
"Mah? Kamu kenapa?" tanyaku sekali lagi.
"Kamu bisa sakit lho kaya gini."
Aku panik malihat Maira menyambangiku dalam keadaan seperti ini, bukan lagi panik karena takut ketahuan seperti dulu, tapi panik melihat Maira yang kacau.
Kurangkul Maira yang pucat karena kedinginan, tapi tiba-tiba Maira menolak rengkuhanku dengan keras.
Nafas Maira terengah-engah, dia sangat kacau.
"Mah? Ada apa?" tanyaku khawatir.
Perlahan kugiring Maira menepi di sudut tempat itu, Maira pun mengikuti, sadar apa yang sedang terjadi tidak ingin menjadi konsumsi orang ramai. Maira tidak lagi menolak rangkulanku.
Apa yang terjadi? Apa Maira dirampok? Kecopetan? Atau dihipnotis di jalan?
Kupesankan segelas teh panas, dan pelayan juga meminjamkan handuk untuk Maira. Maira menerima gelas teh dengan tangan gemetar, lalu kubantu Maira mengeringkan rambutnya.
Aku tidak harus buru-buru bertanya, ketenangan Maira perlu diutamakan.
"Sudah baikkan?" tanyaku ketika nafas Maira mulai terdengar teratur.
Tiba-tiba Maira menangis. Membuatku semakin panik, apa yang sudah terjadi padanya?
Kupeluk Maira, belakangan ini emosinya yang semakin kacau, naik turun tidak karuan, dan tidak diketahui pula apa sebabnya.
"Semua baik-baik aja sekarang, kamu aman, Mah, Papah di sini," ucapku menenangkan.
"Maafin aku!" ucap Maira terisak.
"Ada apa? Emangnya Mamah kenapa? Apa Luna sama Lintang berantem? Nakal? Guntur sakit? Rewel? Atau apa, Mah?" tanyaku mulai tidak sabar menahan rasa penasaranku.
Maira menggeleng, membuatku semakin bingung.
"Lalu apa yang bikin Mamah kaya gini?" tanyaku.
"Bukan apa-apa, semua karena ... karena diriku sendiri," jawab Maira ambigu, aku masih tidak mengerti arah pembicaraannya.
"Baik ... sekarang dengarkan, papah ada di sini siap mendengarkan apa saja keluh kesah Mamah."
Aku belajar untuk kembali menjadi tempat nyaman bagi Maira berbagi, membuatnya percaya padaku seperti dulu bukanlah hal mudah, masih banyak hal yang Maira tutupi sejak kami memutuskan untuk kembali bersama. Aku masih merindukan Maira yang selalu mengadu hal-hal remeh tentang kehidupan sehari-harinya.
"Aku ngikutin kamu," tutur Maira lirih.
"Apa?" tanyaku memastikan, aku hampir tidak percaya apa yang Maira katakan.
"Aku takut kamu selingkuh!" tutur Maira dengan pandangan mata yang menyesakkan.
Takut aku selingkuh? Sudah sekeras ini usahaku untuk berubah, dia masih takut? Bahkan dalam kondisi hujan, banjir, dan macet dia menyusulku.
__ADS_1
Aku diam dan tercekat, tidak tahu harus apa. Perbuatan Maira membuatku tersinggung dan marah.
"Mamah kesini cuma karena itu?" tanyaku sedikit tidak percaya.
"Papah cuma meeting, Mah, ngerjain proyek, lihat itu semua team papah," ucapku seraya menunjuk ke arah meja tempat teman-temanku, mereka pun mencuri pandang padaku dan Maira.
"Kita udah sepakat untuk buka lembaran baru, Mah, ayo saling percaya, jangan ungkit masa lalu papah lagi papah juga berusaha keras untuk bisa berubah, jadi udah ... udah!" tegurku.
Tidak mudah bagiku berada di titik ini, kenapa Maira tidak menghargainya?
"Aku nggak bisa!" ucap Maira.
Aku kembali diam menunggu lanjutan kalimat Maira, aku merasa pantas untuk dapat penjelasan dari perbuatan Maira kali ini.
"Kenapa, Mah?" tanyaku tidak sabar, karenan Maira sama sekali tidak berniat memberiku penjelasan.
"Aku udah coba ...," ucapnya lagi, kalimatnya terkesan berbelit-belit.
"Coba apa, Mah?"
"Aku nggak bisa percaya sama kamu, aku udah coba untuk nggak curiga lagi, tapi ... aku nggak bisa!" ucap Maira perlahan namun tegas.
Kalimat yang sangat menusuk, mencederai usaha yang sudah kulakukan untuknya. Apa masih kurang?
"Aku tahu kamu pasti marah," lanjut Maira.
"Aku udah coba, aku udah coba!" Maira terlihat putus asa, marah dalam batinku mengendur berganti dengan belas kasihan.
Kupeluk lagi tubuh Maira yang gemetaran, pergulatan batin yang di luar prediksiku rupanya berlangsung sangat sulit. Maira kembali melepas pelukanku, aku menunggunya merangkai kalimat. Sepertinya konflik tersembunyi dalam hatinya sudah mencapai puncak.
