
Dewangga
[Kamu di kantor? Aku datang ya]
Sebuah pesan masuk ke ponselku sedari pagi, tapi baru kubuka menjelang makan siang. Aku terkejut melihat Maira-lah pengirimnya.
Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, selain proses perceraian dan perdamaian dengan Maira, masalah lain datang dari Julian. Dia mengkritik sebuah proyek besar yang sudah jadi, hingga timku harus menyusun ulang hampir di semua bagian. Ini sama saja mengulang pekerjaan.
Sepertinya Julian sengaja, entah apa motifnya, untung aku masih pemilik saham tertinggi, kalau tidak dia sudah membuat keputusan semaunya sendiri dan membelokkan arah perusahaanku ke arah kehancuran.
Kenapa Mr. Chandra harus menyerahkan perusahaan padanya? Membuat repot saja!
"Pak, ada Bu Maira di luar? Apa Bapak sudah ada janji dengan Ibu?" tanya Lala yang masuk setelah mengetuk pintu.
"Hem," jawabku singkat, mataku sibuk memeriksa dokumen-dokumen.
Suara hak sepatu Maira menggema, langkahnya mendekat dan kulihat dia berdiri di depanku dengan gayanya yang rapi dan elegan. Dia terlihat jauh lebih segar dan ... hem ... sexy, dengan badan yang sedikit berisi. Sebuah paperbag tergantung di tangannya.
"Ehm, aku kirim pesan tapi kamu nggak bales," ucapnya.
"Oh ... maaf, aku sibuk, ada apa?" tanyaku sedikit jual mahal.
"Besok sidang kita ... mungkin sidang terakhir," tutur Maira.
"Iya, aku nggak lupa, kok."
"Aku bawain kamu makan siang, sebagai ucapan terimakasih," tutur Maira.
Maira pun berjalan ke meja tamu, tangannya sibuk menata makanan yang dibawanya. Dengan malas aku mengikutinya, malas?Tentu saja. Pisah ya pisah aja, kenapa Maira membuatku semakin terluka.
"Aku masak sendiri," ucap Maira.
"Oh iya."
Aku duduk dan mulai menyantap hidangan rumahan ala Maira.
"Kamu nggak makan?" tanyaku melihat Maira yang tidak ikut menikmati makanan ini.
"Udah makan tadi, lagian sepertinya aku harus diet," jawabnya.
Maira membawakan makanan tapi dia tidak ikut makan, aku harap Maira tidak sedang berusaha meracuniku.
"Nggak usah diet, kamu cantik begitu," ucapku.
Aku memakan makananku hingga tandas, hanya menyisakan beberapa sayur yang sudah tidak muat di perutku.
"May ... aku dapet info kalau Perusahaan tempat kamu kerja itu sebenarnya milik Julian, itu hanya kantor kecil yang hampir bangkrut."
"Be-benarkah? Pantes perusahaan itu aneh, terlalu banyak proyek fiktif," gumam Maira terkejut.
"Sudah kubilang, itu hanya akal-akalan Julian.
"Bagaimana perasaanmu Bang ... eh, Wa?" tanya Maira yang belum luwes menyebutku hanya dengan nama.
"Perasaan apa?"
"Besok kita udah resmi cerai, gimana perasaan kamu?" ulang Maira.
__ADS_1
"Aku ... biasa aja, kalau kamu sama anak-anak seneng ya aku ikut seneng, simpel," jawabku.
Apa yang Maira coba lakukan sekarang? Mengejekku karena keinginannya untuk berpisah akan segera terwujud?
"Ehem ... makasih ya, aku ... terharu sama alasan-alasan yang kamu kasih ke Luna," ucap Maira, aku sedikit terkejut.
"Ah ... itu? Sepertinya aku telat hadir di kehidupan anak-anak, aku terlalu sibuk, dan hanya itu yang ada di pikiranku saat Luna bertanya, aku ... aku cuma berusaha menjadi ayah," jawabku.
"Iya, dan kamu ayah yang baik," ucap Maira, kurasa dia memujiku.
"Oh ... begitu, ya?"
"Ada hal yang pengen aku omongin," ucap Maira.
Ada apa lagi? Bukannya dari tadi kita sedang bicara?
"Ngomong apa, May?"
"Aku ... mau minta sesuatu."
"Minta sesuatu?"
Apa yang kurang? Kenapa dia tidak puas juga?
"Iya."
"Apa?" tanyaku malas.
Maira menatapku dengan gugup, apa yang sebenarnya ingin dia katakan?
"Hah?!"
Apa aku tidak salah dengar?
Apa Maira sedang mempermainkanku?
