
[Ada siapa di balik kamu, May? Jawab! Julian?!]
***
Aku tidak membalas lagi pesan bang Dewa, badanku rasanya lelah, aku segera pulang dan merebahkan diri di kamar. Rumah besar yang sangat sepi, aku mempekerjakan seorang asisten khusus bersih-bersih yang hanya datang pagi dan pulang sore hari.
Aku rindu kehangatan, rindu keramaian, rindu tingkah polah Luna dan Lintang yang sering menguras kesabaran, rindu tangisan dan rengekan mereka. Aku rindu terjaga tengah malam untuk mengASIhi Guntur, menggendongnya, dan mendekapnya.
Kubenamkan wajah kelipatan tangan yang kubuat dan menangis. Aku sangat lelah.
Haruskah aku menyerah dan tidak peduli saja pada Bang Dewa beserta karmanya?
Haruskah kusimpan ambisiku untuk bisa menjadi wanita modern dan mandiri seperti Sila?
Haruskah aku hidup bahagia dengan anak-anak saja tanpa peduli pada hal-hal seperti itu?
Bukankah aku masih pantas punya mimpi?
Suara deringan ponsel membuyarkan lamunanku.
Bang Dewa?
Kuusap air mata dan menyeka isak untuk bersiap menjawab panggilan itu, bagaimana pun aku harus bersikap baik agar Bang Dewa tidak berubah pikiran.
"Halo," sapaku.
[Maira ... jadi benar, kamu sekongkol sama Julian?] cecar Bang Dewa, nada suaranya terdengar marah.
"Apa maksudmu, Bang?" jawabku malas.
[Kau tau? Julian mulai curang, dan jika tebakanku benar dia sengaja ndeketin kamu, berusaha memancing di air keruh serta memanfaatkan suasana] jawab Bang Dewa, kata-katanya hanya mengambang karena aku malas mencerna.
"To the point aja Bang, aku nggak ngerti!" ucapku menunjukan ketidak tertarikan pada obrolan ini.
[Oke, awalnya aku cuma curiga, tapi setelah kuselidiki semua memang benar, Julian yang ada di balik sikap aroganmu!]
Iya, tebakanmu benar, Bang, aku memang mendapat banyak contekan strategi dari Koko Lian.
"Bang, aku lelah, mending Abang ngomong sama pengacaraku aja besok," tolakku.
[Coba pikir, May. Kalau Julian serius nolongin kamu, kamu nggak akan direkomendasiin ke kantor kecil seperti itu. Setelah kamu membahas saham, semua kecurigaanku benar, Julian berniat merebut perusahaan lewat kamu, apa kamu tau May? Saham di bawah 50% itu sama saja kehilangan perusahaan?] Bang Dewa terus memberi penjelasan yang tidak ingin kudengar.
[Jangan mau diperalat Julian, May!]
"Aku nggak diperalat, Bang!" tolakku.
[Apa Julian membuatmu merasa nyaman? Dia bersikap sok pahlawan di tengah masalah kita? Kamu harus tau kalau Julian itu jauh lebih buaya dariku!] Bang Dewa mulai menuduh lagi.
"Bang Dewa ... dengar! Cuma orang yang pernah selingkuh yang bisa memaklumi peselingkuh lainnya juga, dan selama ini Koko Lian nggak pernah memaklumi pengkhianatanmu, Bang!" ucapku membela.
"Koko Lian nggak sama denganmu, Bang!" lanjut mematahkan argumen Bang Dewa.
[Jangan bodoh, May!]
"Lagi pula aku nggak butuh siapa pun, Koko Lian hanya teman sharing, hubungan kami jauh berbeda dengan hubunganmu sama perempuan-perempuan itu, jangan samain aku sama kamu, Bang!"
[Tapi kamu udah masuk permainan Julian, May!]
"Aku sendirian, Bang. Nggak ada siapa pun di belakangku, semua langkah yang kuambil murni karena tekad dan sakit hatiku."
"Lagi pula apa yang harus kutakutkan sampai butuh dukungan Koko Lian?"
"Aku, Maira Putri Maheswari, calon janda muda kaya raya, keren bukan? Aku nggak takut apa pun!"
"Selamat malam, sampai jumpa besok!"
[May--]
__ADS_1
Kumatikan ponsel dan melemparnya.
***
Keesokan harinya aku bekerja seperti biasa, sementara sidang berjalan hanya dihadiri pengacara kami. Bang Dewa menepati janjinya dengan tidak meminta hak asuh anak dariku, tinggal menunggu 2 minggu lagi, aku dan Bang Dewa akan resmi bercerai.
Perkataan Bang Dewa semalam cukup mengganggu, mengingat Koko Lian yang mengatakan tentang karma Bang Dewa, dan Bang Dewa yang mengatakan Koko Lian memanfaatkanku. Semuanya cukup masuk akal. Benarkah Koko Lian selicik itu?
Aku menunggu Bang Dewa di sebuah caffe, kami sepakat bertemu membahas perdamaian kami di luar pengadilan. Sulit ternyata menghindari orang yang kita benci, tapi setidaknya status kami sudah tidak membebaniku. Kami masih bisa berteman.
"Maaf nunggu lama, ehm ... jandaku," ucap Bang Dewa membuatku malu, orang di sekitar sontak melihat ke arah kami.
"Bang!" seruku seraya melotot ke arahnya, sementara dia tersenyum menggodaku.
"Lho memang benar, kamu jandaku, May, kamu juga boleh manggil aku, dudaku ...," lanjutnya tanpa menurunkan volume suara, dan membuatku semakin malu.
