
"Karena sepatu adalah lambang perpisahan, kamu ngasih sepatu artinya ngijinin aku pergi!"
Kulempar barang-barang di tanganku ke kasur, tanganku fokus mengambil sepasang sepatu dengan desain elegan berhak tinggi berwarna putih tulang yang mengkilat kesukaan Maira. Dengan kasar kubuka dan kulempar keduanya kelantai, keduanya terpelanting hingga membentur tembok. Tidak puas di sana kuambil kembali keduanya, kupatahkan kedua hak dan membuang sepatu itu ke tempat sampah.
Semua berlangsung cepat, membuat nafasku tidak beraturan dan Maira tampak sangat terkejut dengan reaksiku. Aku kalap mendengar penjelasan Maira tentang sepatu.
Sial! Padahal bukan seperti itu maksudku.
"Udah nggak ada sepatunya!" tuturku dengan nafas terengah. Puas rasanya merusak sepatu itu.
"Kamu gila!" seru Maira.
"Iya ... aku gila!" jawabku asal.
"Kamu harus ikut, ntar Lala yang ngurus semuanya, sepatunya beli sendiri!" ucapku kesal seraya pergi meninggalkan kamar Maira.
Filosofi bodoh macam apa itu? Aku membelikannya karena tahu Maira suka sepatu. Setidaknya Maira tidak lagi menolak walaupun ajakanku cenderung memaksa.
***
Aku jarang memperhatikan diriku sendiri karena sibuk bekerja, bangun hanya untuk berangkat ke kantor dan pulang saat anak-anak sudah tidur. Mulai ada yang hilang, tidak ada lagi yang mengurusku. Jangankan doa, keluhan dan rengekan Maira yang kupikir menyebalkan kini sudah tidak ada.
Hal-hal kecil dari Maira mulai kurindukan, jika awalnya celoteh anak-anak mampu membuatku kembali tertawa kini terasa sedikit hampa karena menghindarnya Maira ternyata memiliki sedikit efek pada psikologis anak-anak. Aku harus menjelaskan perlahan keadaan kami pada Luna yang mulai besar dan mulai bisa menilai keadaan.
"Bik ... nanti bilang sama Ibu, suruh siap-siap. Siang ada jemput dia ke salon buat prepare acara nanti malam," ucapku pada bik Tuti saat sarapan.
"Iya, Pak. Tapi ... ehm, apa Bapak sama Ibu masih berantem? Kok tumben lama banget to, Pak?" tanya bik Tuti mulai penasaran pada kondisiku dan Maira.
"Eh ... maaf, Pak. Saya lancang ya?" lanjutnya menyesali.
"Nggak papa, besok juga baik, Ibu lagi banyak pikiran aja," jawabku menutupi. Bik Tuti terlihat manggut-manggut.
"Titip anak-anak, awasi pengasuhnya juga, kalo ada apa-apa lapor ke saya, ya!"
"Siap, Pak!" jawab bik Tuti.
Sebelum berangkat kulirik pintu kamar Maira berharap ada keajaiban dia akan luluh dan kembali beraktifitas di dalam rumah seperti biasa, ada atau tidak ada diriku.
Menyedihkan memang, satu atap tapi tidak saling menyapa. Tetapi begini lebih baik dari pada berpisah. Aku bisa kehilangan arah.
Jangan uji niatku untuk berubah, May! Sia-sia rasanya, jika sikap Maira terus membeku seperti ini. Haruskah aku menyerah? Lalu apa artinya pertobatanku dari dunia perselingkuhan?
Banyak teman-teman dari kalanganku melakukan hal sama, kami kaya, wajar jika kami bermain dengan banyak wanita. Beberapa memiliki simpanan gadis muda, ada pula yang terang-terangan beristri lebih dari satu. Lingkaran inilah yang membuatku jatuh dalam kesalahan bodoh.
Kunikmati penyesalan ini, dan kusabari kedinginan Maira. Wajar, hatinya sudah sangat kulukai.
Ingatanku kembali pada beberapa tahun yang lalu, Maira adalah juniorku di kampus. Aku sudah suka padanya sejak pertama kali melihat, cintaku adalah cinta pada pandangan pertama, dan demi mendapatkan perhatian darinya aku sering menjailinya sebagai anak baru.
__ADS_1
Maira terus abai, dia tidak mudah ditaklukan, hal itulah yang membuatku semakin tergila-gila padanya. Rasa penasaran pada sikap cueknya, kepribadiannya yang misterius, dan wajahnya yang semakin manis saat bersikap jutek. Semua tentang Maira membuatku bersemangat, sehingga nilai akademikku melesat bagus. Dia adalah motivasiku.
Namun begitulah perempuan, sulit menerima serangan yang rutin, intens, dan stabil. Aku terus memberi perhatian pada Maira hingga perlahan dia mulai membalas perasaanku.
Setelah lulus dan bekerja kuutarakan niat serius untuk melamar Maira. Sebenarnya keluarga Maira kurang setuju karena faktor suku. Tetapi saat ayah Maira meninggal, ibunya memintaku menikahi Maira.
Awal pernikahan hatiku masih berbunga-bunga, Maira sangat perhatian bahkan pada detail hal kecil dalam hidupku. Ditambah sikapnya yang berubah bucin dan penurut, membuatku kehilangan sesuatu yang entah apa namanya.
Harusnya aku bersyukur mendapat istri cantik, smart, dan baik, dia tidak pernah melawan sedikitpun. Dia selalu mensupport semua yang kulakukan, saat kuputuskan untuk resign dari pekerjaan dan mulai berbisnis seluruh keluargaku menentang, hanya Maira yang mendukung dan percaya kalau aku bisa. Bisa berada di titik kehidupan senyaman ini adalah berkat dukungan Maira.
