian. Barto kemudian menyelesaikannya, menggunakan [RAGE CLEAVE] sekali lagi.


"Sialan!" Marco berteriak, karena ia dipaksa mundur oleh serangan kobold.


Haruhiro tidak menanggapi, namun dia mendekati bagian belakang kobold tersebut. Dia meraihnya dari belakang, menariknya ke tanah, dan menghujamkan belatinya ke tenggorokan si kobold, dan itu adalah teknik [WIDOW MAKER].


"Aku akan menyembuhkanmu," kata Lusi, lantas dia membantu Marco berdiri, dan melantunkan sihir penyembuhan cahaya dengan segera.


Marco melirik pada Haruhiro, sembari bahunya naik-turun. "Jangan tiba-tiba meneriakkan namaku seperti itu! Aku hampir saja mati karena terkejut, dasar bodoh! "


Marco yang bermulut besar sangatlah buruk. Lusi sedang memusatkan usahanya untuk menyembuhkan luka Marco, terutama luka dalam pada lengan kirinya, namun wajah Marco juga robek. Melihat Marco dalam kondisi seperti itu, Haruhiro tidak tega marah padanya.


"Maaf," jawabnya dengan tulus. Marco hanya memalingkan wajahnya.


"Heeey ..." Vina memasang wajahnya tepat di depan Marco. Matanya melebar karena terkejut. "Ternyata, Marco ... sedang menangis? "


"Tidak, aku tidak sedang menangis!" Marco menyemburnya dengan keras.


"Tapi kau berlinang air mata ..."


"Itu karena aku kesakitan!" Marco bersikeras.


"Tidak perlu sok kuat ... "kata Vina. "Kau masih hidup, dan kita semua dapat bertemu kembali. "


"Aku sungguh menantikan saat ini! Tidak! Maksudku……" Marco mengubah kalimatnya dengan cepat dan kebingungan. "Maksudku, aku tidak bermaksud ingin melihat kalian lagi! Maksudku, aku tadinya berpikir bahwa aku tidak akan pernah melihat kalian lagi ... kemudian dadaku terasa…. dadaku terasa….. "


"Dadamu terasa apa?" Vina menekannya. "Dadamu terasa sesak seakan-akan mau pecah?"


"D-diam!" Marco membentak balik. "Aku tidak ingin mendengarnya dari seorang gadis berdada papan cucian! "


"Jangan sebut Vina papan cucian!" Teriak Vina.


"Aku boleh memanggilmu apapun yang aku inginkan! Jika aku ingin memanggilmu papan cucian, maka aku akan memanggil begitu! Papan cucian! Papan cucian! Papan cucian! Papan cucian!"


"Tenanglah," Lusi memerintahnya, sembari menyambar dagu Marco. "Dan jangan banyak gerak. Atau kau tidak ingin disembuhkan?"


Wajah Lusi tanpa ekspresi, nada suaranya datar, namun itu membuat penampilannya semakin menakutkan.


"U-uh, t-tidak kok ..." Marco duduk tegak lurus. "Maaf."


"Sekarang kau telah membuatnya marah ..." Vina mengejek Marco. Dia takut dengan Lusi, dan kini dia tidak bergerak sedikit pun.


"Aku ... sangat senang," kata Alice, sembari merebahkan dirinya ke tanah.


Barto menghela napas berat. "Aku juga."


Kita tidak bisa membiarkan diri kita lengah lagi, pikir Haruhiro. Tidak pada saat seperti ini ... Mereka harus tetap waspada dalam situasi ini. Musuh terburuk bagi mereka adalah kesalahan yang mereka buat sendiri ketika lengah. Haruhiro mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut. Di sana! Dia benar, ada dua, mungkin tiga kobolds, yang melompat keluar dari kandang di kejauhan. Jika mereka semua bersama, maka tim ini akan mampu membereskan lawan-lawannya tanpa masalah, tapi tak ada jaminan jumlah musuh tidak akan bertambah.


"Lusi, bagaimana dengan Marco?" Tanya Haruhiro.


"Dia akan baik-baik saja," katanya.


"Oke, kalau begitu kita akan meninggalkan tempat ini. Marco, bangunlah. Bisakah kau berlari?"


