KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Merencanakan Kejutan


__ADS_3

Aku akan jadi Kak Dewanggamu yang dulu, May!


Aku memutuskan kembali ke mobil, Maira sedang tidak ingin diganggu siapa pun. Mungkin menangis lepas seperti ini bagian dari terapinya. Aku harus mengikuti sandiwara Maira, mengikuti keinginannya untuk berpura-pura menjadi teman.


Apa pun itu, May, akan kulakukan jika memang akan membawa kita pada hal yang baik. Tetap berpisah atau pun tetap bersama.


Kuberikan minuman coklat yang sudah kubeli pada orang yang lewat, aku kembali ke mobil dan tetap memperhatikan Maira dari jauh.


[Besok pulang jam berapa? Aku jemput kita makan malam, aku yang traktir] Kubalas pesan Maira.


Tidak ada balasan. Setelah hampir dua jam mobil Maira kembali bergerak. Aku pun kembali mengikutinya, kali ini Maira benar-benar pulang ke rumah.


Rumah yang seharusnya menjadi surga bagiku. Rumah yang di desain sendiri oleh Maira. Aku harus kembali ke rumah ini dan hidup bahagia bersama-sama lagi.


Yuda'art Angkasa, akan kucari tahu tentang perusahaan itu.


***


Hingga keesokan harinya pesanku tidak dibalas juga oleh Maira. Aku masih sabar menunggu dan kembali menyibukkan diri. Jujur saja pikiranku kembali kacau setelah pertemuan kami kemarin. Sebelumnya aku telah ikhlas melepas Maira, tapi melihat keadaan dan sikap Maira kemarin, aku melihat secercah harapan untuk rumah tangga kami.


Rasanya seperti dipermainkan. Hatiku kembali berharap dan ragu pada perpisahan kami. Terlebih setelah melihat penderitaan Maira yang begitu besar. Mungkin jika anak-anak ada bersamanya bisa membuat Maira lebih semangat untuk pulih. Mungkin jika cinta kita kembali bersatu Maira akan kembali bercahaya seperti dulu.


"La? Maira dateng ke kantor nggak?" tanyaku pada Lala, hampir setiap aku pulang dari meeting di luar kantor.


"Nggak, Pak!" jawab Lala membuatku kecewa.


Hampir setiap 5 menit kucek notifikasi di ponsel berharap Maira menghubungiku. Aku menunggu seperti orang gila. Sebenarnya bisa saja kudatangi kantornya, tapi aku harus menghargai dunia baru Maira.


Seminggu berlalu, tidak ada kabar dari Maira. 4 hari lagi adalah sidang ke 3 perceraian kami dengan agenda pembelaan dari pihakku. Sengaja kubuat berbelit-belit, awalnya agar Maira kapok, tapi Maira sepertinya pasrah dan tidak banyak perlawanan yang dilakukan dari pihaknya.


Di lift aku berpapasan dengan Sila, dia melihatku dengan asam. Hubungan kami hanya sebatas hubungan profesional pekerjaan. Dia berpihak pada Maira dan tidak mau lagi mendengar keluh kesahku.


"Sil, elu ketemu Maira nggak?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, dan aku sangat penasaran pada keberadaan Maira.


"Elu nanyain Maira? Nggak salah?" tanya Sila sinis.


"Ya barang kali kalian ketemuan, anak-anak nanyain kabar mamahnya, makanya gue nanya elu," kilahku.


"Balikin aja anak-anak ke Maira, mau sampe kapan elu ngerepotin ibulu terus? Maira lebih berhak tauk!" ucapnya kesal.


Haisk, aku tidak mengerti wanita, padahal aku tidak bermasalah dengannya, tapi Sila seolah-olah ikut memusuhiku, Maira saja bersikap baik padaku. Dasar Sila!


"Minggu kemarin Maira ke sini dan ngajak gue makan, dia nggak cerita ke elu?" tuturku memberi tahu sekaligus menyelidiki apakah sikap Maira murni atau hanya trik.


"Hah ...! Serius?" seru Sila terkejut, dari responnya Sila terlihat jujur.


