
"Baik, ayo pisah!"
Bang Dewa adalah tipe suami yang akan bersikap semakin manis dan romantis saat dirinya berselingkuh. Saat pertama kali perselingkuhan itu terjadi tentu saja aku terkecoh. Serasa ditipu mentah-mentah, ibarat diterbangkan tinggi kemudian pijakanku amblas dan berubah menjadi jurang yang penuh batu lancip sebagai tempatku jatuh.
Sakitnya seperti ingin bunuh diri, aku gelap mata dan belum cukup dewasa menghadapi cinta yang berkhianat. Ditusuk dengan sikap hangat yang penuh racun. Untungnya aku kuat dan seiring berjalannya waktu banyak faktor yang membuatku bertahan dan memaafkan.
Aku yang salah, membiarkannya tumbuh dengan kebiasaan yang keliru, membiarkan sifat buruknya berkembang tanpa kupatahkan, membiarkan jalannya salah tanpa kuarahkan dengan sungguh-sungguh. Maka beginilah jadinya, Bang Dewa menganggapku gampang untuk memaafkan, sehingga dia akan kembali melakukan kesalahan dengan mudahnya.
Karena itulah aku tidak lagi luluh pada sikap manis, romantis, dan hangat yang selalu Bang Dewa berikan. Aku selalu takut, parno, dan waspada pada setiap sikapnya. Justru saat Bang Dewa bersikap biasa bahkan cuek disitulah aku merasa tenang. Aneh, bukan?
Sejak kehamilan Guntur Bang Dewa kembali bersikap manis padaku, padahal sudah sekian lama rumah tangga kami terhitung tenang. Aku takut, cemas, pikiran-pikiran negatif terus menghantui, aku menjadi mudah marah dan emosi. Andai bisa aku ingin tutup mata saja pada setiap kelakuannya, aku ingin ketenangan setidaknya sampai bayiku lahir, tapi hati seorang perempuan sangatlah peka.
Bang Dewa berkilah saat kuungkapkan kecurigaanku, dia beralasan sikap manis dan romantisnya karena senang saat dia tahu bayi yang kukandung adalah laki-laki. Aku masih tidak tenang meski alasannya masuk akal. Kusadap laptop dan ponselnya, kusogok sekertarisnya. Hingga perselingkuhannya dengan perempuan bernama Risa kembali terungkap.
Aku tidak hancur di titik itu. Justru di situlah titik balik kehidupanku. Aku harus kuat, ikhlas, dan semangat. Aku harus pergi, menjauh, dan hidup bahagia bersama anak-anak. Tidak ada lagi rasa takut kehilangannya, aku lebih takut kehilangan kewarasanku.
"Ayo kita lakuin sesuai keinginanmu, May!" ucap Bang Dewa lagi dengan lantang, aku senang meski sedikit merasa janggal, Bang Dewa hanya bodoh soal rasa, tapi kecerdikannya harus tetap kuwaspadai.
"Ayo kita sama-sama berusaha jadi orang tua yang baik, anggap aja kita putus, kita tetep serumah tapi beda kamar, kita hidup sama-sama demi anak-anak tapi tidak saling mengurusi kehidupan masing-masing. Bagaimana?" lanjut Bang Dewa memberiku tawaran.
"Apa? Enggak! Aku nggak mau, aku juga pengen punya kehidupan sendiri, kalo masih harus hidup sama-sama apalagi serumah kapan aku bisa bebas?" protesku tidak setuju dengan ide gilanya.
"Jadi kamu pengennya bebas?" tanya Bang Dewa.
"Iya, bebas dari kamu! Dan ... kamu akan bebas tidur dengan wanita mana pun sesukamu!" jawabku ketus.
Bang Dewa terlihat marah dengan matanya yang membelalak, sudah kuduga dia akan berbalik marah karena tidak terima dengan caraku marah, tanpa peduli seberapa besar kesalahanya, sudah biasa.
Namun ada yang aneh kali ini, Bang Dewa terlihat diam, mungkin batinnya sedang bertarung karena tiba-tiba dia menunduk dan saat kepalanya kembali tegak raut marahnya hilang.
"Maksudku begini, May, anggap kita pacaran itu kita lagi putus, lagi break, kita pasangan kekasih yang lagi marahan, tapi di sisi lain kita tetap orang tua," tutur Bang Dewa dengan nada yang melembut.
"Aku ... akan mulai semua kembali dari awal, aku akan bikin kamu jatuh cinta lagi, dan akan kuperbaiki semuanya. Jadi ... ayo kita pisah dulu sebagai pasangan kekasih, mundur selangkah untuk maju beberapa langkah. Gimana, May? Kamu akan tetep nyaman dan anak-anak akan tetep punya keluarga yang utuh!" bujuk Bang Dewa padaku.
"Nggak bisa, aku nggak bisa pura-pura kaya gitu, tolonglah ... kita harus dewasa!" tolakku lagi.
"Itu sudah jadi jalan tengah terbaik buat kita semua, May, semua keinginan kita masing-masing terwujud. Satu, kamu bisa bebas jadi dirimu sendiri, ada pengasuh dan asisten yang ngerawat anak-anak, kehidupanmu dan anak-anak tetep terjamin. Dua, anak-anak tetap bahagia dengan orang tua yang utuh dan bersama. Ketiga, aku berkesempatan untuk bisa membuktikan kalau aku akan setia!" jelas Bang Dewa panjang.
