
Maira M. P.
Menjadi badut pesta? Baiklah. Akan kuuji sampai mana mentalku. Bahkan sebelum menjadi badut pesta, tamu tidak diundang sudah menghadang untuk menguji kecerdasan emosiku.
Aku bukan Maira yang dulu, yang bertindak berdasarkan emosi, meledak-ledak, menangis, mengiba, dan mempermalukan diri sendiri. Aku lebih pandai mengontrol semuanya.
Bertemu dengan salah satu gundik Bang Dewa, bahkan melihat mereka saling berpelukan keluar dari mobil. Hah? Jengah! Aku lelah!
Tetapi sudah kuputuskan, tanpa seorang raja aku pun bisa menjadi ratu, tidak pantas seorang ratu mengotori diri dan berurusan dengan gundik.
Tidak kuijinkan lagi rasa sakit itu datang tanpa permisi. Sudah kubuang jauh-jauh ingatan tentang luka menganga perselingkuhan Bang Dewa. Aku ingin waras.
Bang Dewa menggandeng tanganku sepanjang lorong manusia yang menyambut kami. Pujian dan sapaan manis mereka lebih terdengar seperti bentuk belas kasihan.
'Kasihan sekali istrinya, diselingkuhi terus.' Meski tidak terucap, tapi pandangan mata mereka menyiratkan kalimat itu.
Akan kuuji mentalku dan menghadapi setiap pandangan mata yang menganggapku pantas dikasihani. Akan kunikmati peranku menjadi badut pesta.
Bang Dewa tidak melepas lenganku sampai Koko Lian menyapa kami. Satu hal yang membuatku geli adalah kecemburuan Bang Dewa saat Koko Lian menyapaku dengan hormat. Kebiasaan negara tempat Koko Lian tinggal mungkin seperti ini, apa Bang Dewa bodoh dengan cemburu tanpa melihat background Koko Lian?
Bang Dewa semakin erat memegangi lenganku setelah bertemu dengan Koko Lian.
"Lepas ini, aku nggak akan kemana-mana!" protesku padanya. Perlakuannya padaku membuat risih orang sekitar.
"Kenapa? Kamu suka dicium-cium sama Julian? Mau dicium sama banyak pria lagi?" ucap Bang Dewa dengan marah.
Marah? Lucu sekali dia.
Kutarik lenganku dengan paksa. Ada luka baru yang membuat batinku berdarah.
"Jaga mulutmu kalo ngomong, aku nggak murahan kaya gundik-gundikmu!" Kutatap matanya penuh amarah. Kuatur nada bicaraku sedemikian rupa, karena keadaan yang ramai, akan memalukan jika kami bertengkar di sini.
Bang Dewa masih terlihat marah, tapi dia sudah salah dengan merendahkanku seperti itu.
"Kamu tau salahmu apa?" tanyaku mengintimidasi.
"Bukan lagi tentang perselingkuhan! ," lanjutku masih dengan menatap matanya.
"Salahmu adalah maksa aku maafin kamu, egois!" ucapku penuh penekanan.
Kurasakan pegangan tangan Bang Dewa sedikit mengendur setelah mendengar kalimat terakhirku, aku harap dia tahu letak kebodohannya. Kugunakan kesempatan itu untuk membebaskan diri dan pergi.
Aku menjauh dari hingar bingar pesta, dan Bang Dewa masih harus menyapa banyak orang. Aku bersyukur dia tidak mengejarku.
"May?" panggil seseorang.
"Hay, Sil," jawabku ketika melihat Sila.
"Kenapa malah di sini?" tanya Sila seraya mendekat.
"Kamu nangis, May?" tanya Sila melihat sisa air mata di sudut mataku.
"Oh ... enggak, tadi kelilipan," ucapku berbohong, sepertinya Sila tidak percaya, dia menatapku dengan iba.
__ADS_1
Kembali kunetralkan diri, mengatur kembali management emosi, dan mencoba bersikap biasa. Aku tidak perlu belas kasihan siapa pun.
