
"Berhenti!" teriak Maira.
Aku terkejut dengan reaksinya yang bertolak belakang dengan espektasiku. Rem langsung kuinjak seketika, mobil kutepikan dan tanpa peduli panggilanku Maira keluar dari mobilku dan langsung lari.
"Maira? Tunggu!"
"Mau kemana?"
Lalu lintas sedang ramai Maira terus berlari di sepanjang trotoar tanpa menghiraukan seruanku. Aku pun mengejarnya dengan cepat tidak ingin kehilangan jejak Maira.
Setelah beberapa meter akhirnya tubuh Maira bisa kujangkau, kupegang dengan erat dan kubalikan dia menghadapku.
"Kamu kenapa?!" tanyaku, nafas kami berdua sama-sama tersengal karena berkejaran.
"Kamu pikir gampang apa pura-pura baik sama kamu?" seru Maira di tengah suara bising kendaraan yang berlalu lalang.
"Enggak!"
Maira memukul-mukul dadanya.
"Aku masih sakit, dan aku nggak terima sama semua perlakuanmu!" serunya penuh emosi, Maira juga menahan tangis.
"Tapi aku berusaha menghadapimu dan menerima kenyataan, aku nggak lari!" teriaknya lepas.
"Aku ngerti, dan aku prihatin sama semua yang terjadi sama kamu, aku mau nebus kesalahanku dengan nemuin kamu sama anak-anak, kamu rindu mereka, kan?" jelasku dengan sedikit menaikan suara karna bising kendaraan.
"Memang aku rindu, tapi ketemu sama mereka cuma bikin aku tambah rindu nantinya, kamu pikir enak apa!" bantah Maira.
Maira memberontak dan berhasil melepas tanganku. Dia berpaling dan berjalan menjauh. Aku pun berjalan mengikutinya.
"Maaf, ya, jadi ... kamu mau terus pura-pura berteman kaya gini?" tanyaku menyesal.
Aku sedikit belajar tentang penyakit mental yang di derita Maira, dia masih seperti bom, dan aku baru saja menyentuh pemicunya. Aku hanya harus menunggu dia tenang dan menjauhi pemicunya.
Maira bukannya tidak mau bertemu dengan anak-anak, Maira takut jika pertemuannya justru menambah rasa kehilangannya. Haruskah kuberikan anak-anak pada Maira?
Saat Maira memohon padaku untuk bertemu dengan anak-anak, aku melarangnya, bahkan aku membuang banyak uang untuk menempatkan penjaga di rumah ibuku. Dan saat Maira sudah tidak ingin menemui mereka, aku justru menyesal dan berharap Maira mau menemui anak-anak.
Apa ini permainan Maira?
Sekarang aku sangat ingin mempertemukan mereka, ibuku sudah lelah beralasan pada Luna dan Lintang.
Kuajak Maira kembali ke mobil, tidak lama kemudian Maira mengeluarkan botol obat dan meminum 2 pil yang aku tidak tahu apa itu.
"Aku anter pulang aja ya, May, kamu butuh istirahat," tawarku padanya.
"Nggak usah, mobilku masih di kantor, ke kantor aja," ucap Maira.
"Aku nggak tega biarin kamu nyetir sendiri, aku anterin aja, besok pagi aku jemput," ucapku simpati.
Maira diam sepertinya dia tidak berdaya dan akhirnya mengangguk perlahan. Mobil kupacu menuju rumah dan Maira terlihat sangat mengantuk.
"Makasih, aku masuk dulu!" pamit Maira yang menahan kantuknya dengan sangat keras, padahal aku berharap dia ketiduran di mobilku.
Sayang, Maira memberiku pesan untuk tidak menjemputnya esok pagi, dia mengatakan akan berangkat sendiri dan baru akan menemuiku setelah pekerjaannya selesai.
Sial! Keadaan Maira benar-benar membuatku penasaran. Tiba-tiba datang dan tiba-tiba susah ditemui, mendadak memberi harapan lalu kemudian menghilang lagi.
