
"I-iya, aku minta maaf, May, maafin aku!" ulangku.
"Eh ... nggak usah minta maaf aja kali, ya." Maira tertawa kecil, tawa yang menyiratkan besarnya luka yang menganga di hidup dan jiwanya. Aku ngilu melihatnya. Mairaku?
"Aku ... juga nggak tau harus gimana, suka-suka kamu aja deh," lanjutnya sambil mengibas tangan, melipat kakinya naik ke atas sofa.
"May ... apa pun yang kamu mau, aku pasti lakuin, apa aja, May!" ucapku memohon, jujur aku sangat takut kehilangan Maira. Ibu menatapku dan Maira bergantian dengan iba.
"Sebenernya yang kamu mau dariku itu apa? Hah?" tanya Maira.
"Aku ini siapa?"
"Aku juga nggak tahu aku ini siapa!" cebik Maira, lagi-lagi dia bicara dengan mata yang hampa, menggambarkan setiap kalimatnya yang kosong, mencerminkan hatinya yang hilang, dan semakin menampakan Maira yang jauh dari biasanya, sangat jauh dari Maira yang kukenal sebelumnya.
Aku tidak mampu berpikir jernih, melihat sikap Maira yang ambigu membuat rasa takutku membesar tidak teratasi.
"Maira," gumamku penuh rasa sesal.
Kulihat mata ibu, berharap satu atau dua arahan darinya, tapi ibu hanya diam, sama bingungnya sepertiku.
"Maaf, Bu. Aku pusing jadi ngelantur," ucap Maira pada ibuku.
"May ...." Ibu menyentuh tangan Maira yang terlipat.
"Kamu butuh bantuan? Kamu mau konsultasi ke psikolog pernikahan, May?" tanya ibu dengan sangat pelan.
"Apa, Bu? Psikolog pernikahan?" ulang Maira.
"I-iya, bukan apa-apa, tapi ibu rasa kamu butuh bantuan," lanjut ibu dengan sangat hati-hati agar Maira tidak terluka lagi.
"Hem ... kayaknya iya sih, Bu. Tapi ... buat apa ya?" tutur Maira dengan senyum getir yang sama.
"Ada anak-anak yang butuh kamu, May," jawab ibu.
Maira tertawa, setengah terbahak seolah jawaban ibu adalah hal yang sangat lucu. Sekarang aku percaya, orang yang tertawa seperti Maira adalah orang yang paling terluka.
"Anak-anak ya, Bu?"
"Iya, Mah, eh May. Anak-anak butuh kamu," ucapku ikut menimpali, sebenarnya saat ini ingin sekali kupeluk Maira, berharap dia bisa menangis dan marah-marah saja padaku.
"Aku harus baik-baik saja demi anak-anak. Aku harus kuat demi anak-anak. Aku harus bertahan demi anak-anak. Dan lagi-lagi aku harus memaafkan dia juga demi anak-anak."
Dia? Maira menyebutku dengan 'dia' seolah aku tidak ada di depan matanya. Sakit sekali rasanya.
__ADS_1
"Kenapa harus aku? Apa mereka cuma anak-anakku?" lanjut Maira mengadiliku dengan nada yang santai, sangat santai seperti tidak ada emosi dalam dirinya.
"Apa cuma dia yang boleh seenaknya? Lalu aku yang harus mati-matian mengobati diri dan tetap sembuh hanya demi anak-anak?"
"Mereka juga anak-anaknya, kan?" tanya Maira panjang, kalimat yang menusukku, meruntuhkan segala pembenaran dari semua kesalahanku.
"Dia mikirin anak-anak nggak waktu mau selingkuh? Kenapa sekarang mojokin aku yang harus mikirin mereka dan maafin kejahatannya itu?" seru Maira.
Kejahatan kata Maira? Hhh ... Maira menelanjangiku habis-habisan, aku hanya bisa menunduk seperti lelaki bodoh. Tidak ada lagi kegagahan yang bisa kubanggakan, aku merasa begitu rendah.
"Heran aja gitu, kenapa yang nggak enak itu jadi bagianku semua, sementara dia bebas sebrengs*k-br*ngseknya di luaran sana."
Kalimat kasar pun keluar dari Maira, demi apa pun Maira tidak pernah sekasar ini. Apa lagi di depan ibuku.
"Aku yang bodoh May, udah nyakitin kamu, aku minta maaf, aku janji ini terakhir kalinya aku nyakitin kamu," ucapku bersungguh-sungguh. Suaraku bergetar karena ledakan emosi dalam dadaku, aku marah pada diriku sendiri.
"Seberapa yakin aku akan tetap sembuh dari pengkhianatan-pengkhianatan kamu?" tanya Maira kembali meruntuhkan harapan yang tinggi, setidaknya Maira menyebutku dengan 'kamu', cukup baik bagiku.
"Aku yang bodoh," ucap Maira.
"Dari semua yang terjadi. Pernikahan kita, karir yang kutinggal, kesibukan menjadi ibu, sok bijak dengan mempertahankan penjahat kaya kamu, itu semua salahku ... salahku karena menjadi bodoh!" ucap Maira semakin membuat hatiku berdarah-darah.