"Tentu saja aku bisa! Kau pikir sedang berbicara pada siapa, dasar bodoh! "


Siapa yang kau panggil bodoh? Kau harus berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan nyawamu!  Haruhiro berpikir demikian, tapi dia tidak mengungkapkannya. Vina pernah berkata bahwa Marco sudah tidak dapat tertolong lagi. Marco adalah Marco, dan ia akan selalu menjadi Marco, karena ia adalah seorang Marco. Haruhiro begitu setuju dengan pendapat tersebut, kemudian dia “biarkan saja”.


Suatu lolongan bernada tinggi panjang mengisi telinga mereka.


Lolongan itu adalah panggilan alarm dari kobold, dan Haruhiro pun sudah menduganya. Untung saja mereka sudah mulai berlari, meskipun itu tidak mengubah fakta bahwa mereka sedang dikejar. Lagi-lagi. Ini memang situasi yang menakutkan, tetapi bertindak berlebihan akan menyebabkan bahaya yang jauh lebih besar.

__ADS_1


"Kita akan menuju kembali ke tingkat ketiga!" Haruhiro memutuskan. "Maaf Lusi, tetapi bisakah kau memimpin di depan? Aku tidak tahu jalannya sebaik dirimu! Pimpinlah kami menuju sumur tenggelam terdekat! "


"Ya!" Terdengar suara dari Lusi.


"Marco, tetaplah bersama Barto, dan awasi bagian belakang kita!"


"Baik!" Teriak Marco. "Tapi menuruti perintahmu membuatku kesal!"


"Jangan membantah!" Vina menegur, dan mengatakan apa yang dipikirkan oleh Haruhiro. Berkat itu, Haruhiro tidak merasa kesal seperti biasanya.


Dengan Lusi yang memimpin di muka, jalan mereka lebih jelas dan pasti. Haruhiro memahami hal ini secara tidak sadar. Mungkin dia selalu menanggung keinginan untuk kembali ke tempat ini dan, karena itu, ia telah merekonstruksi tata letak dan jalur tambang berulang-ulang kali dalam benaknya. Dia pernah berkata bahwa ia ingin beranjak maju, dan terbebas dari tempat ini.


Apakah ada sesuatu yang tersisa, berupa urusan yang ingin dia selesaikan di sini? Sesuatu yang selalu dia ingin lakukan, tapi tidak pernah kesampaian? Bagi Haruhiro, hal itu pasti adalah balas dendam. Dengan kata lain…


Mereka mencapai sumur tenggelam dengan cepat. Gadis-gadis pergi terlebih dahulu, diikuti oleh Marco, Barto, dan akhirnya Haruhiro mengakhirinya.


"Kenapa tidak kita bertahan untuk melawan?" Marco protes, meskipun semuanya telah terlanjur terjadi.


Haruhiro, karena dia sangat mempercayai timnya, ia tidak ingin mengambil risiko yang tidak penting. Pada saat mereka semua telah mencapai tingkat ketiga, tanda-tanda pengejaran dari kobolds telah menghilang.


Semuanya kelelahan, sehingga mereka mencari daerah yang relatif tersembunyi, tanpa bunga cahaya, dan di tempat itulah mereka beristirahat.


Paling tidak, seperti itulah rencananya.


Suasananya gelap. Sungguh-teramat-gelap-sekali, sehingga mereka tidak bisa melihatnya; tiba-tiba mereka dikelilingi oleh kolam kegelapan.


Haruhiro tiba-tiba berhenti. "Tunggu. Apakah kalian dengar itu? Suara itu…"


"Suara?" Ulang Alice, sembari menjulurkan lehernya.


Dia menajamkan telinganya.


Klak, klak ...


Dia bisa mendengar itu.


Klak, klak, klik ...


Klak, klak ...


Sebuah suara samar. Tapi ada sesuatu yang bergerak. Bukan kobold. Suara itu tidak terdengar seperti kobold ...


"Tunggu," kata Marco, lalu dia berlari ke suatu tempat.


Ia kembali beberapa saat kemudian dengan seikat bunga cahaya di lengannya, dan mulai menjulurkan bunga tersebut pada lingkaran kegelapan yang mengelilingi mereka. Gemerlap cahaya dari bunga tersebut mengungkapkan ... jejak kaki.


"H-h-h-h ..." Barto menyusut. "H-hantu ..."


Vina mengeluarkan jeritan, melompat ke belakang, menabrak Marco, dan menempel padanya. Ketika dia menyadari siapa orang yang dia sandari, dia langsung saja melepaskan pelukannya.


"Jangan mencoba sesuatu yang konyol!" Vina berkata kepadanya.