"Iya, dia udah kerja, kan?" tuturku lagi memancing, ayolah Sil, kamu pasti menutupi sesuatu bukan?


"I-iya udah kerja, tapi ngapain Maira nemuin elu?" tanya Sila.


Aku mulai yakin kalau Maira bersikap jujur. Dan kalau Maira jujur artinya mentalnya terguncang sangat parah, aku tidak bisa meninggalkannya di saat terburuk dalam hidupnya seperti ini. Terlebih, akulah penyebab keterpurukannya.


Aku bergidik ngeri mengingat senyum Maira tempo hari, mengingatkanku pada karakter joker yang tersenyum saat membunuh korbannya.


"Boleh ngobrol Sil? Gue butuh saran!" pintaku.


"Nggak!" tolak Sila sinis.


"Demi Maira, please!"


Sila berpikir dan ragu.


"Ayolah, gue traktir kopi!" bujukku.


"Bukan masalah kopi, gue nggak mau mengkhianati Maira!"


"Gue mau ngobrolin tentang Maira, demi kebaikannya dia!" ucapku bersikukuh.


"Kenapa? Lu nyesel dan mau balikan lagi? Atau mau ngerebut rumah setelah elu ngerebut anak-anak?" cerocos Sila.


"Makanya ngobrol dulu!"


Setelah membujuk Sila dan mentraktirnya makan, kuceritakan semua prihal kedatangan Maira.


"Maira sering berhalusinasi, bahkan dia sulit membedakan mana nyata mana yang hanya halusinasinya. Beberapa kali dia datang ke apartemenku sambil nangis tengah malam, cuma karena mimpi tentang anak-anak," tutur Sila.

__ADS_1


"Keadaan Maira sangat memprihatinkan, makanya aku benci banget sama lu, Wa!" tambah Sila.


"Maira itu masih trauma sama perselingkuhan elu, tapi di saat Maira masih berusaha bangkit elu malah ngambil anak-anak dari dia, Maira tambah depresi!" lanjut Sila.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku kasihan tapi tidak tahu harus bagaimana.


"Lalu menurut lo, gue harus gimana? Kemaren Maira bilang dia bersyukur berpisah sama anak-anak, karena dengan keadannya yang kayak gitu, mungkin bisa bahaya buat anak-anak," tuturku mencoba berdiskusi.


"Tapi ... di sisi lain, Maira butuh penyemangat, Maira butuh anak-anak, jadi gue bingung!"


"Nah itu lu tau kalo Maira butuh anak-anak! Apalagi Guntur yang masih bayi, Maira nangis kalo mikirin dia yang nggak bisa ngasih ASI, cuma gara-gara bapaknya yang egois!" cebik Sila.


Setelah bicara pada Sila aku memutuskan untuk mempertemukan Maira dengan anak-anak. Mungkin mereka bisa melepas kerinduan setelah beberapa bulan berpisah.


Kudatangi kantor Maira sesuai dengan kartu nama yang dia berikan tempo hari. Sebenarnya Maira tidak perlu bekerja, isi tabungannya masih lebih dari cukup untuk dia hidup. Kenapa Maira malah berkerja di kantor kecil seperti ini? Harusnya dia fokus pada pengobatannya saja.


"Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis menyambutku.


"Ehm, saya mau ketemu Bu Maira," jawabku.


"Sudah ada janji?" tanyanya lagi.


"Belum, apa dia sibuk?"


Aku heran menemui pegawai di kantor kecil saja harus membuat janji, kalau Maira minta aku mampu membukakan perusahaan seperti ini untuk Maira.


"Sebentar saya panggilkan."


Kemudian wanita muda itu menghubungi seseorang lewat telponnya.


"Maaf dengan bapak siapa?" tanyanya lagi.


"Dewangga, saya suaminya!" jawabku.


"Hah?" resepsionis itu terlihat terkejut, dia menatapku dari atas sampai ke bawah.


"Ada masalah?" tanyaku.


"Oh enggak, silahkan tunggu sebentar!"


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu sama anak-anak?" tanya Maira dengan nafas terengah-engah.


Sang resepsionis kembali menatap kami berdua dengan banyak tanda tanya. Kurangkul Maira dan menyuruhnya duduk untuk membuktikan ucapanku. Sepertinya dia meragukannya.


