
Ini menjadi hari pertama aku akan tinggal di institusi ini bersama dengan Aida, Charlotta dan beberapa pasien lainnya, sebenarnya tidak terlalu buruk untuk tinggal disini... terlebih kamar yang tersedia juga memiliki fasilitas lengkap dan juga nyaman, hanya saja aku masih tidak terbiasa dengan suasananya. Serasa aku juga bagian dari mereka yang sedang mengalami gangguan mental sampai aku harus ikut dirawat disini, begitulah yang aku rasakan setiap kali aku keluar - masuk kamar yang memang sudah dibuat khusus untukku.
Kamarku bersebelahan dengan kamar Aida dan juga Charlotta, kebetulan dalam sati koridor saat itu hanya ada aku, Aida dan Charlotta yang menempati kamar yang tersedia. Sisanya ada yang dilantai atas dan bawah dari lantai kami, sepertinya ini adalah kebijakan khusus dari tuan Robert agar aku tetap nyaman berada disini. Entah sampai kapan kami akan tinggal disini, aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Daniel. Secara tidak langsung aku memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini, karena kata Rachel saat itu mengatakan jika aku lah alasan Daniel sampai melakukan tindakan berlebihan ini.
"Belum tidur?" tanya Charlotta yang entah sejak kapan membuka pintu kamarku, aku menoleh menatapnya dan sedikit tersentak. Sepertinya aku melamun tadi, aku duduk di pinggiran kasur dan entah sudah berapa lama aku terdiam dalam posisi ini....
Ya... setelah Aida dan aku berpelukan dan saling memaafkan tadi sore, aku sudah menjalani beberapa jam kehidupan baruku di institusi ini. Selayaknya pasien, aku juga tidak boleh keluar dari gedung walau itu sekedar hanya berjalan - jalan. Semua jam demi jam aku habiskan sampai malam tiba dan kami memutuskan untuk tidur, aku berpisah dengan Aida dan Charlotta lalu melamun didalam kamarku.
"Aaah yah... ada apa, Charlotta?" tanyaku sembari menepuk kedua pipi dengan tanganku.
"Yaa~ kamu tahukan, tidur ditempat baru tidak selalu membuatku bisa tidur terlelap begitu saja..." jawabnya seraya berjalan masuk kedalam kamar setelah menutup pintu, aku menghela nafasku lalu aku tatap wajahnya.
"Bukankah seharusnya kamu merasa lelah? kamu baru sampai hari ini dan aku langsung membawamu kesini, tadi juga kamu tidak sempat untuk beristirahat dengan semua kegiatan kita" ucapku bersamaan dengan Charlotta yang duduk di sampingku, dia menatap jendela kamar yang langsung mengarah kesebuah gedung pencakar langit yang tidak jauh dari gedung institusi ini.
"Hei... bukankah posisi kita ini... sangat berbahaya?" tanya Charlotta, tiba - tiba dia berkata hal yang membuatku ketakutan.
"Bicara apa kamu?!" tanyaku agak membentak, dia pun menunjuk kearah jendela itu seakan memintaku untuk ikut dengannya menatap gedung pencakar langit yang jaraknya mungkin sekitar lebih dari sepuluh kilometer.
Aku menoleh menatap gedung itu dari balik jendela kamar, ditengah gelapnya malam saat itu gedung pencakar langit yang kami lihat bersama terlihat begitu megah dengan lampu - lampu yang menyala. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Charlotta saat itu, "Ada apa sama gedung itu? kenapa Chalotta merasa kita di posisi yang berbahaya setelah menatap gedung itu? apa dia sedang mengerjai ku?" tanyaku dalam hati
"Bukankah... kita jadi sasaran empuk para sniper jika pembunuh bersembunyi disalah satu lantai didalam gedung didepan saat kita terlelap tidur?" tanya balik Charlotta, aku tertawa kecil lalu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaannya.
"Kamu terlalu paranoid, jarak kita dengan gedung itu lebih dari sepuluh kilometer. Tidak ada senjata yang mampu sampai ke kamar ini, kalau pun ada itu adalah jenis Sumrak dari Rusia namun jarak efektifnya cuma empat kilometer" jawabku sembari menoleh menatapnya, dia pun menoleh ketika aku selesai dengan kata - kataku.
