Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Perpisahan


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama aku telah siap untuk melakukan perjalanan menuju ibu kota dan meninggalkan kota kecil ini. Kota kecil yang sudah lima tahun menjadi tempat pelarian terbaikku, namun baru beberapa langkah aku keluar dari rumah menuju gudang tempat aku menyimpan mobil saat itu langkahku terhenti sesaat. Teringat akan sesuatu yang harus aku bawa sebelum brangkat, aku berbalik masuk kembali kedalam rumah dengan membawa sebuah linggis yang terletak disebelah pintu samping rumah yang menghubungkan dengan halaman belakang.


Aku berjalan menuju ruang keluarga dan membongkar salah satu lantai yang terbuat dari kayu lalu menggali tanah agak dalam dan disana aku mengeluarkan sebuah koper terbuat dari besi, aku membuka koper itu lalu mengambil sebuah pistol, memasukkan beberapa peluru pada magazine, lalu membawa peluru lebih banyak lagi yang aku taruh di kantung celana ku. Aku juga membawa beberapa kotak peluru yang tersisa lalu membawanya ke gudang dan aku masukkan kedalam partisi didalam DB ku sembari menyimpan pistol dibawah jog mobil yang mudah untuk aku jangkau. Jujur saja sebenarnya aku tidak ingin membawa benda ini bersama denganku, namun entah mengapa hati kecilku saat itu mengatakan bahwa aku akan membutuhkannya diperjalanan kali ini.


Nyaris lima tahun sudah benda itu aku pendam didalam tanah, benda itu sengaja aku kubur karena aku merasa hidup di kota ini telah memberikan kedamaian dan ketenangan bagiku. Aku tidak menyangka jika pada akhirnya harus aku kembali lah yang membongkar dan ku ambil isinya. Sepertinya ketegangan akan mulai kembali pada hidupku ketika meninggalkan tempat ini.


"Persiapan sudah selesai, aku harus bergegas" ucapku sembari menghidupkan mesin mobil, lalu segera ku pacu DB ini menuju ibu kota.


Untuk pergi dari kota kecil ini normalnya aku akan melewati pusat kota lalu menuju ke perbatasan, namun saat itu aku lebih memilih memasuki hutan dan memotong jalan agar segera sampai di perbatasan lebih cepat. Tetapi hatiku tiba - tiba merasa tidak tenang, sejenak aku meminggirkan DB lalu menghentikan perjalananku sejenak di pinggir jalan


"Kenapa pikiranku kacau? apa aku meninggalkan sesuatu yang penting?" tanyaku dalam hati


Aku membenturkan kepalaku beberapa kali ke kemudi mobil, kemudian aku teringat kata - kata Charlotta lagi sembari aku mengelus pipiku tepat dimana Charlotta mendaratkan tamparannya. Sebuah kata - kata yang terasa begitu menyakitkan bagiku, saat itu Charlotta berkata 'Aku menganggap mu sampah bukan karena kamu meninggalkan tanggung jawabmu yang lalu, tapi karena kamu membiarkan Aida bertarung sendirian saat ini. Aku harap tamparan tadi sepadan dengan betapa pengecutnya dirimu Andrews Hopkin'


"Aaah benar, aku meninggalkan sesuatu yang penting" gumamku


Aku segera memutar balik mobilku lalu mengarahkannya menuju pusat kota dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa menit perjalanan berlalu aku segera menuju ke toko baju milik Charlotta. Didepan toko yang terlihat baru akan buka itu, aku melihatnya sedang mengarahkan para pekerja untuk menata barang - barang didalam toko. Aku sedikit berlebihan saat itu, jujur saja agak konyol karena aku menabrak sebuah tong sampah didepan toko Charlotta hingga isinya berserakan di jalanan depan tokonya. Ketika DB sudah berhenti, aku segera keluar dari mobilku lalu memandanginya sembari meneriaki namanya.


"Charlotta!!" ucapku dengan sedikit teriak, teriakan dan aksiku membuat orang - orang disekitar memperhatikanku


"Andrews?! apa ini? kenapa?" tanya Charlotta agak terkejut melihatku namun aku bisa melihat senyumnya dari balik wajah kagetnya, tanpa menjawab pertanyaan itu aku berjalan mendekatinya.


