
"Setelah kamu bertahan dan bersabar selama ini, setelah kamu terus berusaha menyembuhkan hati hanya untuk disakiti lagi, setelah kamu berusaha untuk terus percaya, berharap dan berdoa. Hingga kemudian Dewa pun berubah, apa adil jika akhirnya kalian harus berpisah?"
"Sil ... aku udah bukan di level itu," ungkapku.
"Maksudnya?" tanya Sila heran.
"Hem ... gimana, ya? Aku ... udah mati rasa sama Bang Dewa, kalau aku ada di titik ini pun murni karena aku seorang ibu dari tiga anak-anak yang masih sangat kecil."
"Bukan karena aku seorang istri atau pasangan yang penuh cinta, bukan, Sil! Murni karena kami orang tua, itu saja!" terangku pada Sila.
"Untungnya aku masih bisa berpikir jernih, masih memegang teguh prinsipku sebagai seorang ibu, aku ingin anak-anakku bahagia, Sil," lanjutku dengan menatap mata Sila, berharap dia bisa menangkap perjuanganku mempertahankan tanggung jawab meski penuh luka.
"Aku ... ingin berpisah dengan Bang Dewa dengan cara yang baik, agar hubungan kita tetap baik!" ucapku penuh tekanan dalam setiap kalimatku.
"Aku sudah berjiwa sangaat besar dengan mengesampingkan semua kesakitanku demi anak-anak, aku maafkan Bang Dewa, mencoba berdamai, dan mencari jalan keluar terbaik."
"Aku bisa aja pergi bawa anak-anak, Sil. Langsung ke pengadilan dan nggugat Bang Dewa, semua buktiku kuat! Tapi aku mikirin efeknya buat anak-anak kalau cara berpisahku salah!"
"Aku juga nggak bisa bahagia karena bukan kedamaian yang kudapat tapi kerusuhan! Aku tahu Bang Dewa bakal berusaha ngambil hak asuh anak apa pun caranya, aku nggak mau, Sil!"
"Aku sedang mengusahakan perpisahan yang baik, hanya itu!"
Sila menatapku dalam diam setelah kujelaskan dengan panjang. Dia bukanlah seorang ibu tapi aku harap dia akan paham apa yang sedang kuperjuangkan.
"Iya, May, kamu bener!" ucap Sila.
"Satu hal lagi, Sil, aku capek sama keadaan ini, capek ... banget!" ungkapku padanya, Sila melihatku dengan penuh simpati, kalimat-kalimat yang membuat dadaku sesak mengalir begitu saja tertumpah padanya.
"Aku mutusin buat berhenti bertahan karena aku udah nggak kuat!"
"Dewa udah nyakitin kamu banget ya, May?" tanya Sila berempati.
"Bukan Bang Dewa yang bikin aku hancur, Sil. Tapi diriku sendiri."
"Maksudnya apa, May?"
"Aku yang selalu dihantui rasa cemas, selalu waspada, selalu berpikiran buruk, selalu curiga, ketakutan, terlepas dari benar atau tidaknya perselingkuhan Bang Dewa tapi rasa takut itulah yang sangat menghancurkanku dari dalam."
"Jika Bang Dewa benar-benar terbukti selingkuh, ada bagian dari diriku sendiri yang tertawa, dia kaya ngomong 'udah dibilangin nggak percaya, rasaain!' gitu Sil, dan kalo Bang Dewa nggak selingkuh ada bagian lain yang ngomong 'makanya kasih suami kepercayaan biar nggak selingkuh beneran!' Aku capek, Sil!"
"Aku sampe bingung aku yang asli itu yang mana, aku nggak ngerti harus percaya apa curiga, aku--"
Tiba-tiba kurasakan Sila memelukku.
"Udah ... udah May, kamu tenang dulu, relax!"
Nafasku memburu disertai pikiran yang kacau, inilah yang selalu menjadi pembunuh dalam diam. Rahasia paling emosional yang kupendam.
__ADS_1
Aku tidak menangis tapi tertawa, pelukan Sila membuatku tenang seolah dunia dari sisi yang lain sedang menerimaku sebagai seorang wanita yang terluka.
"Tarik nafas dulu, May, perlahan," bimbing Sila. Kulakukan sesuai arahan Sila.
"Makasih, Sil!" ucapku seraya melepas pelukannya. Aku sudah sedikit lebih tenang.
"Kamu baik-baik aja, May?" tanya Sila.
"May ... maaf aku nggak bermaksud apa-apa tapi kayaknya kamu butuh psikolog, biar kamu bisa nyari solusi dari kecemasan itu," ucap Sila sedikit menyinggungku.
"Ehm ... nggak harus sekarang, kapan pun kamu siap, nanti aku bantu cariin psikolog yang paling bagus!" lanjutnya.
"Buat apa, Sil? Solusiku cuma satu, pisah sama Bang Dewa pasti hidupku kembali tenang," tolakku.
"Aku bisa berhenti peduli dia lagi bercinta sama siapa, dimana. Nggak khawatir lagi, nggak curiga lagi, dan yang paling penting semua tentang Bang Dewa bukan lagi jadi urusanku, dia bebas dari pernikahan dan aku bebas dari semua rasa takut akan dikhianati!"
"Itu adil, Sil!" tegasku.
"Pikiran-pikiran kayak gitu, Sil, yang bikin aku hancur!" ucapku memberikan pandangan pokok pada Sila.
Sila menghela nafas panjang, aku harap dia bisa mengerti penderitaanku.
"Aku udah melewati proses panjang yang menyakitkan, Sil! Tercabik-cabik, koyak, sampe aku nggak tahu apa lagi yang tersisa dariku," lanjutku menumpahkan rasa sakit.
