KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Maira Putri Maheswari


__ADS_3

"Malu-maluin kamu, Wa!" ucap ibu lemah.


"Ibu merasa gagal ndidik kamu," lanjutnya.


"Bu ... aku emang pernah selingkuh, tapi sekarang udah enggak," jawabku penuh rasa bersalah, aku hanya bisa menunduk meratapi rasa bersalah.


"Tapi aku udah menyesal, Bu, udah berubah, aku benar-benar ingin tobat, lagian aku cuma main-main, nggak ada yang pake perasaan," jelasku bukan membela diri, tapi inilah yang sebenarnya terjadi.


"Apa pun itu Wa, kamu udah salah! Ibu sama bapak nggak pernah ngajarin kamu begitu!" ucap ibu menahan marah.


Ibu selalu mendisiplinkanku sejak kecil, aku hanya patuh saat ada di rumah, saat di luar rumah aku adalah anak yang nakal. Tekanan dan tuntutan untuk menjadi anak yang baik sudah kudapatkan sejak kecil, kemudian tuntutan dan tekanan itu berlanjut datang dari Maira. Aku harus menjadi suami dan ayah yang baik.


Aku baik? Tentu saja. Saat di rumah. Saat di luar aku kembali dikuasai jiwa kekanakan yang masih ingin bebas. Aku egois. Tetapi aku tidak bermaksud jahat. Hatiku masih sangat mencintai Maira, hanya saja aku terlalu lelah dengan standar suami dan ayah yang baik.


Aku bosan, butuh pelampiasan dari jiwaku yang masih penasaran pada dunia yang rendah standarnya namun menyenangkan.


Tetapi aku sudah bertekad untuk berubah, bukan?


Jangan hakimi aku!


Tidak mudah bagiku untuk berubah dan sampai di titik ini, meskipun bagi ibu dan Maira aku masih memalukan.


"Hukum aku, Bu! Aku emang salah!" ucapku kesal.


"Dewa! Ibu belum selesai!" seru ibu, namun tidak berhasil membuatku berhenti melangkah.


Kutinggalkan ibu dan Guntur, menutup telinga dari suara-suara yang mencoba menghakimiku. Bukan ini yang harusnya aku terima. Aku butuh pelukan dan dukungan. Agar aku bisa benar-benar meninggalakan sisi kenakalanku dan berubah menjadi dewasa seutuhnya.


Terlambat? Aku memang terlambat! Hhh ... sudahlah!


Kusibukkan diri dengan pekerjaan yang banyak kutunda. Menenggelamkan diri dan menghindari mereka yang selalu menuntutku untuk memenuhi harapan mereka, tanpa peduli apa yang kurasakan, atau apa yang aku inginkan.


***


Braagk!


Sila menggebrak meja dan melempar dokumen ke atas meja.


"Wa! Lu profesional dong! Kalo proyek kita gagal cuma gara-gara lu gimana? Ini bukan proyek lu doang, tapi banyak orang! Kerja keras kita beberapa bulan ini bisa hancur gara-gara kegalauan elo!" maki Sila padaku.


"Sory, Sil!"


"Sori ... sori ...! Bangun ... profesional!" lanjutnya.

__ADS_1


Kenapa semua kacau begini? Maira, ibu, dan kerjaanku semua berantakan! Apa aku salah karena sudah berubah?


"Gue bukannya sok peduli sama masalah kalian, tapi peran lu di proyek ini juga penting, Wa. Selesein masalah kamu sama Maira secepetnya, kalo udah nggak sanggup lepasin aja, gampang, Wa!" ucap Sila.


Sila? Seorang jomblo di usianya yang terbilang cukup matang, memberiku saran tentang pernikahan? Gila! Tapi hanya Sila yang tahu aku luar dalam, karena pada yang lain aku harus menjaga wibawa.


Aku coba mengeluarkan unek-unekku meski solusi Sila kadang meragukan. Seperti biasa Sila menyimak walau tadi dia marah dan kesal padaku.


"Intinya lu ngaku salah cuma di mulut, Wa, hati lu belum sepenuhnya mengalah dan menyesal."


Aku tidak setuju dengan kalimat Sila, dia tidak tahu bagaimana sedihnya melihat Maira menjadi bisu karena aku. Tetapi aku memilih diam, karena Sila tidak senang jika kalimatnya dijeda.


