
"Percuma dong aku kasih hak asuh anak ke kamu, kalo pada akhirnya kamu sibuk dan anak-anak nggak dapet perhatian yang utuh," ucapku kecewa.
"Emangnya kalo mereka sama kamu mereka bakalan dapet perhatian yang utuh?" jawab Maira membalikan pernyataanku.
Begitulah wanita kalau bekerja, padahal penghasilannya tidak seberapa tapi langsung sombong dan tidak mau diatur, karena inilah kularang Maira bekerja dulu.
"Jadi gimana? Mau apa enggak hak asuh mereka?" tanyaku memojokan Maira.
"I-iya mau, tapi ...."
"Lagian kita akan bagi dua semua harta, sampai anak-anak besar uang itu cukup, kamu nggak perlu kerja!" ucapku bersikukuh.
"Tapi harga diriku itu kerja, Bang!" bantah Maira.
"May, kamu perempuan, dan aku sebagai suami yang bersalah akan menanggung semua kebutuhan kamu sampai tua, kerja itu harga dirinya laki-laki, bukan perempuan kaya kamu!" seruku, suhu bicara mulai panas.
"Selama jadi suami aja ... kamu berapa kali nghianatin aku, selingkuh juga bagian dari ingkar janji. Apa lagi sekarang kita udah pisah nggak ada jaminan apa pun untuk semua janji-janji kamu," debat Maira mulai mengungkit kembali kesalahanku.
"Aku udah belajar, May, aku udah tahu persis kesalahanku dan udah mulai memperbaikinya. Kamu aja yang nggak bisa menghargainya, dan kita sampai di titik perceraian ini pun kamu yang minta!" seruku mulai kesal.
"Oke, cukup! Pembicaraan kita udah nggak sehat lagi, ambil aja anak-anak. Aku nggak peduli, toh yang repot ibumu bukan ibuku!"
Maira menarik tasnya dan bergegas pergi meninggalkan perdebatan yang masih jauh dari solusi.
"May!"
Kuraih tangan Maira dan menahannya.
"Lepas, Bang! Aku udah ikhlas, kamu nggak usah main tarik ulur."
Maira mengibas dengan keras hingga peganganku lepas, dia pun pergi.
"Maira!" seruku.
"Kamu wanita tidak tahu diuntung, aku kasih hati kamu minta jantung!"
Maira tetap pergi, entah dia mendengar umpatanku atau tidak.
Sial!
Melelahkan sekali. Kebaikan hatiku kembali di injak-injak oleh Maira. Maira yang sangat keibuan berubah cuek pada anak-anak sejak dia bekerja.
Apa benar dia tidak peduli pada Luna, Lintang, dan Guntur?
Secepat itukah Maira move on dari keluarga kami?
Padahal aku berharap Maira akan memohon padaku demi anak-anak, dan dia akan kembali demi anak-anak.
***
Maira P. M
Sesampainya di mobil kedua tanganku bergetar. Kuremas keduanya untuk mengurangi labilnya emosiku. Keringat dingin mulai bercucuran, kuraih sebotol air mineral dan meminumnya masih dengan gemetar.
"Sabar Maira, jangan buru-buru menerima tawaran Bang Dewa!" gumamku sendiri.
Aku sibuk mengatasi degupan jantung yang tidak beraturan, kembali kuambil dua keping obat dan meminumnya.
"Sebentar lagi sayang, mamah akan menemui kalian ... dan mamah janji, kita nggak akan berpisah lagi," gumamku lagi sambil menguatkan diri.
Bang Dewa sudah jauh masuk ke dalam permainanku. Ada rasa rindu yang ingin meledak dalam diriku, rasa sakit yang teramat ketika harus berpisah dengan anak-anak yang merupakan jiwa dan nyawaku.
Tawaran terakhir Bang Dewa sudah cukup lumayan, tapi Bang Dewa masih melarangku bekerja. Bukannya aku tidak ingin memberikan perhatian penuh pada anak-anak, tapi aku lelah menjadi Maira si ibu rumah tangga yang cupu. Aku ingin punya jiwa yang lain.
__ADS_1
Dengan cepat kunyalakan mobil dan meninggalkan parkiran, aku takut Bang Dewa masih mengejarku.
[Halo, Ko, aku mau bicara! ]
Mobil kupacu menuju ke tempat pertemuan yang sudah kusepakati untuk bertemu dengan Koko Lian. Entahlah, sejak kami dekat karena proyek kemarin, aku merasa nyaman bila mencurahkan masalahku padanya.
Aku tiba lebih dulu, kupesan minum dan makanan ringan sambil menunggu. Setelah beberapa saat Koko Lian muncul dan kulambaikan tangan padanya.
"Maaf lama, May," ucapnya seraya duduk.
"Nggak papa, Ko, maaf ya ganggu, soalnya aku bener-bener butuh saran," ucapku.
"Jadi, apa udah berhasil?" tebak Koko Lian bertanya.
"Belum Ko, dikit lagi," jawabku.
