KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Up


__ADS_3

"Silahkan pergi tapi jangan harap bisa bawa anak-anak!"


"Apa? Nggak bawa anak-anak?" gumamku.


"Iya! Kenapa?" tanya Bang Dewa mencibirku.


"Keberatan? Bukannya sekarang kamu yang egois dan keras kepala minta cerai?"


"Aku kabulkan, tapi jangan korbankan anak-anak demi keegoisan kamu!" seru Bang Dewa lagi, dia benar-benar marah.


Bang Dewa selalu membuatku takluk dengan ancaman-ancamannya. Aku sudah bersiap, karena bagaimana pun anak di bawah umur akan ikut dengan ibunya. Merendahnya Bang Dewa akhir-akhir ini membuatku terlena, sampai di pikiranku hanya pisah dan pisah. Aku lupa pada tabiat Bang Dewa yang bisa melakukan segala cara untuk keinginannya, termasuk untuk anak-anak.


"Anak-anak akan ikut denganku, kamu tahu apa soal mereka? Yang kamu bisa cuma selingkuh dan selingkuh!" sangkalku memberanikan diri melawan Bang Dewa.


Dimana emosiku yang tadi? Kenapa kekuatan dan keberanianku hilang saat Bang Dewa membentakku sekarang?


Lututku lemas dan mulai ketakutan.


"Mungkin aku buruk sebagai suami, tapi aku ayah yang baik bagi mereka, kesempatan sekecil apa pun akan kumanfaatkan untuk kebahagiaan mereka, termasuk berlutut dan merendah sama kamu!" ucap Bang Dewa dengan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya.


Apa Bang Dewa sedang membuatku merasa bersalah sekarang?


Dia mencuci tangan dan menjadikanku kambing hitam atas hancurnya pernikahan kami?


Apa dia lupa kalau dia yang sudah berkhianat?


"Tidak seperti kamu, May! Mungkin kamu istri yang baik, tapi lihat, apa kamu ibu yang baik?" bentaknya lagi, berusaha memojokanku.


"Jangan bercanda, Bang, kamu pintar sekali memutar balikkan fakta!"


"Liat dirimu, May! Psikis kamu labil, mental kamu sakit, apa mungkin hakim akan memberikan hak asuh padamu?" tanya Bang Dewa menghakimiku.


"Kamu nggak punya penghasilan, nggak punya kestabilan hidup, kestabilan emosi, kamu pikir anak-anak akan aman hidup denganmu?"


"Bukankah sekarang anak-anak terbiasa tanpa kamu? Mereka nyaman dalam pengawasan pengasuh mereka, dan Guntur pun nggak banyak minum ASI mu lagi."


"Kamu sibuk menghakimiku dengan semua prasangka dan tuduhan yang nggak berdasar!"


"Kamu sibuk berkutat dengan trauma yang enggan kamu lawan!"


"Kamu sibuk menikmati momen dimana aku merendahkan diri tanpa berpikir untuk memperbaiki apa pun!"


"Kamu pikir semua ini tanggung jawabku, May?"


"Kamu pikir kamu bersih tanpa kesalahan?"


"Cih ... egois sekali seorang ibu sepertimu!"


Apa?


Kalimat tuduhan Bang Dewa benar-benar di luar perkiraanku. Mulutku terkunci, tak mampu membantah dengan kalimat yang cerdas.


Aku sakit mental?


Tubuhku limbung, lututku tidak mampu lagi menahan bobot tubuhku yang tidak seberapa. Aku syok dan terpukul. Aku hanya ingin berpisah dengan cara yang baik, bahkan Bang Dewa sudah lepas dari hatiku. Aku sudah mempersiapkan semuanya secara matang.


Lalu? Saat Bang Dewa berlutut memintaku kembali, hatiku tidak bisa berdusta, dan kembali berharap. Hingga akhirnya hati yang sudah lepas justru terkait kembali. Karena itulah rasa takut diselingkuhi dan dikhianati itu datang kembali, menghancurkanku, dan membuatku lalai pada anak-anak.


Bodoh sekali aku! Harusnya aku tidak berharap!


"May, harusnya kamu paham, aku bukanlah orang yang sabar, tapi kenapa? Kamu malah menguji kesabaranku terus?" ucap Bang Dewa dengan nada bicara yang menurun, kalimatnya terdengar putus asa dan kecewa.

__ADS_1


"Aku mengalah karena sadar aku salah karena selingkuh, dan aku bersabar menghadapi bukan karena aku orang yang senang bersabar, tapi karena aku berusaha memperbaiki! Nggak mudah, May!"


Bang Dewa mundur dan duduk di sofa, membiarkanku terpuruk di lantai begitu saja.


"Kamu lelah? Aku pun sama!"


"Tapi kamu bersikap seolah hanya aku yang berdosa!" lanjut Bang Dewa.


Mulutku terkunci, pikiranku terkurung kembali dalam tabung yang gelap. Menerima semua luapan amarah Bang Dewa tanpa berminat membantahnya.


Cukup lama kami saling terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Inilah Bang Dewa yang sebenarnya, memang bukan orang yang sabar, apa aku salah telah menyia-nyiakan kesabarannya kemarin?


"Pulanglah, May! Rumah itu untukmu saja, kamu yang desain dari awal, kan? Aku dan anak-anak akan pindah ke rumah ibu untuk sementara, kamu duduk manis dan tunggu panggilan pengadilan."


"Apa?" ucapku terkejut.


"Nggak usah repot-repot melawan, karena pasti kamu akan kalah," lanjut Bang Dewa merendahkanku.