***
"Papah kapan jemput Luna pulang ke rumah?" tanya Luna melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Nanti ya sayang, nunggu mamah sembuh dulu," jawabku beralasan.
Awalnya aku mengarang cerita pada Luna, kalau Maira sedang sakit sehingga mereka harus dirawat oleh ibuku. Penyakit Maira menular sehingga mereka tidak boleh menjenguk mamahnya.
Akhir-akhir ini Luna mulai rewel dan sering bertanya tentang Maira. Mereka pasti saling merindukan. Aku mulai kehabisan alasan sekarang.
"Bilang sama mamah, Luna janji nggak nakal lagi, nggak jahat sama Dede, dan mau nurut kata mamah, Luna kangen mamah," rengek si sulungku.
"Iya sayang, Luna sabar ya!"
"Apa jangan-jangan mamah sakit karena Luna sering bikin mamah marah?" tanya Luna.
"Enggak sayang, mamah kecapekan, tapi papah janji papah akan nyembuhin mamah secepetnya!" janjiku pada Luna.
Tiga hari lagi sidang perceraianku akan berlangsung. Setelah berpikir banyak hal semalam aku memutuskan untuk memberikan anak-anak pada Maira dengan syarat aku boleh menemui mereka kapan saja.
Aku pun berharap Maira akan tersentuh dengan perubahanku, dan dia akan membuka hatinya lagi. Aku juga berharap kalau Maira akan sembuh.
Akan kuminta Maira berhenti bekerja di kantor kecil itu dan fokus pada anak-anak. Walaupun kami tetap bercerai nantinya, aku akan tetap memberinya nafkah sampai dia tidak lagi kekurangan.
Kuutarakan semua pada pengacara dan memintanya merubah strategi, pada awalnya aku ingin membuat Maira menyesal sudah menyia-nyiakanku.
***
Aku kesal menunggu Maira datang, tepat sehari sebelum sidang kudatangi lagi kantornya setelah jam pulang kantor. Aku tidak masuk dan menunggu di dekat mobil Maira.
"May," panggilku setelah cukup lama menunggu. Maira terkejut melihatku berdiri bersandar pada mobilnya.
"Astaga, kamu ngagetin aja!" serunya.
"Kenapa telponku nggak diangkat, pesanku nggak dibales?" tanyaku mencecar.
"Besok sidang ketiga kita," tuturku.
"Iya aku tau, tapi aku sibuk biar pengacaraku yang dateng," tuturnya membuatku kesal.
"Minggir Bang aku capek mau pulang," usirnya, Maira terlihat tidak tertarik bertemu denganku.
"May kamu kenapa, sih? Aku kayak ketemu dua orang yang beda kemarin dan sekarang," ucapku mulai kehilangan kesabaran.
"Aku nggak sekeren itu, Bang, aku harus menekan diri buat ngobrol setenang itu sama kamu, dan nggak gampang, aku nggak bisa terus-terusan bohongin diri," tuturnya dengan pesimis.
"Aku pikir kamu mau memperbaiki hubungan kita," ungkapku kecewa.
"Iya, tadinya kaya gitu, nyatanya mentalku belum siap, aku nggak sekuat itu," jawabnya sambil terus menghindari tatapan mataku.
"Kita suami istri yang gagal, dan tadinya aku mencoba untuk menjadi temanmu biar kita nggak gagal sebagai orang tua, tapi ... aku belum siap, ketemu kamu itu bikin aku inget semua luka-luka itu, aku masih sakit hati," ucap Maira.
"Jadi ya udahlah aku nyerah saja, soal anak-anak aku pasrah aja," pungkas Maira.
Aku lelah berdebat dengan Maira, tidak jauh dari hal itu-itu saja. Tentang lukanya, tentang sakitnya, tentang traumanya, serta tentang kejam dan jahatnya diriku.
