KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Gengaman Tangan


__ADS_3

"Dunia nggak akan membiarkan orang jahat menang terus menerus, Dewangga! Ingat itu!"


Maira berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkanku yang sangat marah.


***


Lihatlah!


Sikap Maira sebelum dan sesudah bertemu dengan Julian sangat berbeda. Tadi pagi Maira terlihat menyesal, andai kutawarkan perdamaian pasti Maira akan menerima apa pun syaratnya demi anak-anak kami.


Sekarang?


Begitu sombong dan angkuh, sama sekali tidak terlihat sedih karena berpisah dengan anak-anak. Maira tidak pantas tahu keadaan Guntur.


Kupacu mobil meninggalkan kantor, samar-samar terlihat bayangan Maira berjalan kaki. Apa dia gagal menggoda Julian? Bukankah masih kutinggalkan satu mobil untuknya? Apa dia gengsi memakainya?


Aku masih ingat saat pertama kali menggengam tangan Maira. Sangat gugup dan berdebar. Seiring waktu berlalu genggaman tangan Maira terasa sangat hangat dan nyaman, aku betah dan yakin dialah rumah.


Hingga kemudian genggaman tangan itu terasa biasa, waktu membuat yang indah menjadi hambar. Namun aku tetap menggenggamnya. Sampai akhirnya, genggaman tangan itu terasa menyakitkan, seperti duri, semakin kencang kumenggenggamnya, semakin sakit pula rasanya.


Aku tidak tahu harus bagaimana, karena jika aku diam, duri-duri ini semakin dalam menusukku. Jika aku memberontak dan berusaha lepas, bekas tusukan duri itu pun akan meninggalkan lubang dan mengucurkan darah yang entah kapan akan berhenti. Bertahan sulit, dilepas sakit.


Andai Maira bisa sekali lagi mengalah, aku yakin kita akan bahagia, hingga duri-duri ini akan mati dengan sendirinya.


Mungkin aku egois, namun beginilah kenyataannya. Aku baru sadar dan bertekat kuat untuk berubah setelah melihat wajah Guntur, anak lelaki yang akan menjadi penerusku. Rasa cintaku pada Maira yang menghambar mulai kembali hangat dan berwarna sejak saat itu.


Cih!


Maira saja yang terlalu egois! Takan kubiarkan Maira memisahkanku dari anak-anak. Apa pun yang terjadi, akan kupastikan anak-anak tetap denganku. Dengan, atau tanpa Maira.


Bukankah aku sudah berbaik hati dengan melepaskannya? Membiarkan duri-duri itu tercabut dan meninggalkan lubang luka serta darah yang mengucur, Maira pikir aku senang? TIDAK!


Setelah 2 jam berkendara akhirnya aku sampai di rumah sakit tempat Guntur dirawat. Ibu menghambur menyambutku.


"Gimana keadaan Guntur, Bu?" tanyaku cemas.


"Panasnya nggak turun-turun, dokter bilang Guntur menderita fimosis, dan harus disunat biar keadaanya bisa normal lagi," tutur ibu.


"Fimosis, apa itu?"


"Ah, pokoknya harus disunat, lebih baik kamu kasih tau Maira, gimana pun keadaan Guntur akan lebih baik kalo ada ibunya!" tutur ibu.


"Maira nggak bisa dihubungi, Bu, lebih baik kita berusaha sendiri semampu kita, nggak usah ngandelin Maira!" ucapku sedikit berbohong.


Ibu pun menyerah dan harus menelan kecewa mendengar kebohonganku tentang Maira, maafkan aku, Bu.


Guntur menjalani operasi dengan lancar. Siapa bilang kita butuh Maira? Ada pengasuh yang selalu menjaga Guntur, yang tidak pernah mengeluh dan membuatku pusing dengan segala aduannya. Cukup kutambahi gaji bulanannya.


Maira adalah wanita yang berpenampilan sederhana, tapi dirinya terlalu rumit tidak sesederhana penampilannya. Hal remeh saja bisa membuatnya mengadu dengan sangat padaku.

__ADS_1


***


Hari ini meeting di kantor membuatku harus bertatap muka dalam waktu yang lama dengan Julian. Betapa muak melihat wajahnya, namun ada proyek berharga yang harus kujaga.


Kutahan diri untuk tidak bertanya prihal Maira, namun rasa ingin tahuku terlalu besar.


"Kamu lagi sama Maira sekarang?" tanyaku seusai meeting dengan bahasa yang santai.


"Istrimu?" tanya Julian sambil mengernyitkan dahinya.


"Kalian bahkan pelukan di depan kantor kemarin lusa?" lanjutku menyindir.


"Oh ... yang itu," ucap Julian berhasil mengingat.


"Aku cuma simpati, kenapa kamu cemburu? Bukannya kalian mau cerai?" tanya Julian dengan lancang.


Aku berusaha tenang, gengsi rasanya jika harus mengakui cemburuku pada Julian.


"Oh ... nggak papa, kalo kamu suka ambil aja!" ucapku menguji Julian.


"Kenapa kamu sepicik itu, Wa?" cebik Julian mengeles.


"Picik katamu? Aku juga liat kalian berpelukan masuk ke mobil!" tuduhku.


