
Risa?
"Hem ... tamat lu, Wa! Kalo terjadi sesuatu gue ada di pihak Maira!" cebik Sila seraya mengemasi berkas dan keluar dari ruanganku.
"Suruh masuk aja, La," ucap Sila pada sekertarisku.
Mau apa lagi perempuan ini?
Belum sempurna pintu tertutup saat Sila pergi, Risa sudah menerobos ruanganku. Lala melihatku dengan kebingungan sambil menunggu perintah. Akhirnya kukedipkan mata mengijinkan dia pergi.
"Bapak Dewangga, maaf saya mengganggu," ucap Risa dengan nada yang dibuat-buat.
"Ada apa?" tanyaku, sementara mataku beralih sibuk menatap layar kerja.
"Saya sibuk, jangan buang-buang waktu, kita nggak punya urusan lagi!" tuturku padanya.
"Hem ... jadi sekarang udah sok sibuk, jual mahal? Atau sebaiknya saya temui Bu Maira aja?" ucap Risa dengan nada mengancam.
Bagaimana Risa bisa tahu, selama berhubungan dengannya kututupi rapat identitas serta urusan pribadiku. Dengan menghapus semua data di ponselnya waktu itu harusnya dia sudah kehilangan jejakku.
"Jangan macam-macam kamu!" Aku mencoba memberinya peringatan.
"Kamu lelaki hidung belang yang udah bikin aku sengsara, saat video itu tersebar di mana-mana dan kamu selamat berkat istrimu, cuma aku yang jadi bulan-bulanan warga sampai diusir, kamu pikir itu selesai?" ucap Risa mulai berani.
"Itu resiko kamu, lagi pula emang hubungan kita udah selesai tepat sebelum kejadian itu, kamu juga udah dapat apa yang kamu mau, jadi jangan lancang atau kamu akan nyesel!" ancamku.
"Oh ... jadi ... hidupmu udah bahagia ya ... Bapak Dewangga?" tanya Risa mengancam.
"Apa lagi maumu?" tanyaku berusaha membuat Risa berterus terang, apa dia akan memerasku?
"Nikahi aku!" jawabnya membuat tawaku tak tertahan.
"Aku nggak main-main! Nikahi aku atau kuhancurkan keluargamu!" ancamnya. Dia pikir dia siapa?
"Nikah?" ulangku mengejek permintaannya yang terlalu lancang.
"Aku bisa ngancurin kamu, keluarga kamu, kerjaan kamu, dan pasti kamu akan kehilangan semua yang kamu punya sekarang!" ancamnya lagi.
"Oh ya? Dengan apa?" tanyaku mengejek rencana konyolnya.
"Dengan membongkar hubungan gelap kita ke publik!" jawabnya dengan yakin, dan aku kembali tertawa terbahak.
"Isi kantor ini udah tahu, bahkan sebagian besar dari mereka udah nggak peduli saking banyaknya gosip tentangku, jadi bukan hal yang baru, nggak akan ada efek apa pun!" ucapku mematahkan strateginya mentah-mentah.
Risa terlihat ragu dengan ucapanku, apa salah jika aku bangga dengan label casanova yang menempel padaku? Lagi pula aku selalu bermain rapi dan bersih. Wanita yang tadinya manis berubah menjadi pemberontak seperti Risa dengan mudah bisa kutangani.
"Pasti bohong!" ucapnya.
"Silakan coba aja!" tantangku.
"Semua rekan kerja dan rekan bisnisku orangnya profesional, mereka nggak peduli urusan pribadi masing-masing, yang penting passion dan profitnya," jelasku padanya.
"Lagi pula masing-masing dari kami punya sisi gelap sendiri-sendiri," pungkasku, berharap nyali Risa menciut.
Risa terlihat kebingungan, aku tahu dia hanya butuh uang, dia datang untuk memerasku. Apa aku bodoh? Tentu saja tidak. Aku hanya bodoh di depan Maira.
__ADS_1
"La ... panggil scurity!" perintahku melalui sambungan telepon.
"Laki-laki jahanam kamu!" makinya seraya menahan tangis, levelnya jauh di bawah Maira.
"Berubahlah, Ris! Siapa tau nanti laki-laki baik yang dateng ke kamu!" ucapku mencoba menghiburnya.
"Aku belum selesai sama kamu! Aku akan bikin perhitungan lewat istri kamu!" ancamnya setelah merasa serangannya gagal total.
"Istriku? Sama!" ucapku sambil menatap matanya yang kalah.
"Kalian para wanita hanya butuh harta dan kehidupan yang makmur. Dia bertahan karena kenyamanan, hidup yang terjamin, apa lagi?" tuturku mencoba mendeskripsikan Maira.
"Dia tidak benar-benar peduli pada kehidupan pribadiku, ingat waktu kejadian di rumahmu? Apa dia peduli dengan siapa aku berkencan? Enggak!" tegasku.
"Jadi ... usahamu, percuma!" ucapku meruntuhkan nyali Risa.
Semoga Risa percaya pada apa yang kugambarkan tentang Maira. Tidak mungkin kutunjukan yang sebenarnya, Risa tidak boleh tahu kelemahanku.
Dua scurity telah sampai dan tanpa menunggu perintah mereka langsung tahu apa yang harus mereka lakukan pada Risa. Wajah Risa terlihat memelas saat dia diseret keluar, aku tidak akan memberinya uang sepeser pun, jika kuberikan pasti suatu saat dia akan datang lagi.
"Lepas!" racaunya.
***
Maira belum banyak berubah, aku mencoba memberinya ruang agar dia merasa nyaman. Aku mengkhawatirkan ucapan ibu yang mengatakan bahwa ibu sudah memberi nasehat pada Maira. Aku takut Maira tertekan, karena aku paham betul cara ibu menekanan anak-anaknya untuk menjadi baik sehingga anak-anaknya justru menjadi liar saat lepas dari pandangannya.
