KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Rindu Maira


__ADS_3

"Kamu!"


"Mah? Ini papah!"


Mata Maira membelalak melihatku, kemudian tangannya sibuk memperbaiki bajunya yang sedikit terbuka. Kenapa? Maksudku ... aku ini suaminya, apa yang salah melihat Maira berpenampilan seperti itu?


Maira juga memperbaiki ikatan rambutnya sehingga nampak lehernya yang jenjang. Maira bergerak perlahan hendak menjauh dan berusaha untuk tidak membuat Guntur terbangun. Sadar Maira akan pergi kutarik pinggangnya yang masih terjangkau dengan tanganku. Maira yang tidak siap menerima serangan langsung limbung jatuh ke pelukanku.


"Mah? Papah masih rindu, jangan pergi!" bisikku padanya.


Kueratkan lenganku lebih kuat merengkuh tubuh Maira sehingga sulit baginya untuk berontak. Kuhirup dalam-dalam aroma Maira yang sangat kurindukan, aku yakin hanya butuh menghancurkan ego Maira untuk membuatnya kembali. Aku harus membuatnya jatuh cinta lagi padaku.


"Lepas!" Maira berusaha berontak, kurasakan jantungnya berdegup kencang membuat nafasku semakin memburu. Aku yakin masih ada cinta di hati Maira untukku.


"Papah rindu, Mah," bisikku perlahan di telinganya, kurasakan tubuh Maira meremang.


"Lepas!" seru Maira semakin keras memberontak.


Memaksa Maira selalu membuat diriku tertantang, semakin kuat dia memberontak semakin inginku membesar. Semakin marah Maira membuat dirinya terlihat sangat indah di mataku. Bagiku tidak ada masalah yang tidak selesai di ranjang.


Aku mengerti Maira baru melahirkan, aku pun belum bisa memastikan dirinya sudah siap atau belum, tapi saat ini aku hanya ingin memeluk dan menghirup aromanya sampai puas. Aku tenggelam dan mabuk karenanya, rindu yang mencekik membuatku sangat haus dan haus.


"Lepas!" ucap Maira, tapi bahasa tubuhnya mengatakan sebaliknya, dia masih merespon sentuhanku.


"Mah ... papah sangat rindu," bisikku mulai tenggelam.


"Lepas, aku jijik!" ucap Maira.


Jijik? Kata yang membuatku kehilangan hasrat yang sedang membara, Maira mendorongku tepat setelah mengatakan kata itu padaku. Dalam sekejap Maira lepas dan berhasil menjauh. Bukannya aku tidak bisa mengejar Maira dan menguncinya kembali, tapi kalimat yang baru saja keluar dari bibir Maira membuat diriku hancur.


Aku diam dan perlahan berusaha mengembalikan kesadaranku, mencerna kalimat sederhana yang entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Maira menutup pintu kamar mandi dengan kencang, untung saja Guntur tidak bangun karenanya. Aku merasa sangat kacau.


Marah? Tentu saja, tapi aku berusaha mengendalikan emosi, menyadari bahwa semua yang Maira lakukan adalah imbas dari kesalahan yang sudah kuperbuat padanya. Aku berusaha sabar, hal yang sangat jarang kulakukan mengingat hasratku tadi sedang besar.


Beberapa detik kemudian terdengar teriakan dari dalam kamar mandi, raungan Maira terdengar sangat kesal. Rasa ngilu itu kembali, rasa bersalah yang membuat rongga dadaku sesak. Untung saja kamarku kedap sehingga suara Maira tidak sampai keluar.


Guntur terlihat menggeliat, kugendong tubuh mungilnya. Kuayun perlahan berusaha menenangkannya. Hal yang baru saja terjadi begitu emosional, Maira masih enggan membuka diri dan menerima permintaan maafku.


Aku harus bagaimana?


"Doain mamah sama papah ya," bisikku seraya menciumi Guntur.


Kugendong Guntur keluar kamar, memberi ruang pada Maira untuk membenahi diri serta emosinya.


***


Maira berusaha bersikap luwes walaupun gerak gerik kita berdua masih terkesan dipaksakan di depan anak-anak dan juga ibu. Mungkin karena inilah Maira sempat meminta ibuku untuk pulang, agar dia tidak pura-pura baik padaku.


Sementara kalimat terakhir Maira masih terngiang di telingaku, dia jijik padaku. Semangatku seolah layu mendengar kata itu terlontar dari bibir Maira.


Keesokan harinya ibu berpamitan pulang karena di matanya keadaan kami mulai kondusif, ibu tidak tahu kalau di antara kami masih saling berperang dingin.


"Aku udah nyari pengasuh untuk Luna dan Lintang dari yayasan, jadi kamu bisa fokus sama Guntur," ucapku padanya, masih berat bagiku mengucapkan panggilan seperti biasa mengingat kalimat terakhir Maira. Harga diriku masih terluka.


"Kenapa nggak ngomong dulu?" protes Maira.


"Udahlah, kamu kewalahan ngadepi mereka," ucapku mementahkan protes Maira.


"Lagian aku papahnya, aku juga berhak memutuskan apa yang terbaik buat mereka," lanjutku.

__ADS_1


"Mungkin ntar siang orangnya dateng, kamu awasin aja pekerjaan mereka."


Maira terlihat kesal namun tidak bisa membantah. Kuseruput kopiku hingga tandas mengambil tas dan bersiap berangkat ke kantor.


"Tunggu!" panggil Maira. Kikuk sekali panggilan diantara kami, bahkan Maira tidak pernah memanggilku 'papah' sejak kejadian di rumah Risa beberapa minggu yang lalu.