"Iya, tapi nggak usah diolok-olok juga," ucapku kesal.
"Okey, maaf," ucap Bang Dewa seraya meminum minumanku, dia meminum dari sedotan bekasku.
Oh, Tuhan ....
"Bang!" tegurku lagi.
"Kenapa?" Bang Dewa melirik gelas minumanku yang berada di tangannya.
"Oh ini? Maaf, udah nggak boleh juga, ya?" ucapnya pura-pura terkejut, sepertinya sengaja meledekku.
"Kita udah tua Bang, jangan bersikap norak kaya gitu," keluhku.
"Tua? Aku selalu gini kok," kilahnya.
Aku menahan kesal melihat tingkah Bang Dewa, tapi ... kejahilannya saat menggodaku, mengingatkanku pada sikapnya dulu, saat kami masih sama-sama muda. Bang Dewa senang sekali mengusiliku hingga aku kesal.
"Jadi ... kapan aku boleh jemput anak-anak?" tanyaku memulai pembicaraan yang serius.
"Kapan, Bang?" tanyaku lagi tidak sabar.
"Kapan kamu berhenti kerja?" tanya Bang Dewa.
"Jumat besok terakhir," jawabku.
"Oke, kalo gitu kamu bisa langsung jemput anak-anak," tutur Bang Dewa memberiku lampu hijau.
"Tapi ingat, aku boleh menemui mereka kapan pun aku mau!" tegas Bang Dewa.
"Iya," jawabku sumringah, aku sudah tidak sabar menunggu weekend.
"Saham masih mau?" tanya Bang Dewa.
Apa dia mengujiku?
"Kalau mau aku bagi dua," lanjut Bang Dewa tanpa menunggu jawabanku.
"Kenapa kamu nurutin semua permintaanku, Bang?" tanyaku mulai merasa aneh.
"Hem ... sengaja, aku pengen tahu sampai titik mana kamu akan puas," jawab Bang Dewa ambigu.
"Maksudnya?" Jujur aku mulai tersinggung.
"Kamu sangat ambisius, May, aku udah merendah mohon-mohon, ngemis-ngemis maaf dari kamu tapi kamu nggak luluh. Aku mau liat sampai di titik mana kamu akan puas dengan diri kamu sendiri," jelas Bang Dewa.
Aku terpaku berusaha mencerna kalimatnya. Aku ambisius?
Benar, kapan aku puas?
"Sekarang saham, kan? Oke ... kita bagi dua!" tegasnya.
__ADS_1
"Ta-tapi, apa ucapanmu kemarin benar, tentang pemegang saham terbesar perusahaan?" tanyaku terkejut.
Aku pikir pembagian saham adalah hal besar, tidak mungkin Bang Dewa setuju.
"Iya, benar," jawabnya enteng.
"Kalo begitu nggak usah," tolakku.
Sebenarnya aku hanya menuruti saran Koko Lian, aku sama sekali tidak paham tentang saham.
"Aku udah nggak peduli, kamu mau sendiri, atau disuruh Julian, kalau pun perusahaan harus jatuh ke Julian pun nggak papa. Apa artinya sukses, keluargaku saja hancur," tutur Bang Dewa menyindirku dengan telak.
"Aku bilang nggak usah," tolakku yang mulai tidak enak hati pada Bang Dewa.
"Jadi benar Julian? Kalian udah jadian? Saling suka? Saling sayang?" cecarnya.
"Aku kasih tau karena aku peduli, May, Julian jauh lebih buruk dariku, pergaulan luar negri sangat bebas, beda dengan orang timur. Biar pun selingkuh aku masih punya hati untuk menyesal," tutur Bang Dewa.
"Aku nggak ada hubungan apa pun sama Koko Lian!" tegasku.
"Heh ...," cebik Bang Dewa.
"Aku nggak mau saham, kalau kamu kehilangan perusahaan gimana masa depan anak-anak, kamu kan masih tetap harus bertanggung jawab sama mereka," tuturku mencoba memperbaiki.
"Yakin?" tanya Bang Dewa mengujiku, aku hanya mengangguk.
Tanganku bergerak hendak meraih kembali gelasku, percakapan ini membuatku haus. Tetapi kemudian kembali tertahan, mengingat Bang Dewa baru saja meminumnya.
"Kenapa? Haus?" tanya Bang Dewa menyadari gesturku.
"Nggak mau bekasku lagi?" lanjutnya.
Kemudian Bang Dewa mengangkat tangan pada pelayan dan memesankan minuman baru untukku.
"Kita harus menyesuaikan diri, Bang," ucapku.
"Oh ... oke."
Aku melihat Bang Dewa yang duduk di depanku, sikapnya kembali seperti Bang Dewangga kala dulu. Dia tidak lagi terlihat menyebalkan dan membuatku marah, apakah ini artinya aku sudah memaafkannya?
Ketuk palu hanya tinggal menghitung hari, hak asuh anak-anak pun aman dalam genggamanku, masalah harta Bang Dewa membagi secara adil. Semua terjadi sesuai dengan apa yang kumau.
Aku merasa lega, tapi sedikit hampa dan aku tidak merasa bahagia. Kenapa?
"Jangan panggil Bang Dewa lagi, May, panggil aja Dewangga, atau Kak Dewa, karena panggilan Bang Dewa cuma berlaku saat kamu jadi istriku," ucapnya.
"Iya."
Kenapa aku mendengarnya dengan sedih?
Mungkin karena Bang Dewa mengalah padaku terlalu banyak, dan perbuatannya justru membuatku merasa serakah walau pun ini memang hakku.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.