Maira menepis tanganku, untung saja resepsionis itu sudah tidak melihat kami.


"Ada apa, Bang?" tanya Maira lagi dengan kesal.


"Kamu nggak bales pesanku," ucapku.


"Pesan yang mana?" tanya Maira.


"Aku mau ntraktir kamu makan," jawabku mengingatkan.


"Ya ampun, cuma karena itu kamu dateng ke kantorku di jam kerja, Bang?" ucap Maira kesal.


"Iya."


"Udah seminggu kamu ngilang gitu aja, May? Kenapa? Aku penasaran," cecarku.


"Emang kamu nggak sibuk apa, Bang? Kurang kerjaan amat nyamperin aku ke sini, kamu nggak malu?" omel Maira.


"Salahmu sendiri nggak bales pesanku."


"Aku panik, aku pikir ada sesuatu sama anak-anak!" keluhnya.


"Ya udah ntar pulang kerja kita ketemu, sekarang aku sibuk," ucap Maira seraya mengusirku pergi.


"Makasih, ya, Mbak?" pamitku pada resepsionis yang meragukanku.


"Iya, Pak."


Maira sangat berbeda, dia agak dingin tidak seperti dia yang kemarin menemuiku. Apa dia sangat sibuk? Lelah? Atau kembali berhalusinasi?


Tepat pukul 5 sore aku sudah berada di parkiran sekitar kantor Maira. Kukirim pesan pada Maira memberitahu tempatku menunggunya.

__ADS_1


Hampir satu jam aku menunggu namun Maira tidak kunjung datang. Padahal aku sangat gelisah, tapi mengingat keadaan Maira aku harus lebih banyak bersabar.


Susah sekali menemui Maira, padahal kemarin dia datang sendiri dengan sangat mengejutkan.


Tuk tuk tuk!


Suara ketukan di kaca mobil membuyarkan pikiranku. Maira akhirnya datang, dia membuka mobil dan masuk.


"Maaf ya lama nunggu," sapanya kembali ceria.


Maira? Kamu benar-benar berkepribadian ganda.


"Enggak, baru sejam kok," jawabku mengikuti alur emosinya.


Maira tersenyum manis walaupun wajahnya tampak lelah. Harusnya kamu tidak perlu kerja.


"Oh ya, jangan ngaku-ngaku suami dong kalo ke kantor, kamu kan cuma temenku!" omel Maira dengan nuansa yang berbeda dengan sikapnya tadi siang. Omelannya kini seperti sedang menegur seorang teman.


"Jangan bilang kamu ngaku singel sama temen-temen kamu, May!" protesku.


"Lah emang aku calon janda," jawab Maira dengan sangat enteng.


Oh, iya! Tiba-tiba aku seperti kehilangan minat bicara.


"Ayo mau ngajak makan di mana?" tanya Maira.


"Aku udah laper," tambahnya.


"Kita makan di jalan aja, ya!" jawabku.


"Makan di jalan?" tanya Maira heran.


"Aku punya kejutan buat kamu."


Kupacu mobil ke sebuah restoran cepat saji dan memesan banyak makanan take away sesuai permintaan Maira.


"Selera makanmu bagus sekali, May," ucapku melihat banyaknya makanan yang dia pilih.


Maira lahap memakan bagiannya walau dia harus makan sambil berkendara.


"Pengaruh obat," jawabnya di sela mengunyah, aku melihatnya sambil tertawa, manis sekali Maira yang bertingkah seperti ini.


"Kita mau kemana?" tanya Maira.


"Aku punya kejutan buat kamu," jawabku mengulang.


"Kejutan apa, sih?"


"Aku mau ngajak kamu ke rumah ibuku buat ketemu anak-anak."


"Apa!"


"Kita bisa nginep dan berangkat kerja dari sana besok sebelum subuh, atau kita cuti aja besok, gimana?"


Maira berhenti menyedot minuman di tangannya, wajahnya terlihat sangat terkejut. Apa kamu terharu, May?


"Berhenti! Aku mau turun!" serunya marah.


"May?"


"Berhenti!" teriaknya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2