KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Ajakan Pesta Perusahaan


__ADS_3

"Baik ... kamu yang bilang kalo aku butuh waktu buat pisah, akan kamu kasih, bukan? Anggep aja ini caranya."


Ini hanya akal-akalan Bang Dewa. Aku harus bagaimana?


Sebenarnya cara terampuh memaafkan adalah pisah. Bagaimana bisa kumaafkan kesalahan fatal Bang Dewa tanpa pergi darinya? Aku tidak mungkin lupa, sekeras apa pun usahaku melakukannya, bukannya memudar malah semakin jelas tergambar, menghantuiku dengan sangat nyata.


Bagaimana aku bisa memaafkannya? Detail kejadian dari perselingkuhan pertama, kedua, ketiga, dan yang terakhir masih sangat kuhafal ritmenya. Cara Bang Dewa menipuku, berbohong, sikap manis, romantis, serta hangatnya, selalu menunjukan bahwa dia sudah sangat ahli dalam bidangnya.


Tidak ada raut bersalah dalam setiap sangkalannya, dia akan mengatakan bahwa dia setia dengan wajah yang tulus dan terkesan sangat benar. Sungguh seperti ada dua orang dalam dirinya.


"Ibu ... Dede Guntur nangis, kayaknya laper," lapor Santi, pengasuh baru anak-anakku. Masih ada satu lagi bernama Leni, meski mereka fokus pada Luna dan Lintang, terkadang mereka juga membantuku merawat Guntur.


Guntur menangis menggeliat di pelukan Santi, suara tangisnya lebih keras dibanding Luna dan Lintang dahulu. Aku tidak langsung meraihnya, kuatur nafas beberapa kali untuk mengatur kembali sudut hati yang kacau. Guntur tidak boleh merasakan kekalutan hati ibunya, setidaknya aku mencoba.


"Sini jagoan papah."


Bang Dewa lebih dulu mengambilnya dari tangan Santi, dia mencuri pandang padaku yang masih berusaha menetralkan diri. Guntur diayun dan dipeluk cium olehnya. Aku paham bagaimana Bang Dewa sangat mendambakan anak lelaki sebelumnya, jika dia mengatakan Guntur adalah titik balik dalam hidupnya, aku hampir percaya.


"Kesiniin!" ucapku padanya.


Bang Dewa membiarkanku mengambil alih Guntur dari gendongannya, aku pergi ke kamar dan meninggalkan diskusi buntu dengan Bang Dewa. Harus kutemukan cara lain!


Melihat kasih sayang Bang Dewa pada Guntur telah menyentuh sedikit perasaanku. Tidak mungkin bayi sekecil ini kubawa kabur, tidak tega. Tidak mungkin pula kubiarkan Bang Dewa yang mendidiknya, aku tidak mau Guntur menjadi buaya seperti papahnya.


Pergi dan membawa anak-anak mungkin akan menyelesaikan masalahku, bisa saja kulakukan jika menuruti keegoisan diriku. Namun bukan itu yang harusnya terjadi, justru akan menimbulkan masalah baru dengan Bang Dewa.


Bukannya menyelesaikan masalah aku hanya mengganti masalah. Bahkan dengan seribu akal licik Bang Dewa, bisa saja aku yang terancam akan kehilangan anak-anak. Aku tidak mau, aku harus berpisah dengan cara yang baik. Aku hanya harus bersabar.


***


Dewangga


Sejak masalah ini terjadi, aku selalu meminta maaf dengan merendahkan diri di hadapan Maira serendah-rendahnya. Maira sendiri pun paham, aku tidak pernah melakukannya seserius ini. Pantang bagiku menunduk hingga lawan bisa dengan leluasa menyerang balik.


Tetapi kulakukan itu pada Maira, kuserahkan semuanya, harta, cinta, bahkan nyawa. Aku tidak mengerti mengapa hal yang sudah kupastikan adalah segala-galanya bagiku masih tidak mampu menarik perhatian Maira, apalagi menerima penawaranku untuk kembali memadu cinta. Semua terpental seolah hati Maira sudah membatu.


Rumahku cukup besar dengan banyak kamar, rumah yang menjadi impianku bersama Maira sejak awal pernikahan. Secara materi aku sangat mampu membahagiakannya, tapi aku justru lalai secara hati.


