KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)

KETAHUAN SELINGKUH (Maafkan Aku!)
Apakah Adil?


__ADS_3

Sementara aku? Hanya wanita lemah yang bertahun-tahun diam ditindas oleh suami peselingkuh yang selalu semena-mena. Aku rindu diriku yang dulu.


"May," panggil Sila menyadarkanku dari lamunan.


"Iya ... maaf aku malah ngelamun," ucapku salah tingkah.


"Ayo bicara hal lain, biar kamu nyaman," ajak Sila dengan hangat, aku terlanjur rendah diri.


"Bicara hal apa, Sil? Kehidupanku sehari-hari ya begini, anak-anak dan rumah, terus ... Bang Dewa yang ... yang terus nyakitin aku! Aku bukan Maira yang dulu, Sil," ucapku dengan jujur.


"Aku nggak kaya kamu yang berwawasan luas, cantik, menarik, mandiri ...." Kuhela nafas dengan panjang menyadari betapa kupernya diriku sekarang.


"May ... nggak papa, cerita aja kalo emang bisa bikin kamu lega." Sila meraih tanganku yang mengepal. Sudah jadi kebiasaanku ketika merasa cemas, sedih, atau marah, aku akan mengepalkan tangan terkadang meremasnya, bahkan tidak jarang mencakarnya sendri.


"Aku tetap Sila yang dulu, temen kamu!" lanjutnya, dari sinar matanya memancar tangan yang terulur padaku yang terjebak di lubang yang gelap.


"Kamu juga hebat May, bisa jadi ibu dengan tiga anak yang lucu, aktif, dan sehat kaya mereka. Jangan insecure, justru aku yang iri karena sampe sekarang aku masih belum berani buat nikah!" ucap Sila berusaha membesarkan hatiku.


"Dan tentang Dewa, suamimu, kamu udah hebat banget bisa bertahan di titik ini. Aku nggak nyangka sama sekali kamu bisa tahan dengan perbuatan buruk Dewa," tutur Sila menguliti kesakitanku.


"Aku salut karena kamu bisa mengalahkan segala bentuk idealisme yang dulu melekat banget sama kamu ... demi anak-anak, demi malaikat yang lucu, kamu ibu yang hebat May, rela menderita demi mereka!"


Ucapan Sila sedikit membuatku terharu, perjuangan yang sangat tidak mudah sampai aku kehilangan jati diri. Terkadang aku lupa siapa aku, tuntutan untuk terus memaklumi perbuatan jahat bang Dewa demi menjadi sosok ibu pelindung kebahagiaan anak-anaknya.


"Itu bukan hal hebat, Sil. Itu memalukan!" jawabku merasa malu, malu karena menjadi wanita bodoh yang berkali-kali dikhianati tapi masih berusaha memaafkan.


"Dewa emang keterlaluan!" kutuk Sila.


"Ehm, bukan Sil, mungkin juga aku kok yang salah, yang nggak bisa jadi istri yang baik buat Bang Dewa," sergahku.


"Aku ... terus bertanya salahku dimana, salahku apa, harusnya tanpa banyak tanya aku bisa bercermin bahwa sekarang aku cuma wanita bodoh yang jauh dari selera Bang Dewa!" lanjutku.


Sila hanya diam seolah sengaja memberiku ruang untuk bercerita.


"Aku ... selalu menuntut Bang Dewa untuk cinta terus ... tanpa diimbangi usaha memantaskan diri untuk layak terus dicintai. Aku ... bukannya nggak usaha, Sil, aku ... aku ... nggak sempet, aku ...."


Kalimatku terhenti dan berat untuk kulanjutkan lagi. Aku ragu apa wanita seperti Sila yang berbeda dunia denganku bisa mengerti betapa lelahnya aku?


"Kamu capek ya, May," ucapnya berusaha menenangkanku, Sila berusaha keras memahamiku yang kacau balau.


"Aku harus gimana ya, Sil?" tanyaku seraya tersenyum, senyum yang pias dan hambar, senyum yang sangat menggambarkan jiwa dan pikiranku sekarang.

__ADS_1


"Kamu nyesel nikah sama Dewa?" tanya Sila, matanya masih menatap mataku. Sila, yang juga mantan kekasih bang Dewa. Aku menyesal dulu bangga karena berhasil menang darinya. Kesombongan yang bodoh yang sangat kusesali.


"Ehm ... nyesel? Kayaknya enggak, sih, lebih ke arah prihatin aja sama keadaan dan nasibku sendiri. Kan ada anak-anak yah, kalo aku nyesel nikah sama Bang Dewa kayaknya nggak adil buat anak-anak."


"Iya juga, sih. Luna, Lintang, sama Guntur pasti bangga banget punya mama kaya kamu, May," ucap Sila terlihat sangat berhati-hati, sepertinya dia takut menyinggungku. Jika dalam keadaan normal sepertinya Sila sudah mengolok kebodohanku.


Aku berusaha menepis pikiran burukku tentang Sila, tetapi rasa curiga dan waspadaku memang selalu muncul bahkan terkadang bisa berlebihan. Terlalu sering disakiti, dan ditipu habis-habisan oleh Bang Dewa membuatku kehilangan rasa percaya dan rasa aman pada siapa pun.


"Bisa di titik ini, sudah hebat banget May, aku ... paham betul prilaku Dewa pas nggak ada kamu," ucap Sila masih dengan berhati-hati, aku paham maksudnya bahwa Sila tahu persis perselingkuhan bang Dewa.