"Kau lah yang menempel padaku terlebih dahulu!" Marco membentak balik.


"Apakah kalian pikir itu adalah ..." Alice menggenggam tongkatnya semakin erat, dan napasnya menjadi berat. "S-Skeleton?"


"Ya," Lusi menjawab, sembari melangkah maju.


Ketika Lusi mengetuk tanah dengan ujung tongkatnya, semacam suara shooooom menggema di udara.


"Ketika transformasi terjadi pertama kali, kutukan dari Wright King memberikan nyawa palsu pada mayat yang tidak dikeremasi," Lusi menjelaskan. "Skeleton adalah makhluk yang terbentuk ketika daging mereka mulai membusuk dan berjatuhan."


"Tidak mungkin..." Haruhiro berhenti, dan dia kehabisan kata-kata.


Skeleton (yang semulanya adalah orang) diterangi oleh cahaya samar dari bunga, adalah ... mereka adalah


...


armor. Namun tulang mereka, atau lebih tepatnya tulang yang berwarna putih dan sedikit kekuning-kuningan, mengintip dari balik armor mereka. Seseorang ditutupi oleh pelat baja, dan mengangkat pedang tinggi-tinggi. Seseorang, berpakaian mirip seperti Haruhiro, dan memamerkan belatinya seakan-akan dia selalu bersiap siaga. Yang terakhir mengenakan jubah penyihir, lengkap dengan tongkatnya.


"Lama tak jumpa, teman-teman ..." kata Lusi.


Jenis ekspresi apa yang dia tampilkan di wajahnya? Dia berdiri di depannya sekarang, jadi Haruhiro tidak bisa melihat wajahnya. Suaranya begitu stabil, tegas, dan terkesan santai, seakan-akan dia sedang menyapa seorang teman yang telah lama berpisah. Lusi mungkin telah membulatkan tekad jauh hari sebelum ini terjadi.


Dia telah kehilangan tiga teman di sini, di Tambang Siren. Tak seorang pun mengatakan bahwa Lusi berniat kembali lagi ke tempat ini untuk menyempurnakan jasad teman-temannya yang telah mati. Bahkan jika dia ingin mengadakan pemakaman yang layak untuk menghormati sahabat-sahabatnya yang telah gugur, situasi saat itu sepertinya sangat tidak memungkinkan. Dia tidak punya pilihan selain meninggalkan tubuh mereka begitu saja.


Tapi di sini, di perbatasan Hormuz, mayat yang tidak dikremasi tiga sampai lima hari setelah kematian akan terkena kutukan Wright King. Mereka akan mulai bertransformasi menjadi Undead. Lusi tahu betul bahwa takdir kejam ini telah menanti mantan sahabatnya.


"Miki. Ogi. Musi." Lusi membisikkan nama mereka dengan suara lembut. "Aku minta maaf…"


"Bersiaplah!" Haruhiro berteriak sambil melihat penyihir Skeleton, Musi, yang mengangkat tongkatnya.


Sebuah tumpukan tulang yang tidak dapat berbicara. Tulang semata tidaklah memiliki suara, tapi entah kenapa, mereka semua mendengar suaranya. "Derem ... hel ... en ... "


Itu lebih mirip terdengar seperti sapuan angin daripada bisikan kata. Itu adalah salah satu hal paling menakutkan yang pernah ia dengar.


"Semuanya, menghindar!" Lusi berteriak sembari ia melompat ke samping.


Haruhiro dan yang lain mengikutinya setelah sepersekian detik, mereka melompat ke kiri dan kanan.


Mage Skeleton meneruskan mantranya, "Van ... Alev ..."


Angin. Mereka terhempaskan oleh amukan angin, tapi angin itu tidaklah normal. Itu panas bagaikan badai api.


"Whoa!" Haruhiro mengangkat lengannya untuk melindungi wajah.


Angin itu terasa cukup panas untuk membakar sesuatu. Terik. Suatu hawa panas yang menantang keyakinan. Jika ia membuka matanya, ia yakin bahwa bola matanya akan mencair. Mungkin saja begitu, atau mungkin juga tidak.


"Aku akan menggunakan [PURIFY] untuk menghilangkan kutukan mengerikan ini!" Lusi berteriak. Tidak seperti biasanya, Lusi secara agresif bergerak pada garis depan Party. "Aku harus lebih dekat!"


