
Hari berganti sejak pertama kali aku bertemu langsung dengan Celline yang merupakan pasien ke dua ratus ku pada akhir tahun ini, pagi itu aku baru sampai kantor dan melihat Rachel sudah menungguku di lobby gedung tidak seperti biasanya dimana dia selalu menungguku diruang kerja. Aku mengabaikan kebiasaan barunya ini sambil terus berjalan menuju ruanganku, begitu pula dengan Rachel yang berjalan membuntuti ku menuju ruang kerjaku.
"Kemarin aku yang bertugas menjaga Celline dan aku rasa keadaan dia lebih parah dari yang mungkin kamu duga" celetuk Rachel padaku sambil terus mengikuti ku berjalan.
"Ada apa?" tanyaku singkat
"Aku rasa dia memiliki kepribadian ganda, untuk diagnosis pertama aku bisa sebutkan dia terkena Bipolar. Mungkin pendekatan mu bisa dirubah untuk pasien kali ini, dokter Lee" Rachel berusaha menjelaskan diagnosanya padaku dan memberikanku saran
"Bipolar? tidak ada masalah, apa bedanya?" tanyaku dengan tenang
Aku dengan tingkat keberhasilan yang tinggi dan juga terbukti sukses menangani ratusan pasien merasa jika yang Rachel katakan bukanlah suatu masalah, analisisku terhadap Celline tidak akan berubah dan sudah sangat tepat bagiku. Tidak mungkin seorang dokter Lee membuat kesalahan dan melewatkan hal kecil sekalipun.
"Kalau pasienmu bipolar, kamu harus pastikan kamu tidak mencatat datanya saat dia pada fase maniak, Dokter Lee" celetuk Dokter Mark menyela pembicaraanku dengan Rachel, ketika itu aku kebetulan melewati ruang kerjanya dan tidak sengaja bertemu ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ruanganku.
"Dokter Mark" ucapku memberi salam kepadanya, aku kesal karena dia menguping pembicaraanku dengan Rachel tentang pasienku.
"Datamu akan bertolak belakang jika kamu tidak tahu jadwal pasang surut fase maniaknya, aku hanya mengingatkan dirimu agar kamu tidak terlalu besar kepala demi mengedepankan kesehatan pasien" ucap Dokter Mark terdengar seperti sindiran kepadaku, aku tahu rekan - rekanku kini tidak senang dengan semua kesuksesanku.
"Aku tahu, akan aku pertimbangkan nasihatmu" timpal ku, aku pun mengacuhkannya dan segera berjalan kembali menuju kedalam ruangan kerjaku dengan Rachel masih membuntuti ku
Didalam ruangan itu aku segera membaca kembali berkas berkas - berkas yang berkaitan dengan milik Celline, tapi aku tidak mendapatkan data bahwa Celline mengidap gangguan bipolar ataupun gangguan mental lain yang dikatakan oleh Rachel. Semua data Celline hanyalah sebuah trauma yang dia idap karena kejadian nahas yang menimpanya, "Apa Rachel juga ingin membuatku gagal mendapatkan keberhasilan ke dua ratus kalinya?" tanyaku dalam hati. Ditengah aku fokus pada pencarian data, saat itu mungkin Rachel memahami apa yang sedang aku cari hingga membolak - balik berkas.
"Kadang data kertas seperti itu tidak selalu benar Dokter Lee... Pengalaman di lapangan lebih akurat menurutku..." celetuk Rachel mengatakannya sedikit terbata
"Aku selalu bekerja dengan cara seperti ini dan apa keberhasilan 198 kali ku membuatmu ragu? saat ini sampai sebelum akhir tahun aku hanya tinggal menuntaskan dua anak" dengan nada sombong aku katakan itu
"Aku menjaganya sejak kemarin, dia kadang tertawa keras dan kadang menangis keras dalam waktu yang singkat. Belum lagi seringkali dia mengambil makanan yang sangat banyak dan kadang juga dia bahkan tidak makan sama sekali" ucap Rachel seraya mendekatiku dan menutupi berkas yang aku baca dengan tangannya
"Tolong pertimbangkan masukan orang lain kali ini, aku tahu Dokter Mark tadi agak menyinggung mu tapi memang itulah kenyataannya" Rachel mengatakan itu dengan nada yang terdengar khawatir, aku terdiam sejenak seraya terus menatap mata Rachel.
Untuk pertama kalinya dalam bekerja sama Rachel memiliki penilaian tersendiri untuk pasien yang kami tangani berdua, saat itu Rachel terlihat berusaha keras untuk meyakinkanku jika analisisnya benar terhadap Celline, namun dokter Lee masihlah dokter yang sombong dan angkuh hingga membuatnya mengabaikan apa yang Rachel katakan.