"Hem, terus dekati Dewangga," ucap Koko Lian.
"Aku udah nggak sanggup Ko. Kalo disakiti orang lain, mungkin akan mudah sembuh, tapi kalau yang menyakiti itu orang terdekat dan terpercaya, rasa sakitnya berlipat-lipat ganda."
"Nggak mudah pura-pura baik sama Bang Dewa, menguras energi dan emosi," ucapku.
"Hem ... begitu," gumam koko Lian sambil memegangi dagunya seraya berpikir.
"Bang Dewa udah mau nyerahin anak-anak, tapi aku nggak boleh kerja," tuturku.
"Lha itu udah bagus, yang penting dapetin anak-anak dulu, masalah kerja bisa sambil jalan, May," ucap Koko Lian.
"Soal harta gimana?" tanya Koko Lian.
"Semua dibagi dua," jawabku.
"Saham?" tanya Koko.
"Mintalah saham perusahaannya juga, jadi kamu nggak perlu kerja," saran koko Lian.
"Bukan masalah itu, Ko, aku butuh status lain selain ibu rumah tangga, aku pengen berkembang, aku pengen mandiri, bersinar, dihargai, aku nggak mau jadi wanita yang selalu berdiri di balik layar," ucapku menjelaskan.
"Kamu nggak bisa serakah, May, nggak bisa semuanya berjalan beriringan, harus ada yang dikorbankan, fokus dulu sama anak-anakmu yang masih kecil, mungkin lain kali kalo usia mereka udah cukup," saran koko.
Aku hanya memandang koko Lian dengan kecewa, baru kali ini aku tidak sepaham dengannya.
"Kamu mau balas dendam ya sama Dewangga?" tanya Koko Lian.
"Maksud Koko?"
"Hem ... kamu sedang berusaha membuat Dewangga menyesal, bukan?" cecarnya.
"Enggak, Ko, aku cuma--"
"Udah, May, nggak papa, lagian caramu berkelas kok," potongnya sambil terkekeh, namun perkataan Koko Lian membuatku berpikir.
"Kapan sidangnya?" tanya Koko lagi.
"Besok," jawabku singkat.
"Terima aja penawaran Dewangga, May, kamu rindu anak-anak, bukan?" tanya koko Lian.
"Iya," ucapku seraya mengangguk.
"Jadi ... aku harus menghubungi Bang Dewa sekarang?"
"Iya, bilang aja kamu berubah pikiran."
__ADS_1
"Jadi ... aku harus kehilangan pekerjaanku?" tanyaku sedih.
"Kamu bisa frelance sambil jaga anak-anak."
"Iya," jawabku lesu.
"Kenapa? Sudah nyaman hidup tanpa anak-anak?" tanya koko Lian mengujiku.
"Bukan begitu, Ko, aku ... aku ... cuma ingin hidup yang terjadwal dan disiplin seperti para pekerja, aku menyebutnya harga diri."
"Ha ... ha ... ha ... Maira, Maira ... jangan berusaha terlalu keras, nanti juga Dewangga kena karmanya, kamu tinggal duduk manis sambil menikmati moment bareng anak-anak, nggak usahlah membuktikan apa pun pada Dewangga," tutur koko Lian.
Aku merasa diremehkan, tapi ucapan koko Lian ada benarnya. Dan Bang Dewa pun sudah terlihat sangat menyesal, tabiatnya jauh berubah.
"Setidaknya kamu harus meminta setengah saham Dewangga, saat ini dia memegang 65℅ saham perusahaan," ucap koko Lian.
Aku menunduk dengan banyak pertimbangan, sejujurnya aku tidak paham mengenai saham.
"Aku pergi dulu, May, aku harap semoga kamu bisa mendapat semua yang kamu mau," ucap koko Lian.
"Semangat!"
Aku terkejut ketika Koko Lian menggegam tanganku. Untung saja dia langsung pergi jadi dia tidak melihat ekspresi bodohku.
Risih, tentu saja aku merasa risih.
[Aku akan resign] tulisku pada Bang Dewa.
[Datang ke rumah ibu, jemput mereka, Luna dan Lintang pasti senang] balas Bang Dewa.
[Tapi aku punya syarat, aku mau saham perusahaan dibagi dua] tulisku pada Bang Dewa.
[Aku akan kasih kamu 5%, May]
[Dibagi rata] jawabku mengikuti arahan koko Lian.
[Apa? Kamu mulai ngelunjak ya, May! Aku bisa bagi semua harta kita tapi enggak dengan saham!]
[Kenapa?]
[Aku butuh saham untuk berkuasa dan menentukan kebijakan perusahaan, menentukan ke arah mana perusahaan akan berjalan.]
[Aku juga mau punya kekuasaan sepertimu]
[Apa? Kamu nggak ngerti apa-apa soal saham, May?]
[Makanya aku mau setengahnya agar aku tahu]
[Ada siapa di balik kamu, May? Jawab! Julian?!]
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1