Tidak ada yang sanggup menghentikan dia, pikir Haruhiro. Tak ada gunanya mengatakan padanya untuk mundur karena ini sangatlah berbahaya. Sekarang, yang bisa Haruhiro lakukan hanyalah membiarkan Lusi melakukan semuanya dengan caranya sendiri. Yang bisa dia lakukan hanyalah memberikan dukungan.


"Barto, hadapi Warrior itu! Marco, Thief itu adalah bagianmu! "Haruhiro memerintah.


Barto menghadapi Skeleton Warrior bernama Miki dengan teriakan, dan ayunan pedang.


"Aku mendapatkannya!" Marco berteriak, sambil melompat pada Skeleton Thief bernama Ogi.


"Vina!" Haruhiro mengarahkan pandangan matanya pada Vina.


Lusi mungkin bermaksud untuk menggunakan [PURIFY] pada Musi terlebih dahulu. Haruhiro dan Vina harus membantunya, atau dia tidak akan bisa menyelesaikan lantunan mantranya.


"Baik!" Vina mengangguk.


Mungkin ini adalah upaya yang sia-sia, mengingat lawan mereka adalah Skeleton, tapi Haruhiro berteriak dengan segenap udara di paru-parunya, dan menyerang Musi secara langsung. Vina melakukan hal yang sama. Musi bergerak, seakan-akan dia hendak membaca mantra lainnya, tapi dia ternyata justru mengelak. Mantra yang sebelumnya dia lantunkan mungkin adalah [SIROCCO], yaitu mantra elemen api. Sihir api adalah mantra bersifat menyerang yang terfokus untuk menyebabkan kerusakan, sehingga jika mereka terkena mantra Musi, mereka akan mengalami masalah besar.


"Derem ... hel ... en ..." Musi merapalkan mantra lainnya sembari ia mengukir simbol elemental di udara dengan ujung tongkat.


Itu lagi. Derem hel en, itu terdengar seperti mantra identik yang dia lantunkan sebelumnya.


"Lari!" Teriak Haruhiro.


Dia menghindar ke kiri, sementara Vina bergerak ke kanan, mereka menghindar dengan segenap kekuatan yang mereka punyai.


"... Rig ... Alev ..."


Apa? Api. Api. Benar-benar api. Sebuah tirai api muncul tepat di depan Musi.


"Itu [WALL OF FIRE]!" Teriak Alice dengan terkejut. Dia mengacungkan tongkatnya sendiri, dan berteriak, "Oom rel eckt nem das! "

__ADS_1


Itu adalah mantra [SHADOW BIND] milik Alice. Elemental bayangan menyematkannya ke tanah persis ketika Ogi hendak melangkah. Skeleton Thief terkena mantra itu, sehingga dia tidak bisa bergerak.


"Kerja bagus, Aliceeeee!" Kata Marco, dia memperpanjang suku kata terakhir sambil menyerang Ogi yang sudah terjebak. Marco melepaskan serangan bertubi-tubi.


Namun, bagaimanapun juga, Ogi memiliki kelas yang sama seperti Haruhiro. Dia hanya menggunakan [SWAT] untuk menangkis, menangkis, dan menangkis pedang panjang milik Marco. Andaikan saja serangan Marco seberat teknik [RAGE CLEAVE] milik Barto, maka mungkin saja serangannya berhasil, tapi karena Marco tidak memiliki serangan setangguh itu, bahkan Haruhiro pun mungkin saja bisa menangkis serangan-serangan beruntun


darinya. Sepertinya Marco tidak akan bisa menumbangkan Ogi sendirian.


Agak jauh dari sana, Barto menggerutu sambil saling mengunci pedang dengan Miki. Mereka menekan satu sama lain dengan kekuatan yang mengerikan. Barto bermaksud untuk memutar pedang Miki, kemudian meneruskan dengan [SPIRAL SLASH], tapi Miki juga seorang Warrior, sehingga dia sudah tahu cara kerja teknik tersebut. Tidak mudah untuk mengalahkannya dengan teknik yang sudah dia pahami. Itu berarti, saat ini Barto


sedang mengalami pertarungan yang sulit.


"A-apa yang harus kita lakukan sekarang?" Vina bertanya, sembari berhenti di depan dinding api.


Musi ada di balik dinding pijar tersebut, tetapi mereka tidak bisa melihatnya.


"Aku tidak yaki-whoa!" Haruhiro membungkuk, mencoba untuk menghindari sinar cahaya yang diluncurkan dari balik dinding.


