KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Curahan Hati Maira


__ADS_3

"Lepas!" bisik Maira.


Apa ini? Angkuh? Di saat aku benar-benar larut dalam rasa bersalahku, dan dengan rendah hati mengemis ampun darinya, Maira tidak tersentuh sama sekali. Harusnya dia tahu, aku tidak pernah seserius ini.


"Mah?" tanyaku tidak percaya saat semua daya upaya sudah kukerahkan, tapi Maira masih membatu.


Dengan kaku kulepas tangan dari tubuh Maira, isakku berhenti dan sadar diri betapa memalukannya diriku sekarang. Aku tidak lagi berharga di depan Maira. Apa ini ujian dari kesungguhanku?


"A-aku sungguh-sungguh, Mah," ucapku kelu.


"Maira ... aku Maira," ucap Maira tanpa rasa simpati.


Kulihat ibu menatapku dengan sangat iba, kesungguhanku ditepis begitu saja oleh Maira. Tanpa pertimbangan apalagi ampunan, hanya berlalu begitu saja seperti sepoi angin yang menyapa wajahnya. Aku ... kecewa.


Aku terdiam, kuseret kakiku mundur dan kuhempaskan tubuhku begitu saja di sofa. Aku bodoh sekali, dan Maira, angkuh?


Maira pun duduk kembali sambil memeluk erat bantal di pangkuannya. Matanya memandang ke arah lain, dan entahlah aku tidak bisa membaca isi hatinya sedikit pun.


"Ibu nggak tahu mesti gimana," ucap ibu memecah kediaman kami berdua.


"Wajar kalau istrimu susah maafin kamu, Wa! Lebih baik kamu banyak bertobat dan minta ampun, serta berubah."


"Sekarang mau kalian bagaimana?" tanya ibu.


"Aku maunya pisah, Bu!" jawab Maira dengan cepat.


"Enggak ... aku nggak mau!" tolakku tidak kalah cepat.


Ibu memandang kami berdua bergantian, menimbang-nimbang. Sesalah apa pun aku tetaplah anaknya, ibu pasti membantuku.


"Apa ... anak ibu udah nggak bisa kamu maafin, May?" tanya ibu dengan lembut dan penuh harap.


"Bisa, Bu!" jawab Maira cepat, dadaku berdegup kencang mendengar jawaban Maira.


"Jadi?" tanya ibu.


"Harus tetep pisah!" kukuh Maira.


"Kenapa, May? Kasian anak-anak, apalagi Guntur yang masih bayi!" ucap ibu kecewa.


"Ibu benar, kasian anak-anak kalau ibunya sakit kayak aku, aku harus lepas dari anak ibu biar aku bisa kembali jadi Maira yang waras," jawab Maira tegas dan sangat menyakitkan.


Air mata? Iya. Kulihat buliran mutiara di sudut mata Maira. Hancurkah pertahanan Maira karena ibu? Atau Maira hanya beku saat bicara denganku?


"Maira yang jiwanya sudah dibunuh berkali-kali oleh anak ibu!"


"Maira yang hatinya sudah disakiti dan dihancurkan dengan sangat kejam!"


"Maira yang sangat bodoh karena percaya dan terus berharap anak ibu akan berubah."

__ADS_1


"Maira yang sudah gila karena terlalu bingung membedakan rasa!"


"Maira yang kayak itu nggak layak jadi seorang ibu!"


"Aku butuh Maira yang baru, Maira yang lahir kembali dengan rasa percaya diri bahwa dia pantas bahagia!"


Perkataan Maira mengandung rasa sesak yang teramat pekat, menghimpit dirinya hingga sisi jurang yang putus asa. Kesedihannya tergambar secara nyata. Kepesimisannya terhadap pernikahan dan perubahanku jelas tersirat dari caranya membicarakan anak-anak tanpa aku.


Kemana saja aku selama ini? Kenapa Maira jadi seputus asa ini dan aku terlambat menyadarinya?


"Karena anak-anak juga makin besar, untuk Luna dan Lintang, aku nggak mau mereka patah hati. Gimana kalo mereka tahu sosok papah yang harusnya jadi cinta pertama mereka justru memperlakukan mamahnya dengan kejam?" lanjut Maira mencoba bernarasi tanpa isakan, hanya air matanya yang tetap lolos.


"Gimana kalo mereka trauma dan berkembang menjadi pribadi yang terluka? Apalagi dengan dosa papahnya, aku nggak mau kalo sampe mereka yang kena karmanya!" tegas Maira.


