KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Bicara Dengan Teman


__ADS_3

"Udah nggak usah, Bang, mereka cuma nyusahin aku!"


"Nyusahin?!" seru Bang Dewa.


"Iya lah, Bang."


"Karena mereka duniaku berubah, aku yang muda tiba-tiba jadi tua, aku yang tidak banyak bisanya tiba-tiba harus serba bisa, dan yang paling sakit itu, karena mereka aku harus memaklumi dan memaafkan perselingkuhanmu terus dulu, Bang, ingat?"


"Demi anak-anak lah, kasian anak-anak lah, pikirkan an--"


"Maira ...!" teriak Bang Dewa memotong curhatan panjangku.


Bang Dewa berdiri dan melempar sumpitnya ke meja. Aku sampai terkejut, tapi tidak boleh goyah. Aku memang belum selesai berdamai dengan hal ini.


"Kenapa kamu nggak keliatan seperti seorang ibu sekarang? Apa anak-anak nggak penting buat kamu? Kamu bilang mereka nyusahin?" tanya Bang Dewa dengan nada tinggi.


"Santai Bang, kenapa harus pake otot?" ucapku mencoba mengontrol suhu percakapan.


Bang Dewa membuang nafas dengan kasar dan memalingkan mukanya dariku.


"Apa kamu sadar, May? Kamu egois sampai berkata begitu tentang anak-anak, padahal mereka meri--, ehm, padahal mereka ...--"


"Padahal mereka apa, Bang? Aku yakin kamu udah ngasih pengertian ke mereka tentang aku kan? Tentang kemana mamahnya ... aku nggak peduli apa pun penjelasan yang kamu kasih ke mereka, mau positif mau negatif, mau menyudutkanku, menyalahkanku, aku nggak peduli, kamu kan papahnya, pasti kamu memikirkan yang terbaik untuk mereka 'kan? Apalagi Luna yang mulai mengerti," tuturku dingin.


"Aku cuma ngasih gambaran, betapa egoisnya kamu dulu," ucapku sambil terus menyuap makanan ke mulut, ketenanganku sepertinya membuat Bang Dewa kesal.


"Duduk, Bang! Aku pengen kita makan bareng sebagai teman, omongin aja semuanya seolah mantan istri kamu itu orang lain, dan mantan suamiku itu orang lain, dan kita lagi sama-sama ngobrolin mereka dengan santai," tuturku sambil mendongak tersenyum pada Bang Dewa yang masih berdiri.


"May, kamu udah mirip psikopat sekarang!" tutur Bang Dewa, raut wajahnya seperti sedang mengkhawatirkanku.


"Oh, ya?" tanyaku pura-pura, seraya meraba pipiku sendiri.


"Enggak ah, kamu terlalu lebay Bang, aku lagi nyoba menertawakan apa yang seharusnya kutangisi, lagian aku udah capek nangis terus," jawabku dengan kembali tersenyum.


Apa senyum manisku menyeramkan?


"Kamu udah ke psikolog, May?" tanya Bang Dewa masih dengan nada khawatir.


"Udah, ke Psikiater malah, ehm ... post-traumatic stress disorder, tapi aku rajin berobat, kok, dan aku mulai bangkit!" jawabku percaya diri.


Tiba-tiba tubuh Bang Dewa melunglai, dan dia kembali duduk. Apa dia merasa bersalah sekarang?


"Nah gitu, duduk! Leherku sampe sakit harus ngobrol sama kamu sambil berdiri," selorohku.


"Aku merindukan mereka setengah mati, tapi ... aku sadar aku bukan orang baik, aku takut dengan keadaanku sekarang, takut jika akhirnya mereka akan tersakiti karena jiwaku yang labil, jadi udah benar kalau mereka hidup sama kamu," lanjutku seraya tersenyum.


Benar, Bang. Kamulah yang bertanggung jawab atas masa-masa terkelam yang harus kulalui sendiri dalam ketakutan.


"May ... a-aku--"


"Nggak usah minta maaf, aku udah bosen dengernya," ucapku memotong.


"Ehm, enak ... makananku udah abis, Bang. Kamu tahu Bang, berat badanku sekarang mulai naik, aku banyak makan, aku rasa pengaruh obat yang kukonsumsi juga," ucapku dengan tenang, aku benar-benar bersikap seolah sedang berbincang dengan seorang teman.


Bang Dewa terlihat menunduk dan sedih mendengar semua penuturanku.

__ADS_1


"Hey, Bang! Jangan bersikap seolah kamu itu mantan suamiku, jangan kasiani aku, bersikap saja sebagai temen, emangnya kamu nggak mau jadi temenku?" tegurku, Bang Dewa terlihat bingung.


"Kalau kamu mantan suamiku udah aku cabik-cabik, aku marah, dendam, sakit hati, benci!" ungkapku, dan Bang Dewa hanya mematung melihatku.


"Kamu tau, Bang? Mantan suamiku itu hobi selingkuh, dan yang paling sakit itu, saat aku baru saja melahirkan, aku masih stress sampai muncul tanda-tanda baby blues, eh dia malah selingkuh, ha ... ha ... ha ...!" Aku tertawa terbahak.


"May?"


"Tapi aku juga salah, karena aku curiga terus, nuduh-nuduh terus, cemburuan terus, sering marah-marah, dan juga uring-uringan. Makanya suamiku selingkuh!" lanjutku mencoba menceritakannya sebagai lelucon, tidak lupa tawa kecil kuselipkan di sela kalimat-kalimatnya.


Bang Dewa menatapku penuh penyesalan, apa sikap dan kalimatku yang sarkas membuatmu sakit hati, Bang?