Serangan itu menghantamnya tepat di wajah. Untuk sepersekian detik, dia benar-benar mengira bahwa dirinya sudah mati. Tapi ternyata tidak. Rasanya seperti terkena jotosan pada rahang, dan meskipun itu terasa sakit sekali, namun dia tidak menderita luka parah. Apakah itu ... [MAGIC MISSILE]?


"Ahh!" Teriak Vina. Dia juga sudah terkena mantra itu.


[MAGIC MISSILE] yang berwujud sinar cahaya terbang di mana-mana. Haruhiro mundur dari dinding api, dia tidak mampu melakukan apapun selain menghindari lontaran mantra tersebut. Dia bahkan tidak tahu bahwa mantra tersebut bisa dikombinasikan seperti ini.


Tiba-tiba, Barto berteriak. Apakah Barto sudah tumbang? Itulah yang pertama kali dipikirkan oleh Haruhiro. Tidak, sepertinya Barto hampir saja terkena pukulan fatal. Miki. Dan teknik itu. Haruhiro hanya melihat sekilas, tapi sepertinya Miki telah melakukan tangkisan sambil mengayunkan pedangnya ke bawah pada waktu bersamaan.


Pasti itu merupakan skill seorang Warrior, tapi Haruhiro tidak menyadari Warrior bisa memiliki teknik akrobatik seperti itu.


Barto segera bergerak untuk melakukan serangan balik, tapi Miki melompat mundur dengan cepat, dan keduanya lagi-lagi saling kunci. Miki. Dia begitu kuat. Dia lebih lincah, dan teknik-teknik miliknya lebih baik daripada Barto, meskipun dalam hal kekuatan, mereka cukup berimbang.


Jika pertarungan ini terus berlanjut satu-satu, Barto pada akhirnya akan tidak diuntungkan. Sekarang, dia semakin terpojok. Jika Barto tumbang, maka tidak ada orang lain yang mampu menangani Miki. Tentu saja, Haruhiro dan kawan-kawan memiliki keuntungan dalam jumlah, tapi itu tidak berarti apa-apa jika lawan mereka berhasil mengalahkan mereka satu per satu. Mereka harus mendukung Barto.


Saat Haruhiro memikirkan kesimpulan itu, Alice melantunkan mantra lainnya.


"Oom rel eckt vel das!" Dia merapalkannya.


[SHADOW ECHO]. Elemental bayangan yang tampak seperti rumput laut hitam menghantam bahu Miki. Tapi itu tidak cukup. Mantra itu mungkin telah membuat seluruh tubuh Miki gemetar, tapi itu benar-benar tidak memberikan hasil signifikan. Mungkin [SHADOW ECHO] kurang efektif terhadap Skeleton.


"Alice, gunakan [SHADOW BIND]!" Kata Haruhiro.


Pada saat yang sama Marco berteriak, "Mantranya semakin melemah!"


Haruhiro menujukan pandangannya, dan melihat bahwa Marco benar. Ogi sudah bisa bergerak bebas lagi, dan dia mengelilingi Marco. Tampaknya Ogi bermain-main dengannya. Durasi [SHADOW BIND] adalah sekitar dua puluh lima detik. Apakah itu sudah berlalu? Tidak, Haruhiro punya perasaan bahwa durasi mantranya semakin memendek. Dia memang bukan seorang ahli sihir, tapi sejauh yang ia tahu, sihir bekerja lebih baik pada beberapa jenis lawan yang mereka hadapi. Semuanya tergantung pada kekuatan harapan sang pelantun mantra, dan juga ada faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi. Terkadang, mantra bisa kurang efektif.


"S-sekarang! Oom rel eckt nem das!" Alice merapalkan [SHADOW BIND] sekali lagi, di tempat di mana Ogi hendak melangkah berikutnya.


Namun kali ini, lawannya sudah membaca maksud Alice. Dia melangkah dan melewati titik pada tanah, di mana elemental bayangan tertuju, kemudian dia melesat untuk memberikan serangan pada Marco.


Sementara semua itu terjadi, sinar [MAGIC MISSILE] tidak pernah berhenti ditembakkan dari balik dinding api. Haruhiro terpaksa terus menghindari tembakan-tembakan tersebut. Apa yang akan kita lakukan?


Lusi meneriakkan nama temannya "Musi!!".


