KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Usaha Maira


__ADS_3

Dewangga


Maira sudah menghabiskan rasa sabarku, mungkin memang benar, semua baru bisa diperbaiki jika sudah berpisah. Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri akhir-akhir ini, tapi Maira terlalu buta dan tinggi hati.


"La ... cari agen ekspedisi untuk mengambil barang anak-anak di rumah Maira ke rumah ibuku!"


"Iya, Pak."


"Carikan hotel untuk seminggu ke depan!" perintahku lagi.


Aku tidak mungkin pulang pergi ke rumah ibu, terlalu jauh. Aku harus mencari apartemen.


"Baik, Pak."


Aku harus segera membekukan aset Maira, untuk memastikan Maira tidak bisa melawanku di pengadilan. Aku kejam? Tidak juga, kusisakan sedikit agar Maira tidak kelaparan.


"Dewa!" seru Sila menerobos masuk begitu saja.


"Maaf, Pak, udah saya peringatkan Bu Sila tapi beliau memaksa," ucap Lala yang menyusul dengan wajah bersalah.


"Udah, nggak papa." Kukibaskan tangan menyuruhnya keluar.


"Dewa kamu keterlaluan!" maki Sila dengan wajah marah.


"Maira udah ngadu sama kamu?" tanyaku, meski aku tidak ingin tahu.


"Penjahat macam apa kamu? Misahin anak dari ibunya?" maki Sila tanpa ampun.


Kutarik sebatang rokok dari laci mejaku, membakarnya, dan menghisapnya. Merokok bukanlah kebiasaanku, tapi saat hatiku kacau begini hanya rokok yang bisa mengerti keadaanku, selain ranjang.


"Dewa!" seru Sila yang merasa kuabaikan.


"B*engsek, kamu!" makinya, aku sibuk menghisap rokok di bibirku.


"Maira udah kukasih jalan yang mudah, tapi dia justru milih jalan yang sulit, apa itu salahku?" tanyaku seraya menyemburkan asap di wajah Sila.


"Padahal dia baik, merencanakan perpisahan yang minim luka untuk kalian dan anak-anak, tapi kamu malah ngelukai Maira sejahat ini!" seru Sila seraya mengibas tangan menghalau asap di hadapannya.


"Jangan ikut campur, Sil. Kamu tahu apa soal pernikahan!" ucapku dingin.


Aku lelah dan muak menghadapi rengekan wanita. Aku ingin wanita yang bisa menyenangkanku, menerimaku apa adanya. Di saat aku pulang dengan lelah, dia akan menyambut dengan senyuman, memelukku dengan hangat, dan memberiku semangat.


Tapi Maira?


Cih!


Selalu ingin dikejar tanpa peduli aku juga kelelahan. Bukankah pasangan itu harus saling? Lalu kenapa aku yang harus selalu memujanya, aku pun ingin dipuja oleh pasanganku.


Maira tidak memberiku rasa dicintai, dibutuhkan, dan dihargai. Dia hanya membuatku harus mencintai, harus membutuhkan, dan harus menghargainya. Lalu saat aku jatuh dalam lubang perselingkuhan, dia terus menyalahkanku, tanpa bercermin.


"Wa ... kembalikan anak-anak pada Maira, kasian Maira, kasian Guntur yang masih bayi!" lanjut Sila bagaikan seorang jaksa.


"Jangan mimpi!"


"Keluar, Sil, aku nggak mau menemui siapapun yang berhubungan dengan Maira!" usirku.


Sila pergi dengan marah, aku tidak peduli. Dia pikir hanya Maira yang lelah, aku juga.

__ADS_1


Kulempar rokok ke lantai dengan kesal. Kemudian menginjaknya dengan sepatuku. Aku pergi ke atap kantor, ketinggian dan angin kencang biasanya bisa membantuku bernafas dengan baik.


Aku berdiri menatap langit, di depanku gedung-gedung menjulang tinggi. Aku tertawa sendiri menertawakan kegagalanku. Gagal mempertahankan pernikahan dan keluarga yang utuh untuk anak-anakku.


Angin bertiup kencang menerpa wajahku, kekuatannya seperti kekuatan alam yang menamparku. Aku yang rapuh namun bertindak sok kuat. Aku lelaki yang ingin menangis sesekali, walau terlihat tidak pantas. Aku percaya waktu akan cepat berlalu, menuliskan kisah baru yang lebih adil dan logis untukku.


Hari berganti dengan cepat, aku sibuk dan mencoba lupa dengan berbagai pekerjaan menggila.


Sesekali ibu mengadu jika Maira berteriak di depan gerbang memanggil anak-anak. Apa Maira sebodoh itu? Apa dia pikir suaranya akan terdengar sampai ke dalam?


Akhirnya kusuruh ibu memblokir akses Maira, agar ibu fokus pada cucu-cucunya.


Pagi ini kulihat Maira berdiri menungguku di depan kantor, begitu melihat mobilku dia langsung mengambur dan mengetuk-ngetuk kaca memintaku membukanya.


"Bang! Buka Bang, kita harus bicara!" teriaknya.


Wajahnya sangat layu, lingkaran matanya menghitam dan terlihat mencekung. Apa dia sedang berusaha membuatku kasihan?


Maaf, May. Kamu pun harus belajar menghargai.


