KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Bahasa Cinta


__ADS_3

Dewangga


Rasa panas membakar terus menjalar ke sekujur tubuhku, ruangan ini seharusnya bisa membuatku merasa dingin, tapi sepertinya api dalam diriku terlampau besar. Menyusul denyutan di kepala yang membuat konsentrasiku semakin kacau, hanya Maira dan Maira yang berkelebatan di sana, padahal Maira ada dalam genggaman tanganku.


Sialnya, Maira berpenampilan sangat cantik hari ini, berbeda dengan pakaiannya saat harus menyambutku di rumah seperti biasanya. Dengan kecantikannya, Maira terus tersenyum pada setiap orang, setiap laki-laki, tidak hanya Julian, tapi setiap orang.


Pandangan mata setiap laki-laki pada Maira seolah mereka pun sama, siap menerkam Maira yang entah kenapa terlihat sangat menggoda. Membuatku semakin kesal dan sakit kepala. Maira terlalu ramah menerima sapaan mereka, dan membalasnya dengan senyuman manis yang harusnya hanya untukku.


Menjepit lengannya sepanjang acara tidak membuatku tenang dan masih was-was pada pandangan lelaki lain di sini. Biasanya aku selalu bangga jika Maira tampil bak bintang pesta, namun sekarang entah kenapa rasanya berbeda. Aku tidak rela tubuh Maira dilihat oleh lelaki lain seperti ini, tidak rela kecantikan Maira menjadi konsumsi publik.


Berhenti tersenyum dan tebar pesona, Maira!


Kuperintahkan Lala untuk memboking satu kamar untukku di hotel ini. Tanpa banyak bertanya Lala segera melakukannya. Tidak ada alasan untuk Maira menghindariku.


Aku masih sah sebagai suaminya, dan dia masih menjadi hakku. Cukup sudah aku bersabar menunggu egonya turun dan memaafkanku. Sejak Maira hamil besar hingga saat ini aku sudah banyak menanggung rindu untuknya. Sudah kutekan rinduku padanya dengan sangat keras, menghormati Maira yang masih marah dan belum rela kusentuh. Tapi rasa cemburu, membuat tembok pertahananku habis. Rasa ini tidak tertahan lagi.


Selesai acara, kepalaku sudah hampir meledak, sakit kepala, dan tubuh yang sudah panas terbakar hasrat dan cemburu. Kutarik Maira dan kupaksa dia menuju kamar yang sudah kusiapkan. Aku tidak peduli lagi, kepalaku sudah sangat sakit dan hatiku sudah sangat merindukan Maira.


"Berhenti!" seru Maira setelah kulempar dirinya.


Apa haknya menyuruhku berhenti? Maira harus melakukan kewajibannya.


"Jangan!" seru Maira lagi seraya beranjak dan mencoba lari.


Dengan mudah kuraih Maira kembali meski dia tetap meronta.


"Lepas! Jangan kurang ajar, Kamu!" seru Maira saat hendak kuraih gaunnya.


"Apa? Kurang ajar? Kamu istriku, May!" ucapku.


Maira kembali memberontak, tapi percuma kekuatannya tidak sebanding denganku. Hingga terpaksa kusobek gaun sial yang membuat Maira terlihat sangat cantik.


Maira terkejut dan semakin takut, sementara diriku semakin kalap tanpa peduli penolakan Maira.


"Lepas!"


"Berhenti!"


"Dasar ba*ingan!"


"Menji*ikan!"


"Aku tidak sudi, lepas!"


Kurasakan Maira mulai menangis, perlawanannya mulai mengendur, mungkin dia kehabisan kekuatan. Aku tidak peduli. Teriakan dan makian Maira, tidak membuatku berhenti, dia bahkan meludahi wajahku, tapi hasratku sudah sangat tinggi, dan penolakan Maira justru membuat sensasi yang menantang.


Berdiskusi dengan Maira selalu berakhir buntu, egonya masih besar dan permintaanya untuk berpisah tidak tergoyahkan. Sudah saatnya aku mengajaknya bicara dengan bahasa yang lain, bahasa cinta. Bukankah tidak ada masalah yang tidak selesai di ranjang?


Harusnya Maira tahu, aku masih sangat mencintainya, rasa ini tidak pernah luntur, dan semua yang telah terjadi adalah proses untuk tetap saling mencintai untuk dan tetap bersama. Tidak ada pernikahan yang mulus, bukan?


Aku bahkan menerima jika ini adalah pengampunannya yang terakhir, kesempatan yang terakhir, kupertaruhkan semuanya jika memang Maira tidak percaya kalau aku benar-benar menyesal dan berubah. Apa susahnya sekali lagi meruntuhkah ego dan memaafkanku sekali lagi. Kenapa Maira begitu egois dan buntu?

__ADS_1


Aku harap bahasa cinta kali ini mampu membuat Maira berpikir jernih dan bisa menerima kesungguhanku.


Maira berbaring membelakangiku, tubuhnya terlihat berguncang sesekali karena terisak. Sementara aku berbaring di sampingnya dengan nafas yang terengah, kesadaranku perlahan mulai kembali.


Kupeluk Maira dari belakang, kupaksa sampai dia tidak lagi memberontak, bisa kurasakan tangisannya yang tidak juga berhenti.


