KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Menemui Dewangga


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, Koko perhatian juga sama kasus perceraianku, kenapa Ko?" tanyaku.


Koko Lian yang sedang meminum minumannya tiba-tiba tersedak.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!"


"Koko oke?" tanyaku seraya mendekat dan menepuk-nepuk pungungnya.


Tiba-tiba Koko Lian menoleh ke arahku dan mata kita saling pandang. Aku langsung sadar dan segera menarik diri. Aku tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki lain selain Bang Dewa.


"Maaf, May, aku buru-buru minumnya," ungkapnya setelah berhasil menguasai diri.


"Pelan-pelan aja, Ko, aku nggak minta," ucapku, dan Kami pun tertawa.


"Ayo kuantar pulang!" ajak Koko Lian.


"Nggak usah, Ko, takut nanti ada sesuatu," jawabku.


"Sesuatu?" tanya Koko Lian heran.


"Aku kan lagi proses cerai sama Bang Dewa, kalo sampe ada yang liat terus lapor ke Bang Dewa gimana?" jawabku.


"Tapi ini kan bisnis, May," ucap Koko Lian.


"Iya, tapi Bang Dewa kan licik, bisa aja nanti manupulasi, terus dijadiin senjata di pengadilan, aku udah kalah cukup banyak, Ko," tolakku beralasan.


"Okelah, kalo gitu aku pulang dulu, jangan lupa dateng ke kantor itu besok!" pamit Koko Lian.


***


Aku bertemu Pak Yuda, atasanku di kantor, sekaligus kenalan Koko Lian. Dia menerimaku bekerja di kantornya. Sebenarnya aku ingin mendapat pekerjaan karena kemampuanku, bukan karena relasi Koko Lian, tapi ya sudah, begini juga baik.


Aku merasa kembali pada duniaku, desaign adalah hal yang membuat pikiranku kembali hidup. Meski bukan perusahaan besar, tapi perusahaan ini cukup ternama.


Rasa percaya diriku mulai membaik, aku wanita mandiri dan modern. Bertemu orang baru dengan rutinitas yang baru. Aku merasa lahir kembali.


"Bu May, aku duluan, ya!" pamit Bela, rekan setimku.


"Iya." Kulirik jam tangan menunjukan pukul 6 sore.


"Bu Maira, ayo pulang, jangan rajin-rajin!" ajak Haikal, rekanku yang lain.


Aku berniat mampir ke kantor Bang Dewa, semoga saja dia belum pulang. Aku harus menemukan jalan lain untuk menang sebelum sidang selanjutnya.


Kusiapkan batin dan mentalku untuk kembali menemui orang yang sudah menghancurkan hidupku dengan sangat jahat. Memikirkannya saja, hatiku masih sangat marah, tapi demi anak-anak aku akan mencoba bersikap baik padanya. Tak lupa kubeli makanan Jepang kesukaan Bang Dewa.


"Bu Maira?" sapa seseorang di lobi.


"Lala?" Dia menundukan kepalanya sekejap untuk menyapa.


"Apa kabar, Bu?" sapanya


"Baik, La. Udah mau pulang, ya?"


"Iya. Mau ketemu Pak Dewangga?" tanya Lala.


"Iya, ada?"


"Ada, Bu, Pak Dewangga masih di ruangnya," jawab Lala.


Aku langsung menuju ruangan Bang Dewa, tidak lupa kubuang keegoisanku terlebih dahulu, dan mencoba tertawa, atau setidaknya tersenyum. Aku harus menjadi orang yang menyenangkan agar Bang Dewa tidak curiga padaku.


Kuketuk pintu kaca ruangan Bang Dewa kemudian membukanya tanpa menunggu jawaban Bang Dewa.


"La ... nggak jadi pulang?" seru Bang Dewa dari balik meja kerjanya, sepertinya dia mengira aku adalah Lala.

__ADS_1


"Ini aku ... Bang," ucapku seraya masuk.


"Maira?" Bang Dewa melihatku tidak percaya, matanya mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan penglihatannya.


Bang Dewa terlihat lebih kurus, rambut yang biasa terpangkas rapi kini terlihat panjang, kumis yang biasa di cukur habis kini terlihat menghiasi wajahnya, dan jambang yang biasa tipis kini terlihat tak terurus.


"Iya, aku ... aku ... boleh kan ke sini?" tanyaku mencoba mencari celah.


"Apa maumu, May? Mau membujukku soal anak-anak?" tanya Bang Dewa mulai sinis.


"En-enggak, aku ... cuma butuh ... temen makan aja," ucapku seraya menunjukan kantong plastik di tanganku.


Bang Dewa menyenderkan tubuhnya ke kursi dan melipat kedua tangannya, dia terlihat tidak percaya dan berpikir keras, mungkin dia sedang heran. Apa alasanku sangat tidak masuk akal? Apa aku terlihat aneh?


Kuletakan makanan di meja sofa dan menatanya.


"Aneh rasanya makan sendirian, jadi aku kemari," lanjutku berusaha terlihat normal.


"Setelah sebulan lebih dan baru sekarang kamu merasa aneh?" tanya Bang Dewa meragukanku.


"Ehm, udah lama, tapi baru beberapa hari ini aja aku punya keinginan untuk hidup normal lagi," ucapku seraya tersenyum padanya, aku harap senyumku tidak aneh.


"Ayo makan, Bang, aku yang traktir, karena aku udah kerja," tuturku.


