KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Badut Pesta


__ADS_3

"Nggak usah ngelakuin hal yang sia-sia!"


Meski Maira bersikap seolah semuanya baik-baik saja, tapi kejadian tadi pasti membuatnya kembali mengingat kesalahanku yang melukainya, terlihat sikapnya yang semakin aneh. Maira bersikap jutek dan kasar semata-mata hanya untuk melindungi hati kecilnya yang terluka.


Wajar kalau Maira masih marah atau gengsi mengungkapkan isi hatinya. Sudahlah, aku hanya harus berpikir positif dan terus fokus pada tujuan. Maira pasti kembali!


Lala datang dengan mobil kecilnya, tidak apa-apa, aku menurut saja pada Maira yang tidak mau memakai mobil bekas Risa.


"Kamu yang nyetir!" ucap Maira padaku.


Dengan sungkan Lala mempersilahkanku duduk di kursi kemudi, biarlah sekali-kali Lala pergi dengan mobil mewah.


Maira mengikutiku masuk namun dia memilih kursi belakang.


"Mah?" panggilku, posisiku lebih seperti supir? Yang benar saja, May!


"Kenapa? Keberatan? Biarin Lala yang nyupir, kamu pake mobil itu aja!" ucap Maira dengan sadis.


Gagal sudah bayangan indahku yang akan berpegangan tangan dengan Maira sepanjang perjalanan ini.


"Nggak, nggak keberatan kok, siap laksanakan nyonya," ucapku menyandainya.


Kupacu mobil membelah jalanan sambil sesekali mencuri pandang pada Maira lewat kaca spion. Penampilannya mengingatkanku pada Maira muda yang ceria dan energik, bahkan kecantikannya masih sama, malah dia bertambah anggun sekarang.


Saat dulu aku begitu terbuka menganguminya, sekarang rasa kagumku hanya bisa kupendam. Bukan hanya wajah cantiknya, tapi kekuatan dalam dirinya yang luar biasa, mampu merubahku dari seorang casanova, mengakui dosanya.


Dan sekali lagi, Maira telah menaklukanku.


"Mah?" panggilku berusaha mencairkan suasana.


"Jangan panggil seperti itu!" ucap Maira yang masih memainkan ponselnya.


"Kita cuma berdua, nggak usah bersandiwara," lanjut Maira.


"Iya, maaf. May ... maksud papah, eh masudku," ulangku kecewa, tapi tidak apa-apa, harus tetap sabar dan semangat.


"Kamu percaya padaku 'kan, May?" tanyaku memberanikan diri.


"Kejadian tadi murni sabotase Risa, dan aku kecolongan, kenapa Risa bisa tahu jadwalku," ungkapku.


"Percaya atau enggak, udah nggak penting, aku nggak peduli," jawab Maira ketus.


"Karena banyak orang yang kenal kita, aku sedikit akting, itu aja, nggak usah kepedean!" lanjut Maira.


Ingatanku kembali pada saat Maira membawa rombongan warga ke rumah Risa, dia bahkan tidak bertanya, dan tidak melakukan apa pun pada Risa. Benar juga, Maira hanya akting.


"Oh iya, emangnya kamu betah hidup kaya orang asing terus?" tanya Maira.


Maira yang kukenal mulai kembali? Maira yang penuh pertanyaan dan negosiasi. Inikah pertanda baik?


"A-aku nggak papa, asal kamu sama anak-anak nggak kemana-mana dan kita masih hidup di rumah yang sama," jawabku sedikit berbohong.


Betah? Ya enggaklah, setiap malam keringat dinginku bercucuran menahan diri untuk tidak mendatangi Maira dengan paksa.


"Oh ... aku enggak!" jawab Maira membuatku tersipu, apa dia merindukanku juga?


"Sebenarnya kita lagi bohongin siapa sih? Capek tahu bohong, kita bisa lho ngambil sikap tegas yang dewasa, aku bisa bahagia dan kamu bisa bahagia dengan jalanmu, apapun yang menurutmu kurang dariku bisa kamu dapatkan di luaran sana," ungkap Maira.


Introspeksi selama beberapa minggu sedikit mengembalikan kewarasan Maira, tapi kenapa dia masih saja membahas perpisahan?

__ADS_1


Aku kecewa, dari besarnya keseriusanku untuk berubah, dari besarnya rasa penyesalan yang sangat kusesali karena menyakiti Maira, dan besarnya tekatku untuk membahagiakannya. Maira tidak tersentuh. Seketika aku kehilangan minat bicara.


Tunggu? Apa perasaan ini yang Maira rasakan saat dia memilih membisu?


"Kok diem?" tanya Maira.


Dia menyimpan ponsel dan melipat tangan ke dadanya.


"Aku sebenarnya malu dateng ke pesta," ucap Maira tanpa kutanya, benar, ini Mairaku yang cerewet, wanita yang kurindukan.


"Kenapa harus malu, kamu cantik, May," pujiku padanya, sedikit rayuan agar hati Maira berbunga.


"Aku cantik?" tanya Maira mengulang pernyataanku.


"Tapi aku ngerasanya kaya badut," ucap Maira lagi.


"Badut?" tanyaku sambil mataku tetap fokus mengemudi.


"Aku badut yang akan menjadi bahan tertawan oleh karyawan dan kolega-kolegamu," ucap Maira, manik matanya terlihat menerawang jauh, aku melirik setiap gerak geriknya dari kaca mobil.