Senyuman Charlotta membuatku tenang dan bahagia, aku sempat berfikir dia masih akan marah dan membenciku sejak kejadian aku meninggalkan Aida begitu saja ketika dua petugas kepolisian itu membawa Aida. Dan penyesalanku kini terjadi, aku membawa rasa sesal itu kepada Charlotta dan akan memberinya berita bahagia untuk menebus kesalahanku.


"Terima kasih! aku paham yang kamu katakan, aku memang sampah tapi aku tidak ingin menjadi sampah di depan matamu. Aku akan melakukan perjalanan ke ibu kota dan menyelamatkan Aida" dengan tegas aku katakan itu, aku sangat malu saat mengatakannya namun itu adalah kata - kata terbaik yang bisa aku pikirkan dalam keadaan seperti itu.


Saat itu Charlotta dengan gaun minimalis berwarna merah yang senada dengan warna lipstiknya terlihat begitu cantik di hadapanku, membuat jantungku berdebar tak menentu. Ini adalah kesalahan pertama terbesarku untuknya, padahal aku tahu Charlotta sangat menyayangi Aida. Tapi garis senyum dan tawanya yang cantik itu akhirnya membuatku kembali bersemangat walau sedikit salah tingkah. Aku yakin dia akan memaafkan kesalahanku itu.


Charlotta diam sesaat dan kemudian dia tertawa kecil sembari memandangiku, Charlotta menyentuh pipiku dan aku merasakan kehangatan dari tangannya itu.


"Andrews? ada apa denganmu? Sebuah kalimat perpisahan, hah?" tanya Charlotta dengan nada sedikit menggodaku


"Tolong lah... jangan goda aku disaat seperti ini" jawabku, aku melihat sekeliling ternyata orang - orang terlihat berkumpul disana yang membuatku semakin berkeringat karena malu.


Pria lajang 30 tahun ini seperti remaja di mabuk asmara dan sedang mengucapkan kata - kata perpisahan untuk sementara waktu pada pasangannya, terlebih aku adalah seorang dokter yang terkenal pendiam bagi masyarakat kota ini


"Aku mengerti... tapi aku tidak menganggapnya sebagai kalimat perpisahan, aku akan menunggumu kembali dan tentu bersama dengan Aida" timpal Charlotta, lalu dia menarik lenganku dan mencium bibirku beberapa saat.


Dicium wanita cantik ditengah kota kecil dengan banyak mata memandang sangat meningkatkan adrenalin ternyata, oh ini adalah ciuman pertamaku di kota ini. Lima tahun tanpa kekasih membuatku kikuk dengan situasi ini.


Aku terkejut saat itu dan riuh suara orang - orang semakin membuatku salah tingkah, tapi aku tetaplah pria dewasa jadi aku biarkan saja bibir kami bertaut untuk beberapa saat.


"Charlotta..." ucapku saat kecupan itu berakhir.


Sepertinya ketika ada sesuatu yang menarik perhatian akan mudah bagi seorang wanita untuk memotong pembicaraan, belum selesai kalimatku kemudian Charlotta yang perhatiannya teralihkan pada mobilku pun dengan sigap menyela obrolan.

__ADS_1


"Sebuah DB? Aku tidak pernah tau kamu memiliki ini, seperti james bond ya? Selamat jalan Dokter, aku akan menunggu kedatanganmu" celetuk Charlotta sambil menepuk dadaku pelan dengan kedua tangannya sembari menatap mataku dengan hangat, aku tersenyum dan mengelus kepalanya lalu segera pergi dari tempat itu.


Tentu saja tidak ada yang tahu, dengan rapi aku berhasil menyembunyikan semua yang berkaitan dengan dokter Lee dengan amat sangat baik dan sempurna. Tentu saja sempurna karena semua penduduk disini hanya mengenalku sebagai dokter Andrews Hopkins, walau akhirnya orang dari masa lalu ku lah yang akhirnya membuatku harus kembali pada identitas lamaku dan membongkarnya ditempat ini. Bahkan dihadapan wanita cantik yang sering menggodaku ini.


"Maaf tentang tong sampah itu!" teriakku lagi lalu aku segera memacu DB ku dan meninggalkannya... meninggalkan kota kecil ini, untuk sementara.


"Aku mengatakan itu bukan untuk perpisahan, aku akan kembali bersama dengan Aida" gumamku bersamaan dengan ku sembari ku pacu mesin mobil ini.