"Aku capek, Sil!" rengekku tanpa terhitung lagi berapa kali kukatakan kata lelah pada Sila.
"Aku sadar, selama ini aku salah, aku pikir kebahagiaanku adalah tugas dan tanggung jawab Bang Dewa, itu yang bikin aku kecewa dan jatuh berkali-kali," ungkapku.
"Jadi ... mau Bang Dewa nyesel atau enggak, berubah apa enggak, itu bukan tujuanku lagi. Dia berubah ya sukur, enggak ya bodo amat," ucapku memberi Sila kesimpulan.
"Iya, May, aku paham sekarang," ucap Sila mulai mengerti.
"Jadi ... kamu udah mantap pisah?" tanya Sila.
"Iya. Demi kebaikan semua!" tegasku, Sila melihatku dengan ragu.
"Aku bisa aja maafin Bang Dewa dan kembali memperbaiki, entah untuk yang keberapa kali, tapi ... kemungkinan untukku lepas dari pikiran-pikiran negatif di otakku sendiri itu sangat kecil!" Kucoba kembali membawa Sila lebih dalam ke sudut pandangku.
"Berubahnya Bang Dewa juga nggak akan menjamin kalo pikiran negatif itu bakalan pergi dan nggak nyerang aku lagi," lanjutku menjelaskan.
"Lagi pula Bang Dewa udah jahat ngancurin kepercayaanku berkali-kali, semua cinta dan kesetiaanku dibalas dengan duri!"
Kala mengingat hal ini rasa sesak itu akan kembali, kutarik nafas dalam-dalam untuk melawan sakit ini. Kedatangan Sila memberi satu hal positif, aku bisa bebas mengungkap tentang sakit yang terpendam, semua mengalir begitu saja mengurangi beban yang berat di kepala dan hatiku.
"Aku benci, aku marah, aku kecewa, sakit hati, aku menangis, aku ingin mengutuk, memaki, mengucapkan banyak kalimat kasar dan jahat karena sama Bang Dewa. Aku udah pernah ngelakuin semuanya, Sil! Dan nggak ada yang berubah, Bang Dewa tetep hianatin aku! Yang belum kulakukan cuma berdamai, mencoba ikhlas, dan melepas, menco--"
Belum selesai kalimatku tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan mendarat dengan sangat erat di punggungku. Aku yang sedang tersengal karena panjangnya kalimat terakhirku pada Sila merasa sangat terkejut dan sulit bernafas dengan normal. Aku sedang dalam keadaan yang sangat emosional karena mengungkapkan perasaanku pada Sila.
__ADS_1
Sila nampak mundur seolah memberi ruang lebih pada seseorang di belakangku. Aku sangat hafal tangan siapa yang memelukku, tangan kekar yang sudah sangat melukai hidup dan jiwaku.
"Maafin papah, Mah!" ucap bang Dewa dengan sangat terisak.
Bang Dewa menenggelamkan wajahnya di leher dan bahuku, hingga kurasakan basah mengalirinya. Bang Dewa kembali menangis. Sayang, aku sudah tidak peduli.
Apa dia menguping? Aku terlena pada percakapanku dengan Sila sampai aku tidak sadar sejak kapan Bang Dewa meninggalkan balkon dan tiba-tiba muncul di belakangku seperti ini.
Tubuh Bang Dewa berguncang hebat sampai tubuhku ikut bergetar karenanya. Di depanku Sila menundukan pandangannya dengan ekspresi yang sedih.
Aku berusaha menguasai kembali nafasku dengan sedikit kesusahan, karena bobot tubuh Bang Dewa yang berat sangat kontras dengan tubuh kurus kerempengku. Postur tubuh layu yang akhirnya membuat Bang Dewa kehilangan seleranya.
"Maaf, Mah, maaf ... jangan tinggalin papah," rengeknya tanpa malu di depan Sila.
"Lepas ... kalo kaya gini tubuhku bisa remuk!" ucapku padanya memprotes pelukan yang terlalu erat.
Bang Dewa pun melepas pelukannya, dia menarik tubuhku hingga aku berdiri dari kursiku, kemudian Bang Dewa menekuk kedua lututnya dan menghempaskannya hingga menyentuh tanah. Dengan cepat Bang Dewa kembali memeluk kakiku dari posisinya yang berlutut.
"Lepas ... kamu nggak malu dilihat Sila?" ucapku padanya.
"Aku nggak peduli ... aku nggak mau pisah sama kamu!" tolak Bang Dewa dengan sangat kekanakan.
Aku tidak bisa lagi menilai mana yang asli dan mana yang palsu dari dirinya. Aku lelah berharap dan bahkan lelah berdoa. Aku hanya ingin hidupku kembali. Jika hidupku baik tanpa dirinya maka akan kulepaskan.
Sesak dan berat, rongga dadaku yang tadi sudah mulai longgar kembali terasa penuh. Aku tidak bisa bohong, masih ada sebagian kecil dari diriku masih tersanjung dan tersentuh dengan kata ampun yang keluar dari dirinya. Tetapi bagian lain dari diriku sudah sangat hambar dan menolak mentah-mentah meski dia bersujud ampun.
"Lepas!" berontakku.
"Aku lelaki yang sangat kotor, yang sudah jahat sama kamu, aku nggak layak disebut suami, tapi ... aku minta maaf, Mah, aku minta maaf, aku nggak tahu lagi harus merendah seperti apa karena ternyata aku sudah sangat hina di matamu."
"Jangan pergi, aku mohon! Beri lelaki bodoh ini satu kesempatan untuk hidup dengan layak di matamu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.