"Jangan khawatir, akan kusiapkan tunjangan untukmu," ucapnya.


Bang Dewa berjalan melewatiku begitu saja, dia kembali duduk di balik meja kerjanya. Hatiku terasa perih. Memang aku yang meminta perpisahan, tapi kenapa saat Bang Dewa menghempaskanku, rasanya sesakit ini?


"Jangan ambil mereka, mereka adalah nyawaku," rintihku dengan pilu.


"Apa kamu pantes jadi ibu mereka dengan keadaan kamu yang kaya gitu, May?" tanya Bang Dewa menjatuhkanku.


"Kamu udah dapet apa yang kamu mau, semoga kamu bahagia!" ucapnya sarkas.


"Bang!" bentakku.


"Pergi, May!" usirnya.


"Apa?" gumamku tidak percaya.


"Kalo kamu masih bijaksana sebagai seorang ibu, kamu pasti akan membiarkan anak-anak hidup denganku, karena masa depan mereka jelas akan terjamin!"


Aku bangun dan dengan sisa tenaga kuseret kakiku keluar. Tidak terbesit dalam benakku akan seperti ini jadinya, bahkan tadi saat masuk aku sangat marah dan masih merasa tinggi, kini aku keluar dengan menunduk, mahkotaku jatuh.


Aku menangis dalam setiap langkah, benarkah hidupku hancur?


Taxi yang kutumpangi berhenti di halaman, pintu tertutup dan rumah terasa sunyi. Dengan hati hancur aku berlari menerobos pintu utama. Rasa takut menyeruak tak terkendali.


"Guntur ...!"


"Luna ...!"


"Lintang ...!"


"Ibu ...!"


Akal sehatku mulai menghilang, kususuri setiap ruangan dengan berteriak histeris. Tidak ada jawaban hanya suaraku yang menggema dan bersahutan memanggil Luna, Lintang, dan Guntur bergantian.


"Guntur ...!"


"Luna ... Lintang ...!"


Mereka pergi dengan tergesa-gesa bahkan tidak sehelai pakaian pun mereka bawa, tidak sebiji pun mainan yang hilang, semua masih utuh memberiku luka yang sangat perih.


"Gun-tur ...!"


"Lu-na ...!"

__ADS_1


"Lin-tang ...!"


Aku terus berteriak sesenggukan dengan sisa tenaga, aku sadar mereka sudah pergi tapi aku masih tidak percaya Bang Dewa melakukan semua secepat ini. Aku tidak terima. Aku berharap ini mimpi, aku tidak bisa kehilangan mereka semua.


"Dewangga! Kenapa kau kejam sekali!" raungku dalam tangis yang pilu.


Di rumah sebesar ini aku hanya seorang diri. Menumpahkan sesak yang menghimpit, sangat berlawanan dengan besarnya bangunan surga yang kukira akan hangat dengan ketiga buah hatiku.


"Dewangga! Kembalikan mereka!" raungku lagi menumpahkan semua sesak di rongga dada.


Aku teringat sesuatu, kubuka ponsel dan menyadari ada banyak panggilan tidak terjawab dari ibu mertuaku.


[May? Kenapa Dewa nyuruh kami semua buru-buru pergi ke rumah ibu? Kalian nggak papa 'kan?] tulis ibu di pesan pertama.


[May, ibu udah tahu semua dari Dewa, ibu nggak tau apa yang terjadi, tapi ibu kecewa kalian seplin plan ini, ibu akan jaga cucu-cucu ibu dengan baik, kamu jangan khawatir] tulis ibu di pesan terakhir yang berjarak beberapa menit dari pesan sebelumnya.


Kutekan nomor ibu untuk melakukan panggilan, dering pertama aku masih berharap banyak, sampai dering ke-5 panggilanku masih diacuhkan.


"Angkat, Bu! Aku mohon!" gumamku sendiri.


Aku berusaha menghubungi ibu, dan berjalan mondar-mandir seperti orang gila di dalam rumah. Aku sangat frustasi. Setelah berkali-kali mencoba akhirnya panggilanku dijawab.


"Ibu ... mana Guntur, Luna, dan Lintang?" tanyaku memburu.


[Mereka aman, May] jawab ibu terkesan pelit.


"Jangan pisahin kami, Bu. Bang Dewa mau ngambil mereka dariku," rengekku mengadu, berharap ibu mengerti posisiku yang tidak bisa berpisah dengan anak-anak.


[Maaf, May. Ibu nggak bisa ikut campur urusan kalian, selesaikan dan perjelas status hubungan kalian dan perjelas posisi anak-anak, sebagai ibu hanya bisa menasehati, keputusannya tetap ada di kalian] jawab ibu terdengar dingin.


"Tapi Bu, jangan pisahin anak dari ibunya," ucapku memohon.


[Ibu akan mendoakan yang terbaik]


"Ibu ... aku mohon! Jangan begini! Aku akan ke sana jemput mereka!"


[Percuma, Dewa udah ngasih penjaga di sini]


"Ibu ... izinkan aku bicara dengan Luna dan Lintang," ucapku kembali memohon.


[Nggak usah, May. Kamu cuma bikin mereka nggak betah di sini]


[Sudah, kamu jangan terlalu nangisin mereka kaya gitu, nanti mereka rewel]


"Tapi Bu, Ibu ... Bu ... Ibu!"


Panggilan pun di putus oleh ibu. Kucoba menghubungi lagi tapi tampaknya ibu telah mematikan ponselnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2