KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Manipulasi Risa


__ADS_3

Tangan kiriku meraih pergelangan tangan Risa dan memelintirnya, baru saja tangan kananku hendak membuka pintu mobil untuk menyeret Risa, Maira mulai muncul di pintu salon.


Gawat!


"Sial!" gumamku.


Risa bertahan sekuat tenaga menolak keluar dari mobilku.


"Aku teriak, nih!" ancam Risa yang merasa terdesak.


"Aku nggak peduli, kamu yang bodoh sudah berani berurusan denganku!" jawabku.


"Kamu jangan mau enaknya doang, dong!" tukas Risa.


"Kamu juga enak, dan dapat bayaran! Sekarang pergi dan sadar diri!" hardikku.


Maira mulai melangkah keluar, harusnya ini jadi saat yang menyenangkan seandainya Risa tidak muncul dan membuat kekacauan.


"Hey, kamu supir baru, cepat bawa wanita ini pergi!" perintahku pada supir yang sedari tadi tampak kebingungan dengan keributan ini.


Kuhempaskan tubuh Risa menjauh sekencang-kencangnya, aku bisa sangat kasar jika seseorang sudah berani melawanku, tidak peduli dia wanita sekali pun.


Kubuka pintu dengan cepat berharap Risa segera dibawa pergi. Namun baru satu kakiku yang turun Risa kembali merangsek ke arahku. Dengan sigap kembali kudorong dia masuk. Tadi kuseret keluar dia menolak, sekarang saat kubiarkan dia tetap di dalam mobil dia justru memberontak. Apa maunya!


Maira mulai berjalan mendekat, keberadaan Risa masih tertutupi oleh badan mobil. Jangan sampai Maira tahu.


"Cepat jalan!" perintahku pada supir ketika sebagian tubuhku masih berada di dalam mobil.


Supir baru tampak bingung karena posisiku sangat berbahaya jika dia tetap melajukan mobilnya. Tetapi suasana bahaya yang tidak dia lihat adalah Maira yang tidak boleh tahu kedatangan Risa. Aku tidak ingin Maira salah paham lagi.


Tiba-tiba Risa mendorongku keluar dengan cepat dan kuat sehingga kami berdua keluar dari mobil. Jarak yang dekat membuat Maira mendengar semua keributan ini, pandangan matanya tidak terelakan lagi, kini Maira melihat kami berdua, sialnya tubuh Risa sedikit ambruk dan tertahan oleh tanganku. Meski Maira berada di sebrang mobil tapi dia bisa melihat jelas pada kami berdua.


Sial!


Kudorong tubuh Risa dan berusaha untuk bersikap normal, meski kutahu pemandangan ini akan membuat Maira semakin marah.


"Mah?"


Maira terlihat cantik dengan gaun berwarna peach, tapi tidak ada binar di matanya, dia kecewa. Bisa kulihat tangannya mengepal dengan keras hingga terlihat bergetar.


"Mah ... ini nggak kaya yang kamu pikir, perempuan ini yang tiba-tiba dateng," ucapku gelagapan.


Aku bersumpah, akan kubuat Risa menyesal setelah ini. Aku bisa berbaik hati tapi bisa juga berbuat jahat.


Maira masih diam, Lala menyusul di belakangnya dengan raut wajah terkejut. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya ingin waktu berhenti saja dan akan kubawa Maira pergi dari sini sejauh mungkin.


"Ehm ...."


Maira berdehem dan berjalan mendekat ke arahku dan Risa yang masih berdiri dengan wajah licik di sampingku.


"Mah, i-ini ...." Aku tidak tahu harus berkata apa.


"Ada apa lagi ini? Apa kalian masih berhubungan?" tanya Maira dengan nada bicara lembut. Maira terlihat berhasil mengolah emosinya dengan elegan.


"Enggak, Mah!" jawabku cepat seraya berjalan lebih dekat pada Maira dan menjauh dari Risa.


"Apa kamu diundang ke pesta perusahaan juga?" tanya Maira pada Risa tanpa memperdulikan jawabanku.

__ADS_1


Risa tampak bingung menjawab pertanyaan Maira.


"Oh ... kamu ... masih berharap jadi nyonya?" tanya Maira dengan nada yang menohok, pertanyaan yang memperjelas posisi Risa berada di bawah Maira.


"Bukan salahku, suamimu yang datang terlebih dulu padaku," seru Risa terbawa permainan Maira.


"Seleramu buruk sekali, Bang!" ucap Maira tanpa menatapku.


"Jika aku buruk, lalu kamu apa? Wanita yang nggak mampu muasin suaminya?" balas Risa menyerang balik Maira.


Jawaban Risa membuat otakku mendidih, beraninya dia menyerang bagian sensitif Maira. Padahal selama bersama Risa, tidak pernah sekali pun kubahas Maira, apalagi mengatakan sesuatu yang menjurus pada kesimpulan bahwa Maira tidak memberiku kepuasan. Semua hanya akal-akalan Risa untuk memprofokasi Maira.