"Kita akan berlagak sok akur, sok serasi, dan kita juga akan menerima pujian-pujian palsu dari banyak orang. Mereka memuji tapi di belakangku mereka akan mengucap 'Oh ini istrinya Pak Dewa'. Kamu tau kenapa mereka ngomong kaya gitu?" tanya Maira padaku, perasaanku kembali tidak enak.


"Enggak, May," jawabku dengan bodoh, jelas-jelas Maira sedang menyerangku.


"Karena mereka baru ngeliat istri dari suami yang hobi banget selingkuh," ucap Maira begitu menohok.


"Aku malu karena punya suami kaya kamu, sebagai wanita udah nggak ada harga dirinya karena diselingkuhi berkali-kali," lanjut Maira.


Sabar, ini hanya proses. Kubiarkan Maira mengeluarkan semua unek-uneknya, walau pun kalimat dari mulutnya seolah menguliti kesalahanku.


Bicaralah Maira, sepuasmu, aku terima makian dan sindiranmu, asal kamu bisa kembali.


"Foto wedding yang dipamerin, foto keluarga yang kamu pajang, foto kita berdua yang kamu pandangi terus, semua usaha yang kamu lakuin biar orang mengira kita bahagia itu bikin aku malu karena kenyataannya kita justru sangat-sangat buruk!"


"Mereka kagum, May, udah cantik, baik, sabar, dan hebat bisa naklukin buaya sampai tobat," ucapku menetralkan serangan Maira.


Maira tertawa sinis mendengar kalimatku.


"Kita nggak buruk, cuma sedang berproses jadi baik," tambahku berusaha terdengar bijak.


Mobil memasuki pelataran hotel berbintang lima. Seorang porter hotel tampak terkejut melihat siapa yang keluar dari mobil kecil ini, aku tidak mengatakan mobil Lala jelek hanya saja itu mobil biasa. Dia segera menerima kunci dariku dan membungkuk membukakan pintu untuk Maira.


Kuulurkan tangan untuk menggandeng Maira masuk ke ruang pesta. Dengan terpaksa Maira menerima perlakuanku dan bersikap layaknya Nyonya Dewangga.


Banyak orang menyambut kami dengan ramah, dan penuh hormat. Aku bangga dengan kecantikan Maira yang akan kupamerkan pada kolega dan rekan bisnisku.


Rambutnya bergelombang tertata rapi dengan hiasan yang membuat Maira menawan. Make up sederhana membuat Maira terlihat lebih segar dan sangat cantik, tidak seperti wanita kebanyakan yang terlalu menor memakai make up-nya.


Sepatunya berhak tinggi menonjolkan betisnya yang indah. Gaunnya tidak terlalu menonjolkan lekuk tubuh, sehingga membuat Maira terlihat bernilai tinggi dalam setiap kilauannya. Sempurna.


"Dewa?" panggil seseorang.


"Julian?" gumamku.


Dia pun hadir? Julian adalah anak pemilik perusahaan yang bekerja sama denganku, ayahnya pengusaha yang sukses dan sangat ulet, namun Julian tampak tidak tertarik dengan dunia ayahnya. Dia juga teman kuliahku dulu.


Kenapa dia di sini? Terakhir kudengar dia di luar negri menikmati hidupnya yang bebas.


"Hay Maira, lama nggak jumpa. Apa kabar?" sapa Julian pada Maira. Julian mengulurkan tangannya pada Maira.

__ADS_1


"Baik, Ko, kaget ketemu Koko di sini, Koko apa kabar?" jawab Maira seraya menyambut uluran tangan Julian, Maira memanggil Koko pada Julian karena dia seorang chinese.


"Aku baik, dan ... wow ... aku terkejut karena kamu makin cantik," ucap Julian dengan logatnya yang kaku, mungkin karena terlalu lama hidup di luar negri.


"Terimakasih," jawab Maira tersipu, dia memberikan senyum manis pada Julian.


Julian menarik tangan Maira semakin dekat, Julian sedikit membungkukan punggungnya dan mencium punggung tangan Maira.


Di depanku?


Di depan banyak orang?


Yang benar saja!


Dia bahkan belum menyapaku dengan benar, berani-beraninya dia menyentuh Maira. Kurasakan sesuatu langsung terbakar dan membara di dalam otakku. Dengan cepat kutangkap lengan Maira dan menariknya.


"Ehem!"


Julian dan Maira tampak terkejut.


"Oh ... maaf!" ucap Julian, namun bisa kurasakan ucapannya tidak tulus.


"Kamu masih cemburuan, Wa?" lanjut Julian sambil menertawaiku.


"Ehm ... suami siaga," jawabku menegaskan posisiku sekarang, barangkali Julian lupa hubunganku dengan Maira.


"Nggak usah norak, apa!" bisik Maira menegurku.


Apa dia senang karena bertemu dan disentuh Julian seperti itu? Sial!


"Kamu udah sukses, pengusaha muda, selamat ya!" ucap Julian, kini dia mengulurkan tangannya juga padaku.


Mengingat kerja sama besar yang sedang kujalin dengan ayahnya, kusambut uluran tangannya dan berjabat tangan.


"Terimakasih."


"Kayaknya kita bakalan sering ketemu," ucap Julian.


"Oh iya? Kamu udah bosen di luar negri?" tanyaku.


"Sebenernya enggak, tapi papa maksa aku megang perusahannya," jawab Julian.


"Apa?"


"Iya, kalo enggak dia akan coret namaku dari daftar keluarga," lanjutnya seraya tertawa, mungkin baginya ini lucu, tapi tidak bagiku.


julian pun sama, pernah mengejar Maira di jaman ospek dulu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2