"Kamu berhak buat bahagia, May, kalo emang kamu merasa udah nggak sanggup ya udah, kamu bisa milih jalan yang lain," ucap Sila mencoba memberiku pandangan.


"Lagi pula kalo sampai anak-anakmu tahu perbuatan papahnya dan mereka juga tahu pengorbanan mamah mereka yang hancur-hancuran, hanya demi kebahagiaan mereka, apa mereka nggak terbebani dengan rasa bersalah, May?"


"Maksud kamu?" tanyaku.


"Maafkan perbuatan yang pantas dimaafkan, dan jangan biarkan anak-anakmu belajar memaklumi kesalahan fatal dari seseorang yang mereka cintai," jawab Sila begitu mengena.


"Kamu benar, Sil, segala daya dan upaya udah kuusahakan buat bang Dewa, aku bertahan dengan marah, emosi, tidak terima, sakit hati, dan sekarang aku pias, nggak berasa apa-apa lagi, aku ... mati rasa, Sil!"


"Bayangin ... saat perutku mulai besar Bang Dewa kembali khianatin aku, aku masih diem, berusaha nipu diriku sendiri kalo ini cuma pelarian karena Bang Dewa bosen," tuturku seraya tersenyum, bahkan tertawa menertawakan kebodohanku saat itu.


"Sampai kutemukan bukti transfer berkali-kali, dan ... eehm ...." Aku mencoba menahan tangisku.


"Kutemukan bukti Bang Dewa tidur sama perempuan itu!" Akhirnya aku berhasil mengatakan hal tersakit ini.


"Aku bodoh ya, Sil?" tanyaku berusaha mengakui sebelum dikatai oleh Sila.


"Enggak, May," tolak Sila terlihat sangat kasian padaku.


"Aku hamil dengan hati yang ... ehm, sudah kebas, aku bahkan berharap kalo aku mati aja pas lahiran, pasti Bang Dewa bisa senang karena bebas!"


"May! Jangan gitu!" Sila menyentuh pundakku dan mengusapnya pelan.


"Iya, Sil. Itu cuma pikiranku yang pendek, Guntur lahir dengan tangisannya yang keras tapi perasaanku tetep aja hampa. Aku nggak tahu lagi sedang berjuang melahirkan untuk menyenangkan siapa, aku justru merasa bersalah sama bayi merah itu karena harus punya papah yang breng*ek!"


"May ...." Sila kembali mengusap punggungkku sebagai bentuk dukungan.


"Aku pengen lepas dari semua ini, Sil?" tangisku meledak dan Sila memelukku. Utnung saja Luna dan Lintang telah selesai berenang beberapa saat yang lalu.


Sila membiarkanku menangis, dan semua sesak yang membuatku tercekik perlahan menguap sedikit demi sedikit seiring dengan kejujuranku pada diriku sendiri. Aku hancur, aku tidak sedang baik-baik saja.

__ADS_1


Aku bisa menangkap bayangan Bang Dewa yang mengawasi kami dari balkon kamar. Menyaksikanku menangis harusnya bisa membuatnya puas. Aku tidak akan lagi memintanya berhenti menyakitiku, aku hanya ingin melepaskan diri darinya.


Perlakuan bang Dewa sebenarnya tidak pernah berubah, di dalam rumah yang menjadi istana kami dia selalu memperlakukanku bak ratu. Dia selalu membuatku merasa satu-satunya, sampai aku merasa bahwa dia telah puas hanya dengan cinta satu orang perempuan saja.


Sikapnya selalu manis, sulit dipercaya kalau semuanya palsu, Bang Dewa yang ada di dalam rumah dan di luar rumah seperti dua sosok yang berbeda. Sulit bagiku percaya bahwa pengkhianatan itu dilakukan oleh suami yang terlihat sangat sempurna seperti Bang Dewangga.


"Maaf, Sil!" ucapku seraya menyeka air mata.


"Nggak papa, May," ucapnya seraya mengulurkan tissu padaku.


"May ... aku boleh ngomong sesuatu?" tanya Sila.


"Iya ... silahakan."


"Aku ngerti penderitaan kamu, dan aku paham kalo kamu udah sampai di titik lelah. Aku cuma mau ngasih tahu ... kalo aku baru pernah melihat Dewa menyesal sedalam ini." Sila berusaha meyakinkanku.


"Semua kerjaan kacau, dan aku harus pontang panting nutupin kekurangan Dewa. Aku bersumpah May, Dewa nggak pernah kaya gini, dia selalu profesional."


"Bukan ini poinnya, maksudku ... ehm ...." Sila terdengar sedang mengatur kalimatnya.


"Sejahat-jahatnya seorang laki-laki, sebreng*ek-breng*eknya dia, akan ada titik dimana dia akan benar-benar menyesal dan berubah," ucapnya lagi, aku menyimak dengan seksama maksud Sila yang sebenarnya.


"Setelah kamu bertahan dan bersabar selama ini, setelah kamu terus berusaha menyembuhkan hati hanya untuk disakiti lagi, setelah kamu berusaha untuk terus percaya, berharap dan berdoa. Hingga kemudian Dewa pun berubah, apa adil jika akhirnya kalian harus berpisah?" tanya Sila dengan penjabaran yang panjang.


Apakah adil? Benar ... seperti orang menanam seharusnya ini saatku memanen, tapi ... apa Bang Dewangga berubah?


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2