
"Jangan panggil Bang Dewa lagi, May, panggil aja Dewangga, atau Kak Dewa, karena panggilan Bang Dewa cuma berlaku saat kamu jadi istriku," ucapnya.
"Iya."
Bang Dewa menyodorkan telinga dan tangannya kepadaku, matanya menatapku menunggu panggilan untuknya.
"Iya, Dewangga," ulangku.
"Hey, nggak sopan, kamu itu umurnya di bawahku," cebik Bang Dewa.
"Jadi mau di panggil, Kak Dewa? Sila aja manggil kamu cuma nama," protesku.
"Nah ... susah 'kan? Udah bener manggil Bang Dewa, pakai cerai sih, jadi bingung sekarang mau manggil apa," seloroh Bang Dewa.
"Dewangga ... Dewangga ... Dewangga!" seruku kesal.
"Bapak Dewangga!" tegas Bang Dewa.
Oh yang benar saja ....
"Iya, Bapak Dewangga," ulangku kesal.
Minuman baruku datang dan langsung saja kusambar dan kuteguk hingga sisa setengahnya saja. Bang Dewa melihatku dengan puas.
"Kamu nggak minum kopi lagi, May?" tanya Bang Dewa, maksudku Dewangga.
"Enggak."
Dewangga mengangguk-ngangguk sok tahu.
"Ayo salaman! Kita deal semuanya sekarang," ajak Dewangga seraya mengulurkan tangannya padaku.
Aku termangu menatap tangannya yang menggantung, dengan berat kujabat tangan yang hampir 8 tahun menjadi suamiku.
"Terimakasih udah jadi istri yang baik selama ini, maaf kalau aku nggak bisa memenuhi eskpektasimu sebagai suami," ucapnya membuat suasana yang tadinya menyebalkan menjadi haru.
Kenapa aku merasa bersalah?
Aku pun berpamitan, meninggalkan Dewangga di meja tadi. Aku melangkah kecil menuju pintu keluar, langkahku terasa melayang. Di hatiku, ada yang hilang.
Setelah agak jauh aku berhenti dan menoleh kembali ke belakang. Siapa sangka Dewangga masih melihatku, aku salah tingkah, sementara dia tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Bye Maira," serunya.
***
Hari yang kutunggu tiba, rumah dan kamar sudah kusiapkan untuk menyambut kembali kedua putri dan putra bungsuku. Kemarin Dewangga mengabariku kalau dia sendiri yang akan mengantar anak-anak pulang, jadi aku tinggal duduk manis di rumah.
Dua buah mobil memasuki halaman rumah, rombongan yang akan menghangatkan kembali istanaku. Luna dan Lintang turun, mereka menghambur ke arahku.
"Mamah ...."
Kami berpelukan, suasana mengharu biru bisa kembali memeluk mereka, kutahan tangis agar mereka tidak bertanya terlalu banyak. Luna dan Lintang mulai banyak tahu sekarang, aku harus hati-hati.
Kemudian kuhampiri Guntur yang ada di gendongan Leni, kali ini aku tidak kuasa membendung airmataku. Aku sangat merindukan bayiku, Guntur yang kini usianya hampir 6 bulan.
__ADS_1
"May ...." Ibu mertuaku memelukku.
"Maafin aku, Bu," ucapku membalas pelukannya.
"Iya .. ibu ngerti, ibu yang minta maaf udah misahin kamu sama anak-anak selama ini, awalnya Dewangga cuma bilang ini demi kebaikan kalian, biar kalian bisa bersatu lagi, ibu nggak nyangka Dewangga bohong dan kalian justru bercerai kaya gini," ucap ibu dengan penyesalan.
"Bang Dewa bilang begitu, Bu?" tanyaku.
"Iya, makanya ibu bersedia jaga anak-anak selama ini, ibu marah pas tau perceraian kalian udah tinggal ketuk palu, ibu merasa dibohongi," ucap ibu dengan kesal.
"Mungkin Bang Dewa memang bermaksud begitu, Bu, cuma diantara kami emang udah nggak bisa diperbaiki, Bang Dewa nggak ada maksud bohongin ibu," ucapku sedikit membela Bang Dewa.
"Apa kamu benci sama Dewangga karena dia selingkuh, May? Dia udah berubah, ibu jamin," tanya ibu yang belum menerima perpisahan kami, matanya masih penuh harapan.
"Ada satu lagi yang kubenci dari Bang Dewa, Bu," ucapku.
"Apa itu, May?" tanya ibu penasaran.
"Suara dengkurannya," jawabku singkat.
"Hah? Kamu terganggu suara Dewangga ngorok, May?" tanya ibu seraya mengerutkan dahi.
Aku duduk dan meneguk tehku. Kemudian ibu melakukan hal yang sama, sementara anak-anak sudah ramai di kamar mereka. Mereka pun rindu suasana rumah ini.
Sementara Dewangga sibuk mengawasi orang-orang eskpedisi yang membawa mainan si kecil dari mobil dan menata kembali ke kamar mereka.
"Iya, Bu, aku benci," ucapku mengulang, kuambil nafas dalam-dalam.
"Saat aku lelah seharian mengurus anak-anak, dan aku cuma ingin berbagi cerita dengan Bang Dewa, berkeluh kesah sejenak biar bebanku berkurang, tapi ... aku malah mendengar dengkurannya."