"Aku ingin pisah baik-baik, makanya aku nggak bikin gaduh di rumah perempuanmu itu," ucap Maira yang ternyata masih membahas perpisahan.


"May!" seruku.


"Aku nggak mau pisah, dan perempuan itu bukan siapa-siapaku!" tegasku.


"Ayo kita pisah baik-baik demi anak-anak! Dan aku nggak akan peduli perempuan itu siapamu atau ada berapa perempuanmu di luaran sana," ucap Maira bersikukuh menyudutkanku.


"Nggak ada yang lain, May, cuma kamu! Kalau demi anak-anak, ya jangan pisah! Maafin aku! Dan aku udah janji untuk berubah!" ucapku dengan penuh tekanan.


"Kalau demi anak-anak, kamu nggak akan pernah selingkuh! Ayo jadi orang tua yang sehat kalau emang demi kebaikan anak-anak!" ucap Maira tidak mau kalah.


"Cukup, May! Aku capek bahas ini, aku nggak mau pisah, titik."


"Tapi aku capek sama kamu!" seru Maira tepat di depan wajahku.


Sabar. Jangan membalas emosi Maira dengan emosi, aku harus merubah kebiasaanku kalau ingin meruntuhkan ego Maira. Lihat Maira, aku menekan keras emosiku dan berubah untukmu.


"Capek?" tanyaku dengan nada yang berbanding terbalik dengan Maira.


"Istirahat, May! Jangan berpikir terlalu banyak, aku bisa ngasih waktu kamu untuk sendiri, menenangkan hati sama pikiranmu, tapi nggak untuk berpisah," tolakku tidak kalah keras.


"Aku minta maaf, dan kamu boleh minta apapun dariku! Sebutkan! Akan kuusahakan semuanya," ucapku memperingatkan Maira.


"Aku bisa aja pergi bawa anak-anak!" ucap Maira lagi dan terdengar seperti ancaman.


"Apalagi yang kurang, May?" tanyaku tidak mengerti.


"Kamu egois, May!" seruku padanya.


"Iya ... aku egois! Dan kamu yang bebas berkhianat di luar sana namanya apa?" tanya Maira.


Aku menunduk dan tersenyum kecut. Inilah Maira yang marah, akan kupancing dia untuk terus memaki agar hatinya lega. Lebih mudah menghadapinya, dari pada saat Maira diam membeku.


"Maaf!" ucapku pelan dan berusaha menahan nada suaraku.


"Maafmu nggak ngerubah apapun, berhenti saling menyakiti!" ucap Maira.


"Aku yang nyakitin kamu, May, aku yang akan berhenti, dan aku udah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan bahagiain kamu, aku akan menebus semua kesalahanku sama kamu," ucapku mematahkan kalimat Maira.


"Oh ... jadi kamu nggak tersakiti?" tanya Maira.


"Tentu saja enggak!"


"Lalu kenapa kamu selingkuh?"


Bagus Maira, teruslah bertanya, kamu haus penjelasan, bukan? Aku akan menjawab sesuai dengan apa yang kamu ingin kamu dengar.


Tapi harus kujawab bagaimana pertanyaan mematikan seperti ini?


"Karena ... karena ... karena aku breng*ek, persis kayak apa yang selalu kamu omongin," jawabku berusaha menghindari pembahasan tentang kekurangan dari Maira, aku harus menjawab bahwa akulah yang salah.


"Tolong ... jangan siksa aku," ucap Maira setelah terlihat beberapa saat kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"May ... aku suami breng*ek yang sedang mencoba berubah baik demi kamu, apa masih enggak kamu hargai juga?" Maira diam mendengar perkataanku.


"Aku udah telat ke kantor, jaga anak-anak, jangan capek-capek! Lusa kita konsultasi ke psikolog pernikahan."


Kuraih tas laptop dan kunci mobil yang berserakan di meja, kudekati Maira dan kucium keningnya. Maira mencebik dan berpaling dengan kasar.


***


"Maira keras kepala banget, marah terus, gue ngerti gue salah, bahkan gue udah ngemis maaf sama dia, tapi Maira masih saja keras kepala," gerutuku pada Sila.


"Tau ah, bosen dengerin curhatan lu!" komentar Sila.


"Makanya bantu selesein!"


"Yang salah itu elu, Wa! Tapi lu udah terbiasa salah makanya nggak ada rasa bersalah di diri lu," ucap Sila sedikit belibet.


"Maksud lu apa, Sil? Gue kurang ngaku salah gimana?"


"Dewangga!" geram Sila. Kami tepat berhadap-hadapan.


"Lu sadar nggak sih, Maira itu hancur, pernikahan kalian, cinta kalian, kepercayaan kalian, komitmen, dan masih banyak lagi lainnya yang ikut hancur karena pengkhianatan lu itu?"


"Sadar enggak?!" seru Sila tepat di wajahku, rautnya terlihat kesal.


"Lu nggak mau ngelepasin Maira karena cinta atau karena lu egois?" lanjut Sila menghakimiku.


Mulutku bisa saja menjawab karena cinta, tapi apa benar? Bagiku Maira adalah simbol kesuksesanku.


Baru saja hendak membuka mulut pintu ruangan diketuk kencang.


"Masuk!" seruku, ternyata Lala sekertarisku.


"Maaf, Pak. Ada perempuan maksa masuk mau ketemu Bapak," ucapnya dengan mimik kebingungan.


"Siapa?" tanyaku.


"Katanya namanya Bu Risa," jawab Lala.


Risa?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2