Apa yang salah?


"Puas kamu!" ucap Maira di sela isaknya.


"Mah? A-aku--"


"Aku benci sama kamu!" seru Maira dengan suara yang parau.


Entah kenapa, kalimat Maira kali ini begitu menyinggung perasaanku. Perasaan? Iya, aku masih punya hati.


"Harusnya kamu lakuin itu sama gundik-gundikmu, bukan aku!" seru Maira lagi.


"Stop, May! Gundik-gundik apa? Aku udah nggak kaya gitu, aku cuma mau kamu!" jawabku sedikit marah.


Tidak mudah bagiku untuk berubah, aku berusaha dengan keras mengubur sifat burukku. Tapi kenapa Maira mengungkitnya terus?


Maira berbalik dan menatapku, tatapan yang menghakimi dan penuh kekecewaan.


"Kamu udah melanggar janjimu sendiri, kamu ingkar pada perjanjian kita! Sekarang nggak ada alasan lagi, kamu yang memaksaku berpisah dengan keadaan yang seadanya," ucap Maira.


"Aku akan keluar dari rumah dengan anak-anak, kamu tunggu gugatanku dan kamu nggak berhak melakukan perlawanan apa pun!" lanjut Maira berapi-api.


"May! Aku ngelakuin ini biar kamu sadar dan berhenti minta pisah! Inget anak-anak, May! Mereka butuh kita, bukan cuma kamu atau pun aku!" ucapku menolak.


"Apa kamu pernah hadir dalam tumbuh kembang mereka? Kamu itu egois! Berhenti gunain anak-anak sebagai alasan, karena kenyataannya kamu nggak pernah benar-benar peduli sama mereka!" seru Maira.


"Di saat aku berharap kehadiran kamu dalam pertumbuhan mereka, kamu justru asik mengumbar nafsu dengan gundik-gundikmu! Jadi jangan berlindung di balik anak-anak!" seru Maira dengan tegas.


"Berhenti, May! Berhenti menghakimiku yang dulu!" seruku pada Maira, kini kami bicara dengan nada yang sama-sama tinggi.


"Aku memang, ba*ingan, breng*ek, aku akui, May! Aku bukan suami atau ayah yang baik!"


"Tapi berhenti mengungkitnya terus, aku udah akui dan aku udah minta maaf, aku juga udah berubah!"


"Bisakah kita sama-sama menutup masa lalu? Ayo kita mulai lagi dengan lembaran baru!"


"Egois kamu!" ucap Maira tidak peduli penjelasanku.


"Iya aku egois, lalu apa bedanya dengan keegoisan kamu yang sekarang?" balasku dengan sedikit berteriak, aku mulai putus asa dengan kebuntuan hubungan ini.


"Apa aku harus sujud di kaki kamu sampai kamu percaya bahwa aku sudah berubah?"


"Apa pisah dariku udah menjamin kamu akan bahagia?"


"Kamu layak untuk bahagia dan memetik hasil yang baik karena sudah mengubahku! Ingat, May! Aku!"

__ADS_1


"Katakan! Aku harus bagaimana?" teriakku tepat di wajah Maira.


Maira hanya menangis, dia tertunduk dan tergugu. Kutangkupkan kedua tangan menutupi wajahku. Aku berusaha kembali tenang.


Setelah tenang kupeluk Maira yang masih menangis.


"Aku tahu kamu terluka, kamu sakit hati, dan kamu merasa hancur karena aku berkhianat, maafin aku, May!"


"Aku cinta sama kamu, May!"


Aku paham, Maira hanya ingin diakui lukanya, ingin aku mengerti penderitaannya, dan ingin membuatku menyesal karena sudah berani menyakitinya.


Aku sudah sangat menyesal, melihat air mata Maira terasa sangat menyesakkan, dan isakan Maira yang terdengar sangat berat membuat hatiku ikut sesak.


Aku sudah menyesal!


Kami masih tanpa busana, kupeluk Maira meski dia tidak membalas. Kuusap lembut rambut dan punggungnya, hingga Maira bebas meledakan tangisnya. Kuciumi puncak kepalanya, dengan rasa cinta yang besar dan tulus. Aku berdoa agar pernikahan kami bisa selamat.


Kurasakan aliran sakit hati Maira menjalar lewat kulit yang saling bersentuhan, andai terlihat pasti sudah kuambil dan biar aku saja yang menanggungnya.


Cukup lama Maira menangis dan kurenungi sebagai bagian dari penyesalanku. Tidak mudah melihat orang yang kucintai begitu terluka dan tidak berdaya karena diriku sendiri. Takan kumaafkan diriku sendiri jika Maira tidak bahagia setelah ini.


"Ayo kita pulang!" ajakku pada Maira setelah dia terlihat tenang.


Maira hanya diam dan masih menunduk.


"Apa kamu masih ingin berpisah?" tanyaku.


Maira masih diam.


"Kamu masih bersikeras untuk tetap pisah?" tanyaku tidak percaya.


"Baik, May! Aku rasa sudah cukup menyampaikan niat baikku, kesungguhanku, dan penyesalanku!"


"Pisah atau tidak, semua ada di tanganmu, aku nggak akan maksa kamu buat maafin aku lagi."


"Kalau harus keluar, biar aku yang keluar dari rumah!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2