"Tunggu, Lusi!" Haruhiro berteriak dengan tak percaya. "Apakah kamu-"


Apa yang sedang dia lakukan? Apa yang tengah dia pikirkan? Lusi telah melompat langsung untuk menembus dinding api. Tidak mungkin! Dia akan terbakar sampai garing. Dia akan mati jika melakukan hal gila seperti itu. Haruhiro ingin menghentikannya, tapi tidak dia tidak akan menghentikannya tepat waktu. Lusi pun menghilang di balik api.


"O cahaya, di bawah naungan Dewa Luminous ... [PURIFY]!"


Haruhiro mendengar suara Lusi, kemudian api itu pun mulai padam, dan lenyap sama sekali. Lusi membungkuk rendah. Di kakinya, tongkat sihir terjatuh berguling-guling di dekat jubah Mage, ada juga topi, dan juga ... tumpukan abu.


Suara Haruhiro tercekat di tenggorokannya. Dia kehabisan kata-kata saat melihat adegan ini.


"Tidak apa-apa," kata Lusi, sembari bersujud.


Tidak apa-apa? Haruhiro merenungkan maksud dari perkataan itu. Apanya yang tidak apa-apa? Padahal saat ini sungguh kacau. Rambut Lusi telah sedikit hangus, wajahnya dan beberapa titik di tubuhnya terlihat memerah. Tapi bukan hanya itu. Musi adalah mantan rekannya, mungkin mereka bahkan sudah berteman dengan akrab, dan dengan tangannya sendiri, Lusi telah ... dia telah ... Apanya yang baik-baik saja? Apakah benar-benar begitu?


Tapi, ini bukan saatnya menghibur Lusi yang sedang sedih.


"Vina, Alice, bantu Barto!" Kata Haruhiro.


"Paham!" Vina menjawab.


"O-oke!" Kata Alice.


Setelah menyuruh mereka berdua membantu Barto, Haruhiro berkonsentrasi untuk membelakangi Ogi. Tapi Ogi juga seorang Thief, ia bergerak dengan gesit, dan terus mengunci pergerakan Marco, sementara dia tidak membiarkan Haruhiro berada di belakangnya. Dia lebih terampil dariku, Haruhiro menyadari itu. Meskipun dia kini berwujud Skeleton, keterampilan motorik Ogi jauh lebih unggul. Skeleton pasti memiliki kemampuan yang sama ketika dia masih hidup.


Haruhiro akan kalah, bahkan mungkin kalah dengan cukup mudah, jika mereka berhadapan secara langsung. Aku tidak suka melakukan ini padamu, Ogi, karena kau adalah mantan rekan Lusi. Ya, aku memang lebih lemah darimu, tapi teman maaf, aku tidak bertarung sendirian!


"Marco!" Teriak Haruhiro.


"Ayo!" Kata Marco dengan tajam.


Marco dan Haruhiro beralih tempat. Anehnya, mereka berdua bergerak dengan selaras satu sama lain pada saat-saat seperti ini. Naluri Marco cukup baik.


Tampaknya Ogi bingung sejenak saat ia mencoba untuk menemukan posisi Marco. Setelah mendapatkan celah, Haruhiro pun menyerang. Ogi membelokkan serangannya dengan skill [SWAT], kemudian melakukan serangan balasan, dan kali ini Haruhiro juga menggunakan [SWAT] yang sama. Ketika Ogi menyerang, Haruhiro pun menggunakan [SWAT]. Ketika Haruhiro menyerang, Ogi juga menggunakan [SWAT].


Sekitar keempat kalinya setelah mereka saling berbalas [SWAT], Ogi melakukan sesuatu yang membuat Haruhiro merinding. Sedikit demi sedikit, Ogi telah memodifikasi skill [SWAT] miliknya, sehingga pada keempat kalinya mereka bentrok, Ogi nyaris membuat Haruhiro menjatuhkan senjatanya.


Aku benar, pikir Haruhiro. Aku tidak bisa menang melawan dia. Tapi dia tidak perlu melawannya sendirian. Haruhiro tiba-tiba melangkah maju dan menusukkan belatinya. [SWAT] adalah teknik pertahanan untuk memblokir serangan lawan. Untuk melakukan [SWAT], kau harus mencurahkan seluruh konsentrasimu pada gerakan lawan, setidaknya untuk sesaat. Teknik ini bisa aktif dengan sendirinya jika kau sudah terbiasa menggunakannya, dan kau bisa mengeksekusinya dengan refleks.