Aku juga mengurangi frekuensi berdebat dengan Maira, dan memilih sibuk mengejar target proyekku. Baru setelahnya akan kuajak Maira dan anak-anak pergi berlibur.
"Maaf, Bu, ada tamu," ucap bik Tuti pada Maira, aku yang sedang menemani Luna dan Lintang bermain pun ikut mendengarnya.
"Bu Sila," jawab bik Tuti.
Akhirnya Sila datang memenuhi janjinya. Aku pun bangkit menemani Maira untuk menemui Sila. Terlihat Sila dan Maira sudah saling berpelukan.
"Maaf May, baru sempet nengokin dede Guntur, habis kerjaan banyak banget, soalnya patnerku lagi sibuk sama urusan pribadinya," ucap Sila seraya menyindirku.
Bingkisan besar di tangan Sila beralih ke Maira.
"Makasih, Sil. Nggak usah repot-repot," ucap Maira berbasa-basi.
"Bik ... tolong bawa ke dalem, sama buatin minum ya," ucap Maira dengan manis pada bik Tuti, aku lupa kapan terakhir kali Maira bersikap manis padaku.
"Hay, Sil, macet nggak?" sapaku seraya berjalan lebih dekat.
"Enggak, Wa, lancar kalo weekend mah!" jawab Sila.
Kami duduk di ruang tamu, dalam kesempatan ini aku mencoba bersikap biasa dengan duduk berdekatan dengan Maira. Tentu saja Maira akan mengira kalau Sila tidak tahu menahu masalah rumah tangga kami.
Dalam obrolan ringan, kubentangkan lenganku kebelakang Maira dan merangkulnya, berusaha bersikap sesantai dan senatural mungkin.
Namun tiba-tiba Maira menyentakkan bahunya untuk menolak rangkulan dariku. Aku pikir di depan Sila dia akan berpura baik-baik saja.
"Haduh Wa, gue pengen ngobrol sama Maira doang dong!" ucap Sila mengusirku.
Sontak kubulatkan mataku melotot padanya, namun Sila tidak juga pengertian padaku.
__ADS_1
"Pinjem dulu, Wa, lama gue nggak ngobrol santai, nggak bakalan gue apa-apain kok," ucap Sila lagi.
"Ta-tapi, Sil!"
"Takut banget istrinya diculik, duh sana ke dalem dulu!" usir Sila lagi.
Aku terpaksa pergi menjauh dari Maira dan Sila, padahal aku ingin mendengar obrolan ringan dan santai yang keluar dari bibir Maira. Aku sangat rindu bercanda dengannya, walaupun keramahannya bukan untukku tapi setidaknya bisa mengobati dahagaku.
Sekarang di rumah ada dua pengasuh yang membantu Maira di tambah bik Tuti yang bertugas memasak dan beres-beres. Maira sudah sangat kuringankan tugasnya, walaupun awalnya Maira menolak tapi akhirnya Maira mulai terlihat nyaman dengan suasana rumah yang ramai.
Balkon kamar menjadi tempat yang kupilih untuk mengawasi Maira dan juga Sila yang mengobrol santai di halaman belakang. Luna dan Lintang tampak asyik berenang di temani pengasuh mereka, Maira bisa dengan leluasa mengawasinya.
Apapun yang mereka bicarakan, aku harap Sila mampu membujuk Maira memaafkanku. Tawa Maira yang hangat terjadi di sana, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel milik Maira dari dalam kamar. Aku bergegas menghampirinya, barangkali ada sesuatu yang penting. Entah sejak kapan Maira sering menelantarkan benda pipih miliknya itu.
Saat kuangkat ternyata hanya panggilan asuransi. Memegang ponsel milik Maira rasa penasaranku meronta-ronta. Cerita lengkap bagaimana Maira bisa ada di rumah Risa saat itu masih menjadi misteri. Apa ada yang membantu Maira?
Dengan lancang kugeledah isi chat dan panggilan di ponsel Maira, namun belum membuka jauh, aku tertarik pada sebuah nomor tanpa nama yang terus menelponnya.
Nomor yang tidak asing? Kuperhatikan dan kuingat lagi, ternyata adalah nomerku. Apa? Nomerku menjadi tanpa nama? Kulihat sekali lagi memang benar nomorku.
Rongga dadaku kembali terasa penuh sesak, ingin sekali rasanya marah dan sedih. Baru pernah kurasakan kecewa seperti ini hanya karena seseorang menghapus namaku dari ponselnya.
Ibu benar, sejatinya aku sudah kehilangan Maira. Aku yang membuat Maira terluka dengan perbuatanku dengan menuruti hawa nafsu dan ego. Aku menyesal, sangat menyesal. Kini aku hanya lelaki bodoh yang sangat berharap bahwa waktu bisa diputar kembali.
***
Maira Putri Maheswari
"Sil ... aku tahu kamu kemari karena disuruh Bang Dewa," ucapku pada Sila.
"Eh? Ehm ... iya May," jawab Sila dengan tidak enak hati.
"Aku dateng karena peduli sama kamu, May," lanjut Sila.
"Aku nggak bermaksud sok jadi pahlawan pake bantu-bantuin Dewa, aku cuma pengen dateng sebagai temen!" pungkasnya seraya tersenyum padaku.
Sila, teman sekaligus sainganku sejak kuliah. Penampilannya sekarang membuatku merasa semakin malu, dia sukses, berkarir cemerlang, dan berhasil menjadi wanita yang mandiri.
Sementara aku? Hanya wanita lemah yang bertahun-tahun diam ditindas oleh suami peselingkuh yang selalu semena-mena. Aku rindu diriku yang dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1