Bang Dewa terlihat terkejut, namun dia nampak berusaha menjaga imagenya. Bang Dewa berdiri dari kursinya dan berjalan ke meja tamu.


"Kamu?"


"Kerja?" tanya Bang Dewa meragukanku, entahlah mungkin lebih tepatnya meremehkanku.


"Iya."


"Sama Julian?" tanya Bang Dewa lagi memastikan.


"Bukan," jawabku semakin membuatnya terkejut.


"PT Yuda'art Angkasa?" sebut Bang Dewa setelah membolak-balikkan kartu namaku.


Bang Dewa masih meremehkanku, dia mengulurkan kartu nama itu kembali padaku.


"Udah buat kamu aja, Bang! Kali aja Abang butuh jasa perusahaan kami," tolakku.


"Ayo makan, Bang!" ajakku.


Bang Dewa duduk dengan mode waspada.


"Apa maumu, May?" tanya Bang Dewa mencurigaiku.


"Aku mau makan," jawabku santai sambil mengulurkan sumpit pada Bang Dewa.


"Ayo makan, Bang, ini makanan kesukaan Bang Dewa, kan?" ucapku berusaha manis.


"Kamu mau ngerayu aku?" selidik Bang Dewa.


"Ehm, aku mau ngajak Abang makan," ucapku berbelit-belit, suapan pertama sudah masuk ke mulutku, meski kelu aku berusaha menikmati makanan ini dengan tersenyum.


Bang Dewa masih terdiam sambil melihatku makan.


"Oke, baiklah, aku cuma pengen baikan sama Abang," ucapku.


"Kamu mau rujuk?" tanya Bang Dewa.


"Baikan, Bang, kita cuma cerai, tapi nggak berarti harus musuhan, kita masih bisa berteman kok, demi anak-anak," tuturku di sela kunyahanku.


"Ehm, enak banget, udah lama rasanya nggak makan enak," ucapku heboh sendiri, mencoba menciptakan suasana meyakinkan agar Bang Dewa ikut makan.

__ADS_1


"Oh ... jadi ini trikmu untuk dapetin anak-anak," ucap Bang Dewa masih mode waspada. Apa aktingku kurang?


"Enggak juga, Bang. Kalo dipikir-pikir lebih enak begini, aku bebas rengekan Luna Lintang, bebas popok Guntur, bebas dari tugas begadang sambil gendong-gendong, bebas pegel-pegel, bebas dari setres karena Luna Lintang yang berantem terus, bebas cucian kotor, bebas masak, bebas bangun siang, belum kalo mereka sakit pasti tugasku bertambah berkali-kali lipat, dan banyak lagi kebebasan yang baru kudapat," ucapku sambil tersenyum dan tertawa terbahak.


"Kau? Benar-benar sakit jiwa, May?" ucap Bang Dewa terheran.


"Enggak juga, Bang. Aku cuma menghibur diri, nangis juga nggak bisa bikin kamu iba. Ayo makan!" ucapku dengan wajah datar, padahal kalimatku penuh duka yang jujur.


Bang Dewa pun mengikuti gerakanku dan memakan bagiannya.


"Enak, Bang?" tanyaku.


"Heem."


"Apa hidupmu baik, Bang?" tanyaku lagi.


"Heem."


"Sukurlah."


"Kamu nggak tanya anak-anak, May?" tanya Bang Dewa.


"Aku yakin mereka baik, ibumu sangat sayang sama mereka. Aku udah lebih baik kok, udah bisa menerima kenyataan dan mulai berdamai dengan keadaan. Aku merindukan mereka, doaku nggak pernah putus, tapi aku sadar, hidup denganmu masa depan dan kenyamanan mereka lebih terjamin," ucapku sambil tersenyum, tak lupa kupandang mata Bang Dewa agar lebih meyakinkan.


Sebenarnya aku tidak berbohong soal ini, aku mulai bisa berdamai soal anak-anak, tapi tidak bisa dengan perselingkuhan Bang Dewa.


Bang Dewa terlihat salah tingkah saat kupandangi dia secara dalam.


"Sukurlah, pantes kamu terlihat lebih bahagia sekarang," ucapnya seraya menyuap kembali makanannya.


"Tentu saja, aku bisa kerja dan melakukan berbagai hal yang kusukai, aku seperti dapet kehidupan baru."


"Aku juga bebas nggak mikirin kamu lagi, Bang, rasanya tenang dan damai," lanjutku.


"Hidupku baik, jadi kalau hidupmu juga baik aku cukup seneng, artinya keputusan kita tepat," ucapku lagi.


"Kamu bener-bener nggak nyesel, May?" tanya Bang Dewa heran dan terlihat sedikit marah.


"Ehm, nyesel yang gimana?" tanyaku pura-pura bodoh.


"Udahlah, lupain, kayaknya kamu emang nggak peduli lagi," ucap Bang Dewa.


"Aku nggak ada maksud apa-apa, cuma pengen berteman aja sama kamu, Bang, lagi pula sebelum kita begini, kita pernah saling cinta, kan?" ucapku.


"Kamu nggak pengen ketemu anak-anak?" tanya Bang Dewa.


Aku ingin mengangguk dan menangis bahagia. Tapi harus kutahan, Bang Dewa harus kubuat penasaran lagi denganku.


"Apa mereka pengen ketemu sama mamahnya juga?" ucapku balik bertanya.


"Ehm ...."


"Udah nggak usah, Bang, mereka cuma nyusahin aku!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2