Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Melewati Batasan


__ADS_3

Setelah terdiam beberapa saat, aku merasakan jika mobil taktis ringan ini sudah sampai pada tujuannya. Mobil terasa berhenti berjalan dan seseorang terdengar saling berbicara, aku pun mengalihkan pandanganku menatap kaca jendela kecil pada mobil untuk melihat kondisi diluar. Yah.. ini adalah markas besar polisi negara, aku mungkin bisa sedikit lega karena aku yakin akan sangat bodoh bagi siapapun untuk menyerang tempat ini. Namun sejenak aku kembali dikuasai pikiran buruk ku, "Bagaimana kalau pengkhianat itu ada disini? mereka akan lebih leluasa untuk menghabisi kami" ucapku dalam hati.


Aku menoleh kembali menatap Charlotta yang duduk di depanku dengan tangan terborgol, saat itu aku melihat wajahnya pucat pasi dan tubuhnya pun terlihat bergetar. Aku yakin dia ketakutan, tapi kondisi itu membuatku heran. "Bukankah seharusnya dia merasa lebih tenang ketika sampai ditempat yang dirasa lebih aman daripada tempat kita sebelumnya? apa yang Charlotta takutkan?" tanyaku dalam hati, aku menggenggam kedua tangan Charlotta lalu aku tatap tajam kedua bola matanya.


"Kamu takut?" tanyaku dengan penekanan, Charlotta menghela nafasnya lalu tersenyum padaku.


"Iya, kondisi seperti ini membuatku gugup. Aku jadi tidak bisa melindungi kalian jika ada kondisi darurat..." jawabnya sembari menunjukkan tangannya yang terborgol di hadapanku


Aku terkejut dengan jawaban yang diucapkan oleh Charlotta, sejenak aku berpikir jika dia takut dengan semua kejadian yang menimpa kami semua. Namun ternyata ketakutannya bukan karena hal yang aku pikirkan, dia mengkhawatirkan dirinya yang tidak bisa berbuat banyak jika kami mendapatkan serangan kembali. Ini aneh, tidak pernah aku temui seseorang gugup karena hal seperti itu.


"Itu tidak perlu kamu pikirkan, Charlotta. Ini markas besar polisi, tidak mungkin..." belum selesai aku berkata, Charlotta memotong ku.


"Aku benci kondisi dimana aku tidak bisa melakukan apa - apa..." timpalnya terdengar penuh penyesalan


Tidak lama pintu mobil terbuka, aku yang sebenarnya masih tertarik dengan perkataan Charlotta pun terpaksa harus menunda pembicaraan kami tadi. Flick terlihat tepat didepan pintu masuk mobil seakan dia sedang mengawal kami untuk memastikan jika semuanya baik - baik saja, dia menatapku, Aida, dan Charlotta secara bergantian.


"Sepertinya semua baik - baik saja, Dokter Lee dan Aida kalian ikuti aku sedangkan nona... kamu harus kami tempatkan dipenjara untuk sementara waktu" ucap Flick


"Ini yang aku takutkan sejak tadi" gumam Charlotta dengan suara yang kecil seakan dia hanya ingin aku yang mendengarnya, aku menoleh menatapnya sejenak lalu kembali menatap Flick.


"Petugas, bisa kah biarkan dia berada di dekatku? aku yang akan bertanggungjawab atasnya" pintaku pada Flick, namun dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Maaf dokter Lee, kalian akan memasuki ruang kerja Jendral Simon. Ini merupakan hal wajar jika kami sebagai anak buahnya melindungi Jendral kami, aku tidak mau mengambil resiko apapun" jawab Flick tegas


"Tidak apa, Andrews. Aku hanya berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi" timpal Charotta sembari beranjak keluar dari mobil, namun tiba - tiba Aida menarik lengan Charlotta untuk menghentikan langkahnya.


"Tidak mau... aku tidak ingin berpisah dengan nona Charlotta.." terdengar memohon Aida mengatakannya, suaranya terdengar bergetar seakan dia menahan rasa ingin menangis.