"Hei... masih ada jenis Havoc dari Rusia juga yang kabarnya bisa tembus tujuh kilometer" timpalnya dengan nada kesal, aku langsung mengernyitkan dahiku mendengar perkataan Charlotta.
Charlotta bagiku adalah wanita yang feminim dengan pekerjaan sebagai pemilik toko baju wanita, sosoknya terlihat tidak mungkin mengetahui jenis - jenis senjata seperti itu. "Darimana dia tahu tentang jenis - jenis senjata? apa aku melewatkan sesuatu tentang Charlotta yang selama ini aku kenal baik hampir delapan tahun ini?" tanyaku dalam hati, aku menatapnya dengan raut wajah keheranan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya kesal
"Kamu... tahu darimana hal - hal seperti itu?" balikku bertanya dengan nada keheranan, saat itu Charlotta tertawa terbahak - bahak dengan pertanyaanku.
"Aku kan sudah bilang kalau dulu aku ikut Shooting Club, jadi aku mengenal..." belum selesai Charlotta berkata, aku pun memotongnya.
"Berhenti bohong padaku!!" timpal ku dengan bentakan, seketika itu Chalotta tersentak dengan bentakanku.
"Siapa kamu sebenarnya?! kenapa kamu tahu hal - hal seperti itu?! dan lagi, kenapa kamu terlalu berani untuk mengambil resiko bertaruh nyawa seperti ini?!!" tanyaku lagi masih dengan bentakan, namun saat itu Charlotta seakan sengaja diam untuk memberiku waktu supaya bisa menenangkan hati dan juga pikiran.
Sejenak kami terdiam dan aku bisa kembali untuk tenang, kesunyian kamar ini membuatku bisa berpikir dengan jernih. "Apa yang baru saja aku katakan? kenapa emosiku sering kali tidak terkontrol? bukankah aku seorang ahli psikologis? kenapa aku sendiri merasa seperti orang dengan gangguan mental?" tanyaku dalam hati, aku menarik nafasku dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Maaf Charlotta, aku tadi... sedikit bingung..." ucapku penuh rasa sesal, Chalotta tersenyum lalu mengelus lembut kepalaku.
"Tenang... tenang... kamu tidak sendiri, kalau ada apa - apa... kamu boleh ceritakan semua padaku, aku akan mencoba membantumu sebaik yang aku bisa..." timpalnya dengan nada yang terdengar begitu menenangkan
Aku hanyut dalam rasa nyaman yang Charlotta berikan, entah kenapa setiap elusan tangannya di kepalaku seakan menyapu semua pemikiran buruk ku tentang semua hal. Tanpa sadar aku menyandarkan kepala ini ke bahu Charlotta, tanpa terasa air mataku pun tiba - tiba mengalir deras. Aku memang tidak mengatakan apapun saat itu, tapi Charlotta seakan tahu apa yang menjadi bebanku.
__ADS_1
"Tidak apa... semua bukanlah kesalahanmu, kamu hanya sedang diuji dengan semua prestasimu sendiri. Dibayang - bayangi oleh ambisi pribadimu... kamu masih bisa memperbaiki semuanya, Andrews... bangkitlah.... hilangkan perasaan bersalah mu dan kamu pasti... bisa menyelesaikan ini semua..." ucap Charlotta dan aku pun tersentak
Tersentak karena pantulan sinar matahari melalui jendela kaca berhasil menghangatkan ku. Ketika itu aku tersadar jika matahari sudah berada diposisi yang cukup tinggi...
Aku menoleh kanan - kiri untuk mencari keberadaan Charlotta didalam kamarku yang tertutup itu namun dia tidak ada disana, aku beranjak dari kasur dan mendekati jendela kamar untuk membuka gorden yang menutupi sinar matahari. Ketika aku membukanya, mata ini langsung tertuju pada gedung pencakar langit yang berada tepat didepan jendela kamarku. Aku mencoba untuk memperkirakan posisinya sejauh apa dengan berbekal ilmu kira - kira, ku tatap gedung itu sampai beberapa saat berlalu...
"Aku yakin itu lebih dari sepuluh kilometer..." gumamku
Aah yaa, sepertinya ucapan Charlotta semalam berhasil menembus otakku dan merubah cara pikirku hingga membuatku juga memikirkan kemungkinan yang terjadi sesuai dengan perkataan Charlotta.
