
[Mamah, dimana?]
"Udah di kantor."
Aku berpamitan pada Sila dan segera menuju ruangan Bang Dewa. Sebelum ke sana kusempatkan dulu mampir ke toilet. Dan tak sengaja kudengarkan obrolan beberapa karyawati yang sedang di toilet. Tampaknya mereka tidak mengenaliku dengan baik.
"Padahal udah 3 anaknya, kalo Mr. Julian kan belum beristri."
Rupanya mereka sedang bergosip.
"Eh tapi liat nggak di pesta kemarin, istrinya Pak Dewa cantik banget, nggak keliatan punya anak 3."
"Heran ya, cantiknya kaya gitu masih aja diselingkuhi."
"Namanya aja buaya."
"Kalo aku jadi istrinya Pak Dewa, dengan penampilan secantik itu pasti udah minta cerai, dari pada diselingkuhi terus."
"Ya nggak gitu juga, Pak Dewa kan kaya, kalo aku jadi istrinya juga diem-diem aja, mau suami selingkuh bodo amat yang penting uang lancar, mau shopping tinggal klik, mau jalan-jalan tinggal cus."
"Ah, otak matre kamu, mah!"
"Lah emang bener, wanita mana yang mau ninggalin pria kaya!"
Harga diriku serasa dihempas. Aku bertahan karena anak, tapi yang orang lihat hanyalah karena harta. Aku menertawakan diriku sendiri.
"Tapi kemaren Pak Dewa sosweet banget nggak, sih? Tangan istrinya nggak dilepas sama sekali."
"Biasa aja sih, mau semanis apa pun perlakuan suami kalo diselingkuhin mah tetep aja sakit."
Oke cukup. Akhirnya kudobrak pintu toilet tempatku bersembunyi dan menguping.
Braagk!
"Astaga!" seru mereka berbarengan.
Mereka semua terkejut, ada 4 orang perempuan yang sedang berdandan. Ada bedak dan lipstik yang jatuh ke lantai, mungkin mereka terkejut.
"Kalian bisa diam?" ucapku.
Mereka tampak tidak mengenaliku. Tanganku gemetar menahan marah. Dunia luar ternyata menakutkan, aku terlalu lama nyaman menjadi ibu rumah tangga dan istri. Menutup telinga dari penilaian orang, sementara Bang Dewa bebas beratraksi dengan jiwa buayanya.
"Kalo masih mau kerja di sini kalian harus jaga mulut, kalo enggak serahin surat pengunduran diri kalian!" seruku pada mereka semua.
Salah satu dari mereka tampaknya mulai menyadari dengan siapa mereka bicara. Wajahnya mulai gugup dan menunduk.
"Maaf, Bu. Maaf, kami nggak bermaksud begitu! Jangan pecat kami, Bu!" ucap salah satu dari mereka, dan ketiga lainnya masih terlihat bingung. Mereka sibuk berbisik meminta bocoran dari teman mereka tentang siapa aku.
"Maafkan kami, Bu!"
"Maaf, Bu!"
"Jangan pecat kami, Bu!"
Aku sedang dalam kondisi hati yang tidak baik, dan mereka menggunjingku di saat yang tidak tepat.
Kutarik Id card mereka semua dan bergegas keluar.
"Ampun, Bu. Jangan pecat kami!"
__ADS_1
Aku tidak peduli rengekan mereka. Dengan cepat kakiku berjalan ke ruangan Bang Dewa. Emosiku kembali tinggi, harga diriku diinjak oleh orang yang yang tidak kukenal.
"Ibu udah dateng!" sapa Lala yang langsung berdiri di balik mejanya, tapi aku tidak peduli.
Pintu kaca kuterobos dengan kasar.
"Mah? Nunggu lama, ya?"
Braagk!
Kulempar Id Card milik keempat perempuan tadi ke meja Bang Dewa. Dadaku naik turun menahan emosi.
"Aku mau mereka semua dipecat!" seruku dengan nafas ngos-ngosan. Sesuatu yang mendidih dalam diriku tidak bisa lagi terbendung.
Bang Dewa kebingungan melihatku yang kalap karena emosi. Dia melihat sekilas keempat Id Card yang kulempar di depannya.
"Ada apa, Mah?"
Bang Dewa bangun dari kursinya dan mendekatiku.
"Stop!" seruku menghentikan langkah Bang Dewa.
"Iya ... papah pasti pecat mereka semua, Mamah tenang dulu!"
Kulipat kedua tangan di dada. Bang Dewa kembali mencoba mendekatiku, dan membimbingku untuk duduk di sofa.
Kenapa aku begitu marah?
"La ... buatin minum, cepet!" seru Bang Dewa pada Lala yang ada di balik pintu.
"Mamah kenapa?" tanya Bang Dewa dengan hati-hati.
"Pegawaimu nggak punya sopan santun, bisa-bisanya mereka nggosipin aku!"
"Aku wanita cantik yang tidak berdaya ketika suaminya selingkuh, karena suaminya kaya jadi istrinya diam dan hanya menerima nasibnya," ucapku sarkas.
"Kamu justru bangga dan pamer dengan perselingkuhan kamu! Tanpa kamu sadar hal yang kamu pamerkan itu bukanlah prestasi tapi hal rendah yang hanya dilakukan oleh lelaki murahan!"