Harus aku akui bahwa keberadaan Charlotta membuat Aida terlihat jauh lebih tenang, terlebih dari cerita yang sudah aku dengar bahwa beberapa kali Charlotta tidak tanggung - tanggung dalam menunjukkan kepeduliannya kepada Aida. Dia berulang kali mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Aida, mungkin karena itulah Aida merasakan ketulusan yang dimiliki oleh Charlotta untuknya.

__ADS_1


"Tidak apa, Aida. Kita akan segera bersama lagi, kamu ingat pesanku?" timpal Charlotta, dengan segera Aida mengangguk beberapa kali.


Pesan apa yang disampaikan Charlotta pada Aida, jujur saja aku penasaran saat itu namun mungkin itu adalah pesan yang sangat penting dan hanya boleh diketahui oleh keduanya demi keselamatan Aida. Aku masih tidak tahu apa ada pengkhianat lain disekitar kami, jadi aku simpan saja rasa penasaran itu didalam hatiku.


Setelah itu Aida melepaskan genggaman tangannya dari lengan Charlotta, bergantian kami keluar dari mobil dan mengikuti iringan petugas polisi untuk membawa kami ketempat yang mereka siapkan untuk kami masing - masing. Didalam gedung markas besar kepolisian negara akhirnya aku dan Aida berpisah dari Charlotta, ketika melihatnya digiring seakan adalah seorang penjahat membuatku marah. Tapi saat ini aku tidak bisa melakukan apapun, Charlotta juga seakan menerima perlakuan petugas itu padanya.


"Kemari dokter Lee, ruangan Jendral Simon ada di lantai sepuluh" ajak Flick padaku dan Aida ketika kami berdua terdiam menatap Charlotta yang semakin menjauh dari kami


"Apa kamu bisa pastikan keselamatan Charlotta?" tanyaku pada Flick


"Dia akan berada dipenjara yang terpisah dari tersangka lain, jadi anda bisa tenang" jawab Flick


Aku menghela nafasku dan berjalan mengikuti Flick yang membawa kami menaiki sebuah lift menuju lantai sepuluh, ketika itu tubuh Aida terlihat bergetar hebat dan wajahnya pun terlihat sangat ketakutan. Sejenak aku mengingat kejadian dimana Aida begitu ketakutan ketika aku dan dia berkunjung ke rumah tuan dan nyonya West, Aida sepertinya begitu ketakutan dengan hal - hal yang berbau polisi seperti ini.


"Aida, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku pada Aida yang berdiri tepat di sebelahku


"Semua akan baik - baik saja, kamu hanya perlu untuk terus mengingat pesan Charlotta padamu" dengan lembut aku katakan itu, tanganku pun mengelus lembut kepalanya.


Aida hanya terdiam tanpa merespon apapun perkataanku ketika itu, sejenak aku semakin penasaran dengan pesan yang disampaikan Charlotta ketika itu. "Kenapa Aida tidak merespon ku? sebenarnya apa yang disampaikan Charlotta padanya?" ucapku dalam hati, tidak lama pintu lift terbuka dan sampailah kami dilantai sepuluh.


Flick memberikan gestur tangan agar kami mengikutinya menyusuri ruangan dimana terlihat banyak petugas polisi yang sibuk dengan tugas mereka masing - masing, meja - meja yang saling berdempetan agar memudahkan para petugas untuk saling berdiskusi menjadi pemandangan ku ketika itu. Aku memang tidak terlalu paham dengan apa yang mereka bahas, tapi sepertinya mereka adalah orang - orang terpilih yang diperintahkan untuk membahas satu hal yang sama.


Kami berjalan sampai disebuah pintu yang tertulis 'Ruang Kepala Polisi', Flick membuka pintu itu dan memberi gestur tangan agar aku dan Aida masuk kedalamnya. Tanpa ragu kami pun masuk kedalam ruangan itu dan didalam sana aku melihat Rachel dan juga dokter Robert, mereka berdua duduk di sofa yang tersedia didalam ruangan. Keduanya serentak menatapku dan Aida, seketika itu Rachel berdiri lalu berlari mendekati Aida kemudian memeluknya dengan erat.