"Itu lebih dari sepuluh kilometer, jaraknya sekitar delapan belas kilometer" celetuk seseorang dibelakang ku, aku terkejut lalu segera berbalik menatap sumber suara.
Dibalik pintu yang sedikit terbuka itu aku melihat Rachel, dia terlihat bingung menatapku. Mungkin karena saat itu aku kaget berlebihan dan aku yakin bukan maksud Rachel untuk mengagetkanku, aku mencoba mengatur nafasku yang terengah - engah itu sembari berpikir "Kenapa aku terlalu lengah? aku bisa kehilangan nyawa dengan begitu mudah jika terus seperti ini".
"Kamu... baik - baik saja, dokter Lee?" tanya Rachel sembari berjalan mendekatiku
Aku melihat wajah Rachel yang seakan mengkhawatirkan keadaanku, tapi bukankah itu berlebihan karena aku adalah seorang dokter psikiatris atau memang aku masih tidak bisa mengendalikan diriku dengan baik hingga membuat Rachel menunjukkan sikapnya yang seperti itu?
"Aah yah, aku baik - baik saja..." jawabku
"Kenapa kamu tertarik sama jarak gedung itu? apa ada masalah?" tanyanya lagi yang sepertinya semakin penasaran
"Yah... semalam aku dan Charlotta berbicara tentang..." belum selesai aku berkata, Rachel menyela ku.
"Ooh, jadi kalian satu kamar tadi malam?" timpalnya terdengar marah
"Rachel, ayolah... ini bukan saatnya untuk cemburu - cemburu seperti itu" jawabku dengan helaan nafas
"Yah memang mudah bagi pria meninggalkan wanitanya dengan alasan - alasan seperti itu" timpalnya terdengar begitu marah padaku
"Rachel... aku benar - benar tidak menyangka kamu akan menanti ku selama delapan tahun ini, kamu cantik, berbakat, pintar, dan memiliki karir yang bagus... kamu tidak harus menunggu pecundang sepertiku ini" ucapku, sepertinya memang harus aku selesaikan masalah ini sekarang juga.
"Klasik" ketus Rachel mengatakannya
"Lalu kamu mau aku seperti apa saat ini?" tanyaku padanya, sejenak kami terdiam saling tatap.
"Sejauh mana hubunganmu dengannya?" tanyanya menekan ku, aku menghela nafasku lagi ketika mendengar pertanyaannya.
Baiklah... sepertinya aku sudah salah memberikan pertanyaan kepada Rachel, aku dihadapkan dengan keadaan yang sangat sulit saat ini. Bertemu dengan Rachel bukanlah hal yang aku harapkan namun keberadaannya memang sangat membantuku, namun aku juga tidak bisa menolak kehadiran Charlotta di sisiku saat ini. Sepertinya aku akan benar - benar mengawali hari dengan keadaan yang buruk.
"Rachel, selama delapan tahun ini aku merasa sangat depresi. Aku tidak sempat untuk memikirkan hal - hal seperti itu, percayalah padaku" jawabku
"Jangan percaya padanya, dia beberapa kali menggodaku" timpal Charlotta menyela obrolanku dengan Rachel.
Bersamaan aku dan Rachel menoleh menatap Charlotta yang berdiri didekat pintu kamar yang terbuka itu, tepat disebelahnya ada Aida yang menatapku dengan wajah bingungnya. Dia terlalu polos untuk mengerti hal - hal seperti ini, tentu saja apa yang aku, Rachel dan Charlotta katakan saat ini membuatnya kebingungan.
__ADS_1
"Dia memang sulit untuk dipercaya" timpal Rachel ketus
"Charlotta, Ayolah jangan memperburuk keadaan" pintaku padanya
"Aida, kamu tahukan kalau dokter sering menggodaku dulu" ucap Charlotta meminta dukungan dari Aida, saat itu Aida hanya tersenyum malu - malu.
"Charlotta!" bentak ku, bersamaan dengan bentakan itu Charlotta pun tertawa diikuti oleh tawa kecil Aida.
"Jadi sebenarnya kalian ini punya hubungan apa?!" bentak Rachel
"Yah~ kamu dengar sendiri kan aku dan dokter Andrews tidak punya hubungan apapun, meski kami sempat saling dekat karena dijodohkan oleh seseorang. Aku single dan dia pun single, jadi tidak herankan kalau aku dan dokter Andrews sempat saling dekat" jawab Charlotta dengan tawa kecilnya, entah kenapa saat itu rasanya begitu aneh mendengar jawaban Charlotta.
