
Tapi, bukankah Bang Dewa bisa selingkuh dengan siapa saja?
Aku harus apa?
Kuseret kakiku mundur, belakangan ini aku kewalahan menjaga kewarasan. Tidak mudah bagiku membedakan mana nyata mana hayalan, semua prasangka terjadi begitu jelas di depan mata.
Aku yang curiga pastilah membuat Bang Dewa gerah dan tidak betah, tapi aku takut dibohongi untuk kesekian kali.
Beberapa orang memuji keputusanku memaafkan Bang Dewa, dan tidak sedikit orang akan mengataiku bodoh karena menerima Bang Dewa kembali. Sudut pandang mereka pasti berbeda. Jalan bisa sama, tapi sepatu orang berbeda-beda.
Tidak ada yang mengerti dengan pasti, apa yang kurasakan saat ini.
"Mah?"
"Ngapain di situ?"
Suara bariton Bang Dewa mengejutkanku. Bang Dewa berdiri tepat di depanku dan membuatku salah tingkah.
"Ehm, m-mau li-at Guntur," jawabku sedikit tergagap.
"Itu Gunturnya baru baru, papah mandi dulu ya, Mah," tutur Bang Dewa.
Tangan Bang Dewa meraih kepalaku dan menariknya mendekat, kemudian Bang Dewa mencium keningku sebelum berlalu. Aneh memang, kaum lelaki bisa bersikap baik-baik saja setelah bertengkar. Tanpa kata maaf, tanpa penyelesaian. Membiarkan hatiku menggantung dalam amarah.
Leni, usianya masih di bawah 25 tahun, tentu daun muda kesukaan lelaki mapan seperti Bang Dewa. Guntur menggeliat di pelukannya, bayi gembul yang kini usianya hampir 3 bulan. Aku terpaksa menyambung ASI dengan sufor karena ASIku berkurang drastis saat setres. Dan kehadiran Leni sudah sangat membantuku.
"Sini, Len," ucapku seraya mengambil Guntur darinya.
"Ibu, udah sehat?" tanya Leni, dari wajahnya dia terlihat tulus.
"Udah, makasih ya jaga Guntur," ucapku padanya.
"Udah tugas saya, Bu, ya sudah, saya permisi dulu," pamitnya.
"Tunggu, kenapa buru-buru?" cegahku.
"Barangkali Ibu mau nyusuin Guntur," ucap Leni.
"Iya, nggak papa, sini ngobrol sebentar," ajakku padanya.
Lina mendekat dan ikut duduk bersebrangan denganku.
"Kamu belum nikah, Len?" tanyaku.
"Belum, Bu," jawabnya singkat, wajah Leni ayu dan polos, bukan selera Bang Dewa.
"Kenapa?"
"Masih harus biayain adek-adek sekolah," tuturnya.
"Oh, tapi usia kamu udah cukup buat nikah."
"Udah pernah tunangan, Bu. Tapi bubar," tutur Leni.
"Lha, kenapa?" tanyaku penasaran, kisahnya mulai menarik.
"Tunangan saya selingkuh, Bu, jadi saya putusin," jawabnya sedikit menyinggungku.
"Oh, nggak coba kamu maafin?" tanyaku penasaran.
"Udah, Bu. Sebelumnya udah ketahuan, udah minta maaf, udah janji mau ninggalin wanita itu, eh malah selingkuh lagi," kisah Leni semakin menarik, apa hidupnya mirip denganku?
"Ya ampun," gumamku mengerti penderitaanya. Kenapa kisahnya hampir sama denganku?
"Selingkuhnya sama mantannya, Bu. Mungkin mereka masih cinta jadi mau disuruh pisah kaya apa mereka balik lagi, balik lagi," kisah Leni dengan sedih.
"Oh ... jadi selingkuh berkali-kali tapi sama satu orang?" tanyaku penasaran.