__ADS_1
"Aku bisa memilih kamar yang paling jauh dari kamarmu, dan aku berjanji nggak akan menganggumu!" lanjutnya.
Aku sangsi, karena Bang Dewa bukanlah orang yang bisa menahan hasrat laki-lakinya.
"Jadi ... kita akan menipu semua orang?" tanyaku padanya.
"Iya, anggap aja begitu!"
"Aku ... nggak bisa bersikap baik sama kamu," ucapku padanya.
"Silakan, bersikap buruk juga nggak papa, nggak mau ngomong, diem, dingin, silakan, asal kesepakatan kita ini kamu setujui!" tuturnya lagi.
"Jadi aku boleh selingkuh juga?" tanyaku menguji.
"***--eh ... eh, apa? Enggak!" tolakknya.
"Waw? Jadi aku nggak boleh nyicipin dosa kaya kamu? Aku penasaran rasanya selingkuh kaya apa, soalnya kok Abang lahap banget sampe ketagihan terus," ucapku menyindirnya.
"Jangan, May. Mari kita coba jalani dulu sesuai usulanku."
"Yah ... percuma, aku nggak mau!" tolakku kembali mempermainkannya, dia pikir hanya dia yang bisa bermain.
"Ya enggak lah, aku nggak sekotor kamu! Tapi ... aku sih mau buru-buru nyari!" tantangku berusaha menyulut emosi Bang Dewa.
Bang Dewa terpejam dan kedua tangannya mengepal. Sejak kapan Bang Dewa bisa mengendalikan amarahnya?
"Oke ... baik, kamu juga boleh berkencan, tapi ada syaratnya!" ucap Bang Dewa membuatku terkejut, tentu saja tantanganku padanya hanya bualan semata, hatiku masih trauma pada laki-laki.
"Saat aku gagal membuktikan diri kalau aku setia, saat aku gagal memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk memperbaiki diri, saat aku kembali mengkhianatimu dan berselingkuh. Jangankan berkencan dengan pria lain, seluruh harta dan anak-anak aku kasih buat kamu!" tutur Bang Dewa penuh keyakinan.
Mata kami saling bertautan, hingga seluruh kalimatnya melesat tanpa sempat kucerna menuju hatiku, aku sedikit gemetar menyaksikan kesungguhannya.
Ajakan pisahnya palsu, dia sungguh pandai mempermainkan orang. Alih-alih melepas dia justru mengikatku kembali dengan erat. Sulit dipercaya, lelaki yang sudah berkali-kali selingkuh sedang mati-matian mempertahankan istrinya.
Kenapa harus selingkuh? Pertanyaan yang membuatku lelah, aku sungguh ingin tahu, apa alasannya. Meski Bang Dewa sudah mengakui banyak hal, tapi jawabannya tetap tidak bisa memuaskan rasa heranku terhadap mereka yang mengaku cinta tapi berkhianat.
"Kamu licik, Bang!" makiku.
__ADS_1
"May ... ini udah terbaik buat semua," ucapnya bersikeras.
"Tapi nggak adil buatku! Coba renungin Bang semua yang udah kamu lakuin ke aku! Aku bisa ikhlas dan berusaha maafin aja udah hebat banget, prosesnya itu nggak semudah yang kamu pikir, Bang! Sulit!" ungkapku emosional.
Satu hal yang tidak bisa kumengerti. Betapa remehnya luka dan penderitaanku di mata Bang Dewa. Seakan sembuh dan kembali baik-baik saja, harus menjadi keahlian yang kukuasai.
Proses untuk ikhlas, kemudian memaafkan, dan merelakan semua yang sudah terjadi tidaklah mudah. Aku harus berdebat dengan diriku sendiri, harus hancur, harus memaksa berdiri meski kaki dan tubuh lunglai, harus tetap tegar meski hati porak ponda, dan yang berat adalah pura-pura baik-baik saja di depan anak-anak.
Aku ingin menangis dan meraung sepuasnya, tapi aku tahan dan menekan kembali perasaanku hingga tanpa sadar kewarasanku yang kadang harus terkikis.
Bersama dengan Bang Dewa terasa percuma, karena aku merasa seorang diri dalam menjalankan kewajiban terhadap anak-anak. Sementara Bang Dewa yang harusnya melindungi kami justru menjadi orang yang paling jahat menghancurkan, paling kejam melukai, dan paling egois ingin menang sendiri.
Aku ingin sendiri, ingin lepas dari duri cintanya, ingin jauh dari segala tentangnya. Aku trauma, depresi, dan merasa hancur dari dalam.
"Aku udah renungin, May, makanya aku persembahkan hidup dan jiwaku buat kamu, buat ngobatin semua luka yang aku buat!" tuturnya tidak mau kalah.
"Nggak gitu caranya, Bang!" tolakku.
Persembahkan hidup dan jiwa, katanya? Cih!
Muak sekali mendengar janji manisnya. Aku menyesal mengajaknya bicara, hanya buntu dan sia-sia, sekeras apapun kucoba menjelaskan kerapuhanku. Bang Dewa tetap tidak mengerti. Haruskah aku kabur membawa anak-anak?
"Baik ... kamu yang bilang kalo aku butuh waktu buat pisah, akan kamu kasih, bukan? Anggep aja ini caranya," ucap Bang Dewa yang mulai kewalahan menahan amarahnya.
Licik!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.