"Aku yakin kamu juga cape, Bang, berdebat kaya gini terus, inilah yang namanya toxic," ucap Maira, apa dia membaca pikiranku?
"Tapi ... aku mau bicara soal an--"
"Nggak usah bahas mereka lagi, Bang, kamu udah menang, bagaimana pun aku ibunya, aku cukup yakin suatu saat mereka yang akan nyariin aku, jadi sekarang mungkin emang harus aku yang ngalah," potong Maira dengan cepat, seolah bicara padaku adalah hal yang sangat dia hindari.
"Tapi aku udah mikir panjang dan memutuskan untuk ngasih mereka ke kamu!" ucapku.
Maira langsung menatapku, pandangan matanya yang tadinya menghindar kini tidak lagi lari.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Maira.
"Iya, kamu nggak salah denger kok, aku nggak mau ribut lagi soal hak asuh anak-anak," jelasku.
"Mereka akan ikut kamu, tapi dengan beberapa syarat." Mata Maira mulai berbinar, seperti bintang yang kembali bersinar karena harapan.
Ya Tuhan, aku telah berdosa karena memisahkan mereka. Walaupun aku juga berhak atas anak-anak, tapi jika Maira yang mendapat hak asuh pasti dia tidak akan menghalangiku menemui anak-anakku. Tidak seperti apa yang kulakukan selama ini.
"Apa syaratnya?" tanya Maira mulai antusias.
"Hem ... pertama ayo kita cari tempat bicara yang enak!" ajakku.
Maira pun mulai bersemangat dan menyetujui ajakanku. Kami makan malam sebuah restoran. Maira begitu tidak sabar namun kusuruh dia makan terlebih dahulu.
"Aku udah selesai, ayo katakan apa syaratnya!" tutur Maira yang menyelesaikan makanannya dengan cepat. Dia terlihat bahagia.
"Pertama, aku tetap boleh menemui mereka kapan pun, dan boleh menghabiskan waktuku dengan mereka jika aku sedang libur," ucapku.
"Tentu," ucap Maira.
"Kedua, kamu berhenti kerja," lanjutku.
"Apa?" Maira terlihat keberatan.
"Kamu nggak usah khawatir, hidup kamu dan anak-anak, akan kutanggung sepenuhnya, lengkap dengan pengasuh, sopir, dan apa pun yang kalian butuh," ucapku dengan bangga, Maira pasti akan senang mendengar kebaikan hatiku ini.
"Nggak bisa, Bang, aku harus tetep kerja!" tolak Maira mentah-mentah.
Bukankah aku menawarkan hal yang sangat enak untuknya? Apa masih kurang?
"Kalo kamu kerja siapa yang jaga anak-anak? Kamu tau sendiri pengasuh nggak boleh dilepas begitu aja, apa penawaranku kurang?" tanyaku heran.
"Bukannya gitu, Bang, mungkin kamu bisa ngomong begini karena kamu masih singel, bisa aja nanti kamu punya istri baru dan istri baru kamu nggak suka berbagi sedemikian besarnya denganku dan anak-anak," ungkap Maira.
Istri baru katanya? Heh, aku bahkan tidak berpikir ke sana.
"Aku nggak mau kejebak di kehidupan yang nyaman lagi, Bang. Zona nyaman itu yang membuat cita-citaku mati akhirnya aku berubah jadi wanita yang membosankan, bukan?" lanjut Maira beralasan.
"Aku harus berjuang untuk anak-anak dengan potensi yang kupunya, aku nggak mau nyandarin hidup sama kamu lagi," ucap Maira lagi.
"Karena kenyataannya yang ngancurin aku bukan orang lain tapi kamu!" pungkas Maira.
"Percuma dong aku kasih hak asuh anak ke kamu, kalo pada akhirnya kamu sibuk dan anak-anak nggak dapet perhatian yang utuh," ucapku kecewa.
Haruskah kutarik keputusanku?
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1