Kuperintahkan bik Tuti menyiapkan kamar lain untukku. Jika kamar Maira berada di sudut kanan bagian depan lantai kedua, kamarku berada di sudut kiri belakang masih di lantai yang sama. Kamar bawah sudah penuh untuk asisten dan pengasuh, untung saja, karena kalau tidak aku harus menempati salah satunya.


Hari penuh kesepakatan dimulai, Maira benar-benar melakukannya dengan sempurna. Tidak ada lagi sarapan khas Maira, semua dilakukan oleh bik Tuti, Santi, dan Leni. Bik Tuti mengatakan bahwa Maira baru akan keluar dari kamar saat aku sudah berangkat.


Luna dan Lintang sudah selesai dari liburannya, dan mulai kembali masuk sekolah. Maira yang memasukan mereka ke sekolah dengan usia yang sangat muda, Maira beralasan dia tidak bisa terus memberikan lingkungan yang menyenangkan dan membahagiakan bagi Luna dan Lintang, mengingat emosinya yang sering sekali berubah-berubah. Sehingga Maira memilih sekolah, untuk memberikan lingkungan yang nyaman dan tepat untuk tumbuh kembang Luna dan Lintang.

__ADS_1


Aku lagi yang bersalah. Tentu saja emosi Maira yang berubah-ubah adalah ulahku yang masih sering bermain api di luar rumah. Aku baru sadar bahwa pukulan dariku ditahannya dengan penuh kekuatan sehingga tidak menembus mengenai anak-anak.


Anak-anak tetap tumbuh bahagia karena Maira, aku sangat tidak berguna, aku harus menebusnya.


Kutepati janjiku untuk tidak menganggu Maira walau kami tinggal di rumah yang sama. Rumah yang sepenuhnya akan menjadi milik Maira jika aku kembali berkhianat. Namun diam-diam aku sering memperhatikannya dari jauh, kusembunyikan cctv nirkabel yang langsung terhubung ke ponselku di kamarnya, untuk memantau gerak gerik Maira, aku hanya rindu, melihatnya adalah candu.


Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Kami saling menghindar, lebih tepatnya Maira yang menghindariku. Dia tahu jadwalku dan sengaja mengurung diri dalam kamar jika aku di rumah.


Akhirnya proyek besarku telah berjalan dengan sukses. Tim bermaksud menyelenggarakan pesta perayaan, aku harus membawa Maira ke pesta itu. Tetapi sebelumnya harus kupastikan Maira untuk tidak menolak permintaanku.


Kuminta Lala mencarikan gaun indah untuk Maira, akan kucocokan dengan sepatu yang pernah kuberikan pada Maira sebelumnya. Tak lupa sebuah tas kecil yang harganya membuatku geleng-geleng kepala kupesan untuk Maira. Kuminta Lala juga menyiapkan beberapa rekomendasi salon terbaik untuk merias Maira nantinya. Aku ingin dia senang dan mungkin akhirnya dia akan terpaksa menerima ajakanku.


Sengaja kuperlakukan Lala dengan baik, aku yakin dia memiliki andil dalam pengungkapan hubungan gelapku dengan Risa sebelumnya. Aku tidak marah, justru akan kugunakan dia untuk meyakinkan Maira bahwa aku telah berubah.


Terbukti dengan barang-barang mewah yang sengaja Lala pilihkan untuk Maira, seolah sedang memberiku pelajaran. Biarlah, dari pada kuhabiskan uangku untuk perempuan lain, lebih baik dihabiskan oleh Maira, toh semua memang akan jadi milik Maira.


Setiap Lala atau Sila akan masuk ke ruangan, akan kupasang wajah sedih sambil menatap foto Maira di mejaku dan bersikap seolah tidak menyadari kehadiran mereka, demi menambah kesan penyesalanku yang dalam. Aku harus meyakinkan, meski sesekali yang kulakuan bukanlah acting, tapi harus kulebih-lebihkan agar keadaanku yang memelas cepat sampai pada Maira.