"Elu masih ngasih pembenaran bukan kebenaran, elu masih nuntut Maira ngertiin keadaan elu padahal Mairanya sendiri dalam kondisi yang hancur," ucap Sila.


"Emangnya elu pikir elu doang yang dipaksa dewasa? Maira juga oon!"


"Gue males ribet, pokoknya besok elu harus profesional, kalo kita kehilangan proyek ini bisa minus perusahaan, rugi gara-gara elu!"


"Gini aja, Wa, elu coba mediasi, minta tolong sama orang untuk bantu nyelesein masalah ini, kalo sama lu Maira nggak mau ngomong, mungkin kalo sama orang lain dia mau!"


"Hem ... bener juga lu, Sil!"


"Ya iya lah! Tapi jangan minta tolong ke gue!" ucapnya sambil melangkah pergi.


"Makasih, Sil!"


***


Sepulang dari kantor kuutarakan maksudku pada ibu, ibu pun setuju meski tidak bisa menjamin apa pun. Setelah menunggu makan malam selesai, sampai Luna, Lintang, dan Guntur tidur.


Aku menunggu di ruang tengah sementara ibu sedang mengutarakan maksudnya pada Maira. Setelah lama menunggu ibu pun turun dari lantai atas, dan betapa senangnya saat kulihat Maira ikut serta di belakangnya.


Hatiku berdegup kencang lebih berdebar dari saat pertama hendak mengatakan cinta pada Maira. Pada dasarnya cintaku tidak pernah mati pada Maira hanya saja banyak spasinya.


Ibu duduk menengahiku dan Maira. Aku gugup dan Maira tampak begitu santai, sepertinya keberadaan ibu yang membantunya selama ini cukup membantu. Maira terlihat lebih segar.


"Ibu nggak mau ikut campur sebenernya May, tapi ... Dewa minta tolong ke ibu biar ibu bisa menengahi kalian," ucap ibu mengawali.


"Ibu tahu anak ibu udah berdosa, bahkan mungkin susah kamu maafin, tapi Dewa sudah benar-benar menyesal."


Maira masih santai, matanya tertunduk ke bawah, dia duduk bersandar dan tangannya memeluk bantal.


"Ibu nggak minta kamu maafin Dewa May, tapi ... tolong liat anak-anak kalian," ucap ibu.

__ADS_1


"Aku nggak marah, Bu!" ucap Maira.


Nggak Marah? Aku terkejut dan bingung dengan kalimat Maira.


"Jangankan marah, sedih aja enggak," lanjut Maira.


"Rasanya gimana ya? Ngambang, nggak jelas, hambar, mati rasa aja gitu," ungkap Maira.


"Aku sendiri nggak tahu mau gimana, nggak tahu ini hati rasanya apa, udah bukan hancur lagi sih, kayak tiba-tiba ilang aja, kosong, nggak tahu gimana, ibu ngerti nggak maksudku?" tanya Maira.


"Kamu ngerti nggak?" tanya Maira padaku juga, aku takut pada tatapan Maira kali ini.


"Kalo aku sih nggak ngerti, jadi emang nggak tahu harus gimana!" Maira tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya, senyum yang kecut dan membuatku sangat merasa bersalah.


Ibu memandang Maira dengan tatapan yang nelangsa.


"Maafin papah Mah," pintaku padanya, memberanikan diri melawan tatapannya yang terlihat kosong namun menakutkan.


"Mah?" ulang Maira.


"Aku lebih suka kamu manggil aku Maira, bukan mamah atau papah!"


"Aku Maira! Maira Putri Maheswari!" lanjutnya.


Ibu memandangku dengan tatapan penuh isyarat, seperti menyuruhku mengikuti kemauan Maira tanpa banyak bertanya.


"I-iya, aku minta maaf, May, maafin aku!" ulangku.


Aku teringat ketika Maira melamun padahal rumah kacau dan Guntur menangis tepat di depan matanya. Saat kuteriakan panggilan 'mamah' padanya Maira tetap diam seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tetapi Maira baru sadar setelah kuteriakan namanya.


Benar kata Sila, Maira juga terpaksa dewasa, keadaan yang memaksanya menjadi tangguh. Apa Maira kehilangan jati dirinya saat proses pendewasaan itu? Sesakit itukah Maira?


Maafkan aku!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2