
"Ayo pisah!"
"Mah?" Bibirku bergetar melihat nyali Maira yang besar.
Akan kupertaruhkan semuanya sekarang.
"Besok kita ke notaris, kita ganti semua aset-aset pake nama Mamah semua rekening, atm, mobil, dan kartu kredit silakan Mamah pegang!"
"Anggeplah nanti kalau papah sampai selingkuh lagi, papah akan keluar dari rumah ini cuma pake kaos oblong sama kolor! Papah sungguh-sungguh, Mah!" ucapku berusaha meyakinkan Maira lagi.
Minimal dia bisa bicara dan diajak berdiskusi mencari jalan tengah dari semua masalah ini. Aku salah tapi aku menyesal, sudah sepatutnya Maira menghargai perubahanku.
"Mah ... apa lagi yang bisa bikin Mamah yakin?" tanyaku penuh harap.
Maira tetap diam, seolah penawaranku tidak bernilai apa-apa. Apa lagi yang kurang?
"Oke ... kalo Mamah emang nggak peduli lagi sama semua tentang papah, tentang kita, coba pikirin lagi tentang anak-anak!" Aku berusaha membawa Maira melihat masalah ini dari sudut yang lain.
"Ini papah udah bertekad berubah, tolong hargai, Mah. Papah udah nyesel jadi jangan diem aja kayak gini, emangnya dengan Mamah diem masalah bakal selesai?" Aku mulai kesal.
Percuma, Maira tetap membisu membuatku mati gaya dan kesal sekesal-kesalnya. Jangan sampai aku menyesal karena sudah berubah. Oh, Ya Tuhan!
"Liat aja kalo kamu tetep ngotot cerai, jangan harap bisa bawa anak-anak! Karena aku, sebagai pihak yang salah ... udah benar-benar menyesal, ingin memperbaiki diri, dan bersungguh-sungguh berubah nggak akan ngulangin lagi." Nada biacaraku tidak lagi lembut, Maira terlalu keras kepala.
"Sekali ini aja, maafin aku untuk terakhir kalinya, Maira!" seruku mulai kehabisan kesabaran.
"Jawab, Maira!" tegasku pada Maira yang seolah melihatku saja sudah tidak sudi.
"Kalo kamu begini cuma buat ngasih aku pelajaran, oke ... aku terima, Mai! Aku emang bodoh udah nyakitin kamu, tapi kalo kamu begini biar aku ngelepasin kamu, kamu salah! Aku nggak akan ngelepasin kamu!" Maira tetap diam membiarkanku terbakar amarah sendirian.
"Oke! Aku ikuti permainan kamu!"
Kutinggalkan Maira, entah apa yang membuatnya begitu keras kepala. Kuharap ancaman tadi mampu membuatnya kembali berpikir waras dan bisa bicara.
Kuceritakan semua pada Sila dan memintanya membantuku. Kenapa harus Sila? Karena dia mengenalku dan Maira secara pribadi, dia tahu kisah kami sejak dulu, jadi tidak perlu banyak bercerita Sila sudah paham duduk permasalahannya serta paham karakterku dan Maira.
***
Kuputuskan untuk cuti ngantor beberapa hari sampai bik Tuti datang atau kudapatkan pengasuh yang bisa full time membantu Maira, setelah ini juga akan kuminta bik Tuti agar full time ada di rumah.
Terdengar suara mobil memasuki halaman, aku yang duduk di balkon tersenyum senang melihat siapa yang datang. Ibuku.
__ADS_1
Tak lama kemudian tedengar suara Maira memanggilku memberitahu kedatangan ibu. Seruan Maira yang sangat kurindukan. Aku bergegas turun dan menyambut kedatangan ibu yang membawa serta bik Minah.
"Pah ... ibu dateng nih," seru Maira lagi, suaranya seperti oase yang memenuhi dahagaku.
"Ibu!"
Kupeluk ibu yang mulai bercanda dengan Luna dan Lintang.
"Nenek cuci tangan dulu ya, mau gendong Guntur," pamit ibuku, "Bik, istirahat dulu."
Maira memandangku penuh tanya, tentang kedatangan ibu yang menurutnya tiba-tiba apalagi dengan mengajak serta bik Minah.
"Papah minta ibu bantuin Mamah jaga anak-anak selama bik Tuti libur, biar Mamah nggak kecapekan," bisikku padanya.
Aku merasa bangga pada diriku sendiri setelah memberikan kejutan yang menyenangkan untuk Maira. Pasti setelah ini ada celah bagiku untuk bicara pada Maira dengan cara yang sehat.