__ADS_1
"Dia hanya ingin melihat aku gagal, tidak ada satupun data yang mengatakan Celline bipolar" timpal ku lalu aku pun menutup berkas dan berjalan meninggalkan Rachel untuk keluar menuju kamar Celline, tapi Rachel masih saja membuntuti ku hingga kami sampai didepan kamar Celline.
Didalam kamar Celline aku melihatnya sedang berdiri menatap jendelanya dan melihat keluar, aku pun menggedor lembut pintu itu untuk menarik perhatiannya lalu memberi salam pada Celline.
"Pagi Celline, bagaimana harimu?" tanyaku sambil memberi gestur tangan untuk meminta izin memasuki kamarnya, suara itu berhasil memancing perhatiannya dan dia segera menoleh menatapku dengan senyuman.
"Pagi Dokter Lee... aku senang disini, silahkan masuk" jawab Celline terdengar ramah dan memberiku izin masuk, lalu kita bertiga duduk disebuah kursi dengan sebuah meja didalam kamar Celline. Aku dan Rachel duduk bersebalahan, sedangkan Celline saat itu duduk didepan kami.
Pagi itu sikap Celline masih sama dan tidak ada yang berbeda, hal itu menguatkan ku jika memang Celline tidak memiliki gangguan bipolar dalam dirinya. Anggapan Rachel seketika semakin tidak berarti bagiku, dan aku begitu bersemangat memeriksa pasienku itu. Dialah yang akan menjadi penentu kedua ratus atas keberhasilan seorang dokter Lee.
"Aku ingin memeriksa keadaanmu karena Dokter Rachel mengatakan kamu kadang menangis keras dan tiba - tiba tertawa, apa benar? mau menceritakan sesuatu padaku?" tanyaku dengan lembut
"Oooh iya benar... hihihi kadang aku teringat kenangan pahit ku, maaf ya Dokter Rachel kalau hal itu membuatmu ketakutan" jawab Celline terdengar ramah, suara tawa kecilnya juga terdengar mengiringi setiap kalimat yang dia katakan.
"Aku tidak takut, namun keadaanmu sepertinya lebih parah dari yang Dokter Lee perkirakan" timpal Rachel sedikit menekan dan terdengar serius
"Oooh iya? yang seperti apa?" tanyanya dan nada suara Celline seakan penasaran dengan pernyataan Rachel
"Boleh...." jawab Celline seraya tersenyum melihat Rachel
"Kamu masih ingat kejadian yang menimpamu saat itu?" tanya Rachel, dia mengajukan pertanyaan yang sangat sensitif ditanyakan pada pasien dan hal itu tidak dibenarkan dalam pemeriksaan kesehatan seperti ini.
Aku marah padanya, aku menoleh menatap Rachel yang duduk di sebelahku lalu berkata...
"Rachel! apa yang kamu lakukan?!" tanyaku membentaknya
"Maaf Dokter Lee, tapi ini harus aku lakukan. Aku tidak ingin kamu salah menangani pasien" jawab Rachel juga dengan bentakan
"Tidak apa Dokter Lee, Baik... aku bisa jelaskan... Saat itu di saat siang hari ketika aku pulang sekolah, aku melihat ayahku sedang memukuli ibuku dalam keadaan mabuk. Saat itu aku berusaha untuk melindungi ibuku..." belum selesai Celline berbicara aku menghentikannya
"Cukup Celline, tidak seperti itu cara kerja kita disini" timpal ku dengan suara yang mungkin terdengar emosi saat itu karena tindakan Rachel
__ADS_1
"Lanjutkan, kami harus tahu bahwa benar kamu tidak baik - baik saja" ucap Rachel memaksa Celline untuk meneruskan cerita yang memilukan itu
"Lalu tiba - tiba ayahku menarik baju sekolah ku saat itu dengan kasar hingga membuatnya robek di bagian kancing depan, entah apa yang dipikirkan ayahku namun sepertinya saat itu aku menjadi santapan yang bisa dinikmati oleh laki - laki dewasa..." Celline meneruskan ceritanya
Sontak aku berdiri dari dudukku seraya menarik Rachel untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu, namun Rachel berusaha sangat keras untuk menahan ku agar kami tetap berada di kamar Celline.
"Teruskan Celline! keluarkan emosimu!!" teriak Rachel saat itu sembari menahan tarikan tanganku
"Ayahku memperkosaku saat itu, walau ibuku membantuku agar pemerkosaan itu tidak sampai terjadi tapi tenaga ayah terlalu kuat bahkan untuk kami lawan berdua. Saat itu Ibu bahkan sampai mengancam untuk menusukkan pisau dapur yang dia ambil sebelumnya, namun ayahku bergeming dan dia terus saja memperkosaku dengan bringas..." Celline masih dengan santai menceritakan kejadian buruk yang menimpanya, jujur saat itu aku sedikit merinding. Bagaimana tidak, gadis ini menceritakan pengalaman pahitnya dengan sangat tenang dan bahasa yang begitu tertata rapih.