Aku tidak suka dengan perasaan menyebalkan seperti ini. Aku harus bagaimana agar semua kembali seperti semula? Bukankah aku sudah sadar? Bukankah kami sedang bahagia karena Guntur? Kenapa saat aku ingin berubah menjadi lebih baik keadaan malah menjadi kacau?
Kutampar kedua pipiku, keras, tapi rasanya lega karena sakit di dadaku mulai berpindah ke pipiku. Kutampar terus sampai ibu menghentikanku.
"Udah ... udah, Wa, cukup ... jangan kaya gitu!" ucap ibu seraya menahan kedua tanganku.
"Biar Maira maafin aku, Bu!" tolakku, sambil terus berusaha menampar pipiku lagi, aku kecanduan karena ternyata sakit hati itu sangat tidak enak, lebih baik sakit di pipi.
"Maira nggak akan maafin kamu dengan cara kayak gini," bisik ibu. Memang benar, tapi sesakku berkurang.
Aku mendekat ke kaki Maira. Aku menangis. Tidak gagah sekali rasanya. Tetapi aku tidak peduli. Kupegang kaki Maira dan bersimpuh di sana. Bidadari yang harusnya kujaga justru kusakiti dengan kejam.
Maira berusaha melepaskan tanganku dari kakinya, seakan tidak sudi saat kusentuh sedikit saja tubuhnya. Matanya menyiratkan betapa kotornya diriku. Runtuh sudah kegagahanku di depan Maira, aku hanya lelaki yang hina, yang sedang berusaha menggapai maaf dan meruntuhkan tembok pertahanan Maira yang kurasa sangat besar dan kokoh.
Ibu terlihat sangat sedih melihat putranya harus bersimpuh di kaki istrinya. Sangat bertentangan dengan nilai hidup keluarga kami. Tetapi, aku pantas, aku bahkan pantas direndahkan lebih dari ini. Asal Maira memaafkanku.
"Lepasin!" seru Maira dengan hentakan yang keras hingga akhirnya peganganku lepas.
"Ampuni aku Maira!" rintihku.
"Aku salah, aku berdosa, ampuni aku, May!" ungkapku. Ini bukan bualan, ini tulus dari hatiku. Aku sangat takut kehilangan Maira.
__ADS_1
Otakku yang biasanya briliant sekarang buntu, tidak bisa berpikir jernih, aku tidak bisa meraba perasaan Maira, tidak bisa menebak apa maunya sekarang. Aku hanya bisa mengucap maaf dan maaf berharap Maira bisa membaca kesungguhanku.
Percuma! Selama aku bicara Maira selalu melihat ke arah lain. Mungkin karena itu, apa yang kukatakan tidak masuk ke hatinya yang sedang membeku.
Aku bangun dan mengumpulkan sisa kegagahanku sebagai seorang lelaki, membangun kembali keberanianku. Kutarik tangan Maira dan memaksa tubuhnya menghadapku dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan kupaksakan wajah Maira untuk berhadapan denganku, kukunci kedua pipinya dengan satu tangan agar dia tidak berpaling.
"Lihat aku, May!" paksaku, namun Maira menolak dan berusaha memberontak, jarak pandang kami sangat dekat, bisa kurasakan nafas kebencian dari hidung Maira, bisa kurasakan amarah yang membara di kedua matanya.
"Lepas!" perintah Maira, kukencangkan tanganku dan memaksa Maira menatap suami yang dia sebut penjahat.
"Lihat aku, May!"
Aku terus memaksa, hingga akhirnya Maira tidak punya pilihan lain. Kukunci pandangan mata Maira, mencoba membaca hatinya lewat jendela. Dan kuharap Maira bisa membaca kesungguhan di mataku.
"Aku minta maaf, May!" pintaku padanya dengan memaksa.
Kuikuti gerakan manik mata Maira, selain mulutku yang bicara, mataku juga bicara. Nafas kami sangat dekat, nafasku yang penuh penyesalan, dan nafas amarah dari Maira seolah membakar dirinya. Tanganku masih keras menjagalnya. Maaf, May! Aku harus kasar.
"Aku minta maaf," ulangku dengan penuh perasaan. Biasanya Maira yang akan menangis, namun kini aku yang menitikan air mata. Sementara Maira seperti sudah kering air matanya.
"Apa pun yang kamu mau, Mah! Papah kasih, bahkan kalau Mamah mau papah bisa kasih jiwa papah asal Mamah mau maafin papah!" ucapku dengan kesungguhan, nada suaraku lembut dan rendah berharap bisa meredakan api dalam diri Maira.
"Papah menyesal, Mah! Ampuni papah!"
Kulepas kuncian pada tubuh dan wajah Maira, aku ingin sekali memeluk Maira, Maira yang sudah berdarah-darah karenaku. Akhirnya aku bisa memeluk Maira, dan aku menangis seperti anak kecil di bahunya, meski kedua tangan Maira masih menggantung, tidak membalas pelukanku, aku sudah cukup senang.
"Lepas!" bisik Maira lirih.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.