"Aku juga ingin Bang Dewa tahu tentang anak-anaknya, kadang Luna dan Lintang menolak makan seharian, atau berantem seharian, sampai aku pusing dan habis kesabaran, tapi belum sempat aku cerita ... lagi-lagi Bang Dewa terburu mendengkur dengan keras."
"Kadang saat ingin mengeluh badanku yang sakit, remuk di sana sini, hanya dengkuran Bang Dewa yang kudengar, seolah semua beban ini cuma tanggung jawabku, seolah mereka ini cuma anak-anakku."
"Aku benci dengkuran Bang Dewa, Bu," tegasku seraya menatap wajah calon mantan ibu mertuaku.
Ibu mertuaku menunduk mengerti apa yang kukatakan. Tangannya meraih tanganku dan mengusapnya perlahan. Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Iya, May. Ibu nggak bisa bela Dewangga lagi, ibu cuma berharap kalian tetap berhubungan baik demi anak-anak," ucap ibu pada akhirnya.
"Iya, Bu."
Setelah semuanya selesai Ibu dan Dewangga berpamitan, Dewangga terlihat sedih, nampak jelas bahwa dia sedang menekan perasaannya. Dia irit bicara, sikapnya pun tidak seperti kemarin yang senang menggodaku.
Sebelum pulang kulihat Dewangga memeluk erat Luna dan Lintang, mereka sangat akrab, tidak seperti dulu. Kemudian Dewangga juga menghujani Luna, Lintang, dan Guntur dengan ciuman. Aku tak kuasa melihatnya, aku memilih berpaling.
Waktu akan menyembuhkan, waktu akan membiasakan.
***
Hari bahagia ini berlalu dengan gembira, kini aku kembali tidur berdua dengan Guntur. Aku memeluknya sepanjang hari ini. Aku rindu begadang karenanya, meskipun dulu hal ini sangat melelahkan.
Suara ketukan pintu terdengar, kusibak selimut dan bergegas membukanya.
"Luna?" Gadis kecilku berdiri di depan pintu kamarku lengkap dengan selimut bergambar lumba-lumba kesayangannya.
__ADS_1
"Luna boleh bobo sama Mamah?" tanya Luna.
"Boleh sayang, sini masuk."
Kugendong tubuh Luna yang sudah cukup membuatku kewalahan. Sosok gadis kecil yang kehadirannya membuat duniaku dan dunia Dewangga pernah menghangat. Anugrah yang membuat duniaku berubah.
"Luna kangen Mamah," ucapnya ketika kubaringkan dia ke kasur, sementara Guntur sudah terlelap.
"Mamah juga kangen Luna," ucapku seraya menyibak rambut panjang luna.
"Mamah udah sehat? Mamah gendutan sekarang, udah nggak kurus lagi, Luna seneng liat Mamah sembuh," ucap Luna membuatku terkejut.
Apa yang Dewangga katakan padanya selama ini? Pasti tidak mudah membuat Luna mengerti.
"Memangnya Luna tau mamah sakit apa?" selidikku.
"Kata papah Mamah sakit ini," jawabnya seraya menyentuh dadanya.
"Papah bilang Luna harus jagain Lintang sama Guntur selama Mamah berobat, Luna kangen sama Mamah tapi kata papah kalo Luna telepon malah bikin Mamah sedih, jadi Luna kuat-kuatin biar nggak kangen Mamah," ucapnya lagi dengan polos.
"Oh gitu ... terus?" tanyaku seraya menahan haru, aku merasa bersalah, bagaimana pun mereka adalah korban dari keegoisanku dan Dewangga.
"Kata Papah kalo kangen Mamah cukup doain Mamah biar cepet sembuh, biar kita bisa kumpul lagi," lanjutnya.
Dewangga sama sekali tidak mengatakan perpisahan pada mereka, bahkan pada ibu. Padahal jelas-jelas dialah yang menggugatku, bahkan memperlakukanku dengan buruk.
"Tapi ... Luna tahu kan? Kita nggak tinggal bareng lagi sama Papah," tanyaku hati-hati.
"Iya, tahu," jawabnya mengangguk.
"Papah bilang, pengobatan Mamah sangat mahal, jadi papah harus kerja keras nyari uang buat biaya pengobatan Mamah, jadi papah bobonya di deket kantor, papah janji kok ... buat nengokin kita kalo lagi nggak sibuk," jawab Luna.
Isi perutku terasa menguap, aku kehabisan kata untuk mendengar cara Dewangga memberi pengertian pada Luna.
"Mamah sehat-sehat ya, Luna janji nggak nakal lagi, nggak bikin Mamah marah, Luna akan sayang dan ngalah sama Lintang sama Guntur juga, Luna nggak mau pisah sama Mamah lagi," ucapnya penuh haru. Gadis kecilku sudah mulai besar rupanya.
"Iya sayang."
Kuusap perlahan rambut luna, tidak lama kemudian Luna pun terlelap dalam pelukanku.
Semesta sedang mengujiku. Apakah semua pasangan yang akan bercerai mengalami seperti ini? Menggebu-gebu pada awalnya, tapi saat pembacaan talak di depan mata aku malah ragu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1