"Udah malem, aku pamit pulang!"


"Aku antar!" ucap Bang Dewa spontan.


"Nggak usah, nanti mantan suamiku liat dia bisa marah karena aku dianter cowok, nanti dia bakal ngata-ngatain aku murahan, karena pengadilan pun belum selesai ketok palu," ucapku menyindir.


"Pulang dulu, ya!" pamitku seraya pergi.


"May!" Aku berhenti dan kembali menoleh.


"Iya, kenapa Bang?"


"Kenapa kamu menemuiku dengan bersandiwara seperti ini?" tanya Bang Dewa.


"Haisk, udah kubilang aku pengen ngobrol sama temen, dan sejak nikah aku nggak punya temen selain kamu Bang, duniaku sebatas sumur, kasur, dapur, ada juga paling cuma Sila, dan aku mulai bosan ngobrol sama dia," jawabku kembali membuat wajah Bang Dewa memucat.


"Apa aku boleh dateng lagi besok?" tanyaku, Bang Dewa menatapku kebingungan seperti orang bodoh.


"Soalnya aku belum akrab sama rekan sekantorku," bujukku.


"Iya ... silahkan!" jawabnya berusaha kembali normal.


"Selamat malam! Dah ...!" ucapku dengan melambaikan tangan.


Aku tersenyum, menyaksikan sikap Bang Dewa. Dan aku merasa lega, sesuatu yang berat mulai terurai perlahan. Ternyata bercerita dengan santai pada si pelaku bisa membuat bebanku memuai.


Pengadilan memang tidak bisa memaksa Bang Dewa untuk menyerahkan anak-anak, tapi akan kubuat Bang Dewa mengembalikan anak-anak dengan sukarela padaku.


***


Dewangga


Perasaanku sangat kacau setelah punggung Maira menghilang di balik pintu. Apa-apan ini? Kenapa Maira bersikap seperti itu?


Apa penyakit mentalnya sangat berat?


Aku memutuskan untuk membuntutinya, memastikan dia selamat. Kusambar kunci mobil dan jasku, berlari secepat mungkin agar tidak kehilangan jejak Maira.


Aku sangat cemas dan khawatir. Kusapukan pandanganku ke segala penjuru, setelah beberapa saat memacu mobil, akhirnya kutemukan mobil Maira.


"Akhirnya," gumamku lega.


Aku mengikutinya dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Jalan yang diambil Maira bukan jalan pulang ke rumah kami, aku mulai curiga, akan kemana Maira pergi.

__ADS_1


Apa dia menemui seseorang?


Dokternya?


Temannya? Oh atau jangan-jangan pacarnya?


Pasti ada seseorang di balik sikap Maira yang berubah sangat drastis.


Kuikuti terus hingga mobil menuju ke sebuah danau di tengah kota, meski danau buatan namun danau itu memang sangat indah dan luas. Maira sering ke sana dengan Luna dan Lintang saat sedang hamil Guntur untuk sekedar berjalan pagi. Sementara aku sibuk.


Mobil Maira menepi di sebuah daratan yang menjorok ke danau, sinar lampu dari bangunan tinggi di sekitarnya memantul dengan sangat indah di permukaan air yang tenang. Pantas Maira sangat menyukai tempat ini, dulu Maira sering bercerita dan mengajakku pergi bersama, namun aku enggan.


Maira hanya berdiam diri, dia tidak turun dan tidak ada yang menghampiri. Apa yang Maira lakukan? Apa dia menunggu seseorang?


Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk ke ponselku. Sebuah gambar yang dikirim oleh Maira.


[Lihat, namamu sudah kuganti]


Dia menunjukan layar ponselnya dengan nama dan nomerku.


"Kak Dewangga kampus"


Nama yang dulu Maira gunakan untuk memberi nama pada nomorku. Kulempar ponsel ke kursi kosong di sampingku. Maira tidak lagi menamai nomorku dengan 'Suamiku'.


Sebuah notifikasi kembali masuk, kuraih kembali benda pipih yang baru kulempar.


[Besok gantian traktir aku ya, Kak] tulis Maira lagi.


Kak? Dulu dia selalu memanggilku dengan panggilan Kak Dewa. Tanpa sadar bibirku tertarik ke atas, panggilan yang manis dari Maira membuat hatiku senang. Kenapa tiba-tiba pikiranku melayang kembali ke masa lalu, Maira kembali membuatku rindu pada masa di mana kisah kami masih indah.


Aku tidak membalasnya dan memutuskan untuk menghampiri Maira, setelah yakin kalau Maira sedang tidak menunggu siapa pun. Kubeli 2 gelas minuman coklat dingin kesukaan Maira. Setelah itu aku berjalan ke mobil Maira, aku memang sengaja memarkir mobilku agak jauh darinya.


Mungkin Maira sedang berpikir untuk memperbaiki hubungan kami dari awal, aku harap langkah Maira berhasil, tentu saja kusambut perubahan Maira dengan tangan terbuka. Aku sangat berharap hubungan kami bisa kembali seperti dulu.


Beberapa meter dari mobil, aku mendengar suara tangisan, sayup-sayup kupastikan. Benar, Maira menangis dan sesekali berteriak dengan lepas. Apa karena ini dia memarkirkan mobil jauh dari yang lain?


Aku kecewa, Maira belum benar-benar baik, dia hanya menekan perasaannya sendiri dengan bersikap manis padaku. Aku menyesal telah berpikir buruk tentang perubahan sikapnya yang tiba-tiba.


Aku berdiri mematung, mendengar setiap raungan Maira. Aku bisa menghampirinya setelah dia puas menangis.


Aku akan jadi Kak Dewanggamu yang dulu, May!


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2