"Iya, Bu. Selingkuhnya pake hati jadi saya ngerasa nggak berharga jadi pasangan sahnya," jawab Leni sedih.
__ADS_1
"Anehnya, mantan tunangan saya itu juga nggak mau ninggalin saya, jadi mau sana mau sini. Akhirnya saya yang ninggalin dia dan kerja, biar saya sibuk dan lupa," lanjutnya.
Ternyata Leni tidak sepolos yang kuduga, kisah yang perih pasti membuatnya lebih hati-hati menghadapi dunia.
"Semoga kamu dapet pengganti yang lebih baik ya, Len."
"Aamiin."
"Ya udah kamu boleh pergi."
Bagaimana pun aku harus waspada, setiap orang berpotensi menjadi penggoda. Aku sedang tidak menuduh Leni, karena aku paham yang lemah iman adalah suamiku sendiri. Wanita-wanita itu hanya memanfaatkan uang Bang Dewa.
Selingkuh dengan hati?
Bang Dewa tidak pernah selingkuh dengan orang yang sama, 4 kali dia mengkhianatiku dengan perempuan berbeda. Dan Bang Dewa selalu kembali padaku. Aku memiliki hatinya, tapi tidak dengan jiwanya yang masih haus kebebasan.
Entahlah aku tidak mengerti isi otak lelaki.
***
"Bu ... mau dimasakin apa?" tanya bik Tuti.
"Apa aja, Bik," jawabku asal.
Perempuan setengah baya itu kembali melanjutkan aktifitasnya. Kuhampiri Luna dan Lintang yang sedang disuapi oleh Santi.
"Anak mamah pinter mamamnya," selorohku pada mereka.
"Mamah." Luna dan Lintang menghambur ke arahku.
"Luna sama Lintang mau disuapin mamah?" tanyaku pada keduanya seraya mengambil alih piring dari tangan Santi.
"Enggak mau," tolak Lintang.
"Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Kalo disuapin Mbak Santi kita boleh mamam sambil main, asal mamamnya habis, kalo sama mamah kita nggak boleh sambil main, mamamnya juga buru-buru, Luna nggak suka," jawab Luna, si sulung.
"Hehe, maaf, Bu. Saya salah, ya. Kemaren kata Bapak nggak papa, asal anaknya seneng dulu," jawab Santi
"Ya udah nggak papa, terusin aja."
"Apa saya larang mereka aja, Bu?" tanya Santi lagi.
"Enggak usah, yang penting mereka kenyang, dan seneng."
Kutinggalkan mereka pergi. Ada hal baik dari semua peristiwa ini, aku jadi paham bahwa segala yang sempurna tidak menjadi standar bahagia. Aku pikir merawat anak sendiri dengan menerapkan pola asuh terbaik, akan membuat anak pintar dan mandiri. Aku salah, kunci utama adalah bahagia. Ketika anak bahagia dia akan mudah diarahkan.
Aku butuh orang lain untuk membantu, terutama di saat aku tenggelam dalam kekalutan, anak-anak akan terhindar dari emosiku yang labil.
Luna dan Lintang terlihat senang dengan pengasuh mereka, Guntur pun terawat dengan baik. Dan aku memiliki waktu untuk diriku sendiri, untuk sekedar merenung dan berintrospeksi diri.
Terkadang saat kelelahan aku menjadi mudah marah, dan membuat suasana rumah menjadi menyebalkan. Mungkin itu alasan Bang Dewa mencari hal menyenangkan di luar sana. Terlebih rasa curiga dan posesifku yang mencekik Bang Dewa. Harusnya aku merubah diri sebelum menginginkan perubahan dari Bang Dewa.
"Jadi mau masak apa, Bik?" Kuhampiri Bik Tuti yang sedang sibuk di dapur.
"Masak garang asem kesukaan Ibu, biar ibu makan banyak dan bisa semangat lagi," jawab Bik Tuti.
"Makasih, Bik."