Tetapi seperti ada yang kurang ketika memiliki istri terlalu penurut dan baik, bukannya aku menyalahkan Maira tapi semua menjadi hambar, naluri lelaki memang begini adanya. Aku butuh tantangan agar tidak bosan dan tetap bisa menikmati permainan.
Ditambah tuntutan dari Maira untuk menjadi seorang ayah dan suami terbaik seperti almarhum ayah mertuaku, membuatku semakin jengah dan membutuhkan selingan sebagai hiburan, dan membantuku untuk tetap merasakan sebuah tantangan.
Aku mencintai, Maira. Sesungguhnya dia tetap yang tercantik di mataku. Tidak sedikit pun rasa sayang ini luntur. Meski aku bergeriliya mencoba cinta yang lain, tapi Maira tetap menjadi ratu hatiku. Sudah cukup kusaksikan penderitaannya karena kebodohanku. Sekarang aku ingin memperbaikinya.
Sekarang diamnya Maira tidak hanya menyiksaku, tetapi juga berhasil membuatku kembali penasaran padanya, seperti dejavu. Aku tertantang untuk mengejarnya kembali, tertantang untuk menaklukannya untuk yang kedua kali.
Andrenalinku kembali terpacu, dan cintaku semakin menggebu, debaran-debaran hangat dan rasa seperti kupu-kupu terbang di dalam perut kembali bisa kurasakan pada Maira. Aku jatuh cinta lagi.
Kuingat-ingat kembali apa saja yang Maira suka, meski keadaannya berbeda setidaknya bisa sedikit membuat kami bernostalgia. Akan kubuat Maira mengingat kembali masa yang indah itu. Akan kubawa masa-masa bergelora itu kembali ke kehidupan pernikahan kami.
Kucek cctv di kamar Maira, percuma Maira tidak ada dalam jangkauan cctv rahasiaku. Memikirkannya membuatku semakin rindu. Kuharap Maira bersedia menemanku nanti malam.
"La? Gimana Ibu?" tanyaku pada Lala melalui sambungan telpon.
"Ibu Maira?" ucap Lala mengulang pertanyaanku.
"Ehm ... maaf, Pak. Ibu Maira sudah berangkat ke salon, tadi dijemput supir."
Meski sedikit kesal mendengar candaan Lala, tapi kabar berangkatnya Maira cukup membuat moodku membaik. Akan kugunakan kesempatan ini untuk menyenangkan Maira.
Berkali-kali kulirik jam tangan tidak sabar menunggu sore tiba, akan kujemput Maira di salon untuk bersama-sama ke pesta nanti malam.
Saat yang kutunggu tiba, penampilan sudah siap dan hanya perlu menjemput Maira menuju lokasi pesta. Aku duduk dengan perasaan gugup di kursi penumpang, mobil terparkir dan tinggal menunggu Maira keluar.
Sudah kubayangkan betapa cantiknya Maira nanti, dia selalu berhasil menjadi bintang sebuah pesta.
Suara pintu mobil terbuka membuatku sedikit terkejut. Seseorang mencoba masuk, datangnya bukan dari pintu salon tempat Maira seharusnya keluar.
"Hay, Mas!"
Seorang perempuan dengan gaun berwarna toska merangsek masuk dan duduk di kursi sampingku.
"Ngapain kamu kesini?" tanyaku kesal.
"Terkejut, ya? Taraaa ... kejutan, aku mau ikut!" ucap Risa dengan sangat lancang.
__ADS_1
"Keluar!" usirku sambil berusaha mendorongnya keluar.
"Bukannya kamu yang nantang aku buat mbongkar hubungan gelap kita?" ucap Risa sambil berusaha bertahan dari doronganku.
"Ris, kamu jangan main-main!" seruku mulai panik.
"Aku nggak main-main, aku cuma nerima tantangan kamu, coba kita liat bagaimana baiknya lingkungan kamu menerima hubungan gelap kita?" ucap Risa dengan nada mengancam.
"Keluar, kamu!" seruku dengan marah.
"Kenapa? Kamu takut Bapak Dewangga?" tanya Risa mencoba mempermainkanku.
"Apa kedatanganku nggak pada waktunya? Nggak pada tempatnya? Atau--."
"Keluar atau kupanggil polisi?"
Maira akan segera keluar, bagaimana kalau Maira salah paham lagi melihat Risa di semobil denganku?
"Uh ... aku takut, Bapak Dewa," ucap Risa sengaja dengan nada dibuat-buat.
"Apa maumu? Uang?"
Kuambil beberapa lembar uang merah yang ada di dompetku padanya.
"Apa ini? Receh? Kamu pikir aku pengemis Bapak Dewa?" tolak Risa pada tawaranku.
"Urusan kita udah selesai! Kalau kamu lancang kupastikan kamu akan menyesal, sekarang keluar sendiri, atau kuseret kakimu?" ancamku dengan nada serius.
"Uh ... makin takut, aku ingetnya pas diseret ke kasur sama kamu, Mas," ucap Risa sambil berusaha menggodaku, tangannya mengusap lancang permukaan tuxedoku.
"Kurang ajar, kamu!"
Tangan kiriku meraih pergelangan tangan Risa dan memelintirnya, baru saja tangan kananku hendak membuka pintu mobil untuk menyeret Risa, Maira mulai muncul di pintu salon.
Gawat!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.