KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Up


__ADS_3

Pagi datang seperti biasa, entah kenapa aku tergerak untuk membuatkan Bang Dewa sarapan. Sepiring nasi goreng seperti yang sering kubuatkan dulu. Bang Dewa pun sarapan dengan sumringah.


Aku akan coba, lagi.


"Makasih, Mah. Papah udah kangen nasi goreng kaya gini," ucap Bang Dewa, sepiring nasi dihadapannya sudah tandas.


Aku hanya menanggapinya dengan senyum.


"Nanti siang Papah jemput, ya. Kita konsul ke Dr. Mario," ucap Bang Dewa.


"Nggak usah, aku ke kantormu aja," tolakku.


"Nggak papa, biar Papah jemput."


"Biarin aja, aku pengen jalan-jalan dulu," kilahku.


Aku hanya ingin lebih mandiri, tidak menyandarkan apa pun lagi pada Bang Dewa. Akan kumulai dari hal kecil.


"Oke kalo gitu, hati-hati di jalan nanti ya, Mah!" tutur Bang Dewa.


"Papah berangkat dulu!"


Bang Dewa menenteng tasnya dan pergi, sebelum pergi Bang Dewa mendatangi kedua putrinya yang sedang sarapan di depan tivi. Kemudian Bang Dewa beralih pada Guntur yang sedang berjemur pagi dengan Leni.


Ada yang berdesir hebat dalam hatiku ketika melihat Bang Dewa berdekatan dengan Leni. Kupalingkan muka menghindari prasangka yang akan membuat batinku sesak.


"Jangan lama-lama sarapannya, Nak. Nanti telat ke sekolah," ucapku pada Luna dan Lintang.


Selang beberapa saat kemudian terdengar sebuah mobil memasuki halaman, siapa? Aku hanya punya janji dengan Bang Dewa, itu pun nanti siang.


"Ibu ... Ibu dateng kenapa nggak ngabarin?" sambutku seraya mendekat pada ibu mertuaku.


"Sengaja, biar sureprise. Kenapa rumahnya sepi?" jawab ibu.


"Luna sama Lintang kan sekolah, Bu. Guntur lagi tidur. Bang Dewa nyuruh Ibu dateng lagi?"


"Enggak, ibu pengen dateng aja. Gimana pengasuh yang ibu pilih? Bagus nggak kerjanya?" tanya ibu seraya duduk di sofa.


"Bagus, Bu. Makasih, ya."


"Lha iya wong dari dulu disuruh pake pengasuh kok nggak mau, biar kamu nggak capek, May. Biar tetep bisa ngurus diri sendiri, sama ngurus Dewangga," tutur ibu kemudian.


"Iya, Bu."


"Bik ... ambilin minum buat Ibu!" seruku pada bik Tuti.


"Dewa itu kerja buat kalian, bisa ngasih kamu fasilitas bagus itu dimanfaatin, lagian anak-anak jaman sekarang kan beda sama anak jaman dulu, anak jaman sekarang susah diatur, ngeliatnya gedget mulu, jadi susah diatur."


"Jangan maksain diri ngikutin pola asuh jaman dulu, May!" ucap ibu menasehatiku.


"Lagian kamu itu istrinya, kalo kamu nggak make duit Dewa ya nanti wanita lain yang make," lanjut ibu.


Aku hanya bisa tersenyum, ibu mertuaku sebenernya baik, hanya terkadang pilihan kalimatnya sering kurang tepat.


"Iya, Bu. Makasih udah perhatian," ucapku berharap ibu menyudahi pembahasan kali ini.


"Ibu cuma usaha," ucap ibu sedikit bergumam, namun aku mendengarnya dengan jelas.


"Hah?"

__ADS_1


"Coba kamu dengerin Ibu dari dulu, May, nggak akan sampai kaya gini," ucap ibu lagi.


"Kebetulan Ibu dateng, nanti titip anak-anak, aku mau pergi."


"Kemana? Sama siapa? Dewa tahu?" tanya ibu sedikit terkejut.


"Tahu, Bu. Perginya juga sama Bang Dewa, kami mau nurutin saran Ibu buat pergi ke psikolog pernikahan."


"Syukurlah, ibu selalu doain pernikahan kalian biar selamat. Nah gitu dong, May, nurut sama ibu, jangan khawatir masalah ekonomi, biar Dewa yang urus. Tugas kamu memanfaatkan apa yang ada sebaik-baiknya, demi kebahagiaan kalian!" tutur ibu.


Aku paham, bukan maksud ibu menyindirku, hanya saja hatiku sedang sensitif sehingga merasa dihakimi secara halus oleh kalimat-kalimat ibu.


"Ibu tahu kok, kamu bukan istri yang boros, atau suka hambur-hamburin uang suami, tapi jangan terlalu perhitungan sama diri sendiri. Perawatan, ke salon, pembantu, pengasuh, nanti tinggal minta mobil satu lagi sama sopir, biar kalo kamu kemana-mana nggak susah," lanjut ibu.


"Coba ... mana ada ibu mertua sebaik ibu kaya gini, Dewa emang salah, tapi ibu yakin Dewa beneran nyesel sekarang," ucap ibu seolah sedang memberitahu betapa beruntungnya aku memiliki ibu mertua sepertinya.


Ibu meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Sebagai seorang Ibu dari suami yang pernah salah, ibu minta maaf sama kamu, May!" tuturnya dengan tulus.