Sampai akhirnya aku tiba diperbatasan kota, aku berhenti di sebuah rambu perbatasan selamat tinggal dan selamat datang dari antar kota, aku keluar sembari membawa sebuah obeng minus dan mulai membuat sebuah goresan di tanda selamat datang. Beberapa saat aku menggores aku mulai dapat melihat hasil gambarku, aku menggambar beberapa orang disana yang aku namai Andrews, Aida, Charlotta dengan tulisan "Selamat datang kembali Aida!"


"Kamu harus membaca ini ketika sudah kembali ketempat ini Aida" gumamku, aku kembali menuju mobilku dan segera memacu nya untuk menuju ke ibu kota. Goresan itu akan menjadi sambutan selamat datang kembali untuk Aida.. sang hadiah yang sangat berharga.


Beberapa saat berlalu dan entah sudah berapa lama aku memacu mobilku hingga sampai titik ini, tepat pukul lima Sore aku mendengar suara ponselku berdering. Aku segera mengambil ponsel itu yang terletak di dashboard DB lalu melihat siapa yang meneleponku


"Nomor tidak dikenal?" gumamku dengan agak bingung aku mengangkatnya


"Halo" sapaku dengan nada yang agak menekan


"Dokter...." dari balik telepon aku mendengar suara Aida


Suara itu menjadi tidak asing bagiku, itu adalah suara dengan nada datar milik Aida. Aku memiliki ketenangan untuk sesaat dengan suara itu meskipun aku tahu Aida tidak sedang kondisi terbaiknya, setidaknya dengan dia selamat sudah membuatku bahagia.


"AIDA?!! ini benar AIDA?!" dengan tekanan aku ingin memastikan bahwa pendengaranku tidak salah


"Syukurlah.... Syukurlah... kamu baik baik saja...." ucapku, air mataku menetes deras bersamaan dengan pertanyaan Aida kepadaku. Bagiamana mungkin dia mengkhawatirkan ku, sedangkan dia juga tidak dalam kondisi yang baik.


"Dokter.... Apa dokter baik - baik saja? Aku khawatir dengan dokter setelah kejadian tadi pagi, Dokter menjadi.... sepertiku..." Ucapnya lirih


"Aku baik baik saja Aida... Aku Baik baik saja...." belum selesai kalimatku, aku mendengar ada suara lain di balik telpon itu. Tidak terlalu jelas, namun aku yakin Aida tidak sendirian.


"Suara siapa itu? kamu sedang bersama siapa?" tanyaku dengan nada khawatir


"Aku.... bersama.... dua orang polisi..." jawabannya saat itu membuatku kembali terkejut


"Tunggu aku! aku akan segera menyelamatkanmu!" Ucapku yang akan segera kembali melanjutkan perjalanan


"Dokter benar - benar menyusul ku? senangnya... tapi... bisakah dokter untuk tenang? aku tidak ingin dokter mencelakai diri..." timpalnya


"Apa? jangan pedulikan aku! kamu harusnya mengkhawatirkan dirimu saat ini! aku akan segera menyusul mu" Jawabku


"Mereka memperlakukan aku dengan baik.... dibelakang kursi tempat aku duduk, aku mendapat banyak makanan dan minuman serta memberiku satu boneka, mereka memintaku untuk tenang dan mengatakan atasan mereka memberi kabar bahwa dokter akan menyusul ku, aku senang dokter benar - benar akan menjemput ku" terdengar tenang Aida menjelaskan, aku tidak memiliki kata - kata saat itu karena itu diluar dari apa yang aku bayangkan.


Kecemasanku pupus seiring dengan Aida yang menjelaskan kondisinya saat itu. Aku menjadi amat sangat jauh lebih tenang Aida mendapatkan perlakuan yang baik. Tuan Simon, dialah yang pasti meminta kedua polisi itu untuk memperlakukan Aida dengan baik. Sejak dulu tuan Simon memanglah berhati malaikat, beruntung aku telah mengenalnya dan hubungan kami begitu dekat.


"Benarkah? benarkah kamu diperlakukan baik?" tanyaku ingin memastikan

__ADS_1


"Nak cobalah donat ini, kami para polisi selalu memakan ini saat tugas" terdengar suara lain muncul dari sambungan telepon itu, aku mengenal suara itu....