Tanganku terangkat ke udara dan melesat dengan kecepatan penuh menuju wajah perempuan lancang yang berani menghina Maira.


Plak!


Tanganku belum sampai, tapi tangan Maira telah terlebih dahulu menampar wajah Risa dengan keras.


"Ups!" cebik Maira.


Lala yang berada di sekitar kami tampak terkejut dengan reaksi keras Maira.


Tidak berhenti di situ, Maira menarik gaun Risa hingga wajah keduanya mendekat. Pandangan mata mereka saling beradu.


"Dengar! Aku nggak suka seseorang mengganggu apa yang sedang menjadi milikku, termasuk Bang Dewa!" ucap Maira dengan suara pelan namun penuh nada peringatan.


"Jika kamu memang sangat gatal dan ingin bersama Bang Dewa, kamu harus sabar dan tunggu sampai urusan kami selesai dan saat Bang Dewa bukan lagi milikku kamu bebas mengejarnya seperti buaya gila!" lanjut Maira membuat nyali Risa menciut.


Ada sedikit rasa kecewa mendengar kalimat Maira. Ingat, ini semua akibat perbuatanku. Risa memberontak dan membuat Maira melepas cengkramanya.


"Hem ... suamiku yang dateng ke kamu, atau kamu yang nyebar umpan?"


Suamiku? Maira menyebutku 'suamiku'? Aku harap telingaku tidak salah dengar.


"Dengar! Sekotor apa pun harga dirimu sebagai perempuan, masih bisa kok diperbaiki," ucap Maira dengan pandangan yang sangat menginvasi.


"Jangan nyari-nyari kesalahan perempuan lain biar perbuatan kotormu itu keliatan bener!"


"Emangnya kamu nggak pengen hidup terhormat?"


"Kamu cuma puas jadi gundik?"


Risa tidak bisa menjawab pertanyaan Maira dia diam dan jelas di sini bahwa dia telah kalah beradu dengan Maira.


"Aku harap kamu ngerti posisimu dimana. Aku peringatkan, jika kamu masih berani mengganggu apa yang masih menjadi milikku, akan kupastikan proses hukum adikmu berbelit-belit dan susah!" ancam Maira.


Tunggu! Proses hukum?


Raut wajah Risa berubah menciut, sepertinya ucapan Maira bukanlah ancaman kosong. Apa Maira mengulik semua info tentang Risa? Bagaimana Maira tahu sesuatu yang bahkan aku tidak tahu?


"Ka-kamu!" ucap Risa tergagap.


"Seorang bandar itu ancamannya hukuman mati," lanjut Maira membuat Risa semakin gentar.


"Tampaknya kamu akan butuh banyak uang! Tapi ... jangan gunakan tubuhmu untuk memeras suamiku!" ancam Maira.


"Pergi!" usir Maira dengan dingin.

__ADS_1


Risa akhirnya pergi dengan kesal.


Aku merasa bangga Maira masih mempertahankanku, apa kubilang, Maira masih sangat mencintaiku!


Aku sedikit tersipu dengan kemenangan Maira mengusir Risa. Aku tidak sedang berbangga karena diperebutkan, karena sejatinya aku paham Risa hanya ingin uangku, sedangkan Maira benar-benar mencintaiku.


Syukurlah! Aku janji pada diriku sendiri untuk benar-benar berubah dan setia mendampingi Maira sampai tua, selamanya.


"Ayo Mah, kita hampir telat!" ajakku pada Maira.


"Aku nggak mau naik mobil itu!" tolak Maira yang mulai menampakan kemarahannya padaku.


"La ... kita tukeran mobil!" ucap Maira pada Lala yang sedari tadi terkesima pada auranya.


"Ta-tapi mobil Lala jelek, Bu!" ucap Lala sungkan.


"Biarin, aku alergi orang bodoh!"


Siapa orang bodoh yang Maira maksud? Lala mencuri pandang padaku dan menunggu intruksi. Kukedipkan mata padanya untuk mengikuti kemauan Maira.


"Sebentar, Bu. Lala ambil dulu mobilnya," pamit Lala.


Kuberanikan diri mencairkan suasana diantara kami, aku bersyukur, Maira memang cerdas, tanpa repot-repot menjelaskan dia sudah tahu kalau aku tidak bersalah. Meski apa yang Risa lakukan sedikit manipulatif, tapi Maira tidak bisa ditipu. Aku sangat mencintaimu, May!


"Mah ... makasih ya udah belain papah," ucapku seraya meraih tangan Maira yang masih mengepal.


"Lepas!" Maira mengibas kasar tanganku. Sabar.


"Aku nggak belain kamu!" ucap Maira sinis.


"Aku hanya mempertahankan harga diri!" lanjut Maira dengan tatapan marah, hatiku yang sempat berbunga langsung layu menerima tatapan matanya yang mematikan.


"I-iya, papah paham. Tapi makasih, masih nganggep papah sebagai suami di depan orang lain, papah janji ... akan berjuang ngeluluhin hati Mamah lagi!" ucapku terbata-bata.


"Nggak usah ngelakuin hal yang sia-sia!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2