"Aku minta maaf karena nggak bisa percaya sama kamu, Bang!" tutur Maira.
"Setiap kamu pergi dari rumah, aku selalu takut. Apa benar kamu langsung ke kantor, atau mampir menemui wanita lain? Apa kamu benar-benar meeting atau sibuk kencan sama wanita lain? Kamu bisa saja menggoda dan bermain mata sampai akhirnya kamu kembali tidur dengan mereka, aku tidak tahu, aku takut, pikiran-pikiran seperti itu nggak bisa kuhilangkan!"
Kutatap Maira yang mencurahkan rasa cemasnya dengan hati yang kecewa.
"Kamu selalu bersikap baik sama aku, dan juga sama anak-anak, aku akui kamu berubah sangat drastis. Sikapmu yang manis dan romantis, perhatian pada kami semua bahkan sampai hal-hal kecil kamu selalu perhatikan. Aku sangat menghargai, usahamu dan ketulusanmu, tapi mimpi buruk itu terus datang, sikapmu sekarang hampir sama dengan sikapmu yang dulu, saat kamu bersikap baik untuk menebus rasa bersalahmu karena sudah tidur dengan wanita lain."
Kalimat Maira lancar namun dia selalu menghindari tatapan mataku, menegaskan bahwa dia masih belum percaya padaku.
"Aku berusaha lupa, selalu kulawan dengan mengatakan pada diriku sendiri kalau semua baik-baik saja. Tapi rasa takut itu terlalu besar dan kuat, takut dikecewakan lagi, dikhianati lagi, dibohongi lagi, aku sangat takut bahwa keputusanku buat maafin kamu itu salah dan keliru."
Maira terlihat putus asa dan buntu.
"Nggak apa-apa, Mah, papah ngerti, semua itu proses, luapkan semuanya. Papah akan terima apa pun gejolak emosi Mamah, papah pasti selalu ada buat bantu Mamah ngelawan trauma itu!" ucapku dengan yakin.
Kugenggam tangan Maira agar dia bisa merasakan dukunganku untuk meredam kecemasannya. Maira menggeleng dan menarik tangannya dari genggamanku.
"Enggak, Bang! Kamu pernah bilang kalau alasan kamu selingkuh adalah karena aku yang selalu curiga dan nuduh berlebihan, kamu ... yang sudah bertekad berubah jadi gerah dan akhirnya justru kembali selingkuh, iya kan?" ucap Maira mengingatkan pada perdebatan yang pernah terjadi.
__ADS_1
Maira benar, dulu dia sangat cemburuan, posesif dan selalu mengekang. Setiap hal selalu membuatnya curiga dan memicu pertengkaran kami. Aku yang saat itu sedang tidak selingkuh justru sengaja selingkuh karena Maira kerap menuduhku tanpa bukti yang jelas. Hanya prasangka yang membuatnya tersiksa dan tidak bisa mempercayaiku.
"Aku yang selalu curiga juga membuatmu tersiksa, kan?" tutur Maira lagi.
"Bang ... rasa takut ini udah nggak bisa kukendalikan!"
Bulir bening kembali lolos dari sudut mata Maira, dia berhasil mengakui semua konflik dalam hatinya dan juga titik lemahnya. Sebenarnya bukan hanya aku yang berubah, bisa kurasakan bahwa Maira pun berubah, dia lebih bijak menyampaikan perasaannya.
"Maaf, Mah, ini semua salahku."
"Bukan ... ini salahku, tanpa kamu tahu aku selalu cek kemana kamu pergi lewat GPS, aku selalu cek isi chat dan email kamu, bahkan kuciumi setiap baju kamu sebelum di cuci bik Tuti, hanya untuk memastikan ada atau enggak parfum wanita lain di baju kamu."
"Lala juga harus melapor siapa saja yang keluar masuk ruangan kamu, jika perempuan, aku harus tahu berapa menit kalian bicara dalam satu ruangan, urusan apa, dan lain sebagainya. Aku lelah!" seru Maira dengan segala emosinya.
"Aku yang salah karena nggak bisa ngasih kamu kepercayaan, padahal jika dari dulu aku bisa berpikir positif dan percaya, kamu akan berubah lebih cepat dan pernikahan kita tidak akan separah ini."
"Aku yang salah, Aku!" teriak Maira bersikukuh.
"Enggak, Mah! Aku yang salah karena udah berkali-kali nyakitin Mamah, ngehianatin Mamah, semua yang Mamah lakuin karena papah yang salah, berhenti nyalahin diri mamah sendiri, papah mohon, kita masih bisa sama-sama berjuang, Mah!" seruku tidak mau kalah.
Kami berdua berada dalam keadaan sulit untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, bagiku dan juga bagi Maira.
"Enggak, aku yang salah!" ucap Maira lagi.
"Mamah nggak akan salah kalau papah nggak salah duluan! Papah yang salah, Mah!" balasku.
"Enggak," tolak Maira.
"Papah yang udah bikin Mamah trauma separah ini."
"Ayo berhenti, ayo berpisah saja!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.