"Maira hampir kehilangan kesadaran, dia kelaperan, badannya menggigil dan keadaannya sangat lemah. Apa aku salah nolong Maira?" tutur Julian.


Benar, saat pagi Maira pun sudah terlihat begitu payah. Ah, bagaimana ini?


Aku kesal namun tidak bisa marah, apa aku keterlaluan pada Maira? Kenapa aku malah menyakitinya seperti ini?


"Oh iya, aku juga ngasih Maira pekerjaan," tutur Julian seraya memasukan kedua tangan kedalam saku celananya dengan gaya yang sok keren.


"Pe-pekerjaan?" tanyaku terkejut.


"Maira bilang dia butuh kerja, kebetulan aku butuh desain interior untuk kantor baruku, Maira arsitek 'kan?" tutur Julian.


Aku tercekat, mengingat kalimat jahatku pada Maira, bahkan aku mengatainya wanita ******. Tapi ... bisa saja Maira meminta pekerjaan sambil menggoda, bukan? Kau tidak bersalah Dewangga!


"Aku nggak nyangka bunga seindah Maira justru layu di tanganmu, Wa!" cebik Julian padaku.


"Sudahlah, lain kali jangan bahas hal di luar kerjaan denganku! Walaupun sebenarnya aku malas bekerja sama dengan orang yang nggak punya hati macam kamu!" ucap Julian seraya pergi tanpa membiarkanku membalas satu pun kata-katanya.


Maira kerja? Dulu memang aku yang melarangnya. Pantas saja gaya bicara Maira mulai berani, apa dia berniat melawanku di pengadilan? Heh, gajinya pasti tidak seberapa, aku tidak perlu mengkhawatirkannya.


Aku kembali ke ruanganku dengan sangat kesal, membayangkan Maira yang nantinya akan sering bertemu dengan Julian. Kubanting foto besar dengan potret Maira, beberapa hari lalu baru kuturunkan namun belum sempat kubuang. Kini kaca berserakan namun wajah Maira masih tampak tersenyum di lantai.


***


Maira P. M.

__ADS_1


"May, lebih baik kamu fokus perbaiki hidup! Dewangga pasti udah nyiapin pengacara terbaik, kamu mau kerja pontang panting juga nggak bisa bayar pengacara yang lebih baik dan lebih licik dari pengacara Dewangga!" tutur Sila meruntuhkan harapanku.


Mataku terpaku melihat surat panggilan dari pengadilan yang tergeletak di meja.


"Kamu kok gitu, Sil? Aku nggak bisa nyerah gitu aja, aku nggak bisa hidup tanpa anak-anak!" tolakku.


"Bukan begitu, May! Ini mengalah untuk menang namanya," tutur Sila lagi.


"Terus apa maksudmu, Sil? Aku lagi nggak bisa mikir berat, otakku buntu!" keluhku seraya menyangga kepala dengan tangan kananku.


"Sulit kalo harus ngelawan Dewangga, lagi pula semua omongan Dewangga ada benarnya. Keadaan kamu lagi nggak menguntungkan, May!" ucap Sila tak kumengerti.


"Kalau pun kamu bertarung habis-habisan dan berhasil memenangkan hak asuh anak, terus anak-anak mau sama siapa? Sementara kamu harus kerja, ke pengasuh lagi, kan?"


"Mending begini, anak-anak dirawat sama pengasuh dibawah pengawasan mertua kamu dan yang bayar Dewangga. Kamu bisa fokus kerja, nata hidup, dan kalo keadaan kamu udah membaik kamu bisa perlahan ngambil mereka."


"Toh itu anak, May. Dewangga nggak akan bisa mutus ikatan kalian! Percaya, deh, suatu saat mereka yang akan dateng sendiri ke kamu!"


Meski saran Sila cukup masuk akal, namun terdengar sangat berat. Bagaimana pun hidupku selalu tentang mereka, dari awal membuka mata sampai malam saat mata terpejam, kesibukanku hanya mengurus mereka. Lalu tiba-tiba mereka hilang begitu saja dari pelukanku? Tidak mudah.


Aku hanya bisa terisak menahan rindu pada buah hatiku, dan mengutuki Bang Dewa yang ternyata begitu tega.


"Sulit, Sil. Apa aku kuat hidup tanpa mereka?" rintihku.


"Manusia itu mahluk yang bisa beradaptasi, aku yakin kamu pasti bisa, May!" ucap Sila memberiku semangat.


Kulipat kedua lenganku di atas meja dan membenamkan wajahku di dalamnya. Kurasakan tangan Sila menepuk punggungku perlahan.


"Tolong aku Sil, aku harus gimana? Harus apa?" tanyaku putus asa.


"Ehm, kita tetep cari pengacara, tapi nggak usah berharap terlalu tinggi, kasarnya kamu udah siap menerima kenyataan terburuk nantinya!" tutur Sila, dan aku berusaha fokus dan mendengarkan.


"Terus kita ke psikolog kalo perlu ke psikiater, biar kita tahu seberapa parah trauma kamu sama Dewangga, dan kamu harus sembuh!" usul Sila berapi-api.


Melihat Sila yang begitu bersemangat, jiwaku bangkit dan berusaha berpikir positif.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2