Begitu rendahnya Maira menilaiku! Aku memang rendah!


"Dan untuk Guntur, gimana kalo dia mengikuti perbuatan papahnya kelak?" lanjut Maira mengadiliku. Menghukumku.


"Aku cuma mikirin mereka!" tegas Maira.


Maira menjabarkan kegagalanku satu demi satu. Aku hanya bisa tertunduk lesu, mencerna perkataan Maira dengan sangat lambat, dan mengutuk diri kenapa semua bisa sekacau ini?


"Iya ... kamu benar, May. Anak ibu emang udah sangat bersalah sama kamu, ibu mau minta kamu buat maafin Dewa juga malu," ucap ibu pasrah.


"Ibu hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik untuk kalian," lanjut ibu.


Tidak. Jangan menyerah, Bu! Aku tidak bisa melepas Maira setelah menyadari semua perbuatanku yang salah. Aku bisa mati karena menyesal. Aku harus memperbaiki dan mengobati seluruh luka Maira.


"Sudah kamu istirahat, kamu pasti capek. Inget kebahagiaan anak memang penting, tapi jangan sampe lupa sama kebahagiaan kamu juga ya, May," ucap ibu.


"Iya, Bu."


Maira pun bangkit dan hendak pergi meninggalkan pembicaraan ini, sementara aku masih menggantung.


"Tunggu, May!" Maira berhenti.


"Aku janji untuk berubah, May!" seruku tidak kalah teguh.


"Kasih aku kesempatan, terakhir kali aku mohon!" pintaku memaksa.


"Berubah?" tanya Maira.


"Setaun? Sebulan? Seminggu? Atau cuma sehari?" lanjut Maira meremehkan.


Maira pergi begitu saja. Apa itu tadi? Maira menantangku? Dia tidak percaya kalau aku benar-benar menyesal?


"May!" Maira abai dan terus melangkah pergi.


"Aku buktiin, May! Kalo itu yang kamu minta!" seruku.

__ADS_1


Banyak sekali kalimat Maira yang masih belum berhasil kucerna. Bukan lagi rengekan atau tuntutan untuk menjelaskan, bukan lagi umpatan serta makian, bukan lagi air mata yang kudapat dari Maira. Tapi sikap seolah Maira siap untuk hidup tanpaku. Benar-benar menakutkan.


"Huh! Kamu ini, Wa!" tegur ibuku.


"Udah ... lepasin aja istrimu!" usul ibu.


"Apa?" tanyaku terkejut.


"Aku nggak mau, Bu," tolakku mentah-mentah.


Ibu diam menatapku yang kacau karena Maira. Satu hal yang sudah bisa kusyukuri adalah Maira yang tidak lagi diam. Setidaknya masalah ini tidak lagi buntu dan sudah ada celah jalan keluar yang mulai tampak. Aku hanya harus berusaha lebih keras. Tapi kenapa ibu malah memintaku melepas Maira?


"Udah susah, Wa!" ucap ibu aku tak mengerti.


"Apa maksud ibu? Aku nggak mau kehilangan Maira!" ucapku meminta penjelasan.


"Nggak mau kehilangan?" ulang ibu bertanya.


"Kamu itu udah kehilangan kepercayaan dari Maira, sekarang yang ada di rumah ini cuma badannya Maira, tapi hatinya udah lepas dari kamu, Wa! Apa lagi yang mau dipertahankan?"


"Masih bisa, Bu!" ucapku kukuh.


"Kamu mau terus-terusan ngemis kaya tadi sama istrimu?"


"Kalau pun nanti Maira mau maafin kamu belum tentu Maira bisa lupa sama sakit hatinya, dan apa kamu mau terus-terusan merendah kaya tadi?" tanya ibuku dengan nada yang keras.


"Aku nggak keberatan karna emang aku salah, Bu!" tolakku.


"Nanti Maira yang gantian nginjek-nginjek kamu, liatin aja!" ucap ibu meremehkan.


"Lepasin dia, seenggaknya kamu masih punya harga diri."


.


.


.


.


.


.


.


Dukung cerita ini ya teman-teman, biar aku makin semangat nulisnya, jangan lupa komen dan likenya, bantu share ke temen-temen lainnya juga biar makin ramai.


Silahkan mampir ke ceritaku yang lain.

__ADS_1


Terimakasih, sehat selalu.


__ADS_2