"Ibuku lalu menyerang ayahku dengan pisau itu, namun ayah berhasil mengambil alih pisau lalu menusukkan pisau itu ke perut ibuku hingga ibu meninggal. Darah ibu sampai mengenai wajahku ketika ayah menarik pisau itu dari perut ibu, kalian tahu apa yang kemudian dilakukan ayahku? dia melanjutkan memperkosaku dengan bringas" Celline tetap menceritakan kejadian itu dengan tenang dan sangat rinci, tatapan mata itu seperti tanpa beban dan dia seperti sedang tidak mengalami kesakitan apapun atas dirinya.
Sangat aneh untuk sebuah kasus yang berat seseorang masih bersikap santai dan tenang, aku cukup merinding namun masih mempercayai intuisiku tidak salah terhadap Celline.
"Celline, Cukup!" celetukku saat itu, aku kehabisan kata - kata.
"Lalu saat sudah puas memperkosaku dan memasukkan semua cairan itu didalam perutku, aku sudah sangat lemas dan syok. Tubuhku bergetar hebat dan membuatku tidak bisa melakukan apapun selain terbaring dilantai ruang keluarga rumahku, saat itu ayah menyeret ku dan tubuh ibu yang sudah terbujur kaku ke dalam mobil kami lalu membawa kami kesebuah dermaga yang sudah tidak terpakai dan menenggelamkan mayat ibu dengan cara memberi pemberat pada kedua kakinya dan menenggelamkannya disana, aku berusaha lari namun aku tidak mempunyai tenaga lagi sampai aku kembali tertangkap oleh ayah" Celline masih tenang terus menceritakan kejadian nahas itu. Dengan nada bicara dan tatapan mata yang sama, Celline seakan tidak ingin aku dan Rachel memberinya jeda untuk menceritakan kembali apa yang sudah menimpanya. Tentu saja hal itu membuatku cemas jika keadaan Celline tiba - tiba memburuk karena mengingat trauma yang dia alami.
"Apakah dia terlihat normal bagimu, Dokter Lee?" tanya Rachel sambil menatapku dengan raut wajah ketakutan
"Lalu aku melihat seseorang dari sebuah cahaya senter yang datang mendekati tempat kami, ayah terlihat panik saat itu dan meninggalkanku disana begitu saja. Orang asing itu pun menyadari keberadaan ku, saat itu aku merasa ada sebuah harapan agar aku tertolong tetapi aku salah karena aku malah mendapatkan kejadian buruk lagi, orang itu memperkosaku juga" ucap Celline lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Lalu disinilah aku ketika suatu pagi seseorang menemukanku dalam keadaan tanpa sehelai benang pun tertempel di tubuhku" ucap Celline lagi masih terlihat santai
"Aku tidak tahu harus berkata apa..." Rachel mengatakan itu dengan tatapan penuh ketakutan melihat Celline.
Begitu tenang Celline menceritakan semua rentetan kejadian yang dia alami kepadaku dan Rachel, satu - satunya pasienku dengan sikap yang berbeda. Dalam hatiku penuh kecemasan akan itu, perkataan Rachel membuatku berpikir ulang cara untuk menghadapi Celline, namun aku ragu karena selama ini aku selalu berhasil dengan data - data yang aku punya, aku selalu menggunakan data setiap pasien sebagai tolak ukur kesembuhan mereka dan grafik Celline meningkat cukup baik untuk kasus yang berat.
Dan tentang Rachel, jujur saja aku kecewa dan marah kepadanya. Dia seperti meremehkan ku dan sama saja seperti rekan - rekan dokter lainnya padahal dia tau tingkat keberhasilanku sempurna karena memang aku tidak pernah gagal dalam menangani pasien - pasienku. Kejadian hari itu adalah hari terakhir aku bekerja bersama Rachel, aku memilih untuk menangani Celline sendiri dan itu membuat hubunganku dengan Rachel renggang
Hari hariku aku lewati dengan baik bersama Celline, dia menunjukkan peningkatan yang baik. Aku sangat mengingatnya ketika dia membaur dengan para dokter dan para perawat disana, dia juga berhasil membaur dengan pasien - pasien di tempat perlindungan saksi dan korban. Sesekali aku dan Celline membuat kerajinan tangan dari sebuah kertas lipat membentuk aneka origami, melukis, dan memainkan othello bersama. Saat itu juga aku merasa bahwa kejadian terakhir bersama Rachel saat menghadapi Celline benar - benar penilaian yang salah karena beberapa bulan ini aku tangani Celline seorang diri dia menunjukkan peningkatan yang luar biasa.
__ADS_1