Di depan ibuku, Maira menutupi semua masalah yang terjadi diantara kami. Dia lembut padaku, meski di matanya masih terpancar luka yang gagal dia tutupi. Maira masih sering terpergok ibuku melamun saat sedang menyusui Guntur.
"May ... kalo ASI kamu nggak cukup ditambah sufor aja, namanya anak cowok itu nyusunya lebih banyak dari pada cewek, lihat badanmu, kenapa jadi kurus tipis begitu," ucap ibu mengomentari penampilan Maira.
Maira terlihat salah tingkah.
"Iya Bu, habis ini pasti Dewa bantuin Maira, iya kan, Mah?"
Maira kembali terkejut saat kusentuh kedua pundaknya, namun keberadaan ibu membuatnya menjaga sikap. Kupijat lembut kedua bahunya, aku ingin menunjukan perhatianku, benar kata ibu, Maira sangat kurus.
Hah ... rasa bersalah ini datang lagi, menggerogotiku hingga ke dalam-dalam, tidak nyaman, aku bisa gila kalau kehilangan Maira. Aku harus membahagiakan Maira agar perasaan seperti ini tidak kembali menyambangiku.
"Iya udah seharusnya, kamu suami modern bukan suami jadul yang bisanya kerja tapi nggak peduli istri repot atau enggak!" lanjut ibu membuatku senang.
Marahi aku, Bu! Biar aku tahu harus bagaimana memperlakukan Maira. Aku memang bodoh.
"Suami modern itu gimana, Bu?" tanyaku ingin memperpanjang topik.
"Suami yang nggak kolot, kalo orang dulu pantang bagi laki-laki megang kerjaan rumah, katanya itu kerjaan perempuan, tapi ... sekarang pikiran kaya gitu udah ketinggalan jaman, mau suami atau istri sama aja, saling kerja sama," jelas ibuku.
Aku paham sekali bagaimana ibu kerepotan mengurusku dan saudaraku, di balik ibu yang selalu kuat, ada koyo yang tidak telat menghiasi sudut-sudut tubuhnya. Bapakku hanya tahu mencari uang. Aku lelaki modern, tidak akan jadi sepertinya.
Kucuri pandang pada Maira yang menunduk, tampak tidak tertarik pada topik pembicaraan kami. Padahal, dia sering mengeluh aku tidak mau membantunya. Harusnya dia bisa memojokanku pada kesempatan kali ini, atau setidaknya merengek seperti biasa.
Oh Tuhan! Aku rindu Mairaku yang menyebalkan seperti dulu.
__ADS_1
Maira banyak berbincang dengan ibu, sementara aku menemani Luna dan Lintang bermain. Aku sangat menikmati suara dan tawa kecil Maira yang sudah sangat kurindukan. Bukan cuma itu, rengekannya, keluhannya, dan marahnya juga kurindukan. Bukan diam dan dingin seperti salju. Aku cukup senang meski kehangatan Maira masih belum untukku.
Kembalilah, Mairaku!
Kubiarkan hati Maira beristirahat dan melupakan sejenak insiden perselingkuhanku yang terakhir. Aku sempat takut pada kata cerai yang diucapkan Maira dengan sangat berani. Tetapi melihatnya bersandiwara di depan ibu membuatku yakin, di hatinya masih ada maaf untukku.
"Dewa ... ibu mau ngomong!" ucap ibu padaku, Guntur sedang terlelap di ayunan di bawah pengawasan ibu.
Kami hanya berdua, Maira sedang dipijat, sementara Luna dan Lintang sedang berenang ditemani bik Minah di taman belakang.
"Iya, Bu?"
"Hem ...." Nada bicara ibu tiba-tiba memberat, seminggu sudah ibu di sini, walaupun bik Tuti sudah kembali tapi ibu masih menjaga Maira.
"Kamu pikir ibu nggak tahu kalo kalian berdua lagi berantem," tutur ibu, entah aku atau Maira yang gagal mengelabuhi ibu kali ini, atau memang ibu adalah manusia yang susah dibohongi.
"Ehm ... ya biasa, Bu," jawabku.
"Kamu selingkuh lagi, Wa?" tanya ibu mengadiliku.
Untuk kasus sebelumnya aku akan lantang mengakui, tapi untuk kali ini aku merasa malu, malu karena sudah begitu bodoh menyakiti Maira yang ternyata sangat berharga untukku.
"Malu-maluin kamu, Wa!" ucap ibu lemah.
"Ibu merasa gagal ndidik kamu," lanjutnya.
Apa ini? Aku menyakiti dua wanita yang paling berharga dalam hidupku sekaligus.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1