Dengan kata lain, kau akhirnya bisa menggunakan itu secara otomatis, tak peduli itu akan berdampak baik atau buruk.


Ogi menggunakannya sekarang, untuk melawan serangan mendadak dari Haruhiro.


"Rasakan ini!" Marco datang dari belakang, dan dia menyabetkan pedangnya secara diagonal. Pedang panjang itu berhasil memotong kaki kanan Ogi.


Jujur saja, ketika itu terjadi, tubuh Haruhiro terasa merinding. Dia dan Marco tidak pernah berkoordinasi sebelumnya, tapi meskipun begitu ... Marco, kau tahu persis apa yang aku pikirkan. Itu membuat Haruhiro merasa sedikit malu pada dirinya sendiri.


"Ogi!" Lusi memanggilnya.


Dengan satu kaki terpotong, Skeleton Ogi tidak lagi mampu berdiri. Lusi mendekatinya sekarang.


"O cahaya, di bawah naungan Dewa Luminous ... [PURIFY]!"


Haruhiro tidak yakin apakah dia sedang menyaksikan suatu pemandangan yang baik ataukah buruk.


Cahaya yang menyilaukan menyelimuti Ogi, dan beberapa saat kemudian tubuhnya, atau lebih tepatnya, tulang-benulangnya menjadi debu secara perlahan. Pemandangan itu membuat hati Haruhiro terasa sakit, dan air mata hampir membasahi pipinya. Mungkin bagi Ogi, ini adalah suatu pembebasan, karena dia dilepaskan dari kutukan oleh temannya sendiri. Tapi bagi Haruhiro, dia tak punya alasan untuk merasa gembira, karena dia memahami bahwa ini pasti sulit untuk Lusi.


Lusi menjatuhkan diri di dekat tumpukan abu yang tadinya adalah Ogi, dan dia meraup segenggam abu tersebut. Tidak peduli seberapa erat dia mengepalkan tinjunya, abu itu terus tumpah dari celah di antara jari-jemarinya. Tanpa melihat, Lusi pun hanya mengangguk.


"Hanya Miki yang tersisa," katanya.


"Oy!" Marco menunjukkan ujung pedangnya terhadap Lusi. Haruhiro tidak tahu mengapa ia melakukan hal seperti itu. Marco melanjutkan omongannya, "Sekarang kamu bersama kami! Jangan lupa itu! "


Oh. Haruhiro memahami maksud yang Marco coba ungkapkan, tapi Haruhiro tahu bahwa ada cara yang jauh lebih tepat dan lembut untuk mengungkapkannya. Dan kenapa dia harus menunjukkan pedangnya pada Lusi?


Meskipun begitu, Haruhiro tidak menuntutnya, karena Lusi menatap Marco sembari berkata. "Kau benar." dengan senyuman kecil di bibir.


"Haruhiro!" Teriak Alice.


"Ayo kita selesaikan ini!" Jawab Haruhiro, sambil beralih ke Miki.


Barto terus menerus mundur akibat serangan Miki, sementara Vina dan Alice mencoba untuk mendukung dia, tapi itu sia-sia. Walaupun Alice mencoba untuk merapalkan [SHADOW BIND], itu bisa menjadi bumerang jika malah Barto yang terkena.


"Sekarang giliranku!" Marco menyerang Miki dari samping.


Miki memblokirnya dengan mudah, tapi itu memberi suatu kesempatan bagi Barto untuk menarik napas. Haruhiro mengarahkan perhatiannya pada Miki. Skeleton Warrior itu gesit, tapi tidak selincah Ogi. Marco menyerang dengan segala yang ia miliki. Barto memiliki keuntungan ketika bertempur dengan tim, ia cukup terampil dalam berkoordinasi dengan rekan lainnya. Mereka bisa melakukan ini.


Sekarang! Haruhiro menempel pada punggung Miki. Karena Miki adalah Skeleton, menikamnya adalah hal

__ADS_1


yang sia-sia, sehingga sebagai gantinya, Haruhiro mengincar lehernya. Dia meraih tengkorak Miki dengan satu tangan, kemudian mempelintir lehernya ke arah yang berbeda. Barto menindaklanjuti dengan menghancurkan lengan kanan Miki dengan menggunakan pedang raksasa miliknya, sehingga memaksa Miki untuk menjatuhkan senjatanya.


__ADS_2