Aku mengeluarkan banyak uang untuk perpisahan ini. Di saat aku merendah untuknya dia begitu tinggi dan ingin pergi, tapi sekarang, dengan mudahnya Maira datang dan mengatakan cinta.
Aku tidak mengerti.
Maira tersenyum dan mengangguk, menyiratkan kalau telingaku tidak salah menangkap suaranya.
"Cintai aku sekali lagi," ulang Maira.
"Ke-kenapa?"
"Karena hanya istri yang hebat yang bisa memaafkan perselingkuhan suaminya. Dan ... aku istri yang luar biasa, karena mau berusaha memaafkan perselingkuhanmu yang berulang kali," jelas Maira.
"May? Aku nggak salah dengar?" tanyaku yang masih belum percaya.
"Enggak, kita sama-sama lelah di perjuangan masing-masing, aku merawat anak-anak dan kamu bekerja keras mencari uang untuk kami. Kadang ... aku merasa akulah yang paling lelah, tapi ... aku juga menyadari, mungkin saja kamu juga lelah."
"Aku nggak tahu, apa yang kamu hadapi di sini demi mendapat uang, mungkin lebih sulit dari pada apa yang harus aku hadapi di rumah, tapi mungkin juga lebih mudah, aku nggak tahu, sama kaya kamu yang nggak tahu kesulitanku di rumah, kita hanya harus lebih saling menghargai."
"Aku egois kalau mengatakan akulah yang paling lelah, karena mungkin kita sama-sama lelah dalam porsinya masing-masing."
"Itu pendapatku kalau sedang waras, tapi ... kalau aku sedang sangat lelah, aku kembali menjadi egois dan ingin dimengerti olehmu."
__ADS_1
"Kamu benar, aku yang terlalu perfeksionis, ingin merawat rumah dan anak-anak seorang diri, padahal tenagaku terbatas. Sekarang setelah dibantu suster, semua terasa sedikit ringan, dan kehadiran mereka nggak seburuk dugaan-dugaanku dulu."
"Kamu sudah salah karena selingkuh, tapi aku juga mungkin salah, jadi ... cintai aku sekali lagi, mungkin setelah ini kisah kita akan berbeda."
Maira terdengar sangat bijak, kalimat-kalimatnya terdengar menenangkan dan memberiku semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi demi Maira.
Apa ini nyata?
"May? A-aku nggak tahu harus ngomong apa, aku tahu ... aku nggak layak dimaafin, tapi ... aku juga masih sangat berharap untuk bisa kembali."
"Aku sangat marah, aku pun ingin mengutukmu, ingin kamu dapet karma, menyesal, dan menderita. Tapi ... aku berpikir lagi, aku nggak akan dapet apa-apa dari semua itu," tutur Maira, matanya menerawang jauh, kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar matang dan tenang.
"Aku nggak mau jadi janda sampai tua, dan aku juga ragu memulai lagi dengan orang yang baru. Mengenal lagi, menyesuaikan lagi, menyakiti atau disakiti lagi, semua proses itu memuakkan."
"Jadi ... aku mempertaruhkan diri sekali lagi, dengan segala resikonya, untuk mencoba berjalan lagi sama kamu, Bang!" ucap Maira.
"Jika kamu menyakitiku lagi, artinya aku kalah taruhan dan semesta yang menang!" pungkas Maira.
Aku terkesima, perubahan Maira di ujung perpisahan membuatku percaya pada kekuatan doa.
"A-aku ... nggak akan nyakitin kamu lagi, May! Aku janji!" ucap penuh kesungguhan.
"Aku hampir gila karna kehilangan kamu," ucapku mulai terharu.
Aku memeluk Maira tanpa aba-aba, kudekap erat dirinya seolah tidak ingin melepasnya lagi. Dan kini Maira membalas pelukanku setelah sekian lama dia membatu.
Aku ingat perkataan ibu, 'Berdoalah, Wa! Semarah apapun Maira, dan sesalah apapun dirimu, kalau doamu kuat, perjodohan kalian akan diperbaiki.'
Setiap malam aku berdoa, kembalikan Maira!
Walaupun aku hampir menyerah, karena semakin aku berdoa semakin Maira menjauh, tapi aku terus melakukannya, seolah hanya dengan doa harapanku bisa mengangkasa.
Tanpa sadar aku menangis, menyadari betapa aku mencintai Maira, betapa hidupku yang seimbang bergantung padanya, dan Maira bukan orang lain lagi, dia separuh jiwaku yang pernah kusia-siakan.
Tuhan sangat baik mengubah Maira di saat aku telah ikhlas melepasnya. Aku terima permainannya, karena dengan peristiwa besar ini aku menyadari banyak hal.
Rutinitas rumah tangga yang membosankan adalah pertanda cinta yang nyaman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1