Kuraih cangkir dan berniat meracik kopi.
"Ibu sama Bapak udah baikan?" tanya bik Tuti.
"Maaf lho, Bu. Bibik lancang ya?" ucapnya merasa tidak enak.
"Nggak papa, Bik. Bibik udah aku anggep keluarga kok." Tanganku sibuk menakar gula dan kopi.
"Aku bingung, Bik. Aku ngotot minta cerai, tapi Bang Dewa nggak mau, terus pas Bang Dewa udah mau, malah aku yang goyah, aku nggak tahu harus pisah atau enggak!" ungkapku pada bik Tuti, berharap mendapat pandangan dengan sudut yang berbeda.
__ADS_1
"lho, kenapa cerai, Bu? Bibik nggak nyangka masalahnya separah itu, soalnya akhir-akhir ini Pak Dewa berubah jadi baik dan sangat perhatian sama Non Luna, Non Lintang, dan Den Guntur," ucap bik Tuti terkejut.
"Jangan cerai, Bu. Kasian anak-anak!" tambahnya.
"Tapi Bibik tahu? Apa kesalahan Bang Dewa sama aku?" tanyaku menguji.
"Tahu sedikit," jawabnya.
"Bang Dewa selingkuh, dan ini udah 4 kali. Apa menurut Bibik masih bisa dimaafin?" tanyaku.
"Ehm ... Bibik nggak tahu, Bu."
"Bingung, kan? Aku juga, Bik."
"Tapi Pak Dewa nggak keliatan kayak tukang selingkuh ya, Bu. Pak Dewa juga cinta banget sama, Ibu."
"Tahu dari mana, Bik? Laki-laki mah banyak modusnya."
"Setiap malam Pak Dewa selalu nyempetin ke kamar Ibu, Pak Dewa selalu nanya Ibu udah makan apa belum, minum vitamin apa enggak, minum susu apa enggak, Ibu ngapain aja, ketemu siapa aja, Pak Dewa selalu nanya detail tentang Ibu," ucap bik Tuti.
"Oh, iya?" Cukup mengejutkan.
"Iya, Bu."
"Tapi kaya gitu bukan bukti cinta kali, Bik. Kalo Bang Dewa cinta dia nggak akan selingkuh!" lanjutku seraya menyeruput kopi yang sudah jadi.
Bik Tuti hanya diam dan mengiyakan kalimatku.
"Leni sama Santi gimana, Bik?" tanyaku lagi.
"Gimana apanya, Bu?"
"Mereka berdua kan Bang Dewa yang bawa, apa ada yang aneh dari mereka?"
"Enggak ada, Bu. Mereka kaya perempuan pada umumnya, mereka bukan tipe nakal, kalo maksud Ibu itu," jawab bik Tuti menebak arah bicaraku.
"Dan yang milih mereka itu Ibunya Pak Dewa," lanjut bik Tuti.
Tampaknya aku salah karena curiga pada pengasuh anak-anak. Tapi, apa salahnya waspada.
"Titip awasin mereka ya, Bik."
Kusesap kopi, dan berpikir. Langkah apa yang harus kuambil, kenapa saat Bang Dewa memberiku keleluasaan untuk berpisah aku malah ragu?
Ponselku berdering dan tertera sebuah nama di sana. Suami tercinta, dengan sebuah layar dengan potret bahagiaku dan Bang Dewa beberapa tahun yang lalu. Masih cinta kah aku padanya?
Kusentuh layar untuk mengangkat panggilan Bang Dewa.
"Halo," sapaku.
[Halo, Mah, papah udah nemuin psikolog pria yang Mamah mau, besok kita ke sana.]
Bang Dewa benar-benar berubah, dia tidak lagi memaksakan kehendaknya padaku.
[Iya]
Jika dia masih jodohku, kuatkan hatiku, Tuhan!
Jika bukan, beri aku pentunjuk!
.
.
.
.
.
__ADS_1
.