Kubunyikan klakson berkali-kali, Maira masih saja menggedor mobilku tanpa peduli orang-orang yang mulai memperhatikannya. Tidak ingin banyak berdrama, kuinjak gas tanpa peduli Maira lagi, akhirnya dia terserempet dan jatuh.


Bangun, May! Bukannya ini yang kau inginkan.


Maira masih menunggu dengan keadaan yang menyedihkan di luar kantorku. Aku mengamatinya dari jauh, menghitung kegigihan Maira dan menguji niatnya. Menimbang-nimbang, haruskah kutemui Maira?


Akhirnya hatiku luluh, bagaimana pun hatiku masih sangat mencintainya, hanya saja harga diriku masih terluka. Kulangkahkan kaki hendak keluar dan menghampiri Maira yang menungguiku sejak pagi seperti orang linglung.


Baru selangkah, kakiku berhenti karena melihat seorang pria menghampiri Maira di depan sana.


Sial, Julian!


Masih kupantau tingkah Maira dan Julian, terlihat Julian merangkul Maira dan mereka masuk ke mobil Julian. Mobil Julian pun melaju masuk ke parkiran kantor ini.


"Sial, murahan sekali kamu, May!" gerutuku.


Aku cemburu? Biar saja, rasa seperti ini memang hanya waktu yang bisa mengobatinya.


Setidaknya aku tenang karena anak-anak bersamaku. Membayangkan Maira bersama lelaki lain mungkin menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan ketika harus membayangkan lelaki lain menjadi ayah bagi anak-anakku. Aku tidak rela, maka dari itu anak-anak adalah prioritasku.


Petugas keamanan pasti tidak berani melarang Maira masuk karena dia bersama Julian. Aku berbalik arah dan kembali ke ruanganku dengan kesal.


Aku berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan, namun sialnya, aku tidak bisa fokus. Bayangan Maira dan Julian sangat mengganggu.


Meski aku berusaha untuk tidak peduli, tapi aku sangat penasaran pada apa yang mereka lakukan setelah ini.


Apa Maira nyaman di pelukan Julian?


Apa mereka berciuman?


Atau mereka mesum di kantor?


Murahan sekali Maira!


Dering ponsel membuyarkan pikiranku, ibu?


"Halo, Bu, ada apa?"

__ADS_1


[Halo, Wa? Guntur demam, panasnya tinggi, ibu bawa Guntur ke rumah sakit, kamu pulang ya!] ucap ibu di sebrang sana, suaranya terdengar sangat khawatir.


"Guntur, sakit?" ulangku tidak percaya.


[Namanya aja bayi, ikatan batin dengan ibunya sangat kuat, belum lagi Luna sama Lintang mulai nanyain Maira terus, ibu pusing harus ngasih alasan apa lagi ke mereka, cepet selesein masalah kalian, kasian anak-anak]


"Iya aku pulang!"


Apa harus kuberi tahu Maira? Ah sudahlah, dia sedang sibuk menggoda Julian.


Aku bergegas meninggalkan kantor setelah menyuruh Lala menyusun ulang jadwalku. Kutekan tombol turun pada lift dengan terburu-buru, baru turun satu lantai lift berhenti dan pintu terbuka.


Maira? Oh sial sekali harus berpapasan dengannya lagi. Dia menatapku dengan asam, dan terpaksa masuk meski kami harus berduaan di lift.


Maira diam dan berdiri di depanku. Rambutnya di cepol ke atas dan memperlihatkan lehernya yang jenjang, pasti dia menggunakannya untuk menggoda Julian.


Cih!


Terlihat siku tangannya berdarah, mungkin karena insiden tadi pagi. Jangan merasa bersalah, Dewangga! Maira pantas mendapatkannya.


"Murahan sekali kamu, May!" makiku.


Maira diam padahal aku yakin dia mendengar kalimatku. Maira terlihat mengepalkan tangannya. Diamnya Maira kembali membakar amarahku.


"Dasar perempuan ******!" umpatku.


Maira diam tanpa membalas atau membela diri. Ya tentu saja, dia memang murahan, apanya yang harus dibela.


Beberapa lantai kami lalui dalam diam, jujur aku semakin marah saat Maira menganggapku tidak ada seperti ini. Pintu lift akhirnya terbuka, Maira keluar dan aku mengikuti di belakangnya.


"Aku nggak nyangka, akalmu sangat busuk Dewangga!" ucap Maira tepat saat kita hendak berpisah arah.


Aku pun berhenti tepat saat Maira menyebutkan namaku, dan aku pun menoleh padanya. Aneh sekali dia, tadi aku bicara dia diam, sekarang justru dia yang bicara.


"Sudah selingkuh, berkhianat, sekarang kau bersikap seolah kau pahlawan bagi anak-anak!"


Maira bertepuk tangan menyindirku.


"Rencanamu matang sempurna, aku salut!" lanjut Maira dengan pedas.


"Aku pikir ide pengasuh itu murni karena kamu merasa bersalah, tapi ternyata salah ... itu adalah rencana busuk yang sudah kau siapkan jauh-jauh hari untuk mengambil anak-anak dariku!" seru Maira.


Berani-beraninya dia menuduhku! Padahal aku memang melakukannya dengan tulus.


"Dunia nggak akan membiarkan orang jahat menang terus menerus, Dewangga! Ingat itu!"


Maira berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang sangat marah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2