"Maaf ya, May, dari awal harusnya aku ngasih tahu kalo Dewa selingkuh," ucap Sila dengan rasa bersalah.
"Aku ngerti kok, Sil, lagian Bang Dewa juga temen kamu, posisi kamu nggak enak diantara kami," ucapku memakluminya.
"Iya, lagian kenapa nggak kamu aja yang nggugat cerai, May, putus pengadilan, selesai!" ucap Sila bernafsu, dia mungkin juga gemas pada tingkah Bang Dewa selama ini.
"Hem ... emangnya kamu pikir ketuk palu pengadilan sesakti apa?" ucapku padanya.
"Menyelesaikan pernikahan kalian, kan?"
"Iya, hanya pernikahan kami yang selesai, tapi enggak dengan semua permasalahannya," jawabku mencoba menjelaskan pada Sila.
"Mudah Sil, kalo untuk urusan itu. Sebenernya yang penting itu hati, kalo hatiku udah ngelepasin ya udah, lepas!" terangku.
"Ketuk palu pengadilan nggak bisa maksa hati buat lepas, yang bisa cuma aku dan Bang Dewa sendiri. Banyak lho di luaran sana yang memaksa untuk ketuk palu tapi hati mereka masih saling terikat. Bisa dendam, bisa masih cinta, bisa perasaan apa aja."
"Apa kamu udah lepas, May?" tanya Sila.
"Sudah, Sil. Aku udah lepas, makanya ketuk palu pengadilan nggak terlalu penting buatku, aku cuma pengen bahagia, dan fokusku sekarang adalah pisah baik-baik demi anak-anak."
"Sejak hatiku memutuskan untuk lepas dari Bang Dewa, perasaanku mulai membaik, setiap kelakuannya udah nggak menyakitkan lagi, aku nggak peduli. Asal nggak nyenggol-nyenggol aku aja!" ucapku sambil teringat perkataan Bang Dewa yang membuatku tersinggung tadi. Selebihnya aku tidak peduli.
"Lagian ngapain buru-buru, aku juga masih trauma, nggak mungkin langsung nyari pasangan lagi. Aku takut, Sil!" jelasku pada Sila.
"Aku mau fokus sama anak-anak!" pungkasku.
"Bener juga May, pengadilan cuma di atas kertas, pisah sebenarnya ada di hati kalian," ucap Sila mulai paham.
"Iya, karakter Dewa emang nggak mau kalah. Tapi ... kamu beneran maafin dia? Tanpa dendam?" tanya Sila penasaran.
"Nggak semudah itu, aku sangat hancur, aku malu sama kalian semua, temen-temen yang tahu gimana hubungan kami dulu. Banyak orang iri sama hubunganku sama Bang Dewa, apa mereka masih iri kalo tahu pernikahan kami akhirnya begini?" ucapku seraya melayangkan kembali ingatan lama.
"Aku benci banget sama Bang Dewa, semua yang udah dia lakuin itu jahat banget! Tapi aku seorang ibu, kelangsungan hidup anak-anak ada di tanganku, mau dibawa ke arah kebencian atau kebahagiaan," ungkapku.
"Aku benci Dewangga, Sil!" tegasku.
"Luka ini udah nggak bisa diobati, jadi harus diamputasi."
"Aku salut sama kamu, May!" ucap Sila dengan memberiku senyuman manis.
"Makasih, aku pengen kaya kamu, mandiri, dan berkilau."
"Duh, aku malah pengen bijaksana kaya kamu, May. Eh, udah ketemu Koko Lian tadi? Dulu Koko Lian naksir kamu lho, May, siapa tahu bisa jadi kandidat buat gantiin Dewangga," goda Sila padaku.
"Apa yang menjamin Koko Lian nggak akan melakukan perbuatan yang sama, Sil? Bang Dewa yang kutemani dari bawah aja bisa menghianatiku, apa lagi Koko Lian yang udah tajir dari lahir," ucapku meladeni Sila.