"Petugas Shane?" Tanyaku kepada Aida


"Ee eem, maaf Dokter aku baru saja menjawab polisi ini. Aku ingin dokter berhati - hati" Aida mengatakan itu dengan sangat tenang


"Katakan pada Dokter itu, Aku akan menilangnya jika menyetir sambil mengangkat telepon seperti itu" Terdengar suara petugas Rick saat itu bersamaan dengan suara tawa keduanya


"Dokter.... aku akan menunggumu... jadi berhati - hatilah...." timpal Aida


"Pasti... aku akan segera menjemputmu" ucapku lalu Aida menutup teleponnya


Aku menyandarkan kepalaku dan berusaha untuk menelaah apa yang terjadi "Benarkah kasus Tuan dan Nyonya West murni kecelakaan? Apakah aku terlalu over thinking terhadap semuanya? apa aku berhalusinasi dengan kondisi saat ini?" tanyaku dalam hati, aku terus berusaha keras memikirkan semua pertanyaan itu. Ditengah lamunanku, aku mendengar ponselku kembali berdering. Perlahan tangan ini mengarahkan layar ponsel ke depan mataku dan melihat siapa yang menelepon, kali ini Tuan Simon yang meneleponku.


"Halo Tuan Simon" Sapa ku


"Apa Aida sudah menelepon mu? mereka akan segera sampai kota dan langsung menuju gedung perlindungan saksi dan korban tempat kamu dulu bekerja" tanyanya. Sesuai dugaan, tuan Simon Lah yang membuat Aida diperlakukan baik.


"Ya... aku sudah menerima telpon itu Tuan Simon..." jawabku dengan nada penuh penyesalan


"Ada apa? apa perjalananmu terganggu karena mobil tua itu?" tanya Tuan Simon


"Tidak... Tidak seperti itu, Mobil pemberianmu ini selalu bekerja sangat baik. Saat ini aku berfikir bahwa aku sudah gila Tuan Simon" jawabku lagi dengan helaan nafas


"Ada apa sahabatku? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya dengan nada lembut, aku tahu Tuan Simon sangat mengkhawatirkan ku. Ketika itu aku hanya terdiam, aku begitu bingung dengan semua yang terjadi.


"Aku bisa saja menyuruh mereka mengantarkan Aida kembali ke tempat mu, tapi aku sangat ingin bertemu denganmu" ucap tuan Simon lagi memecahkan lamunanku


"Tidak bukan seperti itu... aku sangat menghargai ada respon terhadap permintaanku, ini lebih dari yang aku bayangkan saat pertama kali aku menelpon mu Tuan Simon" penuh penyesalan aku katakan itu, tidak lama aku mendengar tuan Simon menghela nafasnya.


"Aku mengerti, jaga dirimu selama perjalanan. Aku dan Aida akan menunggumu. Jika sesuai perhitungan maka Aida akan sampai tujuh jam lagi sedangkan kamu masih membutuhkan tujuh belas jam dari posisimu sekarang. Aku akan terus memantau perjalananmu" Ucap Tuan Simon


"Terima kasih Tuan Simon, Aku akan lebih berhati - hati" timpal ku


"Ingat, mobil itu memang mampu berjalan lebih dari seratus km/jam namun untuk kondisimu saat ini itu adalah keputusan yang tidak baik, hahaha... seperti masa lalu ya. aku selalu memantau perjalananmu dan memberikan peringatan yang mungkin kamu butuhkan" candanya saat itu


"Aku berterima kasih untuk kebaikan anda dimasa lalu dan saat ini Tuan Simon" timpal ku dengan suara tawa kecil


"Baik, berhati hatilah" Tuan Simon menutup telepon


Aku merasa seperti orang bodoh saat itu "siapa aku? Seorang pahlawan? sedang melakukan perjalanan hebat untuk menyelamatkan seseorang seperti James Bond?" gumamku sembari aku memukuli kepalaku sendiri saat mengucapkan itu.


"Apa aku benar benar sudah.... Gila?" ucapku lalu aku keluar dari mobilku, aku berjalan ke depan mobil untuk duduk di kap mobil sembari memandangi langit senja saat itu untuk menenangkan pikiran dan hatiku.


"Apa aku masih bisa berfikir normal? aku membutuhkan kewarasanku untuk merawat Aida" ucapku lagi.

__ADS_1


__ADS_2