"Syukur kamu baik - baik saja, Aida" ucap Rachel yang terdengar begitu lega melihat keberadaan Aida disini


"Aku juga senang dokter Rachel baik - baik saja..." timpal Aida


"Sepertinya semua selamat" celetukku ketika itu

__ADS_1


"Sayangnya tidak semua dokter Andrews, beberapa rekan mengalami nasib nahas. Mereka tewas ditempat" timpal dokter Robert terdengar begitu sedih


Aku dapat merasakan kesedihan dan rasa kehilangan yang dirasakan oleh dokter Robert, aku pun telah kehilangan orang - orang yang terasa sangat dekat denganku. Tapi... tentang dokter Robert, aku masih merasakan keanehan padanya. Ruang kerja miliknya di gedung perlindungan saksi dan korban tak tersentuh satu pun peluru seakan tempat itu memang sengaja dihindari oleh para penjahat, terlebih dia bisa selamat begitu saja meski memang harus aku akui aku tidak tahu bagaimana proses dia bisa selamat sampai disini. Sangat berbeda dengan Rachel, aku, Aida dan Charlotta, bagaimana aku bisa mengabaikan fakta itu?


"Aku turut menyesal dengan semua yang terjadi" ucapku merespon kesedihan dokter Robert, kami terdiam beberapa saat sampai Rachel melepaskan pelukannya dari tubuh Aida.


"Lalu... dimana temanmu itu?" tanya Rachel padaku


"Dia... diamankan oleh polisi..." jawabku terbata, entah apa aku harus katakan apa yang terjadi pada Rachel atau tidak. Aku ragu untuk memberitahunya jika Charlotta... membunuh seseorang.


"Diamankan? apa yang terjadi?" tanya dokter Robert terdengar penasaran, aku pun menghela nafasku sebelum menjawab pertanyaannya.


"Itu..." belum selesai aku berkata, Aida tiba - tiba menyela.


"Nona Charlotta melakukan tindakan yang benar. Kita harus menyelamatkannya" timpal Aida begitu tegas


Ini pertama kalinya aku mendengar Aida menyela perkataan dan juga mengatakan sesuatu dengan begitu tegas seperti ini, hal itu membuat kami terkejut dan menatap Aida serentak nyaris bersamaan. Senang? tentu, aku senang dengan perkembangannya. Namun tidak bisa aku abaikan jika Aida bisa seperti ini demi Charlotta, sebenarnya ada apa dengan keduanya? apa ada yang aku lewatkan? bagaimana Charlotta bisa merubah Aida sampai dia terlihat sembuh dari gangguan mentalnya?


"Aida... aku terkejut kamu bisa berkata seperti itu" terdengar heran dokter Robert mengatakannya, aku memiliki perkataan yang sama didalam kepalaku namun aku simpan saja agar Aida tidak menganggap itu hal yang salah.


Aida terdiam, dia melirik kanan kiri dan perlahan kepalanya tertunduk. Aku yakin ini karena respon kami yang dirasa berlebihan olehnya, tidak seharusnya kami menatapnya seakan dia melakukan hal aneh dan gila. Tapi tidak bisa dipungkiri jika itu dikatakan oleh seorang anak dengan mental sehat, maka kami tentu tidak akan sampai meresponnya seperti ini. Namun ini adalah Aida, seorang anak yang kepribadiannya sudah hancur total oleh penyiksaan yang telah dia terima selama bertahun - tahun.


"Tidak perlu merasa bersalah, Aida. Kami hanya terkejut kamu bisa menyela perkataan dokter Lee" dengan lembut Rachel mengatakannya, namun Aida tidak merespon sedikit pun.


Aku berjongkok didepannya agar dapat menatap matanya, sejenak aku merasa jika sedang berhadapan dengan anak normal pada umumnya namun ketika mata kami bertemu saat itu... aku masih dapat merasakan rasa trauma yang berlebihan dari sorot matanya. Seakan dari sorot mata itu aku melihat semua penyiksaan dan penderitaan yang telah dia alami selama ini, motivasinya untuk menyelamatkan Charlotta seakan memberikan keberanian pada dirinya untuk melewati tembok trauma yang sudah sangat lekat didalam pikiran bawah sadar Aida.


"Aku bangga padamu, terima kasih sudah berani mengutarakan apa yang ingin kamu katakan" ucapku lalu memeluknya dengan erat


"Dokter...." gumamnya, Aida membalas pelukanku dan dia menangis sesenggukan di bahuku.

__ADS_1


__ADS_2