Emosiku mulai menular pada Bang Dewa, dia berjalan kembali ke mejanya dan mengamati Id Card yang kubawa.
Tepat pada saat itu Lala masuk dengan minuman di tangannya.
"Silakan minumnya, Bu!" ucap Lala.
Kuraih gelas itu dan kuhabiskan isinya hingga tandas.
"La ... bawa ini ke HR, pecat mereka semua!"
Bang Dewa melemparkan Id Card itu ke Lala, dan Lala langsung melaksanakan perintah tanpa banyak bertanya, meski sekilas ada raut sedih di wajahnya setelah melihat nama-nama yang tertera.
"Maaf, Mah, harusnya papah aja yang pulang jemput Mamah!" ucap Bang Dewa menyesal.
"Udah seharusnya aku tau dunia luar, bukan rumah terus! Selama ini hidupku sebatas kamu, anak-anak, bik Tuti, ibumu, ibuku, kadang-kadang Sila, udah saatnya aku keluar dari zona nyaman dan belajar mendengar dunia!" jawabku.
"Kamu jangan cemas, Mah. Nggak ada lagi yang akan berani ngomongin tentang kamu!" tutur Bang Dewa.
"Udah saatnya aku peduli dunia luar, udah saatnya aku peduli sama pendapat orang lain tentang suami yang selingkuh! Aku capek, ternyata mentalku nggak sekuat itu buat maafin kamu dan kembali sama kamu!" seruku seraya mendorong Bang Dewa menjauh.
"Mah? Apa pun kata orang, yang penting papah udah berubah, dan Mamah adalah orang yang paling tahu gimana kerasnya papah berusaha berubah!" jawab Bang Dewa.
__ADS_1
"Tapi semua orang terlanjur tahu kalo kamu itu b*engsek! Apa pun bisa terjadi termasuk sifatmu yang entah kapan akan kumat lagi," bantahku.
"Mah, jangan diungkit!" ucap Bang Dewa putus asa.
"Aku nggak ngungkit, sebelum aku susah percaya seperti sekarang, aku pernah percaya dengan sangat mudah sama kamu!" seruku lagi.
Bang Dewa tampak berusaha tenang, dia mengacak-ngacak sendiri rambutnya.
"Tenang dulu, Mah. Tenang yah!"
Bang Dewa membimbingku lagi dengan sabar, meski raut wajahnya tampak marah, Bang Dewa berusaha menekan emosinya. Sejujurnya Bang Dewa sudah berusaha keras memaklumiku.
Sebelum ini Bang Dewa tidak pernah sesabar ini, dia akan membalas amarahku dengan amarah yang sama. Andai sikap Bang Dewa masih seperti kemarin, pasti pernikahan ini sudah berakhir dengan mudah. Apa yang membuat Bang Dewa berubah dan berusaha keras mengimbangi emosiku?
Hal kecil seperti tadi sudah menjadi pemicu amarahku. Aku sangat paranoid, level kecemasan dan ketakutanku sudah sangat tinggi, emosiku bisa meledak-ledak hanya karena hal sepele. Apa pun itu, yang bisa mengingatkanku tentang perselingkuhan Bang dewa.
Pendirianku gampang goyah, antara bertahan dan pergi. Semua usaha keras Bang Dewa jelas membuatku yakin untuk bertahan, tapi terkadang hal kecil bisa membuatku ingin berpisah dan mengakhiri.
Aku sangat labil. Sangat plin plan, tidak tahu mana yang harus kudengar, mana yang harus kuabaikan. Aku tertekan, depresi, prasangka buruk selalu melayang membayangkan kemungkinan yang paling melukai.
Tolong aku!
"Ayo kita Dr. Mario, Mah!" ajak Bang Dewa.
"Aku mau pisah aja, proses ini cuma bikin kamu dan aku semakin sakit, Bang!"
"Nggak, Mah! Semua udah kita bahas sebelumnya, jangan mengulang perdebatan Mah!" ucap Bang Dewa sedikit kecewa.
"Jangan mengulang hubungan ini! Dari awal aku udah menyerah, orang lain yang liat juga bingung, sama pendirianku yang plin plan!" seruku tanpa peduli bujukan Bang Dewa.
Bang Dewa mulai terlihat kehabisan kesabaran menghadapiku yang sedang kalap.
"Baik! Ayo pisah!" teriak Bang Dewa tepat di wajahku, nafasku tercekat dengan bentakannya.
"Aku b*engsek, kan?! Aku nggak pantas kamu maafin!"
Mulutku terkunci tidak bisa membalas sepatah kata pun. Seketika emosiku mereda, berpindah pada Bang Dewa yang mungkin kalap.
"Percuma aku berubah!"
"Nggak berguna, kamu ... kamu yang nggak pernah puas sama semua usahaku!"
"Aku buaya! Lelaki murahan, rendahan! Dan kamu wanita tanpa kesalahan yang tersakiti!" Bang Dewa tersenyum kecut menyindirku.
"Kau tau Maira? Perumpamaan yang cocok untukmu saat ini? Dikasih hati minta jantung!"
"Silahkan pergi tapi jangan harap bisa bawa anak-anak!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.