Kutenteng beberapa paper bag menuju kamar Maira. Sudah kususun kalimat agar tidak terkesan terlalu murah namun tetap menyanjungnya. Aku yakin akan ada penolakan, tapi aku punya rencana cadangan.


Kuketuk pintu kamar dan memanggil-manggil Maira.


"May ...," seruku entah yang keberapa kali diikuti ketukan pintu, aku tidak menyerah karena dalam pantauan cctv Maira ada dan tidak sedang tidur.


Suara kenop pintu diputar membuatku sedikit mundur, dadaku berdegup. Akhirnya Maira membuka pintu. Dia memandangku dengan malas, aku yakin dia pura-pura tidak tahu, kesehariannya intens dengan gedget, mungkin dia banyak berkomunikasi dengan Lola atau Sila.


Kusodorkan paper bag di tanganku. Sengaja kubuat nada bicara se-cool mungkin, sedikit jual mahal meski hatiku sangat senang bisa menatap Maira sedekat ini lagi. Aku rindu, tapi tidak mungkin menerkamnya saat ini. Sabar.


"Ini gaun, tas, dan perhiasan yang bisa kamu pake, sepatunya masih ada yang kemaren, kan?" ucapku lagi.


"Aku nggak tahu!" ucap Maira, dia memang tidak peduli pada hadiah yang kubawakan saat itu, tapi aku yang menyimpankan untuknya.


"Aku yang simpen!"


Kuterobos masuk ke dalam kamar, meletakan paper bag begitu saja di kasur, dan kubuka lemari mencari kotak sepatu. Setelah kutemukan kujejer-jejer semua dan menunjukan pada Maira.


Lihat, May! Aku perhatian, bukan? Aku harap Maira akan tersentuh.


"Aku nggak mau, kita bukan siapa-siapa lagi, ajak aja perempuan lain!" tolak Maira tanpa peduli sedikit pun pada barang-barang yang kutata rapi untuknya.


"Iya ... tapi aku ngajak ibu ... dari anak-anakku, ya aku ngajak kamu, May, lagian ini pesta perusahaan, masa depan perusahaan juga masa depan anak-anak, kan? Nggak mungkin aku dateng sendiri, banyak kolega yang dateng, kalo kamu mau dateng pasti jadi nilai plus sendiri di mata mereka," jelasku panjang.


"Aku ibu dari anak-anakku sendiri!" ucap Maira menolakku.

__ADS_1


"May ... tolong kali ini ikut!" bujukku lagi.


"Kesampingkan dulu masalah kita, anggep aja kamu ngelakuin ini untuk anak-anak, lagi pula semua profit bakal jadi milik kamu, aku cuma pelaku bisnis tapi pemiliknya kamu!" jelasku padanya.


Maira mendengus malas dan masih tidak tertarik dengan ajakanku. Menatapnya yang hanya mengenakan setelan pendek membuat rinduku semakin menggebu, ini adalah rekor terlamaku puasa dari Maira. Kutelan saliva berulang lagi menahan diri. Sabar.


"Bawa pergi, aku nggak mau, cukup di dalem rumah kita bersandiwara!" tolak Maira lagi seraya menjauh.


Semua sesuai prediksi, Maira akan menolak dan besok akan kucoba lagi. Aku belajar untuk tidak memaksakan kehendak padanya, aku akan menggantinya dengan bujukan. Lihat Maira, aku berusaha untuk berubah!


"Baiklah!"


Kuangkat kembali barang-barang yang kujejer rapi. Setidaknya aku senang melihat Maira sedikit lebih segar sekarang, aku yakin kedepannya akan lebih baik dan akan membaik sepenuhnya. Mairaku pasti kembali.


"Tunggu!"


Kuhentikan langkah tepat di depan pintu mendengar seruan Maira.


"Tolong tinggalkan sepatu itu," ucap Maira.


"Sepatu?" tanyaku, sepertinya ini akan berhasil dengan mudah. Kuletakan kembali sepatu itu di atas kasur.


"Sepatunya aja? Kenapa? Kamu nggak suka gaunnya? Biar kusuruh Lala cari yang lain, ya," ucapku dengan senang.


"Karena sepatu adalah lambang perpisahan, kamu ngasih sepatu artinya ngijinin aku pergi!"


Apa?


Enggak!


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2