"Aida, apa benar seperti itu?" tanya Rachel pada Aida, saat itu Aida hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Rachel, berhenti bertanya pada Aida tentang hal memalukan ini!" timpal ku dengan bentakan
"Huh! ya sudahlah!" ketus Rachel mengatakannya sembari berjalan hendak keluar dari kamar membawa Aida
"Kalian, waktunya makan" ucap Rachel seraya berlalu bersama Aida ketika itu
Kepergian Rachel sedikit mengurangi beban pikiranku untuk sementara, dua wanita itu setidaknya sudah berhenti untuk meributkan hal yang tidak penting bagiku karena saat ini tujuanku adalah untuk menjadi dokter bagi Aida dan kembali mejadi dokter Lee seperti keinginan mendiang dokter Han
Kini tersisa lah aku dan Charlotta dikamar, kami sempat terdiam saat Charlotta memperhatikan Rachel dan Aida yang berjalan pergi. Perlahan tatapan mata Charlotta saat itu menatapku, dia pun tersenyum lalu hendak meninggalkan kamar. Namun dengan segera aku berlari mendekatinya lalu menarik lengannya agar dia berhenti berjalan, saat itu aku mungkin berlebihan menarik lengannya sampai membuat tubuh Charlotta berputar menatapku.
"Andrews..?" Chalotta saat itu begitu terkejut dengan tindakanku
"Ma.. maaf, aku tidak bermaksud sekasar ini" jawabku menyesal, aku pun melepaskan tanganku dari lengannya.
"Ada apa?" tanyanya penasaran
"Hei.... tentang tadi malam..." jawabku terbata
"Tadi malam? ada apa dengan tadi malam?" tanya balik Charlotta terdengar kebingungan, aku pun heran dengan sikapnya yang seolah tadi malam antara aku dan dia tidak terlibat percakapan.
"Apa maksudmu? kamu... tadi malam kan..." aku pun dibuat kebingungan dengan ekspresi wajah yang Charlotta tunjukkan di hadapanku, seolah dia benar - benar bingung dengan kejadian tadi malam.
Aku menarik lengannya untuk membawanya masuk kedalam kamarku menuju jendela, disana aku menunjuk gedung pencakar langit yang tidak jauh dari institusi tanpa berkata apapun. Charlotta menatap gedung itu dengan wajah bingung lalu perlahan tatapan matanya beralih padaku, dengan raut wajah herannya itu dia bertanya...
"Ada apa dengan gedung itu? kenapa kamu suruh aku melihatnya?" tanyanya keheranan
Tersentak Lah aku mendengar pertanyaan itu, bagaimana mungkin Charlotta melupakan hal yang semalam dia katakan tentang perasaannya yang terancam akan mendapatkan serangan dari arah gedung pencakar langit yang berada didekat kami itu. "Apa yang sebenarnya terjadi semalam? mimpi kah aku malam itu? tidak... itu tidak masuk akal, Charlotta pasti sedang mengerjai ku kan? Tentu saja itu mimpi karena tidak mungkin wanita seperti Charlotta mengetahui tentang jenis - jenis senjata itu!" pertanyaan itu terlintas didalam kepalaku.
"Kamu tadi malam ke kamarku dan berkata kita dalam bahaya sambil menunjuk gedung itu..." aku mengatakannya dengan keraguan, tapi aku yakin tadi malam aku dan Charlotta berbincang - bincang berdua sampai aku tertidur.
Saat itu Charlotta tertawa terbahak - bahak mendengarkan perkataanku, lalu dia menepuk pundakku cukup keras dan menatapku dengan raut wajah yang biasa dia tampakkan ketika sudah puas mengerjai ku. Aku tersenyum menatapnya dan benar - benar merasa dikerjai olehnya kali ini, ada perasaan lega karena dia hanya sedang mengerjai ku.
__ADS_1
"Andrews, berhenti berkata hal aneh. Aku tidak paham apa yang kamu katakan, karena tadi malam aku begitu lelah sampai langsung tertidur setelah sampai didalam kamarku" ucapnya, membantu lah aku ketika itu...