"Iya, Bu. Kami sedang memperbaiki, Ibu doakan kami aja!" ucapku


***


Aku mengenakan kemeja berwarna biru muda, dipadu dengan setelan jas wanita yang kupunya. Aku sengaja berpenampilan formal untuk mengobati kerinduanku berpenampilan rapih.


Dengan menggunakan taxi aku pergi ke kantor Bang Dewa, membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai karena jalanan yang ramai.


"May, nggak salah ini? Cantik banget!" ucap Sila menyambutku, kami tidak sengaja bertemu di lift.


"Masa, sih?" ucapku salah tingkah.


"Mau ketemu Dewa? Kayaknya masih meeting, ada Koko Lian juga tadi ikut meeting sama bokapnya!" tutur Sila memberi tahu.


"Masih lama nggak, yah?" tanyaku sedikit kecewa, padahal aku sudah sengaja datang sedikit terlambat.


"Nggak tahu, ada masalah di lapangan kayaknya. Nunggu di ruanganku aja, yuk!" ajak Sila.


Aku pun menyetujui usul Sila.


"Kamu sering ketemu Koko Lian, Sil?" tanyaku sedikit berbasa-basi.


"Ehm, sering sekarang. Kan sebentar lagi Mr. Chan mau pensiun," ucap Sila.


"Kenapa emang, May?" tanya Sila.


"Nggak papa."


"Semua baik-baik aja, kan?"


"Baik, kok."


"Suamimu keliatan terpaksa banget kalo harus ketemu Koko Lian, aku nggak bisa bayangin gimana kalo harus berurusan setiap hari," ucap Sila berseloroh.


"Perasaan kamu aja kali, Sil."


"Tapi kalian udah baik-baik aja, kan?" tanya Sila yang sudah sedari tadi gatal untuk bertanya.


"Hem ... ya gitu, deh. Aku lagi-lagi ngalah demi anak-anak, aku nggak tahu keputusanku bener apa nggak, aku masih nggak bisa yakin sama Bang Dewa!" jawabku.

__ADS_1


"Hem ... sebagai seorang ibu kamu bener, May. Anak-anak butuh keluarga yang utuh."


"Aku masih belum bisa yakin sepenuhnya!"


"May, kamu tahu kan? Aku ini anak brokenhome?" ucap Sila, aku mengangguk.


"Ada satu cerita yang sampai sekarang sakitnya itu masih kerasa," tutur Sila, aku mendengarkannya dengan serius.


"Dulu saat aku masih Sekolah Dasar, orang tuaku cerai, kemudian ayahku itu nikah lagi sama janda, ayahku punya anak tiri yang ternyata satu sekolah sama aku."


"Pernah suatu ketika, siang itu hujan gede banget, aku nunggu dijemput di depan kelas. Dan aku senang banget pas dari kejauhan, aku liat ayah datang menjemput, karena biasanya ibu yang akan njemput."


"Ayah berjalan tergopoh-gopoh dengan menteng jas hujan di tangannya, dan tangan satunya memegang payung. Aku tersenyum menyambutnya, aku seneng banget, May waktu itu," kisah Sila, matanya menerawang jauh sambil mengingat peristiwa di memorinya.


"Tapi ... aku kecewa banget, pas ayah ngelewatin aku gitu aja, ayah menghampiri seorang anak perempuan, adik kelasku, bahkan ayah memakaikan jas hujan berwarna pink itu padanya tepat di depan mataku, kemudian menggendong anak itu agar sepatunya nggak basah," lanjut Sila dengan sedih.


"Ayah berhenti sejenak pas melewatiku dan tanpa rasa bersalah ayah nanya, 'Ibumu belum jemput, ya?' aku cuma menggeleng sambil nahan kecewa." Sila menunduk dan meneteskan air mata.


"Bayangin May, ayahmu menjadi ayah orang lain. Aku yang anak kandungnya ngerasa dikhianati, dan rasanya sangat sakit, lebih sakit dari pada dikhianati pasangan!" lanjut Sila penuh emosional.


"Itu patah hati pertamaku!" ucap Sila mengakui.


"Ayahmu keterlaluan, Sil!" ucapku yang geram dan sedih mendengar kisahnya.


"Makanya, May. Jangan sampai Luna atau Lintang ngerasain hal yang sama denganku. Dewa bisa aja ngehianatin kamu, tapi jangan sampai kamu membiarkan dia mengkhianati anak-anaknya."


"Tidak mudah berbagi ayah dengan saudara yang tidak sekandung, May. Apalagi orang baru yang awalnya bukan siapa-siapa tiba-tiba menjadi anak dari ayah kita."


"Jangan sampai Dewa punya anak dari perempuan lain, karena yang akan terluka itu anakmu, May," ucap Sila memperingatkan.


Kisah Sila membuatku merasa terpukul. Hal tersebut di luar perkiraanku. Aku saja cemburu dan marah saat Bang Dewa menggandeng perempuan lain.


Bagaimana jika Luna dan Lintang yang harus merasakannya sebagai seorang ayah dan anak?


Oh, tidak!


"Sebagai seorang istri kamu pasti pengen pisah, harga dirimu pasti terluka. Tapi, sebagai ibu kamu nggak bisa egois. Aku harap kalian nggak bercerai," ucap Sila mengakhiri kisah emosionalnya.


"Makasih, Sil. Udah ngasih aku pandangan!"


Ponselku berdering, sepertinya Bang Dewa sudah selesai meeting.


[Mamah, dimana?]


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2