"Aku maunya mandiri, dan bisa sejajar dengan para lelaki itu! Aku nggak mau di balik layar lagi!" ucapku sedikit mengungkapkan mimpi pada Sila.
"Eh, jodoh nggak ada yang tahu, May!" goda Sila lagi.
"Kenapa nggak kamu aja, Sil?" godaku balik pada Sila.
__ADS_1
"Enggak mau juga, aku maunya sama lelaki biasa, takut kalo nanti jadi kaya Dewangga," jawab Sila seraya tertawa.
Benar, tertawa. Aku pun tertawa cukup lepas. Hal yang sudah lama tidak kulakukan. Aku dan Sila banyak ngobrol hal-hal ringan, membahas masa lalu kita yang penuh picisan, sehingga membuatku lupa pada masalah yang sedang kuhadapi.
"Mah?" panggil Bang Dewa yang akhirnya berhasil menemukanku di pojok pesta.
"Kamu juga, Sil? Ngapain di sini?" tanya Bang Dewa.
"Ayo ke depan, acara inti segera dimulai, nggak sopan kalo kalian malah mojok di sini!" ajak Bang Dewa merusak suasana bahagiaku dengan Sila.
Kami akhirnya kembali berbaur di keramaian. Tangan Bang Dewa kembali memegangi lenganku dengan erat. Percuma Bang, hatiku udah lepas.
Kubiarkan perlakuan Bang Dewa padaku, fokus pada peranku hari ini sebagai badut pesta. Tidak terlalu buruk ternyata, karena sejatinya aku sudah lepas.
Akhirnya tiba saat Bang Dewa harus naik panggung dan bersalaman dengan Mr. Chandra, ayah dari Koko Lien. Bang Dewa mengajakku ikut serta mendampinginya dalam prosesi jabat tangan tersebut. Secara tidak sengaja Mr. Chandra juga mengajak Koko Lien yang katanya akan mengambil alih perusahaan setelah ini.
Dengan sumringah Koko Lien juga mengajakku berjabat tangan saat Bang Dewa dan Mr. Chan sedang berjabat. Kilauan kamera mengarah pada kami dengan suara yang saling bergantian. Bang Dewa terpaksa tersenyum. Sorakan dan tepuk tangan pun menggema.
Pesta selesai. Bang Dewa banyak diam setelah turun dari panggung. Tiba saatnya pulang karena tubuhku sudah tidak karuan. ASI-ku sudah kembali penuh dan membuat rasa tidak nyaman dengan gaun ini. Terakhir kupompa saat di salon sebelum mengenakan gaun.
Bang Dewa kembali mengamit lenganku dengan erat. Bukannya menuju pintu keluar, Bang Dewa justru menyeretku ke sebuah tempat.
"Mau kemana? Ayo pulang!" protesku tapi tidak di dengar olehnya.
Karena kesal dan merasa tugasku menjadi badut sudah selesai, kutarik tangan dan berjalan sendiri untuk pulang. Dengan cepat Bang Dewa kembali menangkapku dan menyeretku mengikutinya.
Wajahnya, dan nafasnya yang memburu membuatku tahu ke mana arah yang dia tuju.
Dengan penuh kekutan aku memberontak dan mencoba lari. Tapi Bang Dewa kembali menangkapku dan bahkan menggendongku di bahunya. Astaga, ini seperti penculikan.
Bang Dewa membawaku ke sebuah kamar masih di hotel yang sama. Segera setelah pintu terbuka, Bang Dewa menguncinya dengan cepat.
Tubuhku dilemparnya ke atas tempat tidur. Rasa sakit di dadaku beradu dengan kasur membuat rasa semakin tidak nyaman dan sakit.
"Aw!" erangku kesakitan.
Bang Dewa tidak peduli, jas dan dasinya telah terlempar, wajahnya terlihat kalap siap menerkam, amarah dan hasrat sedang menguasai kesadarannya. Aku harus lari, aku tidak mau melayaninya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.